‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

“Gimana, Lis… Hari ini? Lelah?”

Itu… Sebuah pertanyaan sederhana. Pria itu mungkin saja memberikan sedikit kepedulian kecil kepada Alice. 

“Lis?”

Alice terdiam seperti membeku. Matanya dapat melihat sosok Jimmy melalui ponsel yang tergeletak di permukaan kasur.

Sementara disana—Jimmy hanya mendapati pemandangan langit-langit kamar yang berselimut cahaya kuning agak redup.

“A… Ah, ya… Lumayan lah, Jim.”

“Jangan lupa… Makan malam, Lis? Hati-hati asam lambung? Nanti malah jatuh sakit lagi?” Disana Jimmy memberikan senyuman tipis.

“Y… Ya? Jim.” Jemari tangan kanan Alice terangkat, berada di atas layar tempat di ikon merah—hendak menutup panggilan. “B…Bye, Jim? Aku mau bersih-bersih dulu.”

Jari telunjuk Alice segera menghentikan panggilan itu—menolak untuk menunggu jawaban dari Jimmy.

Wajahnya kini terbenam di permukaan kasur selama beberapa detik. Hingga akhirnya ia mendecak kesal, menyadari kalau pikirannya telah benar-benar tercemar oleh perkataan Maggie kemarin.

Seolah cara pandang Alice terhadap Jimmy jadi berubah. Kata-kata menanyakan kabar dan peringatan kecil dari Jimmy malah terasa begitu dalam—seperti sebuah perhatian khusus—mengandung romansa nan kental.

Alice masih tetap menyangkal kalau debaran demi debaran yang terjadi di dalam dadanya itu—tidaklah nyata.

ˎˊ˗⋆。°✩📄 

Fajar menyingsing membuka sebuah lembaran baru—hari kedua Alice berada di Shanghai. Rutinitasnya segera berjalan sedari pagi. Berolahraga, sarapan kemudian lanjut ke menu utama di hari itu, meeting.

Di Crestview & Associates—Alice mendapatkan julukan “Ratu Langit” karena banyak portofolio yang menangani berbagai maskapai hingga perusahaan penyewaan pesawat (lessor).

Seperti hari ini, dirinya tengah menghadiri pertemuan dengan pihak Xiatian Airlines.

Ruang rapat tertutup, lantai dua puluh, hawanya dingin menusuk kulit namun terasa memuakkan.

Alice sudah menahan diri sepanjang dua jam mendengarkan presentasi bisnis dari pihak Xiatian Airlines. Tubuhnya memang berada disitu tetapi otaknya sudah menyelesaikan hitung-hitungan bisnis dan merangkumnya pada sebuah kata: Tidak.

Presentasi berakhir, dengan penutupan yang ramah dari pihak Xiatian membuka kesempatan untuk utusan dari C&A untuk bertanya. 

Alice terdiam, mengusap-usap dagunya sambil menatap kosong ke arah lembaran salinan dari presentasi yang memuat angka keuangan. Ia membiarkan terlebih dahulu beberapa rekannya melepaskan berbagai pertanyaan.

“Bu Alice? Bagaimana?”

Mmh—” Alice menghela napas panjang. “Tuan-tuan, mari kita persingkat waktu,” ujarnya dengan suara tenang.

Ujung pena Montblanc miliknya mengetuk pelan kertas salinan dari presentasi proyeksi keuangan dibanggakan oleh Xiatian Airlines.

“Saya mengerti Maskapai Xiatian sangat ambisius ingin memperluas armada untuk menguasai rute-rute domestik baru. Namun—” Ucapan tajam Alice menggantung seakan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menghadapi kalimat berikutnya.

“Proposal ekspansi kalian ini terlalu optimis. Kalian meminta kucuran dana miliaran dolar dari C&A untuk pembelian lima unit pesawat baru, tapi kalian mengabaikan satu beban besar: Depresiasi.”

Salah satu perwakilan maskapai hendak membuka mulut, Alice segera mengangkat tangannya—sebuah gestur absolut untuk tidak memotong ucapannya.

“Dari pengalaman di lapangan, pesawat baru itu nilainya akan langsung menyusut begitu ban pesawat kalian lepas landas dari aspal. Sementara itu, kewajiban cicilan kalian kepada Crestview & Associates akan tetap berjalan dengan nominal yang sama—kalian akan tercekik.” Saat kalimat itu terucap tatapan mata Alice menyapu ke seluruh perwakilan Xiatian Airlines yang berada di hadapannya.

Alice mengetuk pulpen miliknya satu kali—bunyi yang mendominasi ruangan.

“Kalian merencanakan pembelian tunai dengan dana pinjaman kami. Itu bunuh diri. Cash Flow kalian saat ini belum sanggup untuk menahan beban cicilan utang jangka panjang. Debt-to-Equity Ratio—perbandingan hutang terhadap modal kalian—akan bengkak hingga ke batas merah—”

Ketukan kedua, semua atensi di ruang rapat sudah menjadi milik Alice sepenuhnya. “Jika Return on Investment atau target keuntungan dari rute baru ini meleset sedikit saja—” Alice sempat tersenyum asimetris dan menggelengkan kepalanya. “Karena fluktuasi harga bahan bakar avtur, musibah dan lain sebagainya. Dimana kalian akan gagal bayar—maka kami yang akan menanggung kerugiannya.”

Alice mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya bertumpu di atas meja. Pergerakan kecil yang membuat sesak seisi ruangan karena setiap ucapannya seperti mengandung bilah pisau yang tajam dalam membedah realita bisnis.

“Crestview & Associates itu… bukan badan amal—” Kalimat ini sudah memberikan sinyal buruk bagi Xiatian Airlines. 

“Kami butuh kepastian untung. Jadi jawaban dari saya untuk saat ini: Tidak.” Sekali lagi Alice menggeleng. 

Ucapan Alice tidak langsung membuyarkan perhatian dari pihak Xiatian. Walau lirikan dan bisikan mulai terjadi diantara mereka.

“Namun, perlu Bapak dan Ibu garis bawahi, saya bilang tidak untuk saat ini. Bukan berarti saya menutup kemungkinan, keputusan final tetap dari pusat. Saya hadir disini sebagai suara awal dan bukan berarti tidak ada jalan keluar dari rencana matang yang telah anda buat.” Sekali lagi Alice mengetuk-ngetukan penanya di atas kertas.

“Pangkas rencana pembelian unit Airbus A320NEO. Ubah skemanya, ganti ke leasing dengan jumlah yang lebih sedikit. Agar arus kas kalian tetap bisa bernapas.” Sambil menutup map kulit di hadapannya, Alice menawarkan sebuah solusi.

“Saya harap pihak dari Xiatian mengerti dan pertemuan dan diskusi kita tidak hanya berakhir disini. Sebab kami dari C&A mengharapkan adanya kerjasama yang panjang nantinya.”

Alice tidak mengetuk palu terhadap calon kliennya, dirinya masih mengharapkan adanya sedikit ‘fine tuning‘ sebab masih melihat peluang dari Xiantian Airlines untuk bertumbuh.

Dengan memberikan kesempatan dan memberikan kode perubahan skema sesungguhnya Alice juga sedang melakukan promosi agar mereka melakukan penyewaan pesawat ke AirLease Global (ALG), perusahaan yang juga dikucuri dana dari C&A. 

Lebih tepatnya, ALG Asia-Pacific saat ini dikepalai oleh Kwon Hyunwoo—mantan kekasih Alice. Sosok pria yang mempengaruhi isi kepala Alice dalam memahami bisnis dunia penerbangan.

Saat nama Hyunwoo terlintas di dalam benaknya, tidak ada benci, trauma atau rasa kesal. Hanya senyuman tipis merekah karena Alice telah berhasil menutup kisah kelam dan merelakan pria itu.

Agenda Alice di hari itu tidak berhenti disitu, masih ada satu pertemuan lagi dengan klien lama Crestview & Associates.

Alice baru benar-benar bisa bernapas lega sekitar pukul enam sore. Bersama tiga rekan kerjanya, mereka hendak mencari makan malam lalu lanjut menikmati suasana malam di pusat kota.

Alice sudah terlebih dahulu memulai hiburan kecilnya: membaca laporan kegiatan Sing-Sing hari ini.

Jimmy
| Sing-Sing ikut belanja pagi ini
| (Foto)
08.23

Alice memperhatikan betapa menggemaskannya Sing-Sing sedang mencoba mengangkat boks belanjaan yang berisikan beberapa peralatan makan keramik. 

Peralatan makan baru? Apa proyek kopitiam pagi sudah di mulai oleh Jimmy?

Jimmy Sing-Sing
| Ada yang bandel hari ini
| (Foto pipi Sing-Sing)
| Memar, jatuh karena lari-larian di area dapur.
17.05

Chat pertama menggemaskan namun foto pipi yang keunguan itu mengiris hati Alice. Silangan kakinya bubar, tubuhnya tak lagi bersandar pada jok mobil—tegak sempurna. Alisnya bertaut sembari merenggangkan jari tangan kirinya, melakukan zoom in untuk melihat lebih jelas pipi Sing-Sing pada area yang berwarna merah tua. Bibirnya segera merapat panik.

Alice
Sudah bawa dia ke dokter? |
Atau ke klinik? |
Rumah sakit, Jim? |
18.09

“Kenapa, Bu?” Perubahan posisi duduk dan wajah yang seolah menegang—langsung ditangkap oleh rekan kerja Alice yang duduk disampingnya.

“A… Ah, tidak. Tidak apa-apa.”

Alice segera menarik napas, mencoba menahan raut wajah penuh resah. Namun, gagal. Alice ingin segera menghubungi Jimmy bertanya soal keadaan Sing-Sing. Tetapi ia sadar, ini mendekati jam makan malam pasti Jimmy sedang sibuk di restoran.

Sepuluh menit kemudian Toyota Vellfire putih yang membawa rombongan pegawai C&A tiba di Yuyuan Old Street

Rasanya seperti terlempar ke masa lalu. Banyak bangunan bergaya Dinasti Ming dan Qing dengan atap melengkung ke atas, dinding putih, dan ukiran kayu gelap terlihat semakin dramatis saat disorot lampu sorot dari bawah. 

Namun, terasa kontras dengan perniagaan modern yang kini berdagang di bangunan ikonik itu.

“Kalian, duluan saja ke tempat makan… Saya ada perlu sebentar.” Baru beberapa langkah, Alice memisahkan diri dari rekan-rekannya. Ponsel masih ia genggam erat—menantikan jawaban yang tak kunjung didapatkan.

“Baik, Bu.”

Langkah Alice sempat terhenti di trotoar berbatu. Hingga akhirnya, kembali melangkah menyamping—menghindari arus manusia yang berlalu lalang.

Sebuah pilar cokelat tua menjadi sandaran tubuhnya. Layar ponsel masih gelap—memantulkan papan led pertokoan yang mulai menyala serentak.

“Yoyo, nomor toko,” gumam Alice.

Alice segera sibuk dengan ponselnya, tinggal satu sentuhan maka ia akan segera terhubung dengan Sing-Sing Eating House di Hong Kong sana. 

Namun, ibu jarinya meragu. Jimmy sibuk, semua staff juga pasti sama. Melakukan panggilan atas dasar kepanikan bukan sebuah keputusan yang bijak.

Rasa sesak di dada seakan terus memberikan desakan timbangan keputusan Alice. Ibu jarinya menekan layar—ponselnya langsung di dekatkan ke telinga kanannya. Butuh beberapa detik hingga panggilan itu terangkat.

“Ya, Je?”

“Yo? Sing-Sing tadi jatuh, bukan?”

Karena panggilan ini bukan bertujuan untuk memesan makanan dari restoran—Alice tidak bertele-tele.

Hah? Oh, iya Je… Tadi sempat terpeleset tapi tidak apa-apa.”

Dahi Alice mengerut. Bagi dia, ‘tidak apa-apa’ itu bertolak belakang dengan laporan Jimmy—ada memar di pipi Sing-Sing. 

Alice berusaha mengontrol rasa kesal atas jawaban tak memuaskan itu. “Sing-Sing dimana? Di belakang? Sendirian?”

Tidak Je, ini ada di belakang saya sedang duduk sambil membaca buku.

“Berikan ponselnya, aku ingin mengobrol dengannya, bisa?”

Sing, ini Bibi Alice… Mau bicara sama kamu— ah, iya, silahkan mau pesan apa?” Suara Yoyo menjauh. Sesuai perkiraan Alice, panggilan darinya sedikit mengganggu operasional restoran.

“Mamiii!”

Alice menghela napas lega begitu suara riang itu menguasai telinganya. “Sayang… Kamu tadi jatuh? Masih sakit nggak?”

“Nggak, Mami…”

“Yang benar?”

“Iya, Sing ga pawpa. Tadi Sing samperin Papa, licin, Sing jatuh.”

Alice menelan ludahnya. Nada suara yang ceria itu meruntuhkan kekhawatiran serta kepanikannya. “Benar, ya? Sudah nggak sakit?”

Iya… Mami, Mami nanti telepon Sing-Sing lagi, ya? Sebelum bobo ya? Sing mau lihat muka Mami…”

Satu kali tarikan napas lega, senyuman lebar segera hadir. “Iya, Sayang… Malam ini Mami telepon kamu lagi, ya… Sekarang… Kembalikan handphonenya ke bibi Yoyo ya, sayang.”

Bibi, udah nih udah.” kali ini suara Sing-Sing menjauh.

Ya, Je? Mau berbicara sama Boss?

Jimmy? Tidak butuh. 

“Tidak, Yo, sudah, terima kasih, ya.”

Panggilan berakhir. Perasaan lega pun tiba—seolah kabut kekhawatiran sudah sirna. Alice kembali melangkah seorang diri, mengarungi lautan warga.

Ini… Bukan perasaan romantis.

Memang aku semakin merangsek ke dalam kehidupan mereka.

Namun Ini… seperti bisnis. Ya, seperti C&A dan Xiatian tadi.

Lewat kucuran dana yang diberikan, aku sedang membantu demi  keuntungan perusahaan—Sing-Sing. Baik Jimmy, Yoyo dan Ah Kit adalah para pekerja disana. 

Jelas, jelas sekali, Jimmy meminta bantuan kepadaku untuk ikut serta mengasuh dan merawat Sing-Sing. 

Ini juga transaksional, tindakan baik dan perhatian Jimmy selama ini adalah sebuah entertain agar jalinan kerjasama tetap erat.

Aku…

Harus menghentikan perasaan itu. Merasakan kalau Jimmy menaruh perhatian berlebih kepadaku.

Membuka hati kepada Sang Ayah—Jimmy adalah hal bodoh. Trauma ditinggal istri adalah benteng yang tidak akan bisa runtuh apalagi ditembus karena dilengkapi oleh ketakutan untuk mempercayai orang baru.

Ya, perasaan ini, kekhawatiran ini, murni.

Murni karena aku jatuh cinta kepada Sing-Sing. Sosok anak yang mungkin saja sudah kumiliki jika percintaan dan pernikahanku tidak kandas.

Mulai dari sekarang, aku harus berhenti memandang spesial Jimmy. Sebab kami adalah partner—rekan kerja yang sedang bahu membahu merawat sang perusahaan—Sing-Sing.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅  

Alice dengan Level Denial Maximum. Ada lawan?

Campur adukin aja terus, Lis. Perasaanmu dengan logika korporatmu itu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *