‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Tangan kiri Alice menopang dagu sementara tangan kanannya terus memutar ulang video Sing-Sing pada ponsel Jimmy. Semakin diputar, rasa rindu itu semakin membuncah.
Jimmy segera menghidangkan semangkuk bubur ke hadapan Alice. “Makan—terus minum obat.”
“Aw… Makasih, Jim.” Alice meletakkan ponsel Jimmy dan merubah posisi duduknya menjadi tegak.
“Jim—” Ada napas terhela lembut. “Aku kangen dia.”
“Sabar. Dua atau tiga hari lagi, kalau kamu sudah kembali sehat, bisa ketemu lagi sama dia, tapi—” Alice baru saja mengangkat sendok dari tabung peralatan makan, langsung terhenti dan melirik ke arah Jimmy. “Ingat yang aku bilang tadi siang, jangan memaksa… Kalau lelah, pulang istirahat. Jangan memaksa datang ke restoran.”
“Iya… Iya.” Sorot mata Alice kemudian turun kembali ke arah mangkuk dan daging ham yang berada di hadapannya. “Jim, Chilli Oil nya… Mana? Hehe…”
Itu hanya candaan—Jimmy hanya merespon dengan gelengan kepala sembari tersenyum simpul.
Jimmy kembali ke meja makan dengan membawa satu hidangan lain, tumis sayur. “Cuma ini saja yang selamat dari kulkasmu, Lis. Yang lain sudah layu. Cara menyimpannya salah, seharusnya masukan ke dalam kotak yang dilindungi oleh tisu dapur terlebih dahulu.”
“Baiklah, Chef.” Alice mulai menyuap bubur.
Bagi Alice semua makanan yang berada di atas meja sudah terasa sangat cukup. Bubur sederhana berwarna kekuningan, daging ham dan tumis sayur. Namun, bagaimana dengan Jimmy? Isi mangkuknya sama, cuma bubur apa itu cukup untuk makan malamnya?
“Jim, aku pesankan makanan lagi ya buat, kamu?” Alice segera meraih ponsel. “Tidak usah, Lis. Aku juga tidak mau makan terlalu banyak.”
Alice melirik ke arah Jimmy yang sedang memegang sumpit dan mulai mencapit sayur tumis. “Yang benar?” Alice ragu namun pria itu hanya menjawab dengan gerakan alis saja.
Telur. Alice langsung menebak darimana asal warna agak kekuningan dari bubur yang kental itu. Rasa asinnya begitu tipis dan didominasi oleh wangi minyak wijen yang begitu kuat. “Tumben hambar, Jim.”
Live Comment itu membuat Jimmy yang baru saja menyuap sayur langsung menatap kearah Alice. “Oh, ya? Kalau mau bisa tambahkan soy sauce.”
“Non!” Alice menggeleng dan siap untuk suapan kedua. Kali ini ia ada butiran daging ayam dan potongan kecil dari daging udang. Jimmy seolah memasukan dua elemen dari darat dan laut sebagai sumber proteinnya. Kedua daging itu juga terasa begitu lembek—terlalu mudah hancur. “Dagingnya, sudah kelamaan di freezer, ya, kayaknya, Jim? Seperti Hmm kurang segar?”
Jimmy mengangguk perlahan. “Maaf, seharusnya tidak aku pakai.”
Alice tersenyum. “Bukan salah kamu, lah… Salah aku yang menyimpannya… Sudah kelamaan sepertinya.”
“Lis, Kalau sempat sih, kamu labeli daging yang berada di freezer dengan tanggal pembelian.”
“Siap Chef!” Sudah dua saran yang Jimmy berikan untuk Alice. Bukannya Alice malas memasak, sebab akhir-akhir ini dia selalu makan malam di Sing-Sing Eating House, jadi… Mulai sedikit melupakan keadaan dapur dan kulkasnya.
Alice kemudian menyadari sesuatu. Hidangannya kali ini hampir serupa dengan makanan yang selalu ia berikan kepada Sing-Sing. Selalu ada karbohidrat (bubur), protein (udang, ayam, ham) dan serat (sayur Bok Choy).
Pantas saja. Pantas anak itu tumbuh dengan baik. Jimmy selalu memperhatikan keseimbangan makanan anaknya.
Pernah waktu itu, ketika Alice menyuapi Sing-Sing dan balita tidak mau menghabiskan makan malamnya, Jimmy segera memprioritaskan agar Sing-Sing menghabiskan proteinnya terlebih dahulu. Jimmy juga tidak membiasakan memberikan gula kepada Sing-Sing—sehingga anak itu tidak begitu tertarik dengan makanan dengan kadar manis tinggi.
Jadi kepintaran Sing-Sing bukan sebuah keajaiban genetik! Itu hasil kerja keras Jimmy yang mempedulikan standar gizi anaknya!
Well, dia pantas menyandang predikat ‘Ayah terbaik tahun ini’!
“Masakan buatanmu, Jim—” Alice meletakkan sendok, menggantinya dengan sumpit. Hendak mencoba sayur tumis. “Selalu terasa nyaman buatku. Err, Selain bahan yang kurang segar kali ini ya, karena berasal dari kulkasku.”
Jimmy hanya bisa menatap ke arah Alice sambil mengunyah perlahan makanannya. Mungkin bingung akan kalimat yang terasa retoris itu.
“Rasa, warna dan bahkan gizinya seakan selalu seimbang,” sambung Alice sambil menyuap sayur bok choy. Umami dan beraroma bawang putih.
Jimmy menarik napasnya begitu makanan di dalam mulutnya berhasil ditelan.
“Apa ya? Mungkin karena aku menerapkan prinsip He (和), harmoni setiap kali aku memasak. Keseimbangan antara yin dan yang-nya…”
Kali ini Alice yang tidak berkomentar, hanya melabuhkan tatapannya ke arah Jimmy sambil tetap mengunyah makanan. Seolah meminta pria itu untuk terus menjelaskan filosofi nya itu.
“Ikuti ajaran koki Tiongkok kuno.” Jimmy menggerakan alisnya, kepalanya kemudian tertunduk memutar sendok bubur.
Keduanya kemudian sunyi selama beberapa saat—setelah pembahasan soal filosofi rasa dari Jimmy, mengisi perut dan menghabiskan semua hidangan itu.
“Biar aku bereskan besok pagi, tak apa,” ujar Alice saat Jimmy menumpuk piring kotor di dalam kitchen sink. Namun, Jimmy langsung memutar kran, mulai mencuci piring.
Alice menggelengkan kepalanya. Dasar.
Saat mereka kembali sunyi, Alice hanya duduk diam dengan tatapan yang mengunci ke sosok Jimmy yang sedang mencuci piring,
Tuuuut! Samar-samar ada bunyi yang lolos dari sela-sela jendela. Bunyi klakson kapal laut dari luar sana, membuat Alice menoleh ke jendela.
“Eh, Jim, Sing-Sing bilang… dia suka laut… Apa—” Alice menjeda ucapannya, melirik ke arah Jimmy yang memunggunginya. “Apa nanti, aku boleh bawa dia kesini? Melihat laut?”
“Boleh, Lis,” butuh jeda dua detik untuk menjawabnya. Jimmy kini terlihat sibuk mencuci wajan.
Jawaban itu seakan mengisi energi Alice—langsung membayangkan Sing-Sing yang mungkin akan heboh dan berteriak melihat ke arah laut dari sini.
“Tetapi Lis—”
“Ya?”
Terlihat pergerakan dari bahu Jimmy seakan menarik napas. “Apa kamu siap jika harus membawa perginya seharian penuh?”
Eh, seharian penuh? Padahal aku pikir untuk beberapa jam saja? Dia mengizinkan aku pergi seharian penuh dengan Sing-Sing?
“Ehe, Siap aja kok, kenapa memang?”
Ada napas cepat yang terhela diikuti senyuman simpul. “Mungkin Sing-Sing yang kamu lihat itu ketika dia sedang, umh, baik. Jika kamu seharian bersamanya, kamu akan jengkel… Melihat dia tantrum, nangis, ingin ini-itu… Yakin, kamu siap?”
“S… Siap, kok.”
Memangnya seberapa menakutkan sih? Balita usia tiga tahun saat sedang mengamuk? Segera kuyakinkan diriku, meski sebenarnya… Aku sama sekali tidak punya pengalaman untuk mengurus anak kecil.
Begitu keadaan dapur telah kembali bersih, Jimmy segera berpamitan—masih harus menjemput Sing-Sing di rumah saudaranya, lalu memandikannya.
“Aku ikut ke bawah.”
“Ga usah, Lis.” Jimmy melarang Alice untuk mengantarnya, toh tinggal naik lift saja.
Bibir Alice merapat, tatapannya masih lekat memperhatikan pria yang saat ini sedang memakai sepatunya, “Umm… Terima kasih Jim, atas hari ini.”
“Istirahat, Lis. Jangan lupa, obat.” Sekali lagi Jimmy memperingatkan karena setelah makan malam Alice belum menenggak obat. “Agar cepat sembuh sehingga bisa main sama Sing-Sing, lagi.”
Ucapan itu membuat Alice menaikan sebelah alisnya. “Yeah, I know. Kamu kayak ngomong ke anak kecil aja, Jim.”
Setelah sepatu terpasang, Jimmy beranjak sambil membawa kantong berisikan kue yang Alice berikan tadi di rumah sakit.
“Jim, Sebelum berikan ke Sing-Sing kamu cek dulu, kalau basi buang saja, Jim.”
“Yeah, I know—” Jimmy mengulangi perkataan Alice. “Kamu kayak ngomong sama anak kecil aja, Lis.” Di akhir ucapannya Jimmy tersenyum usil—ia telah mengulangi kata-kata Alice hanya untuk menjahilinya.
“Dih, Ngeselin.” Alice melipat tangan di depan dadanya. Memperhatikan sosok Jimmy yang tengah membuka pintu.
“Oke, selamat malam nona Alice, selamat beristirahat.”
“Bye, Jim.”
Pintu tertutup, sosok Jimmy menghilang dari pandangannya. Kehangatan itu pergi, perlahan rasa dingin kembali datang—menyapa dengan perlahan dari tengkuk hingga akhirnya menyerang ke pikiran Alice.
Matanya kini berbinar sambil tetap memperhatikan pintu. Ada suara desis terlepas ketika mulutnya sedikit terbuka—kesal.
Tak mau terlarut dalam rasa sepi, Alice segera memalingkan badan. Namun, satu butir air mata berhasil memberontak keluar dan segera dihapus cepat oleh punggung tangannya.
Eh?

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Alice mengambil cuti keesokan harinya. Membuatnya mendapatkan long weekend—libur selama tiga hari. Namun, masih ada sedikit tanggung jawab—melakukan conference call dengan client di pagi hari, lalu menghadiri meeting darling internal dengan rekan kerjanya. Apa itu cuti? Ini cuma sekadar memindahkan meja kerja ke dalam kamarku saja!
Flu sudah benar-benar mereda. Yang tersisa hanya tinggal badan yang lemas dan perasaan rindu saja. Rasa hati sudah terus mengetuk untuk segera menemui Sing-Sing.
Ingin rasanya melakukan video call dengannya. Akan tetapi, mereka sibuk. Jika Sing-Sing teringat akan diriku mungkin ia akan merengek dan menangis saat kompor dan wajan sedang bekerja. Itu akan menambah kekacauan saja!
Setelah memastikan jadwal urusan kantornya telah selesai di pagi itu, Alice mencari udara segar—berjalan kaki menyeberang jalan melalui footbridge menuju mall yang berada tepat di samping apartemen.
Tujuannya untuk memanjakan diri, merapikan kuku dan merawat rambut. Namun, di dalam isi kepalanya tetap berkeliaran memikirkan Sing-Sing. Ketika ia mengunjungi toko baju ia tak lagi memikirkan pakaian untuk dirinya. Ia berkunjung ke bagian anak kecil. Memperhatikan beberapa baju anak-anak yang terlihat menarik oleh seleranya.
“Maaf, untuk ukuran anak tiga tahun ada?”
Tidak cukup sampai di pakaian. Alice berkunjung ke toko yang menjual perlengkapan balita, mencari booster seat.
Kedua tangannya segera penuh. Tangan kanan memeluk kardus kursi anak, tangan kirinya menjinjing kantong kertas sembari memegang ponsel.
Begitu melihat jam di ponsel ia segera mencari tempat makan siang untuk mengisi perut dan segera minum obat.
Hari jumat ditutup dengan sebuah panggilan video dari Jimmy. Panggilan yang menambal celah rindu yang Alice rasakan karena kehilangan sosok Sing-Sing yang belum ditemui selama beberapa hari ini.
Anak itu berceloteh kegiatannya di hari itu. “Bibi, tadi Sing-Sing pintar, membantu Yoyo menghitung kertas…”
“Kamu… menghitung uang?”
“Bukan, Lis. Struk orderan saat toko tutup.” Sesekali ada suara Jimmy yang membantu meluruskan ucapan Sing-Sing.
Lima belas menit bercuap-cuap—Sing-Sing sudah mulai menguap beberapa kali. Tatapannya mulai kosong dan mulai melepaskan mainannya.
“Bobo gih, sayang. Besok… Sore Bibi ke sana ya, kita ketemu, oke?”
“Iya… Sing-Sing kangen!”
“Memangnya, sudah membaik, Lis?”
Suara ayah dan anak itu saling tindih membuat Alice tersenyum tipis. Dua manusia yang begitu mempedulikan dirinya saat ini.
“Iya, sudah sangat baik dan sehat, kok, Jim.”
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅

Hari pun berganti. Alice bangun sedikit lebih siang dari biasanya. Setelah meneguk segelas air mineral untuk memulai hari, Alice segera menyalakan laptop. Menyusun semua kepingan rencana dari idenya sudah mulai terkumpul semenjak di rumah sakit hingga kemarin, ketika sedang me time.
“Jim, aku kesana sekarang, ya.” sekitar pukul tiga sore Alice mengirimkan pesan itu.
Kemudian memasukkan ponsel serta kertas yang telah dilipat menjadi dua bagian ke dalam tas bahu merk Coach.
Eh, buat apa ngirim notis pesan kayak gitu sih ke dia?
Kayak… Ah sudahlah.
Setengah jam kemudian, taksi merah yang ditumpangi Alice tiba di depan Sing-Sing Eating House.
Kondisi Sham Shui Po sore hari di akhir pekan, ramai sangat ramai. Semua toko sedang berbisnis karena dikunjungi oleh berbagai macam orang.
Begitu juga dengan keadaan di restoran, sama ramainya. Ada satu wajah asing yang merangkap menjadi waiter dan server. Alice langsung menduga kalau perempuan yang terlihat lebih muda daripada Yoyo dan Ah Kit itu adalah pegawai baru.
“Maaf, meja sedang penuh,Bu. Kalau mau, paling Wai Mai.” baru saja Alice hendak menerobos masuk menuju ke kasir. Pegawai baru itu segera mencegat Alice. (Bungkus—bawa pulang)
Langkah Alice terhenti, “Umm—” tatapan mata Alice pun tertuju ke arah dalam dan langsung bertemu pandang dengan Yoyo.
“Ling!” pekik Yoyo. “Tak apa-apa, dia bukan tamu!”
Sosok Ling mungkin belum mengetahui siapa Alice. Begitu ditegur oleh Yoyo, Alice kembali melangkah melewatinya sembari tersenyum.
Bagus, bagus, menjalani SOP dengan baik!
Jimmy sempat melirik ke arah Alice yang kini berdiri di dekat Yoyo. Pundaknya sempat terangkat ke atas seraya melepaskan napas dan senyuman.
“Sing-Sing mana?” tentu saja itu adalah hal pertama yang dipertanyakan kepada Yoyo. “Tidur di belakang, Je, mungkin sebentar lagi dia bangun.”
Alice melirik ke arah lorong.
“Je, maaf ini aku agak bingung dengan laporan tiga hari lalu… Kok agak aneh ya…” Yoyo menahan langkah Alice, mempertanyakan permasalahan yang tengah dihadapi olehnya.
Hanya butuh beberapa menit bagi Alice untuk segera mengetahui keanehan yang terjadi pada laporan harian dari restoran.
“Oh ini, pasti kamu ada salah input pembayaran… Mungkin ada yang seharusnya cash jadi ke EDC, coba kamu cocokan saja dengan settlement harian dari mesin EDC.”
Sosok Alice yang sedang menggurui Yoyo secara tidak langsung mengukuhkan siapa dirinya. Semua pengunjung restoran akan langsung membaca ‘Oh istri si Boss’ dan persepsi itu juga terbentuk di benak Ah Ling si pegawai baru.
“Bu, maaf, saya tidak tahu tadi…”
“Mou man tai, Eh, ngomong-ngomong nama kamu siapa?” (Tidak apa-apa)
Oke. Lengkap dan seimbang. Dua pria, dua wanita. Di area tempur alias dapur ada Jimmy dan Ah Kit yang kini menjadi ‘Menara ATC’ mengatur lalu lintas pesanan dan membuat minuman. Poin plus nya? Dia memakai sarung tangan karet saat harus menyentuh peralatan makan dan minum.
Ah Ling pegawai baru juga tidak menambah beban jiwa untuk Jimmy. Karena tugasnya sederhana, terima orderan meja—antar pesanan dan membenahi meja yang kotor.
Lalu Yoyo, tetap di kasir dan sesekali ikut turun untuk membenahi meja—membuat pergantian pengunjung bisa cepat.
Strategi Alice sudah mulai diterapkan dan tentu saja ini mereduksi kekacauan dan tersendatnya alur pemesanan di restoran.
Semua pergerakan sekarang efisien dan jelas—tidak ada keluhan pelanggan soal salah pesanan maupun durasi masak yang lama.
Alice tidak perlu lagi merasa gemas lalu menggulung lengan bajunya untuk masuk menjadi part timer dan memerah keringat untuk membantu restoran ini.
So, ide step-up yang akan segera aku presentasikan, tidak mungkin akan ditolak oleh kamu kan, Jim?
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Ide apaan sih, Lis?
“Jadikan aku istrimu Jim! Akan ku benahi restoran ini” ?
