‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Sudah dua jam mereka beristirahat, matahari tidak lagi menyengat mulai menampilkan rona oranye—waktu yang tepat untuk… Berenang!

Alice meraih ponsel untuk melihat beberapa pesan yang masuk setelah ditinggalkan setelah dua jam beristirahat.

Ada sebuah pesan balasan dari Jimmy.

Jimmy Sing-Sing
| Dia nakal tidak, Lis?
| Nanti kalian makan malam di resto saja, ya… 

Setidaknya, baik Sing-Sing maupun ayahnya tidak menambahkan luka dari kelamnya masa lalu Alice. 

Malah perlahan Alice lah yang sedang merubah bentuk dirinya menjadi lebih hangat dalam menghadapi Sing-Sing maupun Jimmy.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Kegiatan sore yang mendadak. 

Tak ada baju renang untuk Sing-Sing. tetapi, Alice sempat membelinya di babyshop tadi waktu di mall. Buru-buru dicuci sebelum waktu tidur siang tadi—masih sedikit terasa dingin dan basah sewaktu dikenakan ke anak itu.

Judulnya berenang namun sesungguhnya hanya menemani Sing-Sing bermain air. Di kolam anak, ada beberapa anak lain yang sedang bermain. 

Awalnya, Sing-Sing tampak malu namun seiring berjalannya waktu kemampuan sosial anak itu terbilang cukup baik. Sing-Sing mulai banyak berbicara kepada anak yang umurnya lebih tua darinya.

Hal itu melengkapi observasinya Alice. Kemampuan bersosialnya tidak ada masalah karena didukung linguistik dan kognitifnya yang sudah pesat.

Ya, tinggal motoriknya.

Saat itu Alice sedang berbincang dengan wanita lain yang senasib sama dengannya—mengawasi anak yang sedang bermain di kolam renang, bedanya anak dari wanita itu sedang les renang.

Hm…

Ide itu memang bisa datang darimana saja. Sing-Sing yang tidak begitu takut dengan air kolam—motorik yang kurang dan kini mendapatkan informasi soal les berenang—membuat Alice hendak mengasah motorik anak itu lewat belajar berenang.

Begitu ada waktu kosong, Alice segera mengajak bicara sang pelatih renang. Bertanya soal umur minimum serta jadwal les privat—soal biaya, tidak menjadi masalah untuk Alice.

Umur termuda yang bisa dilatih oleh sang pelatih adalah 3,5 tahun. Meskipun tidak tahu berapa umur pastinya Sing-Sing. Namun, dari perawakannya, Alice yakin kalau Sing-Sing sudah berumur tiga tahun lebih.

“Sing, kalau… Minggu depan latihan berenang mau tidak? Biar kayak kakak itu, bisa berenang?” Alice mencoba membujuk, tidak semata-mata langsung mendikte Sing-Sing untuk mengikuti rencananya.

“Biar apa?”

“Itu lihat, biar bisa maju di dalam air… Sing-Sing mau tidak bisa bergerak maju seperti ikan di air?”

“Mmm—” Sing-Sing memperhatikan anak-anak yang sedang latihan renang dengan menggunakan papan seluncur di kolam dewasa. “Kayak ikan, ya? Bisa maju, ya? Mau!”

Alice tersenyum tipis, rencana kecilnya untuk terus menstimulasi kekurangan Sing-Sing—berhasil. Cara yang ia gunakan organik, ajak renang, buat ia suka terlebih dahulu baru kemudian dorong langkah selanjutnya.

Hari ini banyak hal yang harus aku diskusikan dengan Jimmy—ya, banyak sekali!

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

“Ga, mau! Sing-Sing maunya nginep!”

“Sing—”

“Maunya disini, Sing sukanya disini, ga mau pulang!” Sing-Sing meringkuk di atas ranjang, memeluk sebuah boneka kelinci berwarna putih.

Alice menghela napas, matanya terpejam, bahunya melorot. 

“Sing, ga boleh begitu, dong… Papa bilang kita makan malam di restoran, loh… Papa mungkin sudah masak buat Sing-Sing.”

“Gak mau, Sing maunya makan disini, sama Mama Alice!” Suara Sing-Sing tidak begitu terdengar jelas karena terbenam di permukaan ranjang.

Astaga. Alice segera duduk. Tangan kanannya menyentuh pundak Sing-Sing dan mengelusnya perlahan. “Sing, nanti Bibi juga makan sama kamu, kok.”

“Gak! Gak!” Sing-Sing menjerit—memekakkan telinga.

Alice terhentak, usapannya terlepas. Alice mungkin ahli dalam bernegosiasi dengan para ‘naga’ atau ‘taipan’ diluar sana. Namun, menghadapi balita berumur tiga tahun—Alice sama sekali tidak berdaya.

Terpaksa menggunakan senjata terakhir—telepon ayahnya.

Tuuut. Alice segera melakukan video call kepada kontak “Jimmy Sing-Sing”. Sebelum panggilan diangkat, kamera ponsel Alice menampilkan pantulan wajahnya—refleks tangan kiri Alice membenahi tatanan rambutnya sebelum panggilan itu diangkat oleh Jimmy dan memasang senyuman lebar.

Dih, ngapain deh aku benerin rambut segala? 

Alisnya bertaut membubarkan senyuman.

Halo, Bu?

Yoyo yang mengangkat panggilan itu. Bisa dipastikan kalau Jimmy sedang sibuk. “Jimmy? Sibuk, ya?”

“Iya, Bu, kata Boss nanti dia telepon anda lagi… Ada apa ya, Bu?”

“Ini loh—” Alice memutar sedikit ponsel agar kameranya terarah ke arah Sing-Sing yang masih meringkuk di ranjang. “Sing-Sing nakal, nih… Ga mau pulang, ga mau makan katanya…”

“Ya, ampun… Sing-Sing… Ayo pulang, nanti Papa ngomel, Loh, Sing… Ah iya, maaf totalnya jadi—” ucapan Yoyo terjeda, melayani pelanggan yang hendak membayar.

“Oke, aku tutup, ya, tolong beritahu Jimmy, nanti… Trims!” Alice segera menutup panggilan itu.

Oke. Senjata terakhirnya sibuk. Terus aku harus bagaimana lagi ini? Alice melihat jam di ponselnya. Lima menit sebelum jam enam sore.

“Aku ga nakal. Ga, mau diomelin Papa…” Sing-Sing bangkit, wajahnya memerah. Air mata dan lendir dari hidung sudah menghiasi wajahnya.

“Makanya, kalau ga mau diomelin Papa, kita pulang, ya, sayang?”

“Ga mau…” Sing-Sing kembali merebahkan tubuhnya.

Oh, Tuhan. Kembali ke looping ini lagi. 

Mulut Alice segera menganga dan kepalanya mendongak lelah. Fase Threenager itu nyata!

Alice mencoba metode lainnya, membiarkan malaikat kecil yang sedang berubah menjadi monster itu menenangkan dirinya sendiri. Alice keluar dari dalam kamar, duduk di kursi sofa. 

Kembali mengandalkan ponsel, ia mulai mencari-cari makanan melalui layanan pesan antar. Jalan terakhir kalau nanti panggilan dari Jimmy tidak bisa merayu Sing-Sing untuk pulang—makan malam di sini.

Kenapa Alice tidak memasak? Apa karena tidak bisa? Bukan, karena isi kulkas Alice sepi dari kehidupan. Hanya ada telur, makanan kaleng dan daging beku saja—mungkin bisa mengenyangkan perutnya. Namun, gizinya tidak akan mumpuni untuk Sing-Sing yang masih dalam tahap pertumbuhan.

Jimmy Sing-Sing is calling…

Sebuah panggilan video masuk. Alice langsung menegakkan tubuhnya, sekali lagi ia membenahi rambutnya sebelum mengangkat panggilan. 

Ah! Genit! Ngapain sih berbenah rambut lagi, argh?!

“Lis? Kenapa? Sing-Sing…”

Wajah Jimmy terlihat jelas, handuk putih terikat di kepalanya, wajah pria itu juga terlihat sedikit berminyak.

“Ah, emh, umh, Ga mau pulang tuh dia, Jim…” Alice melangkah kembali kembali ke dalam kamar.

Saat itu Sing-Sing telah berada di dekat kotak mainan yang berada di pojokan kamar. Alice memutar ponselnya, mengarahkan ke arah Sing-Sing. “Sing, Papa nih—”

“SING! SING!!!” Jimmy langsung menyemprot anaknya. Tangan Alice refleks langsung menekan tombol volume down karena suara marah Jimmy sungguh kencang dan besar. 

“Pulang, Ayo, Sing! Papa sudah siapkan makan malam kamu…”

“Ga mau! Sing mau disini, mau ma—in!” Sing-Sing masih tetap keras pada pendiriannya.

Sekitar dua menit, Jimmy merayu Sing-Sing lewat omelan demi omelannya. Sementara itu, Alice berjongkok sambil tetap mengulurkan tangan kanannya—mengarahkan ponsel ke arah Sing-Sing.

“Ga mau, Sing ga mau pulang, maunya di—sini!”

Alice memutar kembali ponselnya, tangannya sudah pegal dan merasa buntu—rayuan Jimmy tidak berhasil juga.

“Jim, kamu sudah siapkan makan malam dia?” tanya Alice, kembali menatap ponsel—menatap Jimmy.

“Sudah, Lis… Sudah buatkan buat kamu juga.” Jimmy tidak melihat langsung ke arah ponsel. Tampaknya sedang berjalan ke arah ruangan belakang restoran.

Untuk… aku juga? Alice segera menyesap bibir bawahnya. “Ah, kalau begitu, aku pickup pakai driver online saja, ya? Biar Sing-Sing makan disini?”

Agak gelap namun samar-samar wajah Jimmy masih dapat terlihat, kali ini dia menatap ke arah Alice. “Jangan, Lis… Merepotkan, sudah seharian dia merepotkan kamu, masa sampai malam kamu harus menanganinya?”

Senyuman tipis terbit dari bibir Alice. “Moumantai, Jim… Mungkin habis makan malam, aku akan antar dia pulang, ya?” (Tidak apa-apa)

Terdengar Jimmy menghela napas berat diikuti dengan gerakan tangan yang menggaruk kepala. “Oke, oke… Kalau dia masih keras hati tidak mau pulang, kabari aku lagi, ya?”

Alice mengangguk sembari tetap tersenyum dan panggilan itu pun segera ditutup oleh Jimmy. Dari mencari makan malam—berganti mencari driver online untuk mengambil makan malam mereka yang telah disiapkan oleh Jimmy. 

Dahi Alice mengerut saat tahu layanan antar jemput online sedang berada pada jam sibuk—mendapatkan driver akan memakan waktu yang lebih panjang.

Sementara itu si malaikat tantrum, telah berhenti menangis. Masih tetap sibuk dengan kotak mainan, menyeka lendir di hidung dengan lengan panjang bajunya. Sing-Sing menoleh ke arah Alice yang sedang berjongkok di dekatnya—berkutat kesal dengan ponselnya.

“Sing-Sing udah tenang—” tiba-tiba saja Sing-Sing berceloteh.

Alice langsung mengangkat kepalanya, menatap ke arah Sing-Sing yang kini telah berdiri di dekatnya.

“Udah ga papa, ini minum buat Mama, biar Mama tenang…” Tangan kecil itu memberikan mainan plastik berupa miniatur minuman botol.

Mendengarkan seluruh rangkaian kata nan polos dari anak itu, membuat Alice menjadi tersenyum lebar. Rasa kesal karena harus menghadapi tantrum Sing-Sing tadi seketika sirna. 

Astaga! Dia nyebelin banget tadi! Tetapi sekarang menggemaskan!

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Sembari menunggu makan malam mereka tiba, Alice terus menemani Sing-Sing. Namun, tidak ada buku atau cerita yang dibacakan. Kali ini, ada lagu dengan nada yang cheerful—Mickey oleh Toni Basil. Lagu yang identik dengan cheerleader itu menceriakan mereka.

Tubuh Sing-Sing berdansa dengan riang, mengikuti arahan dari Alice. Ketika lagu diputar ulang untuk kedua kalinya, Sing-Sing kembali berdansa dengan variasi gerakan ciptaannya sendiri. Alice tertawa melihat putri kecil itu yang menghiburnya malam ini.

Lagi dan lagi. Lagu itu sudah terputar untuk keempat kalinya. Gerakan acak nan lucu Sing-Sing masih tetap membuat Alice tertawa dan terus merekam dengan ponselnya. 

Namun, lagu yang diulang-ulang itu sudah mulai membuat Alice jenuh.

Bisa terngiang-ngiang terus ini sampai besok! Tak apalah, yang penting motorik anak ini tetap terus terasah.

Saat lagu akan berputar kembali untuk kelima kalinya, ada bunyi dering dari intercom. Petugas resepsionis di lobi apartemen memberitahukan kalau ada sebuah paket untuk Alice yang baru saja tiba—tak lain adalah makan malam dari Sing-Sing Eating House.

Setelah paket makanan itu diambil, Alice dan Sing-Sing segera mulai makan malam mereka. Bukan menu porsian untuk perorangan. Tetapi, beberapa menu ala carte. 

Menu pertama, udang sereal. Begitu kemasan thinwall terbuka, wangi butter dan susu tercium tajam. Udangnya berukuran besar berselimutkan sereal yang yang dimasak hingga renyah. Seluruh kombinasi itu begitu memikat dan langsung menerbitkan air liur!

Menu kedua adalah seratnya. Sayur tumis sayur pak choi. Memang lebih sederhana. Namun, kombinasi aroma dari wijen, saus tiram serta bawang putih tetap sama—menggugah selera.

Pertanyaannya satu, apa menu ini ada di restoran? Atau Jimmy khusus memasak menu ini untuk mereka?

Alice sudah memasak nasi di rice cooker namun Jimmy tetap mengirimkan nasi putih untuk mereka. Tak perlu menunggu, Alice dan Sing-Sing langsung menikmati makan malam mereka. 

“Enak!” celetuk Sing-Sing setelah menelan suapan pertamanya.

“Enak? Hm hmm” Tangan kanan Alice mengusap lembut kepala Sing-Sing. Alice memperhatikan dahulu reaksi Sing-Sing pada suapan pertamanya, baru setelah itu Alice memulai suapan pertamanya.

Alice menyuap setengah potong udang, sedikit nasi, taburan sereal dan pecahan daun pada sendokan pertamanya. Tekstur renyah dari sereal yang digoreng kering langsung berhamburan di rongga mulutnya, memberikan rasa manis-gurih dari butter dan susu. Diikuti dengan daging udang segar yang begitu kenyal. Bukan daun jeruk, itu daun kari. Aroma yang sempat menipu hidungnya kini memberikan jejak rasa segar, menyeimbangkan rasa ‘berat’ dari mentega agar tidak membuat mual.

“Mmmh…” Tak ada kritikan pedas dari mulut Alice. Malahan yang muncul adalah sebuah pengakuan keahlian Jimmy lewat bunyi mengecap ditegaskan dengan anggukan kepala.

Sambil tetap mengunyah, Alice melebarkan senyumannya. Tangan kanannya sudah menyiapkan sendokan kedua.

“Sing, Papa jual ini di resto juga?”

Emmh… Ga tau.”

Alice tersenyum simpul. Ya sih, ga mungkin juga anak umur tiga tahun tahu atau hafal semua menu di restoran ayahnya!

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Makan malam mereka berakhir pada pukul delapan malam. Setelah ini, Alice harus segera memulangkan Sing-Sing sebelum masuk ke jam tidurnya.

Segala bujuk rayu sudah Alice lepaskan. Dimulai dari boleh bawa mainan dari sini, dengar lagu Mickey lagi di mobil, hingga ke senjata pamungkas—boleh nonton film waktu di mobil. 

Tak ada yang mempan, hati anak itu tetap keras: tidak mau pulang. 

Bisa saja Alice langsung menggendong, memasukan paksa ke dalam mobil dan berangkat. Namun, bisa dipastikan kalau Sing-Sing yang duduk sendirian di kursi anak nantinya mengamuk, malah merepotkan Alice yang mengemudi.

Baru Alice hendak ‘berkonsultasi’ dengan sang ayah, sebuah panggilan masuk ke ponsel Alice. Jimmy menghubungi Alice dan segera menanyakan Sing-Sing.

Sekali lagi Jimmy mencoba merayu anaknya untuk pulang dan jawabannya juga masih tetap sama: Sing-Sing mau disini aja, ga mau pulang!

“Lis, sebentar lagi aku kesitu buat jemput dia.”

“Ah, Oke, Jim…”

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Ih cie, mau dateng lagi ke apartemennya bu Alice. Aroma-aromanya bakalan nginep… nih?

Resep Udang Sereal

1. Bahan Utama & Marinasi

500 gram udang pancet atau udang galah (belah punggung, buang kotoran, biarkan kulit dan ekor tetap utuh agar teksturnya renyah)
½ sdt garam
½ sdt merica bubuk1 butir putih telur (dikocok lepas)
3 sdm tepung maizena (untuk baluran sebelum digoreng)

2. Bahan Remah Sereal (Cereal Mix)

100 gram sereal gandum instan (sangat direkomendasikan menggunakan merek Nestum Original, bisa di subtitusi pakai Quaker Oat)
2 sdm susu bubuk full cream (untuk memberikan aroma milky)1 sdm gula pasir
½ sdt kaldu ayam bubuk

3. Bahan Bumbu Tumis

4 sdm mentega asin (salted butter)
3 siung bawang putih (cincang sangat halus)
20-25 lembar daun kari segar (pastikan benar-benar kering setelah dicuci agar tidak meletup)
Opsional: 3-5 buah cabai rawit merah / chili padi (iris tipis)

Langkah Pembuatan

1. Marinasi dan Goreng Udang

Lumuri udang dengan garam dan merica bubuk. Diamkan selama 10 menit. Celupkan udang ke dalam kocokan putih telur, lalu balur dengan tepung maizena hingga seluruh permukaannya tertutup rata. Goreng udang dalam minyak banyak (deep fry) yang sudah benar-benar panas dengan api besar selama 1 hingga 1,5 menit saja sampai kulitnya berwarna merah keemasan dan garing. Angkat lalu tiriskan.

2. Racik Campuran Sereal

Dalam wadah kering, campurkan sereal Nestum, susu bubuk, gula pasir, dan kaldu ayam bubuk. Aduk rata dan sisihkan.

3. Tumis Bumbu Aromatik

Lelehkan mentega di atas wajan dengan api sedang cenderung kecil.Masukkan bawang putih cincang, daun kari, dan irisan cabai rawit. Tumis hingga daun kari menjadi garing dan aroma harum menteganya keluar. (Hati-hati jangan sampai bawang putih gosong).

4. Sangrai Sereal dan Satukan Udang

Turunkan api ke tingkat paling kecil. Masukkan campuran sereal yang sudah diracik ke dalam wajan berisi mentega.Aduk sereal secara cepat dan terus-menerus selama sekitar 30-45 detik hingga sereal menyerap mentega dan mulai berubah warna menjadi kuning kecokelatan yang renyah.Segera masukkan udang goreng ke dalam wajan. Aduk cepat selama beberapa detik hingga seluruh remah sereal menempel pada kulit udang. Matikan api, angkat, dan sajikan selagi hangat agar sereal tetap garing maksimal.

Tips: Gunakan Api Kecil Saat Memasak Sereal—Sereal dan susu bubuk sangat mudah gosong karena kandungan gulanya. Selalu kecilkan api saat sereal dimasukkan ke dalam wajan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *