Besok itu sabtu. Tidak ada dinas, waktunya untuk bersantai. 

Namun, apa yang aku lakukan pada jumat malam ini? 

“Halo, Rocky? Maaf nih aku menelpon malam-malam.” Alice tengah menelpon seseorang.

Oh, iya Bu Alice? Tidak apa-apa, ada apa ya, Bu?”

“Rock, gini… Kamu mengerti soal mesin POS tidak, ya? Yang sederhana saja? Yang pakai ponsel atau tablet dan mesin printer itu?” Alice masih berada di trotoar jalan Sham Shui Po—beberapa puluh meter dari restoran milik Jimmy.

Pria bernama Rocky yang dihubungi oleh Alice mulai menjelaskan sesuatu. Begitu panggilan selesai—Alice segera menyetop taksi.

Meminta sang sopir untuk menuju suatu wilayah—bukan langsung menuju apartemennya.

Hingga akhirnya, ia  membawa pulang dua kotak asing yang menjadi tanggung jawabnya—hasil dari mulut besarnya soal akan membantu Jimmy untuk membenahi sistem kasir yang usang. 

Dua kotak itu adalah printer POS dan ponsel baru. Setelah direferensikan sesuatu oleh Rocky, Alice menyempatkan dirinya untuk pergi ke wilayah Mong Kok, demi membeli barang-barang itu.

Alice cuma tahu teorinya. Kalau ada aplikasi gratis di sistem operasi Android untuk Point Of Sale. Sama sekali tidak paham bagaimana cara mengoperasikannya.

Sehingga malam ini ia harus segera mulai mempelajarinya demi menjaga gengsi. Besok, aku harus terlihat paham dan bisa di hadapan mereka! 

Setengah jam Alice habiskan, setelah berkali-kali mengacak-ngacak rambut, bolak-balik melihat video tutorial di youtube hingga membaca buku manual. 

Saat dirinya mulai paham cara memakai aplikasi itu dan hendak mencetak struk, ia terhenti. 

Sialan. Lupa beli kabel OTG nya! Argh!!

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Hari sabtu.

Taksi yang ditumpangi Alice baru mengaspal selama lima menit dari apartemennya. Saat menanti di lampu merah di ujung Chui Yu Road, dunia di hadapannya sudah terasa begitu berbeda. Deretan gedung apartemen nan megah dan tinggi telah absen—tergantikan dengan rusun dan tong lau yang warna dindingnya agak kusam.

Sham Shui Po siang hari, akhir pekan. Wilayah urban itu seakan menjadi neraka, ditambah dengan cuaca panas dan terik matahari di siang itu. Sangat sulit untuk membedakan warga lokal atau turis, semua telah membaur dalam kesesakan.

Alice mengunjungi toko elektronik terlebih dahulu. Mencari kabel kecil yang menjadi perkara kemarin malam, kabel OTG! Benda kecil dan murah itu yang menghentikan dirinya semalam dikala mengulik aplikasi POS serta mesin printernya.

Beli beberapa buah karena tidak percaya dengan kualitas dari benda kecil yang terasa ringkih itu. 

Saat melewati beberapa toko lain, langkahnya sempat terhenti ketika melihat ke arah toko mainan. Ada mainan clay yang dipajang di etalase paling depan dengan tulisan ‘Discount!’.

Ah, ini cocok untuk melatih kreatifitas Sing-Sing! Beli deh—eh, tunggu. Alice segera mengingat ucapan Jimmy kemarin malam yang cukup membuatnya tertohok. 

“Maaf, Lis, aku ingin Sing-Sing terbiasa dengan kehadiranmu, bukan materimu.”

Penjaga toko langsung memanggil, “Come, Come, Discount! Very Cheap!” Namun, Alice segera mengurungkan niatnya.

Nanti deh ya, Sing.

Alice melanjutkan langkahnya, sempat melihat pantulan dirinya saat melintasi tembok berlapis cermin tua. Hari ini, ia bukan Alice Moon sang Vice President di Crestview & Associates. 

Tak ada blouse satin yang memeluk tubuhnya, celana bahan licin atau sepatu Louboutin. Yang ada hanya mini dress biru muda, cardigan rajut putih, beralaskan sandal slingback putih—entah merk apa. 

Tangan kanannya memegang kantong kertas merah besar berisikan printer thermal yang akan dipasang di restoran Jimmy nantinya.

Haaah, Siapa kamu?

Moon Dal-Young, gadis korea yang tinggal dan kerja di Hong Kong yang saat ini sedang menghabiskan akhir pekannya dengan mencoba merecoki bisnis orang lain. 

Penampilan 180 derajat berbeda ini akan menguji kehadiran Alice di mata Sing-Sing. Apakah Sing-Sing akan tetap mengenali Bibi Alice yang berpenampilan santai tanpa membawa mainan? 

Saking besarnya rasa tidak percaya diri itu, Alice menyempatkan dirinya untuk memoles wajah dengan bedak dan bibirnya dengan lip tint terlebih dahulu sebelum melanjutkan langkahnya ke Sing-Sing Eating House. 

Ya, minimal bedak tipis dan lip tint deh!

Belum jam makan siang, berarti seharusnya resto belum menyentuh peak time. 

Namun, Alice salah—saat ia tiba di restoran, suasana begitu ramai. Semua meja terisi bahkan ada sedikit antrian di depan kasir. Saat itu juga Alice melangkah masuk ke dalam dengan menyelinap di antara antrian. 

Mata Alice langsung memindai keadaan kasir dan dapur. Kertas antrian pesanan berjejer di meja stainless serving—lebih dari enam.

Jimmy berada di balik wajan panas, memakai masker dan mengikat handuk kecil di kepalanya. Ia tidak berteriak tetapi fokus menyelesaikan setiap pesanan yang masuk. 

Ah Kit yang biasanya menjadi helper: membersihkan meja, piring. Kini ikut menjadi server karena Yoyo sedang sibuk di mesin kasir. Ini… Pincang. Alice langsung menilai kalau tim yang hanya berisi tiga orang ini sedang kewalahan akut.

“Eh, Halo, Alice-je, sebentar ya—” di tengah-tengah kesibukannya, Yoyo sempat menyapa Alice serta tersenyum sekilas.

“Sing-Sing? Di belakang?”

“Iya, Je…”

Alice menarik napas dalam-dalam, melangkah ke belakang, dimana Sing-Sing sedang diasingkan dari area tempur Jimmy. Kini, lampu di ruangan belakang sudah terasa lebih terang. 

Jimmy mendengarkanku? Aku sempat mengeluhkan kalau di belakang terlalu gelap untuk Sing-Sing, untuk membaca dan bermain.

“Sing?” Alice memanggil. “Bibi!” Sing-Sing langsung merespon suara Alice walau sorot matanya masih terpaku ke layar ponsel di hadapannya.

“Eh?” Saat menoleh dan melihat sosok Alice, Sing-Sing terdiam. “Bibi, kok… Beda?” 

Alice tersenyum sambil membungkukan badan dan mengusap kepala Sing-Sing dengan lembut. 

Penampilanku berbeda jauh. Namun, masih tetap mengenali diriku.

“Kenapa, Sing? Aneh ya?”

“Nggak, Bibi Alice tetep cantik! Ehehe” Sing-Sing tersipu dan tersenyum lebar.

“Bibi bawa apa? Itu buat Sing-Sing, ya?” Begitu Alice meletakkan kantong kertas di lantai, Sing-Sing langsung mempertanyakannya. Untuk satu detik Alice terdiam, menyadari kalau ucapan Jimmy benar adanya. 

Ia mulai menyadari setiap kehadiranku akan ada hadiah baru.

“Bukan Sing, ini barang untuk restoran.”

“Oh, Bukan untuk aku?”

“Bukan, Sing, Bukan.” Walau tidak tega, Alice mencoba untuk tegas. Sing-Sing tidak menunjukan rasa kecewa namun tatapan matanya kembali ke layar ponsel. “Bibi ntar main sama Sing-Sing, ya?”

Alice menghela napas lega. Sing-Sing tetap menerima ‘kehadiran’ Alice. Sebagai sosok yang akan bermain dengannya.

“Tapi aku mau nongton dulu, ya…”

“Oke, Bibi tunggu di depan, ya, Sing…”

Alice melangkah meninggalkan Sing-Sing. terlebih dahulu menuju ke kamar mandi untuk mencuci tangan sebelum benar-benar kembali ke depan—area kasir dan dapur. 

Udara begitu pengap dan panas, membuat Alice melepaskan cardigan dan mengikatnya di area pinggang selayaknya sedang memakai apron.

Alice melihat Ah Kit yang berjalan cepat membawa tumpukan piring dan mangkuk kotor ke arahnya. 

“Kit, nanti… Habis ini, kamu stand by di area depan, ya. Jangan masuk ke dapur dulu.”

“Hah? Gimana, Je?

“Sudah ikuti saja, kamu di depan kasir, benahi meja dan antarkan pesanan yang akan aku berikan.”

Alice berlalu, Ah Kit melanjutkan langkahnya ke belakang untuk menumpuk pirang serta mangkuk kotor. 

Alice kemudian menyelinap di belakang Yoyo—tiba di depan meja hidangan yang telah selesai dimasak dan siap diantarkan ke meja pelanggan. 

Tatapannya langsung tersorot pada deretan kertas order yang disusun horizontal. Tidak ada angka urutan order. Cuma waktu ketika pesanan dibuat saja.

Tangan Alice segera memutar beberapa kertas mengurutkannya berdasarkan waktu. Saat itu Jimmy tengah menuangkan masakannya ke atas piring. Alice langsung memperhatikan lauk apa yang tengah Jimmy siapkan. Ia langsung menduga itu adalah pesanan yang paling kiri. 

Kemudian mencocokan dengan makanan lain yang sudah selesai dimasak lalu memindahkannya ke atas nampan. Karena pesanan di kertas paling kiri itu telah siap untuk diantar.

Alice mengangkat nampan itu dan memutar badannya memindahkannya ke meja depan—Ah Kit telah siap untuk mengantarnya. Ada catatan kecil dengan pulpen pada kertas itu, berupa angka, mungkin saja nomor meja yang ditulis oleh Yoyo.

“Lis! Ngapain disini?” hardik Jimmy, suaranya agak tertahan karena memakai masker.

Alice tak menjawab, hanya mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya ke atas dan memberikan gestur menunjuk ke arah wajan—agar Jimmy kembali ke pekerjaannya, “Jangan pedulikan aku.”

Alice tidak mungkin membantu Jimmy—malah akan menghalangi ritme kerjanya. Tidak mungkin juga mengambil alih kasir, karena tidak tahu barang serta harga yang ada dan dirinya tidak segesit Ah Kit yang kuat mengangkat nampan berisikan banyak lauk serta merapikan meja dengan cepat. 

Yang dirinya bisa lakukan adalah menjadi ‘jembatan’ lalu lintas pesanan. Ia berdiri tegak bagaikan menara pengawas yang mengatur urutan pesanan dan makanan yang telah siap dihidangkan ke pelanggan. Sesekali membersihkan pinggiran piring dari ceceran saus agar terlihat rapi.

Hanya butuh sedikit waktu bagi Alice hingga ia langsung melebur menjadi tenaga bantuan di Sing-Sing Eating House siang itu.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Setengah jam setelah kesibukan tiada henti. 

Gelombang pesanan telah menurun setelah melewati jam makan siang. Dahi Alice telah bercucuran keringat, bukan karena lelah atau kepanasan tetapi keringat dingin karena rasa lapar sudah menguasai sedari tadi. 

“Kit… Tolong buatkan aku Mi wonton,” pinta Alice kepada Ah Kit yang tengah melintas di hadapannya sembari membawa tumpukan piring dan mangkuk yang telah dicuci bersih. “Huh? Saya Je?

“Iya, kamu, kamu saja yang buatkan. Mi kering, ya.”

Jimmy mendengarkan permintaan Alice. Ia langsung sigap menggeser tubuhnya ke kompor lainnya, sebuah panci besar untuk merebus mi. “Nggak Jim, bukan kamu—aku minta Kit yang buatkan.”

Tentu saja permintaan itu membingungkan buat Jimmy. Sorot matanya langsung menatap tajam ke arah Alice. 

“Kamu—istirahat, Jim.” Alice menggerakan tangannya seakan meminta Jimmy untuk menjauh dari area masak. 

Alice kemudian duduk di kursi meja yang paling dekat dengan kasir. Menyandarkan tubuhnya ke tembok berlapis ubin yang terasa dingin.

“Kenapa Lis? Kok, malah minta ke Ah Kit?” Jimmy mendekat ke arah Alice sambil menyodorkan segelas teh dingin.

“Udah sana, samperin Sing-Sing,” ucap Alice dengan suara lemah.

Jimmy sempat terdiam di hadapan Alice, memperhatikannya sembari melepaskan masker serta handuk kecil yang terikat di kepalanya. 

Jimmy pun melangkah menuju ruangan belakang, dimana Sing-Sing berada. Alice kemudian meneguk minuman pemberian Jimmy dengan sangat cepat.

Aku ingin membuktikan seberapa beda mi yang dibuat Ah Kit dan buatanmu, Jim. Jika tidak ada perbedaan, aku akan mengajukan restrukturisasi sistem kamu. 

Restoran ramai tapi cuma tiga pegawai, gila!

Dalam waktu singkat mi wonton buatan Ah Kit tersaji di hadapan Alice. Dari visual sama sekali tidak ada perbedaan dengan buatan Jimmy. Alice langsung menyiapkan sumpit, perutnya yang kosong harus segera diisi sebelum dirinya terkapar pingsan.

Slurp! Alice menyeruput sedikit mi itu.

Ternyata benar kata Jimmy, ada sedikit perbedaan. Bukan pada rasa atau aroma, tetapi pada tingkat kematangan Mi-nya. Buatan Ah Kit agak sedikit lembek, perbedaan kecil yang terasa mengganggu karena Alice tahu betul tingkat kekenyalan yang Jimmy buat.

Nggak, ini bukan gagal, cuma butuh sedikit Fine Tuning saja. Aku rasa semakin ia sering membuatnya maka ia akan mendapatkan tingkat kekenyalan mi yang sempurna.

“GA MAU! MAU NONTON AJA!” Suara jeritan cempreng itu terdengar jelas oleh Alice—suara Sing-Sing.

“Eh, udah lebih dari satu jam loh, kamu juga harus makan siang, Sing… Kalau rewel kayak gini, Papa ga kasih nonton lagi, ya?” Jimmy menggendong Sing-Sing keluar dari ruangan belakang.

Astaga! Gara-gara repot ikut membantu dapur, aku lupa bertanya kepada Sing-Sing apa dia sudah makan atau belum.

Alice langsung memutar kepalanya ke belakang, melihat ke arah Jimmy dan Sing-Sing yang tengah menangis kesal karena screen time-nya telah dihentikan.

Sing-Sing berlari menangis ke arah Alice begitu Jimmy melepaskan ia dari gendongannya. “Sing, Bibi Alice lagi makan, jangan ganggu!”

“Papa jahat, kan Sing masih mau nongton” Sing-Sing membenamkan wajahnya di paha Alice. Saat itu Alice langsung mencabut tisu, membersihkan noda di sekitaran bibirnya. Baru kemudian meladeni Sing-Sing.

Alice segera mengangkat Sing-Sing—menempatkannya di pangkuan Alice. Meredam tangisannya dengan memperlihatkan foto dari galeri yang ada di ponselnya. Lalu Alice kembali menghabiskan sisa makan siangnya.

“Ini syapa?” tanya Sing-Sing saat itu ia memperhatikan foto selfie Alice bersama seorang pria.

“Oh… Itu umm teman Bibi… Namanya Paman Hyun!”

“Hiyunn?” Alice tertawa kecil mendengarkan pelafalan Sing-Sing yang tidak sempurna.

Sial satu foto lolos—lupa aku hapus. 

Foto yang diambil beberapa bulan yang lalu, saat Alice masih bersama Kwon Hyunwoo. 

“Bentar ya, Sing.” Alice menekan ikon tempat sampah untuk menghapus foto itu. Sing-Sing terus menggeser layar. Foto berikutnya hanya dokumen, pemandangan dan selfie Alice saja. 

Hyunwoo sudah bertemu dengan Olivia belum, ya? 

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *