
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Cuaca panas dengan sinar matahari yang terik di Marina Bay Singapura seolah-olah sudah menjadi makanan sehari-hari bagi para penghuni gedung MBFC [Marina Bay Financial Center].
Alice Moon tengah berdiri dan membaur sempurna di antara kerumunan para pegawai gedung perkantoran yang berlalu lalang untuk menikmati waktu istirahat siang.
Aura milik Alice tetap terasa begitu mahal lewat apa yang dikenakan olehnya. Blazer putih, rok hitam, pumps shoes sambil menenteng briefcase Coach berwarna cokelat tua. Saat ini, tatapan Mami Alice tengah memperhatikan video pada ponselnya—video Sing-Sing pagi ini yang dikirimkan oleh Papa Jimmy.
“Mami, ke Sinciaponya hati-hati, ya! Cepat pulang, main lagi sama aku… Muach!” Singkat namun ditutup dengan Sing-Sing yang mengenakan seragam sekolah mencium kamera ponsel. Sekali lagi Alice mengulangi video itu, membuat senyumannya semakin terus melebar.
Sebuah Mercedes-AMG CLE 53 berwarna putih tiba di hadapan Alice. Seorang pria yang berpakaian rapi—setelan jas hitam berada di balik kemudi dari kendaraan itu. Alice pun segera melangkah meninggalkan area lobi, membuka pintu pada sisi penumpang dari mobil bergaya Coupe itu.
“Hyun, nanti laporan kuartal keempat dari ALG jangan lupa kamu teruskan ke aku, ya!” ucap Alice begitu selesai mengenakan sabuk pengaman dan mobil perlahan mulai meninggalkan area gedung MBFC.
“Iya, Al.” Pria itu memutar kemudi dengan satu tangan, membuat kendaraan berbelok ke kiri. “Kamu… Mau makan siang apa?”
“Di Changi saja, Hyun. Pesawatku jam empat sore ini,” jawab Alice sambil memejamkan mata dan menyandarkan kepala seutuhnya pada headrest.
Hari ini, Alice berkunjung ke AirLease Global untuk menerima laporan keuangan dari perusahaan lessor pesawat terbesar di wilayah Asia-Pasifik itu. Terkadang setiap kali ia melakukan kunjungan kerja, Alice kerap menghindari meja sang Senior Vice President yang merupakan mantan kekasihnya—Kwon Hyunwoo. Namun, kunjungan Alice pada hari ini tertangkap oleh Hyunwoo yang kebetulan tengah berada di kantor.
“Jam empat? Al… Ga ,salah? Kamu baru tiba tadi pagi, langsung meeting di dua tempat di Singapura kemudian lalu pulang? Biasanya menginap dulu semalam? Baru besok paginya pulang?” Hyunwoo sempat sedikit melirik ke arah Alice sekilas lalu melihat ke arah spion kiri.
“Besok pagi masih ada urusan—lagian aku cape, malam ini ingin bersantai di rumah saja.” Alice menghela napas perlahan dan bibirnya merekahkan senyuman simpul.
“Hm hmm” Hyunwoo menahan tawa. “Kalau Olivia hari ini kesini pasti kamu ga jadi pulang? Pasti pilih ngopi sama dia, sambil bersekongkol buat ngomongin aku?”
Dahi Alice mengerut—matanya kembali terbuka lebar kemudian melirik penuh ke arah Hyunwoo. “Apa kamu bilang? Olivia? Kesini?” Alice segera menegakkan kembali kepalanya.
Pria itu tersenyum lebar dengan tatapan yang mengarah lurus ke depan. “Iya, Al, Olivia.”
“Hyun? Kamu—” Alice memutar kepalanya, menoleh sempurna ke arah Hyunwoo.
“Iya, Al… Aku dan Olivia sudah bertemu lagi.”
Kelopak mata Alice bergetar, dalam hitungan detik mata Alice segera berkaca-kaca. Saat ia melepaskan napas kasar dari mulut, senyuman kebahagiaan Alice kini merekah begitu lebar.
Kenangan itu kembali terputar di dalam benak Alice… [Bab 21]
Alice memang sudah merasa mencapai sebuah closure dari hubungan mereka itu. Namun, kabar baik yang diterimanya ini adalah sebuah pembuktian kalau semua pengorbanan serta jalan yang ia buka untuk pria itu—tidak sia-sia.
Seolah ini adalah sebuah garis finish yang sesungguhnya.
Tangisan Alice di hari ini yang terjadi di dalam mobil Hyunwoo bukanlah sebuah penyesalan, tetapi sebuah kebahagiaan karena dia bukan wanita terkutuk pembawa sial. Nyatanya, ia mampu membuat sang mantan kekasihnya itu kembali berbahagia—menutup seluruh kisah kelam yang terjadi dengan cantik.
(Cerita lengkap Hyunwoo-Olivia-Alice ada di cerita sebelumnya: Titik Tanpa Kembali.)

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Alice
Jim, sudah tidur? |
Jimmy Sing-Sing
| Belum, baru selesai preparing buat besok.
| Kenapa? Mau video call Sing-Sing?
| Sudah tidur dia, Lis. Kamu juga istirahat saja.
Alice
Baru tiba di HK. |
Aku kesana, ya. Sekarang. |
Jimmy Sing-Sing
| Eh? Kamu PP HK Singapura?
| Jangan Lis, pulang saja ke rumah.
| Tidak lelah, apa?
Sudah setengah jam—Jimmy tidak kunjung mendapatkan pesan balasan dari Alice. Hal ini tentu saja mengingatkan Jimmy kepada perjumpaan mereka di awal.
Dimana Alice memaksakan dirinya datang Macau hanya untuk berkunjung membawakan buah tangan karena telah terlanjur membuat janji dengan Sing-Sing. [Bab 6-7]
Tetapi hari ini? Tak ada janji pertemuan yang dibuat. Namun, Alice tetap ingin datang ke rumah Jimmy.
Alice
Jim, aku sudah di bawah, ya. |
Setelah membaca pesan itu, Jimmy bangkit dari kursi sofa, menuju ke kamar satunya lagi—mengetuknya sebelum ia dorong lebih lebar pintu itu.
“Ya, gor?” jawab Ah Kit yang berada di dalam kamar sambil melepaskan headset-nya.
“Ada, Alice di bawah… Titip Sing-Sing dulu, ya? Aku mau kebawah.”
Ah Kit malah berdiri, “Aku saja deh yang ke bawah.”
Hanya selang beberapa saat, sosok Alice pun tiba di hadapan Jimmy. Tangan kanannya terulur—memberikan kantong belanjaan yang begitu besar serta briefcase miliknya.
“Oleh-oleh dari Singapura, buat kamu, Sing-Sing dan anak-anak toko.” Jimmy segera meletakkan seluruh barang itu di atas meja dapur disamping mereka.
Tubuh Alice sedikit membungkuk, melipat lututnya ke atas untuk melepaskan sepatu hak yang dikenakannya. Tangan kanan Jimmy pun terangkat, telapaknya terbuka mengarah ke Alice—menawarkannya sebagai pegangan saat Alice berusaha melepaskan kedua sepatunya.
Tangan kiri Alice yang begitu lembut segera memegang erat tangan Jimmy yang terasa begitu kasar ketika disentuh.
Begitu kedua sepatu terlepas—Jimmy segera menurunkan kembali tangan kanannya. Namun, tangan Alice seperti enggan melepaskannya begitu saja.
“Lis, kenapa harus repot-repot kesini? ‘Kan, bisa besok saja? Bukannya pulang ke rumah segera istirahat?”
“Jim!” Alice memanggil Jimmy disertai ibu jari yang menekan kuat tangan Jimmy—meminta sebuah atensi.
Jimmy segera melabuhkan tatapannya kepada Alice.
Terlihat jelas mata bulat Alice kini tengah berbinar. Perlahan kedua sudut bibirnya terangkat manis. “Ini rumahku—” menggantung karena Alice menelan ludahnya. “Hong Kong.”
Jimmy membalas senyuman itu. “Welcome home, Mami.”
Jimmy, menyaksikan sendiri perubahan sorot mata Alice. Biasanya ia selalu memberikan tatapan yang tajam saat memandangnya. Malam itu, sorot mata Alice perlahan berubah tumpul—menjadi hangat.
Setiap kali matanya berkedip, mata yang berbinar-binar itu berubah menjadi berkaca-kaca. Seperti akan menangis namun senyumannya tidaklah luntur, malah semakin melebar.
“J… Jim—” suara Alice bergetar. “A… Aku berhasil, Jim.”
Kelopak mata Jimmy sedikit terangkat lebih tinggi. “Mmh? Soal? Oh, bangunan sebelah? Bukannya masih beberapa hari lagi, transaksi jual belinya?”
Mata Alice terpejam rapat. Alhasil, air mata langsung mengalir perlahan. Kepalanya pun menggeleng. “Bukan itu, Jim—” Alice kembali membuka matanya dan menarik napas perlahan.
“Masa laluku… Hari ini, aku telah berhasil melewatinya dengan indah.”
Tangan kiri Jimmy terangkat, hendak menghapus air mata yang telah membasahi pipi. Ibu jarinya mengusap dengan perlahan.
Tangan kanan Alice segera menyambar tangan kiri Jimmy yang telah berada di pipinya. Bukan untuk menepis—tetapi Alice menerima sentuhan itu bahkan menekannya agar lebih lama—menikmati kehangatan yang dipancaran oleh tangan itu.
“Mau menceritakannya, sekarang, Youngie?”
Kompor dua tungku di apartemen tua itu segera melakukan tugas malamnya. Jimmy menyangrai daun teh, kemudian menambahkan gula merah, mengaduknya sebentar. Dua cangkir susu segera bergabung begitu campuran dari daun teh dan gula merah itu mulai menimbulkan buih kecil yang meletup-letup.
Alice masih terus bercerita sambil menikmati semangkuk bubur abalone yang dipesan dari bawah.
“Jadi… Kamu sedang sedih atau bahagia sebenarnya?” tanya Jimmy yang kini sedang menyaring teh susu yang dibuat olehnya dengan menggunakan sebuah saringan kain.
“Bahagia, Jim. Bahagia.”
Jimmy kemudian meletakkan dua cangkir minuman itu di atas meja. Lalu menarik kursi untuk duduk di hadapan Alice.
“Hati kamu begitu besar, Lis.” ujar Jimmy sambil menopang dagu dan memperhatikan Alice yang tengah menyuap kembali buburnya.
“Pria itu telah menyakitimu namun rasa cintamu begitu besar dan terus kamu ubah, menerima semua kenyataan yang ada—” ucapan Jimmy terjeda, hanya untuk tersenyum simpul sekilas. “Bahkan menutupnya dengan memberikan kebahagiaan kepadanya.”
Kepala Alice mengangguk cepat, matanya masih terarah ke mangkuk bubur.
“Terus sekarang? Bagaimana dengan kamu?”
Alice menahan suapan nya. Bola matanya berputar untuk menatap ke arah Jimmy. “Maksudnya?”
“Mantan kekasih kamu itu… Sudah bahagia kembali dengan kekasihnya, mantan suamimu juga… Sudah bahagia dengan istri barunya… Terus kamu? Kapan kamu akan meraih kebahagiaan seperti mereka?“
Alice terdiam, mulutnya menampilkan senyuman. Tangan kanannya memutar-mutar sendok bebek. “Mungkin setelah aku mampu menuntaskan satu hal terakhir, sesuatu… Yang pernah kamu bilang kepadaku.”
Tanpa kata, Jimmy hanya merespon dengan dua alis yang terangkat. Perlahan, Alice mengangkat sendok dan menyuap bubur.
“Memaafkan diriku sendiri.”
Tatapan Jimmy kembali lekat memperhatikan Alice. Sekilas ada anggukan kepala saat Jimmy menyesap sedikit bibir bawahnya.
“Terima kasih, Jim.”
“Untuk?”
“Semua waktu kalian, semua kesempatan dan semua nasehatmu.”
Jimmy menarik napas perlahan. “Aku, tidak sedang menggurui dirimu, loh. Pengalaman hidupmu itu jauh… Jauh lebih menyakitkan daripada aku. Justru aku yang banyak belajar dari dirimu. Lewat rasa malu.”
“Rasa malu? hmh… Masih saja—”
“Waktu itu, sebelum kamu melengkapi semua ceritamu ini. Aku merasa malu karena… Kamu itu wanita, kamu bisa tetap bertahan setelah dicampakan dan perceraian. Sementara aku malah… umh, menutup diri.” Jimmy melepaskan napas dari mulutnya untuk tersenyum sekilas—menertawakan dirinya sendiri. “Mungkin ini perasaan aku saja, kamu seperti terus-terusan mendorong diriku—mengembalikan kepercayaan diri yang telah lama hilang itu. Nyatanya, aku mampu bangkit kembali.”
Kepala Alice tertunduk, menyembunyikan senyumannya. Tangan kanannya kini meraih cangkir teh susu hangatnya. “Balik lagi, semua demi Sing-Sing, Jim. Begitu kamu bangkit, efeknya pun jadi serentak, dengan bangkitnya kamu… Sing-Sing akan mendapatkan hidup yang lebih layak.”
Alice menyeruput minumannya dengan perlahan.
Jimmy menghela napas perlahan, melebarkan senyuman yang terarah kepada Alice.
“Lis… Kamu sudah sadar, ‘kan? Kamu itu… Bukan wanita yang membawa kutukan, bahkan kini kamu malah sedang memberikan kebahagiaan kepada—kami.”
Begitu meletakkan gelas, tatapan Alice kembali terangkat. Tatapan yang lembut dan hangat terarah segera kepada Jimmy.
“Iya… Papa.”
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Hari yang dinantikan Alice pun tiba. Akhirnya gedung yang berada di samping Sing-Sing Eating House telah berpindah tangan kepadanya.
Semua dokumen kepemilikan sudah lengkap dan sah. Transaksi pun segera terjadi. Uang milik Alice yang sebelumnya berbentuk deposito kini telah berubah menjadi sebuah aset.
Nantinya aset itu akan dikelola oleh Jimmy sebagai perwujudan ekspansi restorannya.
Apakah ini wujud kebahagiaanku itu?
Alice sedang mengamati dokumen kepemilikan gedung yang saat ini berada ditangannya.
Atau Sing-Sing dan Jimmy lah kebahagiaan satu paket itu?
Ah! Sial! Ucapan Maggie itu benar-benar menempel di kepala!
Selesai dengan urusan transaksi jual-beli, Alice segera kembali ke kantornya—ketika hampir menyentuh tengah hari.
Setelah menyelesaikan satu urusan kantor, dua rekan kerja Alice datang berkunjung ke dalam ruangannya tepat pada jam makan siang. Mereka datang membawa riuh—langsung melempar pertanyaan kepada Alice.
“Lis, kok resto lakimu tutup sih ini?”
“Quoi?” Alis kanan Alice terangkat naik. Matanya langsung melirik ke arah Karen dan Maggie yang baru saja menempati kursi sofa ruangan kerja Alice.
“Iya ini mau lihat-lihat menu, eh, kok malah lagi tutup—bukannya libur hari kamis? Ini ‘kan hari rabu?” Karen meletakkan ponsel di meja kopi yang berada di hadapannya.
Alice bangkit dari kursi meja kerja, pindah ke kursi sofa single yang berada di dekat mereka. “Ah, masa?” Alice menghidupkan layar ponselnya.
Tak ada pesan apa-apa dari Jimmy mengenai operasional restoran, hari ini? Chat terakhir kami… Tadi pagi, aku menyuruh Jimmy dan Sing-Sing untuk datang ke apartemenku malam ini—untuk mulai membahas ekspansi dan dia menjawabnya dengan ‘oke’ saja.
“Kenapa, ya? Mungkin lupa di nyalain kali, ya? Coba bentar—” Alice mencari kontak restoran Jimmy lalu menekan panggil dan mendekatkannya ke telinga.
“Ya, Lis?”
“Loh?” Dahi Alice mengerut, sebab yang menjawab panggilannya bukan Yoyo, tetapi ia disambut oleh suara Jimmy. “Pah, itu kok resto di aplikasi online-nya statusnya tutup sih? Kamu lupa nyalain apa gimana?”
“Hmm… ini tadi ada order jumlah besar untuk kebutuhan kantor gitu. Ini baru saja selesai dari jam 11… Rehat sebentar, habis ini buka lagi kok, cuma kayaknya tidak sampai malam, stok bahan hari ini sudah berkurang banyak.“
Bibir Alice terkatup dan kepalanya mengangguk. “Sing-Sing gimana, Pah? Kamu sibuk dari jam ia pulang sekolah? Bosen dong dia? Tak ada yang main dengannya?”
“Oh, tadi resto juga tutup sementara, Lis. Jadi dia bisa main di area dine-in. Bawel banget dia, diputerin lagu sama Ah Kit malah menjadi-jadi, joget kesana kemari.”
Pfft. Alice sempat menahan tawa—membayangkan Sing-Sing dengan seragamnya sedang berdansa dengan getakan andalannya di tengah-tengah resto dengan kerepotan di dapur. “Ya, sudah Pah… Nanti malam jadi ke apartemen, ‘kan?”
Sementara Alice terus berbincang dengan Jimmy melalui panggilan telepon, Maggie dan Karen sedang mengarahkan tatapan ke sosok Alice.
“… Iya, Pah… Iya, ga akan lupa makan siang kok. Habis ini aku sama yang lain main mau cari makan kok, Ok… Bye.”
Panggilan pun berakhir. “Tutup sementara guys, habis terima bulk order, kita—” Alice mengangkat tatapannya, malah menemukan Maggie dan Karen yang sedang memasang raut wajah penuh heran ke arahnya.
“Lis, kamu sama Jim—”
“Beneran sudah nikah jadinya!?” Karen memotong Maggie dengan suara yang langsung meledak heboh.
Sialan. Ini gara-gara… Aku kerap kelepasan memanggil Jimmy dengan Papa! Lupa kalau di ruangan ini ada mereka berdua yang menguping!
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
PFFT.
Jadi kapan Lis, bagi-bagi undangannya?
Dress code warna apa nih? Jadi hijau metalik?
Mau sekalian saya siapin dekorasi es batu gedenya—”A&J” sekalian?
