‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Setelah ‘wejangan’ malam itu, hari-hari terus berganti. Alice tetap menjalani dua peran dalam hidupnya.
Di akhir pekan ia akan jadi ‘Mami’ yang menemani bermain dan les renang. Sekaligus menjelma menjadi ‘Ibu Boss’ di restoran Jimmy—membantu mengurus kasir atau sekadar mengatur lalu lintas pesanan.
Di hari kerja, ia akan selalu menjadi Alice Moon yang sepanas matahari—tajam dan menyengat dalam membedah bisnis dan menjalankan tugasnya sebagai seorang Vice President. Jelang malam, Alice akan menjadi rembulan yang sesungguhnya—hangat dan keibuan saat merawat dan bermain dengan Sing-Sing.
— Kamis.
Hari ini, Alice harus menghadiri undangan dari Konsulat Prancis. Acara makan malam di adakan di wilayah Central yang tidak jauh dari kantornya. Sehingga Alice memilih untuk langsung berkendara ke venue acara setelah jam pulang kantor. (Bab 29)
“Senang banget tuh dia, sampai-sampai sering terminum air kolam karena banyak ngomong hingga pelatihnya meminta Sing-Sing untuk berhenti berbicara dan fokus pada gerakan renangnya, Hohoho.”
Saat ini Alice sedang berbincang bersama dua rekannya, Maggie dan Karen. Kali ini Alice tidak lagi menjadi ‘alien’ yang tidak relate setiap kali kedua rekannya membahas soal perkembangan anak.
Kini, Alice dengan antusias menyetorkan cerita perkembangan Sing-Sing kepada mereka—selayak buah hatinya sendiri.
“Eh, boleh juga tuh Lis gabung? Les-in anak aku sekalian?” tanya Karen.
Alice mengangguk, “Iya, bareng saja Ren, sama anak aku.”
— Aku.
Dua rekan Alice menangkap kata itu. Karen langsung melirik dan menyenggol lengan Maggie—tersenyum menahan tawa mendapati bagaimana Sing-Sing telah terinstall sempurna dalam sistem kehidupan Alice.
Maggie berdehem, “Ehem, Sabtu… ke Artifact… yuk, Lis?” ajak Maggie sambil mengangkat sebelah alisnya. “Bisa dong? Kan, les renangnya hari minggu?”
“H… Hah?” Mata Alice sempat berkedip cepat. “Umm… Kayaknya, nggak dulu deh…”
Padahal dahulu kala, mereka bertiga sering menghabiskan waktu malam minggu untuk hangout tanpa pasangan atau buntut—sekadar dinner dan menikmati alkohol hingga larut malam.
Meskipun mendapatkan penolakan, Maggie malah tersenyum lebar sambil menyesap secangkir teh hangat miliknya. Sementara Karen merapatkan mulut menahan agar tidak tertawa.
Alice mungkin tidak sadar, kalau pertanyaan itu adalah sebuah ujian untuk dirinya. Penolakan yang muncul adalah cerminan absolut dari: Maaf, aku telah memiliki kehidupan baru yang harus aku urus.
Pada akhirnya, baik Maggie maupun Karen tak lagi menggoda soal segitiga hubungan antara Alice, Sing-Sing dan juga Jimmy.
ˎˊ˗⋆。°✩📄
Undangan itu memang berjudul gala dinner. Namun, sesungguhnya ini menyerupai ajang pamer pencapaian dan juga lobi-melobi antara para lulusan sekolah bergengsi dari Prancis.
Hampir seluruh tamu undangan adalah kaum High Net Worth Individuals (HNWI) yang memiliki kedudukan tinggi pada berbagai perusahaan besar yang berada di Hong Kong.
Alice menjadi salah satu yang menjadi tamu undangan di malam itu. Sempat mengenyam pendidikan S2 di HEC Paris dan kini menjabat sebagai salah satu Vice President Crestview & Associates—institusi perbankan investasi berskala besar.
Alice melenggang dengan santai di dalam ballroom sembari menyapa beberapa orang yang dikenalnya. Membaur di keramaian, memakai setelan kerjanya—blouse putih lengan panjang dengan aksen pita di leher, rok midi ketat hitam, heels Louboutin serta clutch YSL berada di tangannya.

Namun, bagi sebagian yang tahu status dan kedudukan Alice saat ini—kehadirannya di malam itu seolah menjadi target berjalan yang empuk untuk di dekati. Bagi mereka yang membutuhkan kucuran dana segar untuk perusahaan mereka.
Ada beberapa wajah yang baru dikenalnya di malam itu. Salah satunya seorang pria yang menyapa saat Alice sedang menikmati segelas wine.
“Bonjour madame?” ucap pria dengan rambut mengkilap disisir ke belakang—setelan jas biru tua berkemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka.
Pria yang jelas berbeda 180 derajat dengan koki duda beranak satu di Sham Shui Po sana. Alice tersenyum simpul, segera meladeninya hingga saling bertukar kartu nama.
“Maan Hooi Group?” gumam Alice saat melihat kartu nama itu. Nama yang tertera di kartu itu, Frankie Cheung—Director of Operations.
“Oh, C&A… Wah, ternyata kita berada di gedung yang sama, ya, Bu.”
Pembicaraan mereka terus mengalir hingga Alice sedikit mendapati sedikit background pendidikan pria itu. Ia alumni INSEAD. Universitas nomor wahid di Eropa.
INSEAD? Di perusahaan logistik mega besar? Ini… Sebuah networking emas!
Maan Hooi Group yang menguasai Hong Kong bisa saja membutuhkan uluran tangan C&A di masa depan?
“Bu Alice bagaimana nanti kalau kita berbincang lagi di lain waktu? Mungkin saya bisa berkunjung ke kantor anda? atau kita makan siang di IFC?”
“Bien sûr, avec plaisir ” jawab Alice dengan santai. (Tentu saja, dengan senang hati)
Frankie pamit dari hadapan Alice—hendak menyapa partisipan lainnya.
Walau singkat namun Alice yakin kalau koneksi ini akan terus berjalan panjang lewat ketertarikan Frankie yang ingin melakukan kunjungan ke Crestview & Associates karena mereka berada di gedung yang sama, 2 IFC.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Pukul sepuluh malam, Alice segera menarik diri dari taman bermainnya. Berpamitan kepada para pengurus Konsulat dan segera meninggalkan ballroom.
Di dalam lift, transisi dari seorang VP mulai terjadi. Sebab, dirinya mulai meresahkan suatu hal yang membuat dirinya segera memeriksa ponsel.
Kemana Jimmy dan Sing-Sing? Hari ini resto libur, terakhir Jimmy mengirimkan pesan kalau mereka mau ke wilayah Sha Tin, ke… Snoopy World lagi? Namun, setelah itu tidak ada lagi laporan darinya.
“Jim, kamu dimana?” Alice tidak membuang waktunya untuk mengirim pesan dan menunggu balasan—ia segera menelpon Jimmy.
“Masih di sekitaran Sha Tin, Lis. Sebentar lagi mau pulang.”
Dahi Alice mengerut. “Jam segini, Jim? Masih di Sha Tin? Bukankah ini sudah lewat jam tidurnya Sing-Sing?”
“Iya, tahu kok, Lis. Mau bagaimana lagi? Ia tadi masih ingin bermain dengan kakek-neneknya.”
Oh, begitu. Orangtua Jimmy berada di Sha Tin? Pantas saja mereka berdua sering sekali ke wilayah sana ketika berlibur.
Alice menarik panas perlahan—mengenyahkan kekhawatirannya.
“Setengah jam, Jim. Tunggu aku disana, aku jemput kalian.”
“Hah? Ga usah, Lis. Kita bisa naik MTR atau bus, tenang saja.“
“Itu… Perintah, Jim.” Alice tidak menginginkan negosiasi—di dalam hatinya ia hanya ingin Sing-Sing bisa pulang dengan nyaman bukan digendong sambil berdesakan di kendaraan umum.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Membutuhkan waktu setengah jam, hingga sedan Lexus abu-abu tua milik Alice tiba di wilayah Sha Tin untuk menjemput Jimmy dan juga Sing-Sing.
Duh.
Apa… Aku harus turun? Apakah aku harus berkenalan dengan keluarganya Jimmy?
Kalau… Sing-Sing berteriak “Mami” di hadapan Kakek-Neneknya bagaimana? Bisa terjadi miskomunikasi, lagi? Bisa dikira aku pacar Jimmy? Atau… calon istri barunya Jimmy?
GAH!
Panik—itulah yang Alice rasakan. Apalagi kalau sampai titik perjumpaan mereka itu adalah sebuah rumah tapak tanah. Alice harus bersikap sopan, harus turun dari kendaraan untuk menyapa para tetua disana—keluarganya Jimmy.
Semakin kendaraan mendekati titik perjumpaan yang diberikan Jimmy, yang dijumpai oleh Alice adalah komplek rumah susun sederhana.
Beberapa puluh meter di depan sana—Alice sudah bisa mendapati sosok ayah dan anak itu.
Mobil terhenti di pinggir jalan, lampu sein hazard menyala. Alice segera turun. Namun, bukan untuk menyapa orang tua Jimmy. Untuk segera menjumpai Sing-Sing. Hal yang langsung disoroti Alice adalah Sing-Sing yang tampak sudah ‘teler’—ngantuk berat.
Begitu melihat sosok Alice, si kecil Sing-Sing langsung menggunakan tenaga terakhirnya untuk memeluk dan meminta digendong oleh Alice.
Celakanya, anak itu tak mau lagi digendong oleh Jimmy. Sing-Sing ingin dipeluk oleh Alice hingga sampai ke rumah. Padahal Alice masih harus mengemudikan mobilnya.
“Memang… Kamu bisa mengemudi memangnya, Jim?”
“Bisa, punya SIM juga, kok,” jawab Jimmy sambil menerima kunci mobil milik Alice. “Kamu duduk di belakang saja, temani dia di car seat,” sambung Jimmy.
Alice tersenyum simpul, menahan tawa. “Jangan ugal-ugalan dan jangan dibuat lecet, ya!”
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Baru lima menit mobil melaju, si kecil Sing-Sing sudah tertidur pulas di kursi anak.
Jimmy berada di balik kemudi—berkendara dengan kecepatan yang cukup perlahan, di jalur lambat.
“Orang tuamu… Tinggal di Sha Tin, Jim? Pantas sering kesini.” Alice yang duduk di belakang Jimmy—membuka pertanyaan itu di tengah-tengah keheningan perjalanan mereka.
“Hah? Oh, bukan orang tuaku, Lis,” jawab Jimmy dengan perlahan.
“Hah? Gimana? Tadi kata kamu kakek-neneknya Sing-Sing? Kok bukan—” Alice terhenti, tidak melengkapi kalimatnya.
“Orang tua dari ibunya Sing-Sing, Lis.” Kali ini suara Jimmy semakin perlahan.
A… Apa?
Satu hal yang sempat terlintas di benak Alice langsung di validasi oleh Jimmy. Pernyataan itu sempat membuat kelopak mata Alice bergetar.
“Ketemu… sama Mamanya? Juga?” Alice menoleh ke arah kanan—jendela mobil. Setelah mengucapkan kata-kata itu rahang Alice nampak mengeras kesal.
“Tidak, Lis. Cuma kakek-neneknya saja.”
“Kok?” ucapan Alice tercekat. Ada napas terlepas diiringi dengan satu sudut bibir yang terangkat. “Masih saja berhubungan baik dengan mereka?” Perkataan Alice semakin terdengar sinis.
“Yah—” Jimmy menghela napas. “Mau bagaimana, Lis. Mereka kangen cucunya, masa aku tidak mengizinkan mereka menemui Sing-Sing?”
— Hening. Tidak ada kata-kata berikutnya dari Alice.
Seharusnya, aku kagum. Bagaimana pria ini tidak membatasi kontak antara cucu dan kakek nenek dari pihak ibunya.
Seolah masalah yang terjadi hanya di level Papa dan Mama bukan di Kakek dan Neneknya.
Entah kenapa, rasa kagum itu sedikit bercampur dengan perasaan sesak di dada?
Perlahan tangan kiri Alice menyentuh tangan Sing-Sing yang tengah tertidur.
Apa… Aku sedang cemburu?
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Dua puluh menit tanpa ada percakapan lainnya, hingga akhirnya Lexus milik Alice tiba di Sham Shui Po. Keramaian di wilayah urban ini sudah agak terurai. Kebanyakan dihiasi oleh kendaraan niaga yang sedang melakukan bongkar muat di malam hari saja.
Mobil milik Alice berhasil mendapatkan parkir, tidak jauh dari resto dan kediamannya Jimmy. Sing-Sing juga sudah pulas, sebab tak ada rontaan saat Jimmy mengangkatnya dari child seat.
Alice berdiri tepat di belakang Jimmy. Menyempatkan dirinya untuk memberikan salam perpisahan di hari itu dengan menyentuh dan mengusap lembut wajah Sing-Sing.
“Selamat tidur, Sayang…” bisik Alice.
Pada akhir ucapannya, tiba-tiba Jimmy langsung memutar tubuhnya. Alice terkesiap dan pria itu kini telah menghadap sempurna di hadapannya.
Heels yang dikenakan oleh Alice, membuat keduanya kini bertatapan hampir sejajar dipenuhi oleh rasa canggung.
Di bawah siraman lampu led pertokoan yang berwarna-warni, Alice dapat melihat jelas ekspresi yang ditunjukan oleh Jimmy—dahinya sedikit mengerut, sorot matanya pun terasa tajam. Ada ketakutan yang tiba-tiba saja timbul sehingga Alice segera membuang tatapannya ke arah lain.
“Alice—” Bukan sekadar Lis, Jimmy mengucap penuh nama itu.
“Hm?” Alice seolah menjadi kikuk, tidak menjawab dengan tegas—malah bola matanya bergerak tak menentu seperti mengikuti kendaraan yang masih berlalu lalang di jalanan.
“Ada apa? Apa aku tadi terlalu kasar saat mengemudikan mobil?”
Alice menghela napas cepat. “Apaan sih? Nggak ah, nggak ada.”
Jimmy diam tak bergeming namun tatapannya masih lekat kepada Alice yang telah menjawab dengan nada yang terdengar sinis.
“Apaan sih, Jim? Nggak ada apa-apa, sudah deh sana cepat naik, kasihan Sing-Sing itu…”
Semakin Jimmy terdiam dengan tatapan yang lekat semakin membuat Alice menjadi tidak nyaman—napas Alice sempat terhela cepat.
“Hegh! Beneran deh, nggak ada apa-apa!”
Tatapan Jimmy akhirnya runtuh setelah nada suara Alice semakin terasa sinisnya. “Mh, ya mungkin perasaan aku saja—” Jimmy menarik napas perlahan. “Aku merasa… Kamu sedikit berubah—”
“Apaan sih?”
“Setelah pulang dari Shanghai. Kamu, seperti menghindar dariku?”
Kepala Alice menggeleng. “Apaan sih? Sudah, ya! Saya mau pulang, saya lelah.”
Jimmy mengangkat tangan kanannya, memberikan kunci mobil milik Alice. “Maaf, kalau kami merepotkan kamu. Sebaiknya jangan memaksakan dirimu kalau memang lelah.”
Alice meraih kunci mobil, memutar tubuh—melangkah menuju pintu pengemudi tanpa ada kata perpisahan lain.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Sisa malam itu…
Dihabiskan oleh Alice untuk duduk termenung di ujung ranjang. Ditemani sunyi, ia menatap ke arah jendela kamar. Memperhatikan setiap lampu yang bergerak di atas laut tenang—barisan cahaya silih berganti dari kapal laut yang melintas.
Mencari sumber kesesakannya di malam itu. Perasaan cemburu itu seakan hadir karena “Darah lebih kental daripada air”.
Rasa cemburu yang hadir karena keterlibatan dirinya hingga sejauh ini terhadap Sing-Sing dan Jimmy lewat pengasuhan dan uang masih tidak sekuat pertalian darah.
Mungkin wanita itu sudah tidak pernah hadir lagi dalam hidupnya Sing-Sing namun bayang-bayangnya masih tetap ada.
Jimmy yang rasional dan terbuka tidak menutup akses itu.
Itu sehat, Al. Yang tidak sehat itu kamu. Kenapa menjadi cemburu karena hal itu?
Alice mendengkus, matanya terpejam. Setetes air mata pilu mengalir membasahi pipinya.
Apa… Aku harus menyerah?
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Menyangkal, menghindar, terus sekarang cemburu?
Lis, beneran deh kamu maunya apa sih?
