‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Senin pukul 11.45.
Alice menduga kalau dirinya masih punya waktu sekitar lima belas menit untuk merampungkan surat perjanjian peminjaman modal dengan Jimmy, sebelum kedua rekannya masuk ke dalam ruangannya untuk menggoda dirinya.
Nyatanya suara ketukan heels yang beradu dengan lantai marmer di kantor Crestview & Associates sudah terdengar jelas disertai riuh suara dua wanita.
“Ish—wanne.” gumam Alice yang tahu kalau itu sudah pasti sosok Karen dan juga Maggie. (Aduh, datang juga.)
“Annyeong, Moon Dal-Young-ssi!“
Pintu kaca terbuka, suara Karena langsung menguasai ruangan kerja Alice.
“Aliceneun yeogi eopseoyo…” gumam Alice lesu—dengan tatapan mata berubah menjadi sedikit sayu yang masih tetap menatap ke arah monitor pc ruangan kerjanya. (Alice tidak ada disini…)
“Orangnya atau hatinya yang tidak ada disini? Kyaaa!”
Suara ketukan langkah mereka mulai teredam sempurna oleh karpet ruangan kerja Alice, tergantikan dengan suara melengking Karen menguasai seisi ruangan.
Kedua wanita itu segera mendekati meja kerja Alice. Hanya ada satu kursi kosong di hadapan Alice yang langsung ditempati Karen dengan memajang wajah berseri.
Sementara Maggie memilih untuk berdiri di dekat meja Alice sambil melipat tangan di depan dada.
Ctrl+S. Jemari Alice segera menyimpan file sebelum kedua rekannya ini akan mulai menginterogasi soal kejadian ‘ibu boss’ itu. Alice menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu. (Bab 17-18).
“Hai guys!? Jadi… Mau makan siang dimana nih kita?” Alice memasang wajah berseri penuh kepalsuan.
“Ga usah alihin pembicaraan coba ya, Lis! Ayo dong jelasin lebih rinci soal Jimmy dan ‘Anak Tetangga’-mu itu?” Karen yang menyabet ucapan Alice. Tak bertele-tele langsung pada intinya.
Mata Alice terpejam, kepalanya sedikit mendongak lelah. “Tuhan Yesus…” gumam Alice sambil melepaskan napas dari mulutnya.
Konferensi Pers dimulai.
“Gimana, Bun? Udah nahan diri dari kemarin nih kita, pengen dengerin cerita langsung dari kamu langsung.” Maggie mencondongkan badannya—menodong cerita Alice.
Dari mana aku harus memulainya? Agar cerita ini terdengar aman? Konteks mana saja yang aku harus berikan kepada mereka?
Mana mereka sudah tahu seluruh kisah percintaanku lagi, dari Hyunwoo sampai ke Raymond.
“Jadi… gini loh—”
Perlahan Alice mulai melepaskan cerita.
Bahwa dirinya itu begitu menaruh empati dalam kepada sosok Sing-Sing yang telah ditinggal ibunya. Alice ingin membantu Sing-Sing agar bisa hidup layak namun tidak bisa serta merta memberikan bantuan uang begitu saja. Ia jadi ikut campur tangan sebagai penasihat dari rumah makan Sing-Sing Eating House—mendongkrak basis kehidupan mereka terlebih dahulu.
Menceritakan juga soal tumbuh kembang Sing-Sing yang mengalami asinkron akibat hidup di lingkungan yang sempit untuk ruang geraknya.
Serta menegaskan kembali kalau segala tindakannya itu murni karena ia menyayangi balita itu, bukan tujuan untuk mendapatkan hati Jimmy.
“Gila Lis, Gila… Kamu itu mencuri hati anaknya dulu sebelum mencuri hati Bapaknya? Wow, kayaknya ada di K-Drama apa ini, Meg?” Karen menoleh ke arah Maggie.
Alice langsung memasang wajah kesal—menyesap bibir bawahnya dan menatap malas ke arah Karen.
Emang dasarnya Karen usil, mau dijelaskan sekali lagi pun tetap akan bebal dan akan terus mempertanyakan ke hal-hal berbau romantis. Si maniak K-Drama!
Dengan lututnya, Maggie menyenggol kursi Karen—memberikan kode untuk berhenti menggoda Alice.
“Ren, Alice tuh beda sama kita… Kamu lupa?”
Karen, kerap memandang hubungan Alice terhadap Jimmy dan Sing-Sing akan dipenuhi romansa dan komedi karena status sosial mereka. Sementara Maggie yang sudah lebih berumur daripada Alice atau Karen sepertinya memiliki cara pandang yang berbeda.
Teguran Maggie membuat wajah usil Karen memudar.
“So… Sorry, Lis.”
“No worries.” Bola mata Alice berputar, melirik ke arah Maggie. Sebuah tanda kalau dirinya ingin tahu pandangan Maggie yang belum memberikan komentar apapun.
“Lis, gini… Mungkin kamu sudah burnout soal percintaan dengan laki-laki dan kamu sesungguhnya sudah mendambakan sosok buah hati—”
“Nggak gitu juga sih Meg, bukan mendambakan buah hati… Anak itu mirip waktu aku kecil, dibesarkan oleh orang tua yang dagang makanan dan hidup pas-pasan. Namun, aku masih beruntung, keluargaku lengkap, dia tidak… Murni iba.” Alice memotong Maggie yang belum menyelesaikan ucapannya.
“Ya, itu… inner child kamu, perasaan iba kamu bertransformasi menjadi cinta maternal, Lis,” tegas Maggie.
Alice tersenyum simpul, “K… Kayaknya ga mungkin deh? Maternal Love… Terdengar sangat sakral dan wanita seperti aku ga mungkin gitu. Tahu sendiri, ‘kan? Aku biasa saja saat ngadepin anak kalian not—”
“Ah, nggak, Lis! Kata siapa? Kamu aja yang ga sadar kali? Tuh buktinya anak aku, Aiden. Inget banget ke kamu sampai ke nama lengkap kamu,” sahut Karen yang sudah mulai kembali fokus.
Maggie tersenyum simpul, “See? Tadi kamu bilang Sing-Sing mengalami asinkron pada pertumbuhannya, ‘kan?”
Alice mengangguk perlahan. “Eh, Kamu tahu klinik tumbuh kembang yang bagus, Meg?
“No, no, no—” jari telunjuk Maggie teracung. “Bukan itu loh maksudnya. Maksudku… Kamu juga sedang mengalami asinkron, Lis, soal cintamu itu. Nih, ya, aku ga bermaksud menggoda ya—” Maggie melangkah maju hingga pahanya menyentuh pinggiran meja kerja Alice.
“Ga mungkin hanya memupuk cinta kepada anaknya saja, mereka berdua itu sudah satu kesatuan—satu paket, Lis. Aku cuma ingin memperingatimu… Jangan memasang benteng tinggi dan jangan melawan jika perasaan ‘itu’ mulai hadir di dalam dirimu.”
Ucapan Maggie menohok Alice hingga dirinya terdiam tanpa mendebat.
“Ingat, Lis… Anak itu cerminan orang tuanya. Anak yang sedang kamu cintai itu adalah cerminan dari Jimmy. So, in the future… Jangan heran jika percikan itu mulai ada.”
Alice menahan tawa, menggeleng mustahil. “Ga, mungkin, Meg.”
Maggie dan Karen langsung saling bertatapan. “Denial boleh. Namun, jangan menyia-nyiakan kalau nanti ada sebuah kesempatan, Lis,” ujar Karen.
“Ga! Ga mungkin,” pungkas Alice.
ˎˊ˗⋆。°✩📄
Alasan utama Alice selalu pulang lebih petang dari kantornya adalah: menghindari kemacetan. Seperti saat ini, baru keluar dari lingkungan kantor saja sudah membuat kepalanya penat.
Hari ini tidak bisa ia habiskan dengan santai begitu saja. Masih banyak urusan yang harus diurus sebelum kesibukan yang berjejal selama tiga hari kedepan.
Sehingga, malam ini Alice harus menuntaskan segala keperluan di Hong Kong. Besok pagi ia harus berada di Shenzhen lalu lanjut terbang ke Shanghai di sore harinya.
“Iya, Rock, jam 7 di SSP, lokasinya nanti saya share… bisa, ‘kan?” Begitu panggilan berakhir, Alice langsung mengirimkan titik lokasi Sing-Sing Eating House kepada seseorang yang baru saja berbicara kepadanya.
Ia berniat untuk melakukan rapat kecil dengan seseorang di tempat Jimmy. Bukan dengan rekan kerja C&A tetapi dengan sebuah perusahaan keamanan siber yang didanai olehnya—Hyunmoon Tech.
Alice meletakkan ponsel di kursi penumpang depan, tepat di atas sebuah map transparan yang memuat surat perjanjian peminjaman modal yang diminta oleh Jimmy sebagai bukti hitam diatas putih.
Apa… Hari ini ia akan tetap memanggilku, Mama? Lalu, tiga hari sibuk tanpa menemuinya akankah ia tetap memanggilku dengan Mama?
Alice menghela napas gusar ketika memikirkan Sing-Sing. Ada rasa takut akan gelar barunya itu akan terlupakan begitu saja oleh Sing-Sing.
Tetap sama, Alice harus memarkirkan mobil sedannya jauh dari Sing-Sing Eating House—menghabiskan sepuluh menit lainnya dalam lingkungan yang padat dan macet.
Sudah mulai terbiasa, Alice tak lagi begitu peduli dengan penampilan ‘pulang kantor’-nya. Ia tinggalkan sepatu heels di dalam mobil—memakai sandal slop hitam yang sangat timpang dengan pakaiannya—blouse putih dan pencil skirt hitam.
Alice sempat mengatur tatanan rambut, merapikan ikatan low ponytail-nya sebelum memulai langkahnya di trotoar.
Seolah sudah mulai hafal dengan lingkungan ini, Alice tak butuh lagi panduan dari ponselnya agar tidak terasar—tahu kapan harus berbelok dan menyeberang hingga tiba di Sing-Sing Eating House yang sedang ramai oleh pengunjung.
Alice juga tidak peduli apakah ia bisa mendapatkan meja kosong atau tidak. Langsung melangkah ke arah kasir, memotong antrian pengunjung yang hendak memesan di kasir.
“Sing?” Panggil Alice saat tiba di dekat Yoyo yang sedang melayani pengunjung. Namun, keberadaan gadis kecil itu tidak dapat ditemukan oleh Alice. Ia segera memutar lehernya, menyipitkan mata ke arah lorong. Apa dia di belakang? Seperti biasa, diasingkan bersama gawai.
“Lagi ke rumah saudara, Je,” jawab Yoyo cepat.
“Oh…”
Alice harus menahan kembali kerinduannya. Kemarin malam anak itu pulang dengan kondisi tertidur pulas di pelukan Jimmy. Sekarang, ia malah tidak ada di restoran.
Huuh… Ke rumah saudara? Ah, apa dia menginap? Atau akan pulang sebentar lagi? Ah… Aku ingin menemuinya hari ini sebelum aku menghilang dari hadapannya selama tiga hari.
Seperti biasa, meja pengunjung ke tujuh yang dipenuhi oleh sayur dan bahan masakan lainnya menjadi tempat untuk Alice. Sembari menopang dagu, ia melabuhkan tatapannya ke arah pria yang berada di balik wajan—Jimmy.
Untuk sesaat Alice memperhatikan bagaimana otot lengan Jimmy terlihat menegang saat mengangkat wok atau memukul sutil besi ke pinggiran wajan dengan penuh tenaga.
“Sshh,” Alice mendesis kesal dan memutar kepalanya menghadap ke arah depan—menghindari Jimmy. Apaan sih.
Alice memejamkan mata—mulai memikirkan sesuatu.
Apa aku harus menebalkan tembok batasan kami dan mulai memberikan jarak dengan Jimmy, ya?
Pada akhirnya, Alice menghela napas panjang—cepat-cepat mengenyahkan tatapannya dari Jimmy.
Hal itu sepertinya akan semakin sulit. Sebab mereka akan semakin terikat karena adanya perjanjian peminjaman modal ini. Malah Alice akan semakin masuk lebih dalam lagi ke dalam personal Jimmy demi membangun sebuah trust antara kreditur dan debitur.
Perut Alice belum begitu merasakan lapar. Namun, lidahnya telah menginginkan sesuatu yang manis. Antrian pengunjung sudah berakhir namun keadaan dapur masih sibuk. “Yo—” panggil Alice sambil menoleh ke arah kanan. “Saya mau es Nai Cha dong, satu.” (Teh Susu).

Minuman sederhana air seduhan daun teh, dicampur dengan susu evaporasi dan krimer kental manis. Namun, mampu membuat Alice sedikit keheranan setelah sedikit menyeruputnya.
Eh, Kok enak? Manisnya tidak menyengat lalu masih ada jejak aroma wangi teh nya.
“Sebentar lagi Sing-Sing pulang kok, Lis,” ujar Jimmy melangkah mendekati Alice.
“Dia…Kemana, Jim?”
“Di bawa sama sepupu untuk pergi main.”
Jimmy mulai sedikit merapikan berbagai barang yang bergelimpangan di hadapan Alice. “Mau makan apa, Lis?”
“Mmh, ntaran lagi deh, masih belum begitu lapar—” Alice meletakkan map bening di atas meja. “Perjanjiannya sudah aku buat, nih. Mau kita bahas sekarang? Sebab ada beberapa pertanyaan yang harus aku tanyakan terlebih dahulu.”
“Oh? Beneran udah jadi? Padahal aku baru sedikit membuat daftar budget dan perencanaannya…”
“Mmh, boleh. Bawa kesini sekalian, kita bahas.”
Jimmy segera menarik kursi di hadapan Alice, mengeluarkan sebuah buku kecil dari dalam apron yang dikenakannya.
“Jadi… Mau dimulai dari mana?” Mata Jimmy tersorot kepada Alice.
Dalam hitungan detik ketika Alice mulai menegakkan tubuh dan melipat tangan di depan dadanya, sorot mata Alice berubah menjadi tajam—seolah ia bertransformasi menjadi Alice Moon mode VP C&A.
“Begini Jim, karena ini adalah sebuah bentuk kerjasama dimana ada keterlibatan diriku sebagai investor dan konsultan, ada kewajiban yang harus kamu patuhi.” Alice kini sedang memandang Jimmy selayaknya seorang client korporat.
“Apa, Lis?” tanya Jimmy.
Ya, aku akan semakin dalam masuk ke dalam kehidupanmu.
Mungkin… Seharusnya aku tidak menawarkan hal ini? Namun, aku tidak bisa menarik kembali kata-kataku karena kamu sudah setuju dengan rencana itu—demi kehidupan kamu dan Sing-Sing.
Karena semakin dalam aku terlibat dengan kalian.
Apa…Mungkin perasaanku juga akan semakin terlibat kepada kamu?
“Kamu harus terbuka mengenai semua kondisi keuangan bisnis dan personal,” ujar Alice.
Dalam hatinya mengandung banyak perasaan halus, di dalam kepalanya bertaburan semua hal logis. Mulutnya memilih untuk meneruskan apa yang berada di dalam kepalanya.
“Okey…” Jimmy mengangguk.
“Karena aku, tidak ingin ada penyalahgunaan dana bisnis nantinya, sekarang aku mau tanya… Apakah kamu ada tanggungan hutang lainnya?”
“Tidak ada, Lis.”
“Bangunan ini? Rumah kamu di atas? Apakah sudah menjadi hak milikmu?”
“Ya, Lis. Saat aku memutuskan membeli bangunan ini, aku juga membeli unit apartemen di atas untuk tinggal.” Tak ada keraguan saat menjawab itu bahkan mata Jimmy masih tetap lekat menatap ke arah Alice.
Oke. Sudah cukup terjawab, kemana perginya semua uang milikmu setelah meninggalkan apron Executive Chef itu.
Uangmu dipergunakan dengan bijak; untuk membeli rumah berlindung dan ruang usaha untuk hidup.
“Mau sekalian lihat sertifikat kepemilikannya, Lis?”
“Boleh, tapi nanti saja—” Alice menghela napas panjang. “Sekarang… Bisa jelaskan kondisi keuangan toko, omzet harian dan profit margin dari kedai ini?”
Alice memang pernah sedikit mengutarakan hal ini (Bab 19). Namun, hari ini, ia membutuhkan jawaban—detail serta seluruh angka pastinya tanpa ditutup-tutupi.
Perlahan Jimmy memberikan penjelasan yang diminta oleh Alice. Walau Alice tidak meminta berapa jumlah tabungan Jimmy saat ini. Namun, ia bisa menduganya sendiri lewat profit harian, gaya hidup dan kebutuhan mereka sehari-hari.
Aman. Tempat makan ini juga sudah ada payung hukumnya, terdaftar di kementrian. Keuangan toko juga dikelola melalui rekening berbeda.
Jimmy kemudian melanjutkan catatan kecil budgeting kesiapannya. Bagi Alice catatan itu sudah cukup presisi—membuktikan kalau Jimmy memang mantan Executive Chef serta mempunyai otak bisnis dan perhitungan finansial yang mumpuni.
Sebenarnya Jimmy memiliki kesadaran berbisnis yang baik. Hanya saja terjegal dengan rasa tidak percayanya serta dana sehingga Sing-Sing Eating House terasa begitu sangat berjiwa tua.
Alhasil, Alice mengeluarkan kertas dari dalam map—penilaiannya sudah final: Jimmy pantas menerima bantuan dana darinya.
“Ini… Beneran ga kecepetan, Lis?” tanya Jimmy saat sedang membaca surat perjanjian itu.
“Seperti yang aku bilang Jim, tidak boleh berlama-lama. Kamu sudah mulai mencoba mengatur jam kerja pegawai saat ini. Namun, malah menjadi ada celah. Kamu harus bergerak cepat untuk menutupinya atau akan berdampak fatal.” Pada akhir ucapannya, Alice menarik napas kasar.
“Lagipula—” ucapan Alice menggantung. Membuat kedua bola mata Jimmy berputar dan menatap ke arah Alice. “Besok aku keluar kota, tiga hari tidak di Hong Kong, Jim. Jadi hari ini juga kita harus selesaikan.”
“Ooh, sibuk urusan kantor, Lis? Pergi kemana? Macau, lagi?”
“Non—” Alice menggeleng. “Besok pagi ke Shenzhen, meeting. Sorenya langsung ke Shanghai, sebab lusa pagi ada meeting dengan sebuah maskapai disana.”
Jimmy mengangkat kepalanya. “Shenzhen? Lalu Shanghai? di hari yang sama?”
Alice hanya menjawab dengan anggukan kepala sembari menyesap bibirnya.
“Ckckck… Jaga kesehatanmu, Lis. Jangan sampai jatuh sakit lagi seperti kemarin.”
Ada napas terhela, senyuman tipis terbit di bibir Alice. “Tentu, tentu saja, Jim.”
Buat apa aku menceritakan kesibukanku dengan detail kepadanya? Seperti memberikan informasi berlebih tanpa sebab.
“Lis? Ini tidak salah nominal yang akan kamu kucurkan, sebesar ini?” Jimmy mempertanyakan jumlah uang yang akan dipinjamkan Alice kepada Jimmy.
“Wae? Eh, kenapa? Kurang?”
Jimmy menggeleng, “Bukan, Lis. Justru ini… Terlalu besar, jumlahnya.”
Alice memiringkan kepalanya sekilas. “Menurut perhitunganku, tidak. Tenang saja, dokumen perjanjian kita ini akan jadi bukti sah untuk pihak bank, aku tidak mau transfer ini dibekukan karena kita dicurigai sedang mencuci uang, Jim.”
Jimmy mencoba untuk tersenyum tipis, tangannya telah mengangkat pulpen namun masih tersimpan keraguan untuk membubuhkan tanda tangannya di atas sana.
Meskipun mata Alice sedang memperhatikan buku kecil berisikan coretan Jimmy namun Alice dapat menangkap keraguan itu.
“Kenapa lagi, Jim? Ada klausul yang tidak sesuai?”
“Ragu, Al… Sebesar itu, takut tidak dapat mengembalikannya dan membebanimu.”
“Sudah aku bilang dan tertera, ‘kan? Ini bukan sekadar hubungan kreditur dan debitur, saja. Aku akan menjadi konsultan bisnis mu—memastikan keuangan kedai ini sehat dan uang itu bisa dikembalikan sesuai tenggat waktu.”
Jujur ya, jumlah itu cuma satu kali gajiku di C&A.
Aku hidup sendiri, pengeluaran dan kebutuhanku tidak sebesar itu. Aku masih sangat mampu dan… tidak terbebani sama sekali.
Pada akhirnya Jimmy, Lau Chi-Yeung membubuhkan tanda tangannya di atas surat perjanjian itu. Secara simbolis pun Alice segera mengirimkan dana tersebut ke rekening kedainya Jimmy.
Perbincangan selanjutnya, Alice tak lagi tajam dan dingin. Ia berubah menjadi konsultan bisnis. Memberikan ide soal bonus karyawan yang tetap efisien namun bisa memberikan produktivitas untuk restoran.
Sesekali Jimmy mendebat ketika realita di lapangan berbeda—karena Alice bisa menyusun strategi lewat teori namun petarung sebenarnya adalah Jimmy.
Diskusi harus berakhir ketika gelombang pengunjung baru masuk ke dalam kedai—mendekati jam makan malam—Jimmy harus kembali ke area kerjanya.
Alice memutar lengan kirinya—melihat jam tangan. Lima belas menit sebelum pukul tujuh malam. Alice harus melakukan meeting berikutnya, disini.
“Aku pindah ke meja depan, ya, Jim. Mau lanjut meeting.” Alice merapikan tas dan segera mengangkat gelas minumannya—Nai Cha-nya masih tersisa.
“Meeting? Disini, Lis? Tidak salah? Ga meeting di Cafe ujung jalan saja? Disini ramai, loh?” Dahi Jimmy mengerut heran.
“Non, bukan rapat penting dengan rekan kantor kok, cuma dengerin laporan dari partner bisnis saja…”
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Ditengah-tengah kesibukannya meracik bumbu masakan, Jimmy sempat melirik ke ujung sana—dimana Alice berada. Seorang pria muda telah duduk di depannya.
Di mata Jimmy, wajah Alice telah kembali serius namun tidak ada ketegangan hadir. Pose duduknya masih tetap sama tegak dengan tangan terlipat seperti mengintimidasi lawan bicara.
“Kit, meja satu pesan apa saja?” tanya Jimmy kepada Ah Kit yang berasa di dekatnya sedang membuat pesanan minuman.
“Oh, meja Alice-je? Beef Noodle dan Wanton Noodle, ini sebentar lagi mau saya buatkan,” jawab Ah Kit.
“Saya aja yang buat, kamu habis ini ambil stok gelas bersih, sudah mau habis tuh.”
“Siap Boss!”
Sambil menunggu air mendidih, Jimmy sempat membuka kembali surat perjanjian mereka yang disimpan pada kantong apronnya. Melihat lagi nama pihak pertama: Alice Moon.
“Katanya orang Korea? Tapi namanya disini tetap Alice Moon? Tidak pakai nama aslinya? Apa sedari lahir… Dia sudah memakai nama Alice?” Jimmy membatin.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Kemarin bucin, hari ini tegas bener si Alice ke Jimmy.

Nai Cha 奶茶
Membuat teh Susu Hong Kong yang otentik sangat mudah. Rahasianya ada pada penggunaan teh hitam yang pekat—dipadukan dengan susu evaporasi untuk memberikan tekstur creamy yang khas.
Bahan-bahan:
2,5gr / 2 sdm daun teh hitam (merk Tong Ji: Premium atau Kemasan merah.)
250 ml air mendidih
30gr / 3-4 sdm susu evaporasi (misalnya merek Carnation / Tiga Sapi)
20gr / 1–2 sdm susu kental manis (sesuaikan dengan selera manis Anda merek Carnation)
10gr / 1 sdm gula aren cair.
Es batu secukupnya (jika ingin disajikan dingin)
Cara Membuat:
Seduh Teh: Seduh daun teh dengan air mendidih. Diamkan selama 5–10 menit sambil sesekali diaduk agar warna dan rasa teh menjadi sangat pekat. Saring ampasnya.
Campurkan Susu: Dalam keadaan teh yang masih panas, masukkan susu kental manis dan gula aren. Aduk rata. Tuangkan susu evaporasi ke dalam campuran teh dan aduk kembali. Susu evaporasi inilah yang menjadi kunci kelembutan rasa ala Hong Kong.
Sajikan: Untuk versi hangat, teh susu siap dinikmati. Jika ingin menyajikannya dingin, tuangkan teh ke dalam gelas berisi es batu.
Tips:
- Kuncinya ada di penggunaan daun teh, gunakan yang loose leaf bukan tea bag.
- Gunakan rasio 1:100. 1gr daun teh untuk 100ml Air.
- Jika teh dirasa kurang pekat, diamkan dalam waktu yang lebih lama lagi atau rebus selama 3 menit bersama air (jika menggunakan panci untuk membuat air panas).