‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Uncle Lam – Driver
| Non, maaf saya tidak bisa menjemput.
| Sebab saya masih di Shenzhen.

Alice
Oh, iya. tidak apa-apa, Paman. |
Saya pulang sendiri saja. |
Terima kasih dan hati-hati di perjalanan ya! |

Berarti Alice harus pulang seorang diri di sore ini. 

Apa… Aku telepon Jimmy saja apa ya? Dia bilang dia mau bantu… Ah, tapi bantu apa juga? Tas koper yang dibawa juga koper kabin setelah dari Singapura kemarin. 

Tak perlu merepotkan Jimmy di hari liburnya lah, biarkan dia Quality Time dengan Sing-Sing.

Kondisi Alice sudah sangat membaik. Bukan efek magis dari sop pemberian Jimmy, tetapi tekadnya yang kuat untuk cepat sembuh agar bisa menjumpai Sing-Sing lagi dalam waktu dekat.

Alat infus sudah dicabut dari tangan. Saat ini sedang menunggu administrasi karena mempergunakan asuransi mungkin akan cukup lama prosesnya sampai di-approve.

Sesaat setelah mengganti baju sebuah panggilan telepon masuk. Jimmy? Bukan.

KHW – ALG is calling

Wajah Alice meragu untuk segera mengangkat panggilan dari mantan pacarnya itu. 

Sudah empat bulan semenjak Aice memutuskan untuk pergi darinya. Kunjungan ke Singapura kemarin pun ke AirLease Global (ALG) dilakukan diam-diam menemui orang Finance-nya tanpa menyentuh sang SVP dari ALG wilayah Asia-Pacific itu.

“Y… Ya, Hyun?” Alice menjawab panggilan itu.

“Al? Kamu… Kenapa? Kamu collapse? Sakit?”

“Cuma Flu kok, Hyun. Bukan penyakit mematikan.” Alice memilah-milah makanan ringan yang berada di meja kecil—kue yang dibawa oleh Maggie dan Karen tadi siang.

“Kenapa tidak bilang?”

“Bilang? Ke kamu? Bisa apa kamu, Pak? Memangnya bisa langsung terbang kesini buat jenguk aku? Bawain aku makanan? Hahaha… Santai lah, Hyunwoo aku kuat kok!”

Ada jeda selama beberapa detik. Tak ada suara dari sana bahkan Alice bisa mendengarkan suara-suara di belakang Hyunwoo yang sepertinya sedang membahas sesuatu. “Tak usah khawatir berlebihan, ini aku sudah boleh pulang. Kamu sedang meeting? Sudah—”

“Al, kalau ada apa-apa dengan dirimu, kabari aku juga, jangan cuma kabarin Mama.”

Alice memejamkan matanya. “Iya deh iya.” 

Panggilan itu akhirnya ditutup oleh Alice diikuti helaan napas panjang. Hubungan mereka, amat—sangat rumit untuk dijelaskan. 

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Kantong plastik itu memuat banyak sekali makanan berupa kue-kue. Ah, Sing-Sing pasti suka kue-kue seperti ini. 

Kalau aku habiskan sendirian mana mampu. 

Pesan Lalamove saja kali ya? atau…

“Jim, kamu dan Sing-Sing di rumah? Aku mau kirim makanan, temanku banyak membawakan kue aku ingin memberikannya kepada sing-Sing, boleh?” Alice menelpon Jimmy.

“Kue, kirim? Kamu memangnya dimana? Sudah keluar dari rumah sakit?”

“B… Baru mau siap-siap, pu—lang.” nada bicara Alice menjadi ragu. Jemari tangan kanannya perlahan mengelus kemasan plastik soft cake berwarna cokelat muda.

“Jadi dijemput sopir?”

“Tidak, aku sendirian. Heh, jawab aku, kamu di rumah, ‘kan? Aku kirim saja, ya?”

“Lima belas menit, Lis. Tunggu aku.” tuut-tuut. Jimmy menutup panggilan itu.

15 menit? Kok? HEH? JADI GINI SIH? Padahal kan cuma mau tanya, dia ada di rumah tidak? Mau kirim kue! Bukan minta dia kesini woy!

Alice ingin menghubungi kembali Jimmy dan melarangnya untuk datang. Namun, ibu jarinya enggan menekan tombol panggilan itu. Ia hanya  menatap kosong ke arah kontak Jimmy.

Seorang perawat masuk, memberikan dokumen administrasi dan pembayaran yang sudah selesai karena asuransi Alice sudah ter-approve.

“Ibu, pulang sendiri? Tidak ada keluarga yang menemani?”

Alice sempat terdiam. “Ada, sedang menuju kesini… Saya menunggu disini sampai dijemput boleh, ‘kan?”

“Tentu boleh, Bu.”

Ya, aku butuh Jimmy. Sebagai keluarga yang menjemputku pulang.

Dua puluh menit terlewati. Alice masih duduk sabar di ujung ranjang—kamar rawat inapnya. Kopernya sudah rapi dan beberapa kantong barang terikat di tuas kopernya.

“Lis?” Sosok Jimmy akhirnya tiba di dalam kamar. 

“Eh, Jim…” Alice menjawab dengan suara agak lesu sambil berusaha bangkit dari rebahan.

Jimmy memperhatikan Alice untuk beberapa detik. “Bisa jalan? Kuat?”

Alice langsung menghela napas. “Kuat… Tenang saja, tidak butuh kursi roda!”

“Sudah—” mata Jimmy menyapu ke sekeliling ruangan. “Bebenah? Ada yang perlu aku bantu lagi?”

“Sudah, Jim. Toh, cuma semalam saja. Ini, berikan kepada Sing-Sing ya nanti…Aku tidak bisa habiskan ini semua seorang diri.” Alice memberikan kantong itu kepada Jimmy.

Jimmy menerima kantong itu. Segera menarik tuas koper milik Alice. Melangkah perlahan, bersama-sama mereka meninggalkan ruangan itu.

“Sing-Sing, dimana, Jim?” Alice bertanya ketika mereka berada di dalam lift menuju lantai dasar. “Huh?” suara  Alice kurang begitu jelas karena suaranya teredam oleh masker tebal yang dikenakan olehnya.

“Sing-Sing… Di mana? Di rumah?”

“Oh… Sudah jalan pulang ke rumah, tadi kami ke Mall, sekarang sudah jalan pulang sama Ah Kit.” jawaban itu membuat Alice mengangguk.

Sing-Sing itu berharga baginya. Namun, hanya lewat panggilan telepon dia rela melepaskan anaknya untuk pulang bersama Ah Kit dan segera beranjak kesini untuk menjemputku. 

Dia bilang ini balas jasa atas semua yang telah aku lakukan kepada Sing-Sing dan kedai miliknya.

Dia memiliki krisis kepercayaan ekstrim karena pengkhianatan, tidak mudah mempercayai orang lain begitu saja. Tetapi selama beberapa saat ini, sikapnya kepadaku yang merupakan orang asing kenapa terasa begitu terbuka? Atau jangan-jangan?

Aku… dispesialkan, olehnya?

Hufh… Apa harus dipertegas lagi? Soal hubungan aneh ini?

Jim, kamu tidak melakukan ini karena kamu suka padaku, ‘kan?”

Sederhana namun pertanyaan Alice membuat Jimmy menarik napas dalam-dalam. “Nona Alice… Kan sudah aku bilang ini balas budi karena kamu sudah begitu baik kepada anak saya… Kalau bukan saya, apa kamu mau Sing-Sing sendiri yang datang kesini dan menarik tas koper ini? Dia berumur tiga tahun belum mengerti, setidaknya biarkanlah ayahnya yang sudah tua ini yang menggantikannya untuk membalas semua kebaikan dari Bibi Alice yang sedang jatuh sakit ini…”

Mulut Alice terkatup, sorot matanya menghindari Jimmy. 

Sebab kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dariku, Jim. Aku sudah lelah dengan percintaan…

“Paham, Lis… Aku paham. Kamu itu sedang mencurahkan hatimu kepada Sing-Sing bukan kepadaku.” di akhir ucapan Jimmy, Alice tersenyum simpul dari balik maskernya.

Rona langit mulai berubah, kelirnya mulai menjadi keunguan. Butuh beberapa saat sampai Alice mendapatkan taksi kosong di depan lobi rumah sakit. Alice sudah mencoba mengusir Jimmy agar tidak usah repot-repot menemaninya hingga ke apartemen—berdalih dia bisa sendiri. Namun, Jimmy tak menghiraukan itu.

Jimmy tetap mengikuti Alice. Tak ada percakapan di dalam taksi kendati mereka duduk bersebelahan. Alice mencoba memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya di kursi.

“Ada makan malam di rumah?” tanya Jimmy begitu mereka turun di lobi One Silversea—apartment Alice.

“Umh, paling rebus mi instan saja.”

“Astaga, Lis.” Jimmy mendengus dan kepalanya menggeleng. “Tumbang karena flu, makan tidak teratur, asam lambung sering naik, sekarang mau menyiksanya dengan mi instan?”

“Beli aja deh palingan—tuh mall deket.” Alice menunjuk dengan dagunya ke arah Olympian Mall yang berada tepat di depannya.

“Masak, Lis, buat sesuatu yang mudah saja, sup atau bubur?”

“Apa… Kamu mau memasak untukku? Eh, eh jangan ga usah, sudah jam segini, Sing-Sing belum mandi dan makan malam kan? Sudah deh Jim sana pulang saja.” Alice segera meraih tuas koper abu-abu miliknya. Sempat meminta Jimmy untuk memasak namun segera merevisi karena teringat kepada Sing-Sing.

“Sing-Sing sudah di drop Ah Kit di rumah saudaraku, tenang saja. Kalau memang kamu mau dan ada bahan masakan, aku bisa buatkan untukmu, Lis…”

Lantai 25. Saat pintu apartemen itu terbuka, lampu di dalam secara otomatis menyala. Apartemen dengan interior minimalis nan mewah perpaduan warna natural kayu, khaki dan pastel. Tirai ruangan utama yang terbuka langsung menyajikan pemandangan pelabuhan serta laut lepas yang mulai terlihat samar. 

Tidak ada bau apek karena lembab, tidak ada kebisingan jalan raya yang menyelinap masuk melalui sela-sela jendela. Inilah surga sunyi milik Alice, tempat beristirahatnya setiap kali setelah mengarungi dunia korporat.

Alice menunjukan dapur kecil miliknya kepada Jimmy.

Jimmy pun langsung beraksi. Sempat memperhatikan sebentar beberapa panci yang berada di dalam lemari kemudian matanya terarah kepada kompor tanam induksi milik Alice.

Mungkin Jimmy pikir Alice jarang masak sebab bagian belakang pancinya begitu mulus. Namun, begitu tahu jenis kompornya ia hanya tersenyum simpul.

“Maaf, aku akan mengacak-acak dapurmu,” ujar Jimmy hendak menyentuh beberapa bumbu masak kering yang tersusun rapi pada sebuah rak kecil. “Silahkan saja Chef, kan aku yang memintamu memasak disini.”

Selesai memilih bumbu yang bisa dipakai, Jimmy beranjak ke area logistik—’lemari pendingin. Karet pintunya sempat terasa lengket—susah untuk ia tarik, mungkin karena rumah ini sudah ditinggalkan Alice selama beberapa hari.

Di dalam sana tetap tertata rapi walau sedikit berdesakan antara makanan siap makan dengan bahan mentah. Jimmy mengambil satu batang daun bawang, satu siung bawang putih, serta daging ham kalengan yang tersisa setengah.

Sedikit frustasi dengan bahan mentah yang sedikit jumlahnya, Jimmy membuka pintu sebelahnya, freezer, setidaknya walau beku disana masih ada kehidupan. Ia menemukan daging sapi cincang dan udang yang telah dikupas.

Alice tidak bertanya hidangan apa yang sedang dibuat olehnya, seakan Alice ingin sebuah kejutan dari bahan seadanya dan kreativitas sang Chef SSP. Tidak ada pertanyaan dari Jimmy mengenai bagaimana cara mengoperasikan ini dan itu—menandakan ia sudah terbiasa dan pernah memakai kompor induksi dan microwave, dia bukan pria dari golongan bawah dia sungguh-sungguh mantan chef yang pernah berada di kehidupan atas namun kini memilih jalur yang lebih sederhana.

Perlahan Alice mengangkat ponselnya, mengambil beberapa foto, penampakan belakang dari Jimmy yang sedang memasak. 

Ah, ngapain sih?

“Tidak perlu kamu awasi, Lis… Kalau mau istirahat silahkan, mungkin setengah jam lagi selesai…”

“Ah, iya…” Alice beranjak dari sandarannya pada kusen pembatas ruangan tengah dengan dapur. Berjalan perlahan menuju ke kamar untuk segera membersihkan diri.

Dua puluh menit kemudian. Alice keluar dari dalam kamar. Rambut panjangnya masih sedikit basah, wajah tanpa make-up, kaos dan celana longgar menjadi pakaian tidurnya. Penciuman Alice langsung dikuasai oleh wangi gurih dan minyak wijen.

Mata Alice mencari keberadaan Jimmy yang kini tengah duduk di kursi meja makan. Ada satu piring daging ham yang dilumuri telur telah berada di hadapannya.

Jimmy segera bangkit dari duduknya. “Lis, lihat deh dia ngapain…” Jimmy memberikan ponselnya kepada Alice. “Baru dikirim Ah Kit.”

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Baru menegaskan ga akan ada apa-apa kok malah ngambil foto Jimmy diam-diam? Hadeuh, Lis!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *