‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
“Sing, sini lah, sama Papa, disuapin Papa saja jangan repotin Mami lagi, kan mami tadi sudah mandiin kamu.”
“Ga mau, Papa… Aku maunya makan sama Mami,” jawab Sing-Sing dengan suara lembut—tumben tidak melemparkan tantrum.
Sing-Sing duduk disamping Alice. Menyuap makan malamnya sendiri namun sesekali masih meminta bantuan Alice untuk memotong lauk menjadi lebih kecil.
Alice menjulurkan lidah sekilas—mengejek Jimmy. Sebab kini putri semata wayangnya sudah mulai memilih dirinya ketimbang Jimmy. Pria itu hanya menggeleng dan kembali menyuap makan malamnya.
“Kok, malah ikutan makan disini sih, Jim? Tidak kembali ke bawah?”
“Rehat, Lis. Kalau tidak… Aku bisa terkapar di bawah sana. Mau lihat aku pingsan?”
“Bukan begitu—”
“Mih, pingsan itu apa?” Sing-Sing memotong ucapan Alice—tidak paham dengan kosakata baru itu.
“Sing… Pingsan itu seperti mainan yang tiba-tiba kehabisan baterai, lalu mati dan tidak bisa bergerak. Tapi, setelah diistirahatkan, baterainya akan terisi lagi dan bisa bermain seperti biasa.” Alice menjelaskan dengan perlahan.
“Oh—” mulut Sing-Sing membulat. “Papa bisa kayak mainan Sing-Sing? Kalau gitu, Papa bobo sekarang, biar baterainya terisi lagi biar bisa main lagi, kerja lagi.”
Kepolosan segera Sing-Sing menghadirkan gelak tawa. Hanya melalui penjelasan analogi sederhana namun anak berumur tiga tahun lebih ini langsung memahami konsepnya.
Kepiawaian Jimmy dalam menyiapkan hidangan, lagi-lagi tidak mengecewakan Alice. Daging kapsim babi itu memiliki serat yang empuk dan begitu mudah dicerna. Saus asam manisnya pun terasa begitu segar—mengenyahkan sedikit rasa enek dari daging berminyak itu.
Pria itu tidak lupa membawa sebotol kecil Chilli Oil ke hadapan mereka. Sebuah penyiksa lidah bagi manusia normal. Namun, bagi Alice—condiment itu adalah kenikmatan yang tiada tara.
“Besok… Kamis, kalian kemana, Jim?”
“Kemana? Ya… Pagi sih, nganter ke sekolah.”
Alice menyesap bibirnya. “Habis ke sekolah maksudnya? Kalian… mau ke Sha Tin?”
Jimmy mendengkus perlahan. Memutar lehernya, memandang ke arah Sing-Sing yang tengah bermain di atas playmat. “Tidak kayaknya.”
“Tumben? Biasa rajin kesana?”
“Sudah jarang, Lis.” Jimmy menunjuk dengan dagunya, ke arah Sing-Sing. “Tuh, gara-gara dia.”
“Sing-Sing? Kenapa memangnya?” Mata Alice sedikit membelalak.
“Tempo hari itu, dia sempat mengungkit soal dirimu di depan mereka. Bilang kalau Mami sudah pulang, setiap malam menemui Sing-Sing menemani bermain.”
“Hmm?” Dahi Alice mengerut bingung.
Jimmy menghela napas panjang. “Ya… Jadi timbul salah sangka dan kebingungan. Mereka… Berasumsi kalau aku sudah punya pacar yang mau menerima keberadaan Sing-Sing—sudah kucoba jelaskan panjang lebar… Namun, ya… Sulit. Mereka kini jadi jarang mengontak diriku untuk sekadar menanyakan Sing-Sing.”
Alice membisu menyesap bibir bawah dengan tatapan lurus ke arah Jimmy. Perlahan sudut bibir kanannya terangkat semu—sebuah senyum yang tertahan.
Kesalahpahaman antara mantan mertua-menantu itu terjadi karena aku yang masuk ke dalam kehidupan mereka—tanpa status yang jelas! Aku mengacaukan tali kasih itu. Tidak boleh. Aku tidak boleh merasa senang…
Namun, gimana ya… Tetap ada rasa senang, kalau bayang-bayang masa lalu Jimmy pada akhirnya bisa sedikit terhenti.
“K… Kok, kamu baru cerita, sih?” tanya Alice.
Jimmy memutar bola matanya, menatap ke arah Alice yang kini tengah tertunduk. “Maunya sih cerita waktu itu… Tapi kamunya keburu ketus dan cemburu, malah seka—”
Hnggh! Yang waktu itu! Astaga!
“Iya, iya… Aku yang salah.” Alice segera memotong perkataan Jimmy. Merasa malu, mengingat waktu itu ketika dirinya secara jujur mengakui kecemburuan butanya. (Bab 30-31-32)
“Jim, besok pagi… Sing masuk sekolah jam berapa? Aku ingin ikut mengantarnya ke sekolah, boleh?” Alice mencoba menatap kembali ke arah Jimmy.
Pria itu merekahkan senyuman tipis. “Sing, Mami katanya mau lihat Sing-Sing besok di sekolah, boleh tidak?” Jimmy malah bertanya kepada Sing-Sing.
“Boyeh!” jawab Sing-Sing dengan mulut penuh makanan.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Malam berganti pagi—hari dimana ‘Mami’ Alice akan ikut mengantar Sing-Sing ke sekolah pun tiba—walau hanya sebatas menemani sampai depan pintu gerbang saja.
Lalu Alice harus menghadapi drama atas keteledorannya sendiri. Dirinya sempat panik ketika menghampiri parking slot di apartemennya.
Bagaimana tidak? Mobil Lexus yang biasa terparkir manis malah tidak berada disitu, malah digunakan oleh kendaraan lain. Sempat berpikiran kalau mobilnya telah dicuri!
Namun, langsung ia langsung tersadar kalau mobilnya masih terparkir di kantor—sebab kemarin ia meninggalkan kantor di siang hari dengan menumpang mobil Maggie lalu minta diturunkan di restorannya Jimmy!
Alice menepuk jidatnya sendiri dan tertawa malu—untung saja belum menghubungi pihak keamanan apartemen dan meminta membongkar rekaman CCTV!
Astaga! Dasar pikun! Padahal kemarin malam pulang dari apartemen Jimmy naik taksi!
Alice langsung bergegas menyetop taksi—tak ingin waktunya terbuang hingga melewati kesempatan untuk mengantar Sing-Sing ke sekolah.
Pada akhirnya, Alice pun tiba di wilayah Mong Kok dengan menumpang taksi dan itu adalah sebuah pilihan yang tepat, sebab wilayah sekolahannya Sing-Sing sangat mirip dengan Sham Shui Po—ramai dan juga padat dengan aktivitas warga di pagi hari.
Alice masih harus menunggu Jimmy dan Sing-Sing. Belum ada kabar lagi dari Jimmy—mungkin saja mereka masih dalam perjalanan di kereta atau bus.
Pagi itu Alice tidak menjadi anomali—wanita yang selalu berpakaian mewah dengan makeup yang on point. Ia hanya mengenakan kaos putih, celana jeans, sandal dan tas bahu kecil yang tersampir di bahunya. Sesekali ia tersenyum ketika ada anak kecil berseragam warna cerah yang melintas di hadapannya.
“Mami Aliceee!” hingga akhirnya Alice mendapati suara manis itu di pagi harinya. Alice menoleh ke kanan, si kecil Sing-Sing tengah berlari ke arahnya. Alice langsung merendahkan tubuh, berjongkok untuk memeluk ‘anaknya’ sebelum masuk sekolah.
“Manis, sekali sih kamu, sayang…” Alice mencium pipi kenyal milik Sing-Sing—masih ada jejak wangi sabun serta shampoo tertinggal.
“Mami, entar, entar temenin Sing ke dalam, ya? Ke sekolah, ya?”
“Iya, sayang…”
Tanpa sengaja, bayangan Jimmy meneduhkan mereka berdua. Alice sempat melirik ke arah Jimmy, dandanannya agak… Berbeda. Pria itu memakai jaket cokelat muda, celana jeans dan sepatu kulit.
Pagi gini, kok kayak dandan banget? Ohoo… Banyak ibu-ibu muda sih disini, ya? Hmmm… Mau tebar pesona kayaknya si Jimmy?
Alice kembali bangkit berdiri sambil menuntun tangan Sing-Sing. “Ayo, Jim?” ucap Alice ambil menggerakan kepalanya sekilas agar mereka lanjut melangkah untuk mengantar Sing-Sing. “K… Kamu saja, Lis.”
“Loh? Bareng lah? Masa aku sendirian? Aku ga tahu pintu masuknya, ga kenal juga sama gurunya juga.”
“Sing-Sing tahu kok, dimana pintu—”
“Bareng!” Perintah Alice sambil memulai langkahnya bersama Sing-Sing.
Lantas, kenapa Jimmy enggan masuk bersama untuk mengantar Sing-Sing? Apa… Karena takut ‘tidak bisa’ tebar pesona duda keren diantara para ibu-ibu lain yang sedang mengantar anak?
Tidak, bukan itu.
Sebab kehadiran Alice yang menemani Sing-Sing membuat setiap orang termasuk guru di sekolah itu segera melabeli Alice sebagai ibunya Sing-Sing dan juga—istrinya Jimmy.
Di hadapan umum, Alice bersikap santai dan menerima saja kedua label tersebut tanpa mengelak karena akan terasa aneh dan menjadi urusan yang panjang kalau ia menolak label ‘istrinya Jimmy’. Ia harus menjelaskan segitiga hubungan mereka saat ini.
Durasi sekolah tiga jam tanpa didampingi oleh orangtua. Membuat Alice memiliki sedikit waktu luang sebelum berangkat ke kantor.
“Pah, cari sarapan, yuk?”
“H… Hah?” Jimmy masih tetap terkejap saat Alice memanggilnya dengan sebutan itu.
Alice mendecih—setiap kali ia memanggil Jimmy dengan sebutan “Papa”—pria itu tampak selalu konslet. “Sarapan, Jim. Aku lapar… Eh, atau kamu mau ke pasar? Mau belanja?”
“O… Oh, ya, boleh.”
Tempat yang mereka kunjungi adalah sebuah kafe. Judulnya saja sih yang Cafe & Cake Shop—nyatanya menu pagi yang ditawarkan persis seperti kopitiam pada umumnya.
Alice duduk menempati meja panjang—berbagi dengan pengunjung lainnya, sementara Jimmy yang mengantri dan memesan.
Sebelum mengomentari makanan, Alice terlebih dahulu mengomentari bangunan kafe itu. Sebab lokasi dari tempat ini persis dengan tempat Jimmy—perniagaan yang berada di bangunan tua (Tong Lau). Alice segera membandingkan kemudian mengemukakan visinya, apabila ia telah berhasil mendapatkan bangunan di sebelah restoran Jimmy.
“Pokoknya fasad utamanya harus modern, dapur tidak boleh lagi di dalam, harus memanjang dari depan, agar sirkulasi udara bagus dan jua menjadi ‘Show’ untuk memikat pengunjung, kayak pas tadi kita mutusin untuk makan disini… Karena tempat ini terlihat terang, bersih terus aktivitas yang sedang preparing juga terlihat jelas, Jim.” Alice mengucapkan hal itu sambil mengelus-elus dagunya.
“Oke, Bu. Siap.” canda Jimmy sambil menyeruput sedikit kopi panas miliknya. Ia menyadari kalau ‘divisi strategi’ di dalam kepala Alice sudah mulai menyala di pagi hari ini.
“Sama… kualitas! Walau saat ini sudah mulai mempercayakan kepada Ah Kit… Tetap harus kamu awasi dan jaga. Sebab itu yang akan berfungsi membuat return! Mereka suka, mereka ingat, mereka akan kembali!” Alice mengangkat jari telunjuknya ke atas—memperingati Jimmy.
Pria itu tampak santai dan tersenyum simpul. “Kayak… Kamu dong, Lis? Yang return terus ke restoran? Kamu suka, kamu ingat, kamu terus kembali?”
“Iya benar!” Alice kemudian mengangkat sarapannya—sebuah roti yang berbentuk menyerupai nanas.
Namun, sebelum menyuapnya, roti itu terhenti satu sentimeter di depan mulutnya. “Eh, aku kembali untuk Sing-Sing dan Chilli Oil loh ya, maksudnya!” Alice tersadar kalau ucapannya tadi terdengar ambigu dan berbahaya—ia langsung kembali mengangkat perisai gengsinya.
Jimmy masih tetap tersenyum. “Oke, Bu. Siap.”
Namanya saja yang Pineapple Bun—di dalamnya sama sekali tidak ada selai atau potongan nanas. Karena visual topping-nya yang renyah dan retak menyerupai permukaan nanas! Yang ada di dalamnya cuma potongan butter tipis. Rasanya manis, cukuplah untuk memenuhi kebutuhan gula dan energi di pagi hari!

“Parkir dimana, Lis?” tanya Jimmy begitu mereka selesai dengan sarapan pagi mereka. “Di parkiran gedung? Di belakang sekolahnya Sing-Sing itu?”
“Enggak, tadi naik taksi—” Saat ini, Alice tengah sibuk dengan ponselnya. Ia kemudian mendecih kesal. “Ck, ini Uber dari tadi ga dapat terus, taksi biasa juga penuh melulu dari tadi,” keluhnya.
“Naik bus?”
“Lama ah, berhenti di halte melulu.”
“Naik MTR?”
“Ergh… Harus jalan lagi, jauh lagi, sayang.“
Untuk sepersekian detik jantung Alice terasa berhenti.
OH TUHAN! GW NGOMONG APA BARUSAN!? Gara-gara fokus nyari taksi dan selalu memanggil Sing-Sing dengan ‘Sayang’ nih kayaknya! Malah teraplikasikan ke Jimmy!
“E-Eh, Jim. M-Maksudnya!” Mata Alice terpejam dan bibirnya segera terkatup rapat.
“Kalau duduk dibonceng naik motor bisa tidak?” tanya Jimmy.
“Hah?” Alice menoleh ke arah Jimmy. “Lah? Memang… Kamu—kesini naik motor sama Sing-Sing?”
Pantas saja dia memakai jaket—bukan untuk menggoda ibu-ibu, tetapi melindungi dirinya dari angin dan sengatan sinar matahari?
Jimmy mengangguk. “Ya, sudah… Aku antar kamu.”
Tunggu, kalau dibonceng naik motor… Berarti tubuh kami akan berdempetan ‘kan? Sudah pasti dong aku duduk di belakang? Mana mungkin dia naik motor yang ada sidecar-nya, ‘kan?

Motor dengan sidecar

“Enggak, ah ga usah.”
“Ya, sudah kalau begitu pilihan kamu cuma… Tunggu taksi dan telat ngantor.”
“Aish—” Alice mendesis selayaknya orang Korea—ya.. Sekilas, ia menarik bibir bawahnya. “Y… Ya udah deh, Jim… Anterin aku.”
Semua gara-gara sarapan dulu! Kalau tidak, mungkin aku sudah di apartemen lagi! Ergh!
By the way, Jimmy naik motor apa, ya? Masa… Motor tua yang ada di depan toko itu sih? Yang buat pesan antar sekitaran SSP? Kuat apa motor tua begitu kalau harus boncengan?
Alice menunggu di dekat sekolah Sing-Sing. Hanya sekitar tiga menit, Jimmy tiba di hadapannya dengan mengendarai motor berwarna hijau tua dengan ‘sayap’ putih.
Oh, ini… Bukan motor resto!
Jimmy memutar tubuhnya, menyiapkan helm half face yang diikat di kursi belakang.
Ini motor apaan sih? Bentuknya motor tua tapi… Terasa modern?
Secara keseluruhan motor itu memiliki visual yang ‘tua’—rangka yang melengkung, lampu bulat. Namun, velgnya terlihat modern begitu juga dengan lampunya yang menyala terang seperti led. Ada logo tepat di bawah lampunya—Honda Supercub?

[“Honda Astrea” versi modern]
“Sini!” Jimmy mengangkat sebuah helm berwarna putih. Alice refleks langsung menundukan kepalanya—membiarkan Jimmy yang mengenakan helm itu kepadanya. Saat tangan Alice hendak memasang pengunci dagu—tangan Jimmy sudah lebih cepat memasangkan kuncian itu.
“J… Jangan ngebut-ngebut, ya, Jim,” uajr Alice membiarkan jari pria itu menyentuh dagunya untuk sesaat walau mata Alice melirik ke arah langit cerah di pagi itu.
“Mana bisa ngebut sih, Lis, motor ginian.”
Alice segera duduk di kursi belakang. Kedua tangannya sempat sedikit kebingungan untuk berpegangan, hingga ia menemukan besi di bawah jok yang bisa direngkuh.
“Sudah?” tanya Jimmy dengan kaki kanan yang mengoper gigi.
“Y… Ya?”
Perlahan motor pun mulai melaju dengan perlahan dan mulus.
“Jim… Kamu tiap hari nganterin Sing-Sing naik motor?” tanya Alice.
“Hah?” suara Alice tidak begitu terdengar.
“Kamu—sama Sing naik motor tiap pagi?”
“Iya.”
“Bahaya tahu! Dia duduk di belakang?”
“Ya, enggak lah, dia duduk di depan.” tangan kiri Jimmy terlepas dari stang dan menepuk sebuah helm kecil berada di atas jok tambahan kecil yang berada di depan Jimmy.
“Lis! Majuan!”
“Hah?” Kali ini Alice yang berteriak kencang.
“Jangan tegak gitu, jadi ga seimbang nih!” ujar Jimmy yang agak kewalahan ketika motor harus bermanuver belok—sebab Alice duduk dengan postur yang tegak, menghambat laju angin serta titik gravitasi motor.
Jimmy menekan tombol sein, motor pun berhenti di pinggir jalan.
“Kenapa berhenti, Jim?” Alice keheranan.
Jimmy menoleh ke belakang melihat bagaimana tubuh mereka yang begitu berjarak serta postur duduk Alice yang begitu tegak. “Kamu… Jarang naik motor, ya?”
“Bisa dibilang… Hampir—ga pernah lagi di umur segini.” jawab Alice.
“Pantesan! Udah bersandar saja! Biar aku ga kagok! Dari tadi jadi oleng-oleng nih.”
“G… Gini?” Alice malah membuat tubuhnya semakin menjauh seakan duduk bersandar di kursi direksi kantor.
“Astaga, Youngie… Bukan bersandar ke angin, condong maksudnya! Condongkan badan mu, bersandar ke tubuhku!”
‘Kan? Ini modus kamu ya, Jim?
Jimmy kembali meluruskan tubuhnya, sekali lagi ia memutar operan gigi. “Cepat Lis, nanti telat!”
Mau tidak mau, Alice melakukannya. Menyandarkan tubuhnya hingga bersentuhan dengan tubuh Jimmy.
Hingga motor kembali melaju dan mulai menambah kecepatan ketika sudah mulai memasuki jalanan yang lebih besar.
Sial, badan yang condong ke depan dengan tangan yang terulur ke bawah sambil tepat merengkuh besi jok bikin pegal!
H… Huh. Jadi aku harus kayak… di film-film?
Tiba di lampu lalu lintas di ujung Argyle Street. Alice sudah tidak kuasa untuk menahan rasa pegal itu. Ia melepaskan pegangan tangan pada besi. Jarinya sudah mulai memerah karena merengkuh kuat pada besi jok.
Saat lampu menyala kuning, kaki kanan Jimmy kembali mengoper gigi—motor siap untuk melaju kembali begitu lampu menyala hijau.
Alice pun menyerah.
Tanpa izin—kedua tangan Alice kini bergerak—mengalung erat di pinggang Jimmy.
Jimmy tidak memberikan reaksi apapun. Membuat Alice jadi tersenyum tipis, walau sisa perjalanan mereka itu singkat. Sebab apartemen One SilverSea sudah berada di depan mata mereka.
Di balik helm full face yang menutupi kepalanya, Jimmy pun tengah tersenyum ketika Alice memeluk dirinya dari belakang.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
[CIYEEE… BISA AE IH, JIM!
Papa Mami makin lengket,
padahal ga disuruh sama Sing-Sing, loh?]
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Bersambung.

.
..
…
Hah? Kurang? Oke. Nih bonus scene-nya.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Bab 39 — [Dibuang sayang]
✩₊˚.⋆☾⋆⁺₊✧
Akhirnya, Honda Super Cub yang dikemudikan oleh Jimmy berhenti di lobi apartemennya Alice. Dengan tangan yang merengkuh kuat stang dan kaki yang telah menapak di permukaan—Jimmy sengaja memiringkan sedikit badan motor, memudahkan Alice untuk turun dari atas kuda besi.
Begitu menapak tanah, Alice segera berdiri disamping Jimmy. “Habis ini kemana lagi kamu? Pulang? Nunggu dekat sekolahan Sing-Sing?”
“Mungkin—” Jimmy menoleh ke arah dimana Alice berdiri—bersiap menerima helm yang sebelumnya dikenakan oleh Alice.
Namun, wanita itu malah sedang berkacak pinggang sambil sedikit mendongakkan kepalanya. Bibir bawah Alice meruncing dan bergetar ragu.
Untuk satu detik, Jimmy tampak memperhatikan Alice dengan kebingungan karena gelagat dari wanita itu. “Oh—”
Pada akhirnya, Jimmy paham. Kedua tangan Jimmy kini terangkat dari stang, kembali menyentuh pengunci helm membuat jari jemarinya kembali menyentuh area dagu Alice yang terasa begitu lembut ketika tersentuh olehnya.
Getaran dari bibir yang meruncing itu pun berakhir.
“Maaf ya, Lis,” ujar Jimmy saat kedua tangannya mencoba melepaskan helm dari kepala Alice dengan menariknya ke atas.
“A… ah aw aw…” Jimmy sudah berusaha selembut mungkin dalam menggunakan tenaganya. Namun, ketika helm terlepas timbul rintihan dari mulut Alice.
“Eh, eh? Sorry—”
“Moumantai, Jim…” [Kanton: Tidak apa-apa]
Tatapan mereka kembali bertemu ketika Jimmy meletakan helm yang baru saja terlepas dari kepala Alice.
Anehnya tidak ada kata-kata atau gerakan berikutnya dari mereka berdua. Jimmy memperhatikan yang masih berdiri di titik itu sambil membenahi tatanan rambutnya dengan santai.
“Masuk saja sana, Lis? Bukannya sudah mau telat?”
“Kamu yang jalan, aku sih tinggal masuk terus ganti baju, berangkat… Eh—” ucapan Alice terjeda. “Mobilku, ‘kan kemarin ditinggal di kantor, ya, Jim… dan kamu ga kemana-mana ‘kan? Tinggal nunggu Sing-Sing bubaran sekolah?”
Kepala Jimmy mengangguk—mengiyakan.
“K… Kalau begitu, a-anterin aku ke kantor, bisa, ‘kan?”
“A-Anterin? Oh temani kamu naik taksi?”
“Bukan… kita… naik motor lagi, anterin aku ke kantor.”
Kelopak mata Jimmy terangkat heran. “Motor? Yakin, Lis? Debuan loh? Panas loh? Nanti yang ada sampai kantor kamu kumel yang ada?”
Sanggahan dari Jimmy membuat alisnya Alice bertaut. “Enggak, aku bisa sampai lebih cepat malahan. Ga perlu ngantri macet di pintu masuk terowongan.”
“Y… Ya kalau itu mau kamu, aku antar kamu ke kantor, deh.”
“Oke, sepuluh menit Jim, aku siap-siap!” ujar Alice begitu lampu hijau diberikan oleh Jimmy.
Pada akhirnya, logika rasional Jimmy ditepis oleh logika efisiensinya Alice. Hingga akhirnya Alice kembali menemui Jimmy dengan mengenakan cardigan, menutupi setelan baju kerjanya.
Enam belas menit perjalanan menuju wilayah Central pun Alice habiskan sepenuhnya dengan memeluk erat tubuh Jimmy dari belakang.
Andai Sing-Sing melihatnya, Papa Jimmy yang nganterin Mami Alice pergi ke kantor. Entah ini beneran logika efisiensi atau hanya sebuah keinginan terselubungnya lainnya dari Alice.
—memeluk Jimmy.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅