‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

“Lihat Bibi, ini Ti-Lex! Aumm”

Cerita mengenai dinosaurus itu baru diberikan secara lisan dan visual dari buku baru yang Alice bawa. Jeda beberapa saat untuk mandi sore, Sing-Sing kini kembali sambil menirukan T-Rex kehadapan Alice.

Alice tak tertawa dan terus mengagumi anak tiga tahun yang ingatan dan kemampuan kognitifnya terasa begitu hebat. “Kalau Stegosaurus, Sing?”

“Emm mmm, yang mana, yah?” Sing-Sing terdiam sambil memeluk buku barunya.

“Ahaha sini-sini kita baca lagi yuk, Sing?”

Sing-Sing melemparkan bukunya ke atas meja tepat dihadapan Alice. Kemudian tubuh kecil itu memanjat ke pangkuan Alice. Tanpa ragu Alice segera mengangkat tubuh Sing-Sing hingga menempati pangkuannya. “Ini loh, Sing… Stegosaurus.”

Mmhh wangi anak kecil habis mandi, wangi sabun yang lembut.

“Sing, ke belakang saja sama Bibi Yoyo…” ujar sang Papa.

“Ga… Sing mau baca disini.” Tangan kecil itu memukul permukaan meja—menunjukan sedikit egonya. Jimmy menghela napas, “Sing!” Nada suaranya naik saat memanggil putrinya. Namun, Alice langsung menengahinya. “Tidak apa-apa.”

Bunyi sutil besi beradu dan kompor high pressure kembali menguasai dapur. Sebuah pertanda Jimmy sudah kembali bekerja untuk memasak pesanan.

Tidak sampai empat menit pesanan Alice tiba, Jimmy sendiri yang mengantarkan pesanan itu.

Loh? Yang tadi sampai sembilan menit? Sekarang kok cepat? 

Otak kalkulatif Alice segera berputar pada kecepatan penuh.

Berarti pesanan yang menghabiskan waktu sembilan menit tadi itu bukan karena kesalahan Jimmy? Waktu masak untuk satu sajian ini cukup singkat, berarti molornya waktu penyajian sebelumnya karena kekurangan sumber daya? 

Dia bertarung dengan semua antrian pesanan seorang diri? Kenapa tidak menambah koki saja? Bukankah semakin cepat demand terpenuhi semakin banyak orderan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat?

“Sing-Sing, ayo jangan ganggu Bibi Alisu, ia mau makan… Ayo ke belakang…” Ternyata itu alasan Jimmy mengantarkan pesanan Alice secara personal.

Loh, dia sudah tahu namaku? Namun, Alisu? Oh, pasti karena Sing-Sing yang berceloteh kepadanya?

“Ga mau, awku kan lagi baca.”

“Sing-Sing…” intonasi suara Jimmy agak menanjak namun anak itu tak lagi merespon ucapannya. “Mh gan yiu, biar Sing-Sing bersamaku saja…” (Tidak apa-apa)

Mata Jimmy sempat terpejam diiringi helaan napas cepat. “Papa masak dulu buat makan malam kamu ya, Sing… Habis itu jangan ganggu Bibi Alisu, lagi.” Jimmy pun berlalu membiarkan Sing-Sing berada di pangkuan Alice. 

Sing-Sing akan diberi makan apa ya? Mungkin lauk yang sama dengan menu yang ada? Kasihan juga kamu Sing, kalau gizimu tidak begitu terpenuhi.

Ada gelombang baru dari pengunjung yang masuk ke dalam restoran. Mungkin yang akan makan ditempat sebab dari pakaian mereka, terlihat seperti pegawai kantoran yang hendak bercengkrama sambil mengisi perut setelah jam kantor.

“Sing… Kata Papa ayo ke belakang, makan malam kamu juga sudah jadi loh.” kali ini bukan Jimmy tetapi pegawai wanita yang sebelumnya bekerja di kasir mencoba menjemput Sing-Sing.

“Enggak! Sing-Sing mau disini. Mau makan sendiri disini.” Si kecil sekali lagi menunjukan amarahnya dengan memukul buku dan bersandar penuh ke tubuh Alice.

“Sing-Sing tidak lapar? Ayo dengerin Papa nanti dimarahi loh…” Alice berbisik.

“Enggak disini aja!” Namun bisikan Alice kali ini tidak juga mempan.

“Bibi Alisu mau makan loh, kamu juga harus makan Sing… Gini drh, kalau Sing-Sing bisa menyuap sendiri, kamu boleh temani bibi disini.”

“Bisa… Sing-Sing bisa suap sendili!”

“Hmm baiklah…” Alice menoleh ke wanita itu yang mungkin saja bernama ‘Yoyo’ itu. “Mmh… Bilangin saja ke Papanya, saya tidak keberatan ditemani Sing-Sing disini… Bawakan saja makan malamnya kesini, ya?” Wajah perempuan itu sempat terlihat ragu.

Namun, gelombang pengunjung baru itu membuatnya harus segera meninggalkan Alice untuk kembali bertugas.

Piring stainless bersekat yang memisahkan nasi dengan lauk tiba di hadapan Alice. Awalnya, Alice menduga kalau Jimmy akan memberikan nasi goreng yang sama dengan yang Alice pesan—memasaknya berbarengan tadi.

Namun, tidak. Makan malam Sing-Sing terbilang sederhana tetapi cukup memenuhi standar gizi.

Karbohidratnya nasi putih, proteinnya daging ikan fillet yang sudah dipotong-potong kecil dan seratnya masih dicampur dengan protein—cah buncis dengan telur.

Ungh ungh…” tubuh kecil itu merangkak turun dari pangkuan Alice. “Sing mau duduk sendiri.”

Sing-Sing berpindah ke kursi sebelah Alice, tubuh kecilnya berusaha memanjat kursi itu seorang diri. Membuat Alice menjadi waspada—memegang tubuh belakang Sing-Sing. 

“Mh mhh… Pelan-pelan sayang.”

“Makan!” Wajah itu tersenyum senang begitu berhasil duduk menghadap ke piring makan malamnya.

“Benar ya, Sing? Habiskan makan malam kamu ya, sayang?” Alice memberikan sendok kecil berwarna biru muda ke tangan Sing-Sing. “Iya!”.

Sing-Sing membuktikan ucapannya dengan menyuap makanannya sendiri. “Bibi juga sambil makan ya, Sing…” Alice mulai meraih sendok dan garpu. Tak lupa ia tuangkan Chilli Oil dalam jumlah banyak yang sudah menggoda dirinya sedari tadi.

Nasi goreng Yang Chow tidak berwarna gelap cerah dan berwarna-warni. Secara konsep, perak (nasi) dibalut dengan emas (telur). Warna-warni karena kehadiran kacang polong dengan wortel yang dipotong berbentuk dadu kecil.

Proteinnya berasal dari dua elemen berbeda, darat dan laut. Ada daging udang kupas dan char siu (babi panggang merah). Alice mulai menyendok nasi itu, tanpa Chilli Oil untuk menilai keotentikan masakan dari seorang mantan Executive Chef, Jimmy.

Sendok itu belum tiba ke mulutnya tetapi wangi tajam dari minyak wijen sudah tercium melalui hidung Alice. Begitu tiba di dalam mulut, ada satu aroma lagi yang menguasai rongga mulut—wokhei (napas wajan)aroma gosong,asap. 

Nasinya tidak menggumpal, rasa asinnya juga pas. Udangnya terasa garing dan segar. Daging Char Siu nya tidak keras, teksturnya empuk dan mudah untuk dikunyah. Ini enak!

“Nasi goreng buatan Papa kamu enak, Sing…” gumam Alice sambil memberikan Chilli Oil pada suapan berikutnya.

“Ehehe ‘kan? ewnaak.” Sing-Sing menjawab sambil mengunyah makan malamnya.

Wajar sih tadi sempat ramai dan membludak sampai preparing timenya agak terdorong lama. Mungkin saja itu para pelanggan yang sudah memahami kondisi disini. Mereka tidak mengeluh lama karena sudah tahu kalau “mesin masak”-nya hanya Jimmy seorang dan antrian pesanannya banyak. 

Tetapi, tetap saja. Jika keefektifan manajemen diperbaiki dan dua wajan besar itu dikerjakan dua orang pasti akan lebih cepat dan orderan yang masuk akan lebih banyak.

Sudah empat suap masuk ke dalam mulut Sing-Sing. Alice segera menyadari sesuatu, berapa lama durasi makan efektif anak umur tiga tahun? Alice segera melakukan pencarian pada ponselnya dan menemukan jawaban dari pertanyaannya itu. 

Waktu efektifnya 30 menit‘.

Mulut Sing-Sing terlihat sudah berhenti mengunyah, matanya sedang terpaku pada buku baru. 

“Sing? Suap lagi dong kalau sudah kosong mulutnya…”

Tangan kananku seakan bergerak otomatis untuk meraih sendok miliknya, begitu tahu batasannya adalah 30 menit. Sebab, sudah sepuluh menit dan belum sampai setengah porsi ia habiskan.

Alice menyiapkan nasi serta daging untuk memberikan suapan kepada Sing-Sing. “Aaa…” ucap Alice sambil membuka mulutnya sendiri. Begitu sendok itu tiba ke mulut Sing-Sing, mulut Alice kemudian merapat seraya mengikuti gerakan bibir Sing-Sing. “Pinter, Sing-Sing pinter, ya…”

Dari kejauhan, sekilas Jimmy mengalihkan tatapannya untuk melihat kondisi anaknya yang kini sedang disuapi oleh Alice. 

Mungkin saja Jimmy merasa malu karena putrinya telah merepotkan dan mengganggu kenyamanan seorang pelanggan. 

Namun, saat ini ia tak berdaya karena kesibukannya di dapur.

Mungkin Sing-Sing sudah mulai bosan dan merasa kenyang. Sebab anak itu mulai turun dari kursi, padahal tinggal sekitar dua sendok makan lagi yang tersisa. “Sing? Mau kemana? Tinggal dua suap lagi, loh…”

Sing-Sing tak menjawab—anak itu berlari cepat ke arah dalam. “Sing-Sing! Mau kemana?”

Ada seorang pegawai yang mengejar Sing-Sing ke dalam lorong. Ke toilet kali ya? Namun, beberapa detik kemudian Sing-Sing kembali kepada Alice. Membawa buku berikutnya. 

“Bibi… Sing-Sing mau yang ini…”

“Oke, Bibi bacain lagi—” Telunjuk tangan kanan Alice teracung. “Tapi… Sing-Sing janji habisin dulu makanan kamu, ya?”

“Ya…”

Janji diatas janji. Dua suap terakhir Sing-Sing habiskan sebelum menyentuh setengah jam. Sementara Alice sudah menghabiskan makan malamnya sedari tadi, membuatnya kini kembali bebas untuk membacakan buku untuk Sing-Sing.

“Sing-Sing mau naik kereta lagi di dalam tanah,” celoteh anak itu.

“Sing-Sing pernah naik kereta?” tanya Alice.

“Pernah! Di bawah gelap terush… terush keluar… terang deh! Ada gedung-gedung…”

Uuhh dia begitu lucu, imut dan pintar! Mampu mengingat dan menggambarkan kembali hal yang ia lihat lewat perkataannya.

“Oh, ya? Sing-Sing kemana waktu itu? Naik keretanya?”

 “Emhhh emhhh,” Sing-Sing bergumam wajahnya tampak bingung. Mungkin pertanyaan itu masih sulit untuknya, ya?

“Sing-Sing lihat apa? Waktu itu?” Alice merubah pertanyaannya, dikerucutkan ke hal yang dilihat oleh anak itu.

“Waktu itu, Sing-Sing lihat anjing putih bewsar! Dia malas… dia tidur di atas rumah!”

Alice tertawa mendengarkan kepolosan Sing-Sing. Anjing putih besar? Tidur di atas rumah? Ini pasti The Snoopy World di Sha Tin!

“Ahaha, itu Snoopy namanya, Sing… Kamu suka kesana?”

“Suka!” jawab Sing-Sing dengan ceria.

“Mau kesana lagi?”

“Mau! Tapi-tapi naik kereta… Biar seru…”

Rasa hati ingin mengajaknya kesana. Namun, pasti akan terasa aneh. Kami baru saling mengenal kurang dari 24 jam, meminta izin kepada Jimmy? 

Ulala, langsung dilabeli sebagai penculik yang ada.

Waktu terus berputar, Alice benar-benar menikmati perannya sebagai pengasuh Sing-Sing. Berangsur-angsur suasana restoran pun berubah sepi, salah satu pekerja bahkan sudah berpamitan menyisakan susunan yang sama dengan yang kemarin malam. 

Oh, sudah pukul depan malam rupanya.

“Sing-Sing… Sudah jangan merepotkan Bibi.” Sosok Jimmy kini telah berdiri di samping Alice.

 “Papa… Aku mau liat Snupi lagi…” nada suara Sing-Sing terdengar manja. 

Alice tersenyum simpul—menyadari bagaimana anak ini bisa meminta sesuatu dengan suara yang manja.

“Aduh maaf, sekali lagi—maafkan saya anak saya telah banyak merepotkan anda, Nona.” Rasa bersalah itu terlukis dalam tindakan Jimmy—kembali sedikit membungkuk beberapa kali di hadapan Alice. Jimmy pun segera menjulurkan tangannya, siap mengambil Sing-Sing dari Alice.

Alice tidak melepaskan pelukannya pada anak itu. Ia menatap Jimmy dengan senyum yang sangat santai. “Tak apa... Dia sama sekali tidak merepotkan. Lagipula, aku suka ada teman makan malam,” jawab Alice lembut.

“Papa! Snupi Papa!” Nada suara Sing-Sing naik dan tangan kecilnya menarik celana Jimmy, meminta jawaban atas tuntutannya.

“Iya, Sing… Nanti ya, pas kedai libur… Papa janji.”

“Libur? Oh, ada hari libur?” tanya Alice.

“Ya, setiap hari Kamis.”

Alice sedikit mendongak hingga tatapan mereka bertemu. Canggung, itulah yang Alice rasakan karena Jimmy berdiri di sampingnya. 

Umm… Silahkan, duduk?” Pada akhir ucapannya, Alice memutar kepalanya seolah menunjuk dengan tatapannya agar Jimmy duduk di hadapannya.

Sebelum menjawab, terlebih dahulu Jimmy menoleh ke kanan ke arah dapurnya. “Kit! Ini tolong bersihkan dulu sama bawakan dua gelas teh dingin…”

Jimmy lantas menarik kursi di hadapan Alice. Matanya tidak terlepas dari Sing-Sing yang masih lekat di pelukan dan pangkuan Alice.

“Ia menghabiskan makanannya loh, hebat.” Alice memuji nafsu makan Sing-Sing.

“Ah, jarang-jarang tuh, mungkin karena ada yang nyuapin saja,” jawab Jimmy.

Pria bernama Kit tiba dengan dua gelas minuman dingin dan pria muda itu segera merapikan meja—menyingkirkan setiap piring kotor.

“Silahkan…” Jimmy mendorong gelas teh dingin ke hadapan Alice.

“Sing-Sing sudah sekolah?”

“Ah, belum…”

Balasan yang kaku dan hambar dari Jimmy membuat keduanya hanyut dalam diam. Bagi Alice pria itu terasa sedikit defensif.

“Maaf Nona Alisu kita belum berkenalan… Saya Jimmy ayahnya Sing-Sing.”

Alice tersenyum mendengarnya, setidaknya pria itu tidak kaku-kaku amat. Alice langsung mengulurkan tangan kanannya—membuat Jimmy sedikit terkesiap.

Alice menunggu untuk beberapa detik sebab Jimmy mengusap-usap terlebih dahulu telapak tangan kanan ke apron yang dikenakannya. 

Hingga akhirnya jabat tangan itu terjadi. Terasa begitu kontras, telapak tangan Alice yang lembut bertemu dengan telapak tangan Jimmy yang terasa besar dan kasar—dua dunia yang begitu berbeda.

“Alice Moon”

“Jimmy Lau”

Jabat tangan yang begitu singkat, Jimmy yang melepaskan tangan Alice terlebih dahulu. Mungkin merasa tidak sopan kalau terlalu lama memegang tangan seorang wanita mewah yang tak dikenal olehnya.

“Loh, Alice? Bukan Alisu?” sambung Jimmy yang menyadari kalau informasi dari Sing-Sing ternyata salah.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Author Notes:

Nasi goreng Yangchow / Yangzhou khas Hong Kong memiliki ciri khas butiran nasi yang tidak lengket, berlapis telur, serta menggunakan daging char siu (babi panggang merah) dan udang segar. Berbeda dengan nasi goreng Indonesia, versi ini tidak menggunakan kecap manis agar rasa asli bahan-bahannya tetap menonjol.

Bahan-Bahan (2 Porsi)

  • 2 porsi nasi putih (nasi semalam yang disimpan di kulkas agar kering)
  • 60 gram char siu (potong dadu kecil), bisa disubtitusi dengan: Smoke beef, Chicken Luncheon.
  • 85 gram udang kupas (belah dua memanjang)
  • 2 butir telur ayam (kocok, berikan sedikit garam)
  • 30 gram kacang polong dan wortel dipotong dadu (rebus sebentar)
  • 1½ batang daun bawang (iris tipis)
  • 1½ sdm minyak goreng
  • 1/4 sdt garam (sesuai selera)
  • 1/8 sdt merica bubuk
  • 1/2 sdt kecap asin encer (light soy sauce)
  • Opsional: Penyedap rasa jamur (Totole).

Cara Membuat:

  1. Persiapan: Gemburkan nasi dingin dengan tangan agar butirannya terpisah. Lumuri udang dengan sedikit garam dan merica, lalu diamkan selama 10 menit.
  2. Tumis Lauk: Panaskan 1 sdm minyak di wajan (wok) dengan api besar. Masukkan udang, tumis hingga berubah warna menjadi pink. Masukkan potongan char siu, aduk cepat selama 30 detik. Angkat dan sisihkan.
  3. Masak Telur: Bersihkan wajan, tuang 1 sdm minyak lagi. Masukkan kocokan telur. Saat telur masih setengah matang (masih agak cair), langsung masukkan nasi putih.
  4. Goreng Nasi: Aduk cepat dan tekan-tekan nasi agar setiap butirnya terlapisi telur. Masak selama 2–3 menit hingga nasi benar-benar terpisah.
  5. Masukkan kembali udang, char siu, kacang polong, dan wortel. Tambahkan garam merica, penyedap jamur, lalu aduk rata.
  6. Sentuhan Akhir: Tuangkan kecap asin di bagian pinggir wajan yang panas agar aromanya keluar, lalu aduk cepat dengan nasi. Matikan api, masukkan daun bawang, aduk sebentar, dan sajikan hangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *