‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
“Hiks, Hiks, Papa…”
Tepat satu jam setelah kedatangan Alice ke restoran. Alice mendengar dengan jelas suara tangisan itu.
Berasal dari belakang dimana Sing-Sing menghabiskan waktu tidur siangnya. Alice beranjak dari kursi, mengungguli Jimmy yang juga bereaksi, bergerak dari area dapur.
Begitu tiba di area belakang. Perasaan Alice langsung terenyuh dengan kondisi dan pemandangan itu.
Suasana di belakang sana cukup pengap, panas dan lembab. Ada kasur busa kecil berlapis kain sprei tipis dan beralaskan kayu. Bukan kamar yang proper, lebih menyerupai area dapur lainnya karena ada kitchen sink besar dan logistik restoran tersimpan disana: krat botol kecap, sayur mentah, kulkas dan freezer.
Ada kipas angin tua yang bekerja keras demi sebuah sirkulasi udara segar. Namun, tetap saja pengap dengan panas tak terhindari.
Wajah Sing-Sing memerah, rambutnya juga bermandikan keringat. “Papa, papa, mau papa…”
“Sayang…” Alice memanggilnya dengan wajah penuh senyum kerinduan.
“Bibi…” Si kecil langsung merentangkan tangan dan mencoba berdiri di kasur. Sebelum anak itu jatuh karena kehilangan keseimbangan—Alice langsung menangkapnya dan menggendongnya.
Tangisan itu seketika terhenti berganti menjadi pelukan erat disertai bibir yang merajuk. “Bibi kemana aja? Sing-Sing kangen.”
Senyuman Alice berubah menjadi tawa, menyadari kalau absen selama beberapa hari bisa membuat anak berumur belum empat tahun ini merindukan dirinya.
“Kerja sayang, sudah ya, Sing, jangan menangis.” Awalnya Alice hanya ingin mendekatkan bibirnya di dekat kuping Sing-Sing saja namun pergerakan kepala Sing-Sing membuat Alice menjadi tak sengaja mengecup pipi Sing-Sing yang terasa basah berkeringat.
Jimmy berdiri dibelakang Alice—melihat pemandangan itu. Pria itu terdiam tidak bisa melarang Alice yang terlihat begitu merindukan Sing-Sing. Tak mungkin ia memisahkan mereka, yang ada Sing-Sing akan mengamuk besar.
Jimmy segera menghampiri keduanya—memberikan botol air minum kepada anaknya yang baru saja bangun dari tidur siang.
“Mo pipis… Sing-Sing mo pipis…”
“Ayo sini , Sing…” Jimmy segera menjulurkan tangannya hendak mengambil alih Sing-Sing dari Alice.
“It’s Okay, Jim. Sama aku saja. Sana balik ke depan.” Alice mulai melangkah membawa Sing-Sing ke toilet.
“Duh, Lis. Jadi merepotkan—”
“Boss! Ada tambahan pesanan!” Yoyo berteriak di depan lorong.
“Kan? Udah sana! Hush-hush.” Alice sedang berjongkok, membantu Sing-Sing yang hendak buang air kecil.
Jimmy segera terusir dari mereka karena harus segera melakukan kewajibannya sebagai seorang koki. Meninggalkan Alice yang sudah bukan sekadar mengasuh Sing-Sing tetapi merawatnya.
“Bibi tau ga kemaren, kemaren itu aku ke mall, disana aku naik lift. Tekan tombol lantainya sampai deh.”
“Oh ya, Sing-Sing suka ke mall?” tanya Alice sambil berjongkok dan memegangi tubuh Sing-Sing.
“Suka, seru, bisa main… Udah.”
Namun, tak ada respon dari Alice. Karena harus membersihkan Sing-Sing terlebih dahulu. Anak itu tetap berceloteh hal-hal yang sebenarnya sudah Alice dengarkan saat mereka video call kemarin malam.
“Mall dan laut, kamu suka yang mana, sayang?” Perlahan Alice menyeka wajah Sing-Sing dengan beberapa lembar tisu.
“Mhhh apa ya… Mall suka, laut juga suka.”
“Kalau… Besok pergi sama Bibi berduaan kita ke mall dan melihat laut, Sing-Sing mau?”
Apa yang bisa membuatnya menolak? Alice memberikan rayuan akan dua tempat yang disukai oleh Sing-Sing—tentu saja tidak ada. Sing-Sing langsung menjawab dengan, “Mau!”.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Begitu selesai, keduanya keluar dari area belakang dengan senyuman. Si kecil masih berceloteh soal laut, Alice masih tetap menanggapinya.
Yoyo meminta izin untuk rehat. Awalnya Ah Kit hendak menambal kekosongan di kasir. Namun, Alice melarangnya. Ia sendiri yang akan menggantikan posisi Yoyo, sambil menggendong Sing-Sing.
Toh, sedang sepi juga, tak masalah.
Beberapa menit Alice habiskan untuk meladeni Sing-Sing.
Hingga terdengar suara sambutan dari Ah Ling kepada pengunjung yang baru datang. Alice segera stand by di belakang meja kasir, dengan kepala menunduk—langsung sibuk dengan aplikasi POS.
“Sing-Sing mau nonton.” Sing-Sing menunjuk ke ponsel kasir.
“Tidak ya, sayang… Tadi sebelum tidur siang, pasti Sing-Sing sudah menonton kan? Nanti… Bibi bacain buku saja ya habis ini, mau?”
Chup. Wajah mereka begitu dekat, membuat Alice mencium pipi lembut Sing-Sing.
“M… Mau!”
Pembicaraan Ah Ling dan pengunjung dapat terdengar di udara. Sang tamu hendak membeli untuk membawa pulang, Ah Ling segera mengarahkannya untuk langsung saja memesan saja di kasir.
“Eh, ini… Ibu Alice, kan?”
DONG!
Satu dari beratus-ratus kemungkinan bisa bertemu dengan orang yang dikenalnya di Hong Kong itu bisa terjadi kapan saja.
Namun, siapa sangka Alice akan bertemu dengan orang kantor yang dikenal olehnya disini, di Sham Shui Po di restoran kecil bernama Sing-Sing Eating House.
Aduh, anak buahnya Karen lagi! Abis deh ini, bisa jadi bahan ghibah sekantor.
“Eh, Halo… Winnie.” Senyum Alice merekah namun terlihat agak canggung.
Mata Alice hanya mampu bertahan satu detik untuk menatap ke arah Winnie. “Duh, kok bisa ketemu disini, ya? A…Haha” Alice tertawa hambar—nada bicaranya menjadi sangat-sangat kaku.
“Iya, ya, Bu? Biasa ketemu di kantor loh—” Alis Winnie terangkat naik—menyadari sesuatu. “Eh, restoran ini punya ibu Alice?”
“Bukan, bukan punya Papanya Sing-Sing!” si kecil menyambar—menjawab pertanyaan Winnie.
Alice panik bukan main, siapa sangka ia akan bertemu dengan rekan kerjanya disini? Dia bahkan belum mempersiapkan jawaban yang pasti. Malah disambar duluan oleh Sing-Sing.
Eh! Tunggu, jawaban Sing-Sing itu bisa memperkeruh keadaan kalau tidak segera aku jawab!
“Ah, i… ini, punya kerabat saya.”
“Ooh…” Winnie mengangguk—tangannya menyentuh kertas menu lalu memesan untuk bungkus bawa pulang.
Basa-basi terjadi ketika sedang memesan, ada satu hal yang membuat Alice bangga dan yakin kalau Sing-Sing Eating House ini bisa berkembang jauh lebih daripada restoran YTTA (Yang Tau-Tau Aja) sebab kedatangan Winnie karena ia telah dipengaruhi oleh Karen yang begitu terkesan dengan masakan yang dibuat Jimmy.
“Eh, Ini… Anak ibu?”
Sialan. Dia mengejek atau lupa sih? Seharusnya berita perceraianku dengan Raymond sudah bukan rahasia umum lagi. Lagipula kalau Sing-Sing ini anakku—kapan aku hamilnya!? Kapan kamu melihatku di kantor berjalan perlahan dengan perut buncit coba?
“Bukan Win… Ini anak yang punya restonya—” Jari tangan kanan Alice sedang sibuk dengan mesin EDC karena Winnie membayar memakai kartu debit. “Sing, ayo beri salam ke Bibi Winnie.”
“Halo, Bibi selamat… umh Siang!” Sing-Sing yang menuruti perintah Alice dan langsung memberikan salam—membuat Alice berbangga hati—dadanya membusung saat merobek kertas struk EDC dan mengembalikan struk serta kartu milik Winnie.
“Ditunggu sebentar, ya, Win…” Tangan kanan Alice mengudara, memberikan kertas Order kepada Ah Kit.
“Baik Bu…” Winnie menjawab dengan kaku seperti sedang berada di kantor.
Namun, yang lebih aneh itu, secara hierarki Winnie berada di bawah Alice. Saat ini malah terkesan Alice yang sedang melayani ‘bawahannya’ hingga menerima bayaran darinya—membuat sesuatu segera terbesit di benak Alice: Lah bodoh, kenapa ga aku traktir aja dia, ya?
Alice memutar tubuhnya, mencari keberadaan tas Coach miliknya, meraih dompet tipis—card holder.
Buru-buru ia memasukan kwetiau goreng sapi kering sebuah menu andalan yang menguji seberapa hebat Jimmy saat memasaknya.
Alice membayar itu dengan kartu pribadinya dan sekali lagi memberikan struk order kepada Ah Kit. “Ini buat makan disini, Je?“
Alice menggerakan jari telunjuk tangan kanannya. “Non, satukan sama yang tadi, Wai Mai.”
“Sing-Sing anaknya Bibi Alice?”
U… Uh? Apa yang baru aku dengar? Anak ini mencelotehkan sesuatu? Sing-Sing anakku? Uh, I Wish, Sing.
“Bukan dong… Kamu ‘kan anaknya Papa Jimmy!” bisik Alice sambil mendusel hidung mancungnya ke pipi Sing-Sing.
Mungkin konteks Sing-Sing jadi kacau karena ucapan Winnie tadi.
Ngomong-ngomong, Sing-Sing agak bau keringat. Mungkin sehabis ini aku harus naik ke atas untuk menggantikan bajunya.
Beberapa saat kemudian Ah Ling memberikan pesanan Winnie yang telah jadi. Ada sedikit perbincangan kecil di antara mereka, sudah pasti soal adanya menu tambahan disana yang merupakan traktiran dari Alice. Ah Ling menunjuk ke arah Alice.
“Cobain Win, udah saya yang bayar!” Volume suara Alice agak lebih besar dari biasanya karena Winnie duduk cukup jauh dari hadapannya.
Winnie yang sudah berdiri, menghampiri Alice dan menghaturkan rasa terima kasih karena traktiran itu. “Kasih pendapat ya nanti, kalau enak, kasih tau yang lain!” Traktiran itu diubah oleh Alice menjadi sebuah soft selling marketing.
Hanya saja, yang tidak dicermati oleh Alice adalah persepsi yang diterima oleh Winnie. Alice tetap percaya diri kalau traktiran itu sebagai superioritas seorang atasan dan bentuk marketing restoran. Ya, setidaknya itulah yang diyakini Alice saat ini.
“Jim, boleh aku ke atas? Baju Sing-Sing basah, keringat.” Begitu Yoyo selesai beristirahat dan kondisi restoran sedang tenang, Alice meminta izin kepada Jimmy.
Jimmy melirik terlebih dahulu ke area dine-in hingga akhirnya ia melepaskan apron dan menemani Alice serta Sing-Sing untuk naik ke apartemen.

Alice selalu melintasi anak tangga itu ketika malam hari. Kalau malam, suasananya selalu terasa eerie. Tong Lau—bangunan tua dengan cat tembok kusam, lampu penerangan berwarna kuning, bau dupa, tangga semen kemudian pipa dan kabel-kabel terekspos bergelantungan di lekukan tembok.
Matahari masih bersinar membuat suasana apartemen tua ini tidak seseram itu, cuma bau ‘tua’-nya masih tetap terasa tajam. Ada satu hal yang baru Alice temukan, pada salah satu permukaan tembok menampilkan emboss huruf ‘1932’. Tahun gedung ini berdiri?
“Sing, sekalian langsung mandi sore saja, ya?” tanya Jimmy saat membuka pintu unitnya.
“Ga mau, Sing-Sing maunya main sama Bibi Alice dulu!”
“Ugh…” Alice tidak bisa menahan ucapannya saat pintu terbuka dan melangkah ke dalam sana. Terasa begitu pengap dan hangat cenderung ke panas. Akibat hawa panas terjebak karena jendela yang tertutup dan tirai yang tidak dirapatkan.
Mendengarkan hal itu, Jimmy langsung menuju jendela—membukanya lebar-lebar demi sirkulasi udara segar.
“Jam berapa dia harus mandi dan makan malam, Jim?”
“Mandi sekitar jam lima, makan jam enam…” Alice melirik ke arah jam dinding. Baru pukul empat.
“Kamu ke bawah lagi saja, Jim. Biar, aku temani dia, nanti jam limaan, biar aku yang mandiin… Jam enam, aku turun ke bawah.”
Alis Jimmy langsung bertaut. “Lis, ga usah se repot itu ah. Kamu juga baru sembuh, jangan paksakan diri—”
“Kalau lelah istirahat? Iya, Jim iya. Tapi aku belum lelah dan aku mau membacakan buku dulu untuk dia.” Alice memotong ucapan Jimmy sembari meletakkan Sing-Sing—anak itu segera berlari menuju ke kamarnya.
Jimmy menelan ludah, selama beberapa detik matanya tertuju kepada Alice. Sedangkan Alice sedang memperhatikan Sing-Sing yang kini sedang mendorong sebuah kotak boks hitam besar dari dalam kamar.
“Uuhh uuuhh” gerutu Sing-Sing karena kotak itu terlihat berat untuk didorongnya. Alice segera menghampiri Sing-Sing yang berada di dalam kamar sambil tertawa.
“Kotak apa ini Sing? Uhh? Buku? Banyak banget buku kamu sayang?”
“Sing-Sing mau baca yang ini! Yang ada tikusnya!” Sing-Sing mengangkat sebuah buku ke hadapan Alice.
“Boleh, tapi ganti baju dulu ya, kamu…”
Ada bunyi bip yang berasal dari pendingin kamar yang menyala. Jimmy berdiri di kusen pintu—menyalakan AC.
“Bener, Lis? Tak apa aku tinggal?”
Alice langsung mengangguk, “Iya, Jim, mou man tai!“
Iya, iya jangan ganggu kencanku dengan Sing-Sing, hush-hush!
“Nah… Pada suatu hari—” ia mulai membacakan buku untuk Sing-Sing.
“Lis… Baiklah, aku turun ya.” Jimmy segera merapatkan pintu kamar—meninggalkan Sing-Sing dan juga Alice.
Begitu pintu tertutup, dunia Alice seolah hanya dihuni oleh dia dan Sing-Sing saja. Terkurung di dalam apartemen sederhana di wilayah Sham Shui Po.
Ini so much better, daripada aku menghabiskan waktu di apartemen mewah namun kesepian. Disini aku menghibur dan terhibur oleh seorang anak manis.
ˎˊ˗⋆。°✩📄
Alice pikir memandikan Sing-Sing adalah hal mudah. Namun, apa yang terjadi?
Malaikat kecil itu seakan berubah menjadi monster! Alice tidak tahu kalau Sing-Sing tidak suka ketika kepalanya tersiram air walaupun itu berasal dari kucuran air shower yang pelan.
Sing-Sing panik dan berteriak kencang. Bahkan langsung memeluk Alice dengan mata terpejam. “Ga mau, ga mau keramas!”
Hingga akhirnya setelah drama kecil itu, Alice berhasil memandikan Sing-Sing walau kaos putih Prada-nya menjadi sedikit basah karena amukan si monster kecil—Sing-Sing.
Alice hanya bisa tertawa miris sembari kembali menjemur handuk. Sementara si kecil? Ia sudah kembali sibuk dengan kotak mainannya.
Alice kemudian mencari keberadaan ponsel miliknya, sempat terdengar berdering ketika sedang sibuk memandikan Sing-Sing tadi.
Ada panggilan tak terjawab dari Karen. Lah, tadi ketemu anak buahnya, ini sekarang kepalanya yang menelpon, ada apa deh?
“Halo, Lis? Dimana kamu? Sombong amat ga di angkat tadi? Lagi sibuk pacaran sama si duda koki itu ya? Ehehe”
Shit. Inilah permulaan dari segala gossip.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Ciyeee Alice. Basah karena mandiin Sing-Sing,
ketangkap basah juga karena lagi bantuin Jimmy!
