‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Semenjak pelukan kaku yang mengakhiri pertemuan mereka berdua hari itu, waktu terus melesat. Hari berganti minggu, lalu minggu-minggu itu melebur menjadi bulan, hingga tanpa terasa tiga purnama kini telah berlalu begitu saja.
Selama itu, Sing-Sing Eating House masih tetap bersinar. Semua karena idealisme, prinsip, semangat dan ketelatenan Jimmy dalam melatih ‘murid’ serta menjaga kualitas rasa dalam sebuah masakan.
Tak perlu membakar biaya marketing berlebih untuk memanggil influencer lain demi mendongkrak penjualan. Keviralan tempo hari itu membuat mereka terus berdatangan dengan sendirinya.
Tidak ingin menu siang hingga malam saja menjadi andalan, ekspansi menu juga dilakukan pada menu pagi. Kini mulai menghadirkan sup makaroni kaldu dan aneka dimsum.
Untuk urusan tengah malam hingga subuh yang ditangani oleh saudaranya Jimmy pun tidak mau kalah, mereka juga melakukan ekspansi—dengan terus menambah variasi pada menu mereka.
Apa ada keterlibatan Alice lagi? Ada—walau hanya lewat sebuah ide, Jeonbokjuk alias bubur abalon. Alice bahkan menyuruh memasang embel-embel pada menu untuk menarik perhatian pelanggan: Bubur khas Jeju Korea Selatan.
Musim di Hong Kong pun perlahan mulai berganti. Mulai memasuki pancaroba—pagi panas, sore jelang malam bisa tiba-tiba turun hujan badai.
Dahulu menurut Jimmy, hujan menjadi sebuah masalah krusial di kedai—kehilangan pelanggannya. Namun, kondisi seperti kini telah sedikit teratasi—berkat kehadiran Sing-Sing Eating House di aplikasi pemesanan online.
Flu menjadi penyakit langganan di perubahaan musim. Hingga sebuah pertanyaan meluncur dari Alice yang kini telah benar-benar tenggelam dalam perannya sebagai seorang ‘Mami’.
“Jim, Kamu dan Sing-Sing sudah vaksin influenza belum tahun ini?”
“Belum pernah, tuh. Memangnya vaksin flu itu penting?”
“Astaga sekalipun kalian belum pernah? Seharusnya kalian rutin mengambil vaksin itu! Oke. Kamis, kita vaksin bersama—bertiga.”
Perintah Alice adalah hal yang absolut. Pilihannya cuma dua: ikuti perintah itu atau dijemput paksa olehnya.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Hari kamis—saat restoran libur. Di rumah sakit itu, Jimmy dan Alice malah menunjukan kelemahan serta kerentanan mereka berdua.
Jimmy—ternyata takut dengan jarum suntik, begitu tiba di rumah sakit ia terus-terusan menolak untuk menerima vaksin. Semakin Jimmy mengelak—membuat mata Alice semakin melotot.
“Sudah tua juga, masa kalah sama Sing-Sing, sih?”.
Pada akhirnya ketakutan Jimmy terkalahkan oleh ejekan Sing-Sing bukannya serta merta tunduk karena perintah Alice.
“Ih, Papa takut disuntik? Sing-Sing dong… Nggak takut!”.
Pada akhirnya, drama kecil soal ‘Papa yang takut jarum suntik’ terselesaikan. Kini, giliran Alice yang harus memperlihatkan kelemahannya.
Ketiganya berjalan di lorong rumah sakit, untuk menyelesaikan pembayaran. Alice memimpin jalan, menuntun si kecil Sing-Sing. Keduanya melangkah di depan Jimmy yang tengah sibuk dengan ponsel—sedang mengurusi supplier.
Netra Alice sempat memperhatikan catatan imunisasi milik Sing-Sing yang berada di tangan. Sempat melampirkan senyum memperhatikan betapa lengkapnya imunisasi yang telah diterima si kecil sepanjang perjalanan hidupnya selama tiga tahun lebih ini.
Ketika Alice kembali mengangkat kepalanya untuk kembali melihat lurus ke depan, langkahnya malah melambat hingga berhenti total. Sebab di depan sana, ada dua sosok yang tak terduga olehnya—Raymond dan juga Kelly. (Bab 21)
Hendak memutar balik langkah sudah tidak bisa, sebab Kelly sudah menangkap sosok Alice. Wanita itu menunjuk ke arah Alice sehingga membuat Raymond ikut melabuhkan tatapannya kepada Alice.
Tak berkutik, satu-satunya jalan adalah Alice harus tetap melangkah maju dan menghadapi pasangan itu.
“Kenapa, Mami?” Jemari kecil Sing-Sing menekan tangan Alice—bingung kenapa sang Mami berhenti melangkah. Lamunan kesal pun buyar. Alice kembali melangkah dengan senyuman yang telah memudar dari bibirnya.
Sshh… Di antara ratusan rumah sakit di Hong Kong, kenapa harus bertemu dengan dua makhluk ini—disini?
“Loh, Alice, ‘kan?” Mata Kelly terbuka lebar saat memandang ke arah Alice.
“Oh, Hai,” ujar Alice singkat. Sudut bibir kanannya terangkat—membentuk senyuman asimetris.
“Sama… Siapa, Lis? Apa ada yang sakit?” Kelly bangkit dari duduk, tatapannya kini mengunci ke arah Sing-Sing yang tengah dituntun oleh Alice. Sementara Raymond malah membuang tatapannya dari mantan istrinya sendiri—Alice.
Santai banget ya? Seolah tak pernah ada masalah apapun di antara kita.
Alice mengeratkan genggamannya pada Sing-Sing. “Oh, ini sama anak—aku. Habis vaksin flu.”
“A… Anak? Anak kamu?” Kelly tergagap—keheranan.
Tanpa harus menoleh, Alice dapat merasakan kalau Jimmy juga telah berhenti tepat di belakangnya. “Iya, ini Sing-Sing dan ini—” Alice sedikit menolehkan kepalanya ke arah belakang. “Papanya, Sing-Sing.”
“Oh, halo.” Otomatis, Jimmy langsung menganggukan kepala—memberikan salam.
Saat itu Raymond mencoba mendongakkan kepala, matanya seakan langsung memindai terhadap tiga sosok itu—Alice, Sing-Sing dan juga Jimmy.
“Anak pertama?” tanya Alice sambil melabuhkan tatapan ke tubuh Kelly. Terlihat jelas, kalau Kelly tengah berbadan dua dengan ukuran perut yang cukup besar—mungkin sudah di trimester ketiga.
“Iya, Lis—”
“Oh, gitu… umh. Selamat, ya—” Alice memotong cepat Kelly. “Oh ya, maaf nih, kami buru-buru—mari… Kel, Ray.” Alice tidak membiarkan waktunya terus tersita untuk menghadapi pasangan itu.
Ketika dirinya kembali melangkah, rasa kesal itu segera berkecamuk di dalam jiwa. Mengetahui pasangan hasil perselingkuhan itu telah berbahagia sampai ke jenjang pernikahan bahkan tengah menunggu kehadiran buah hati mereka.
Dengan angkuhnya, Alice mengakui kalau Sing-Sing sebagai anaknya dan Jimmy adalah ayah dari anak itu.
Semua yang Alice lemparkan itu adalah sebuah kebenaran yang membentuk sebuah pola ilusi sempurna—balas dendam.
Hmph, silahkan kalian hitung sendiri.
Pernikahan Alice dan Raymond kandas sekitar empat tahun lalu. Kemudian umur Sing-Sing sekitar tiga tahunan. Dengan kata lain—setelah perceraian, Alice berjumpa dengan pria baru—Jimmy. Mereka berbahagia lalu segera memiliki buah hati.
Itulah ilusi balas dendam yang elegan itu.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
“Mami, iketin rambut Sing-Sing, Mami.” Pinta Sing-Sing sesaat setelah mobil keluar dari dalam parkiran basement rumah sakit. Tetapi, Alice tidak bergeming untuk segera melayani permintaan anak itu.
“Ma—mi.” Sing-Sing berusaha menegakkan tubuhnya walau sulit karena terhalang oleh sabuk pada kursi anak. Tangan kecil itu menggoyangkan bahu Alice yang duduk di sisi kanannya.
“Huh?” Sentuhan itu membuat Alice terkejap, lamunannya buyar. “Ke… Kenapa sayang?”
“Mau diikat kayak Mami rambutnya.”
Mata Alice berkedip cepat—menarik paksa setiap sudut bibirnya agar tersenyum.
“Mami, kok nangis?” Sing-Sing melihat sendiri ada air mata yang merosot turun di pipi Alice.
“Hah?” Dengan gerakan cepat, Alice menyeka pipi menggunakan punggung tangannya. “Nggak kok—eh, Sing, kepalanya ngadep ke kiri, susah nih Mami ngiketnya.”
Mendengar ucapan terakhir Sing-Sing soal Alice yang menangis, netra Jimmy langsung menyorot ke spion tengah. Ia segera mendapati ekspresi Alice yang muram.
“Nanti, aku dan Sing-Sing turun di halte saja ya, kami lanjut naik bus,” ucap Jimmy dari balik kemudi mobil sedan milik Alice.
“Kalian… Memangnya mau lanjut kemana?” balas Alice dengan nada datar.
Kamis adalah hari liburnya Sing-Sing Eating House. Hari yang selalu dipakai oleh Jimmy untuk quality time bersama sang buah hati.
“Kami mau ke Mall Harbour City. Sing-Sing mau ke playground.“
“Yey! Playground! Nanti aku, aku mau main slide! Mau main bola, mau trampolin!” respon penuh semangat dari Sing-Sing membuat Alice merekahkan senyuman tipis walau hanya sekilas.
“Aku… Ikut saja deh, Jim.”
“Ikut?” Sekali lagi Jimmy melirik sekilas ke arah spion tengah. “Bukannya kamu harus ke kantor?”
Alice menghela napas, memutar pandangannya ke arah jendela. “Jadi malas—” Ada decakan dari mulutnya. “Ck. Mau izin saja, habis vaksin jadi meriang, jadi ga fit.”
“K… Kamu meriang? Kurang fit? Kalau begitu pulang saja, Lis, jangan paksakan dirimu?”
Alice memutar lehernya, menatap ke arah spion tengah—mencari keberadaan tatapan Jimmy. “Tidak, Jimmy… Itu cuma alasan yang akan aku berikan ke kantor. Hari ini… Aku ingin—” Alice terjeda, menarik napas lembut. “Bersama-sama dengan kalian.”
Jimmy tidak segera menjawabnya, tatapannya masih sibuk memperhatikan lalu lintas.
“Kenapa? Tidak boleh?” sahut Alice dengan nada sedikit sinis ketika tatapan mereka kembali bertemu melalui cermin spion.
Apa yang bisa membuat Jimmy untuk berkata ‘tidak’ dari wanita yang sedang menyimpan ‘amarah’ itu? Daripada menyandera Alice untuk berucap jujur, Jimmy memilih untuk mengizinkan Alice untuk tetap bersamanya di hari itu.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Begitu tiba di parkiran mall, Alice langsung menggendong Sing-Sing saat turun dari dalam mobil.
“Biar aku saja yang menggendongnya, Lis.” Jimmy mengulurkan tangan.
“Tak apa, Jim. Aku saja, aku sedang ingin memeluknya,” jawab Alice dengan suara datar serta sorot mata kosong menatap entah kemana.
Menurut Sing-Sing, Alice menangis saat di dalam mobil. Kemudian perubahan jadwal—dari izin masuk ke kantor siang menjadi sepenuhnya tidak masuk. Disertai sorot mata yang berubah kosong. Berbagai tanda itu mengerucutkan Jimmy hingga ke: Siapa pasangan yang mereka temui di lorong itu? Yang telah merubah sikap Alice.
“Jim…” langkah Alice terhenti begitu mereka tiba di dalam gedung. Jari telunjuk Alice melambai—memanggil. Jimmy merendahkan kepala—mendekatkan telinganya ke Alice.
“Aku… Mau belikan hadiah kalau Sing-Sing berhasil naik eskalator tanpa pegangan, ya?”
Alice tahu itu uangnya—kebebasannya. Namun, ia sadar mengguyur Sing-Sing dengan materi akan melangkahi idealisme yang Jimmy pegang.
Akan tetapi dari cara bicara Alice, itu tidak menyerupai sebuah diskusi untuk meminta izin—lebih mirip ke ‘sudah ikuti saja apa yang aku mau.‘
“Ayo Sing, kalau Sing-Sing pintar naik eskalatornya, ga pegangan sama Mami atau Papa, nanti Mami beliin kamu sepatu baru, mau?”
Mendengar hal itu Sing-Sing langsung tersenyum lebar.
“Ehehe, mau!”
Jimmy pun kembali menyaksikan sendiri bagaimana seorang Alice Moon kembali menyelesaikan satu masalah lainnya di dalam kehidupan mereka.
Alice menurunkan Sing-Sing dari gendongan. “Pelan-pelan saya… satu, dua…”
Ada sedikit keraguan saat Sing-Sing mengangkat kaki kanannya. Namun, lewat suara Alice yang memandu—akhirnya Sing-Sing menginjak anak tangga berjalan itu. Tubuhnya sedikit terguncang namun dengan cepat ia berhasil menstabilkannya. “Bisa, Mami!”
Kini Lau Hiu-Sing tidak takut lagi dengan eskalator, bahkan ia mencoba melompat maju ketika berada di ujung tangga.
Detik itu juga,
Jimmy merasa malu—sebab—apa yang bisa ia berikan untuk membalas semua jasa dan peranan Alice selama ini? Merealisasikan lelucon tempo hari itu? Berikan Sing-Sing kepada Alice? (Bab 19)
Hanya satu hal yang bisa Jimmy berikan kepada Alice—perhatiannya. Namun, harus tetap berhati-hati karena Alice yang menyimpan luka dan trauma. Ia masih merasa kalau dirinya mencintai seseorang sebagai pasangan, itu hanya akan membawa petaka. (Bab 24)
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Alice dan Jimmy turut masuk ke dalam arena indoor playground yang luas itu. Sesekali keduanya bergantian saat menemani Sing-Sing bermain.
Namun, pada akhirnya sedikit menyerah karena tubuh ‘tua’ mereka yang sudah tidak sanggup untuk terus mengekori kemana Sing-Sing melangkah. Keduanya menyerah—membiarkan Sing-Sing bermain sendiri namun masih tetap dalam radar penglihatan mereka.
“Oh Tuhan… Ga, nyangka menemani main doang, bisa secapek ini—efek vaksin atau memang sudah berumur, ya?” keluh Alice sambil duduk disamping Jimmy. Penampilan Alice begitu mencolok selayaknya working mom—mengenakan setelan jas dan celana bahan abu-abu tua.
Jimmy tersenyum simpul. “Kalau efek vaksin, kok, Sing-Sing kayak ga terpengaruh, ya? Kita ‘kan vaksin bareng, tadi?”
Alice melipat tangan di depan dada, mendecih kesal. “Ck, langsung bilang aja sih, kalau aku tua.”
Jimmy terkekeh walau tanpa suara dengan napas yang terlepas berkali-kali diikuti hidung yang mengerut.
“Lagian—” Alice memutar bola matanya—menatap ke arah Jimmy. “Kayaknya tuaan situ deh?”
Jimmy hanya menjawab dengan gerakan alis sekilas—bergerak naik turun. Hal itu segera membuat Alice sedikit merekahkan senyuman.
“Papa! Papa! Liat aku!” teriak Sing-Sing yang sedang melompat-lompat di trampolin.
“Hati-hati, ya, Sing.”
Tanpa ada kata-kata lainnya, Alice dan Jimmy kembali terlarut dalam sunyi sambil memperhatikan si kecil yang tetap terlihat aktif.
Jimmy kemudian melirik ke arah Alice. “Lis, masih… bad mood? Aku rasa suasana hatimu agak berubah setelah dari RS tadi?”
Alice mengambil napas dalam-dalam. “Sorry, tadi aku jadi mengakui Sing-Sing sebagai anakku di depan orang lain.”
“Loh? Bukankah sudah sering kau akui seperti itu? Ke teman-teman kerjamu itu? Siapa? Karen? Maggie?”
“Duh, selain mereka, Jim. Orang luar,” jawab Alice.
“O… Orang luar? Loh, Aku kira yang tadi itu teman kerjamu juga?”
Mata Alice terpejam kepalanya menggeleng sekali. “Bukan—” ucapannya menggantung, “Yang… Tadi itu mantan suamiku—” Bibirnya mendecak dan matanya kembali terbuka, “dan selingkuhannya.”
Tak ada kata-kata, hanya ada anggukan kepala yang begitu semu dari Jimmy. Tersadar kalau itu adalah luka lama Alice, Jimmy seperti mencoba menghindari—tanpa terus bertanya.
“Aneh rasanya… Padahal akulah penyebab perceraian itu. Begitu melihatnya tadi… Rasa kesal dan dendam seperti masih tetap menyelimuti.” Alice seperti sedang membuka kartunya sendiri.
“Penyebab? Bagaimana?” Sepertinya Jimmy tahu kalau Alice telah siap untuk membuka lukanya. Jimmy pun melanjutkan pertanyaan yang mungkin saja akan segera menyentuh ranah lebih sensitif.
“Aku yang jahat, Jim—” Alice menelan ludahnya, pose tubuhnya masih tetap tegak—angkuh sambil melipat tangan. “Memanfaatkan cinta dari pria itu agar aku bisa melupakan masa laluku—dulu.”
Jimmy menyesap bibir dan menekannya. “B… Baiklah.”
“Di masa lalu, aku memiliki ambisi yang tidak sehat karena sakit hati yang begitu mendalam… Kemudian aku bertemu dengan Raymond—” Alice menghela napas pendek.
“Aku pikir dia adalah ‘penghapus’ yang mampu menghilangkan masa laluku—ternyata tidak, ambisi itu masih tetap ada… Membuatku menjadi terlalu keras, mandiri dan melupakan kalau pria juga harus tetap merasa dibutuhkan—” Kelopak mata Alice sempat berkedip cepat. “Sehingga ia—” ucapan Alice terputus, kepalanya menggeleng. “Mendua,” tutupnya lirih.
Tatapan Alice perlahan runtuh, kepalanya mulai sedikit menunduk.
“Sebenarnya tanda-tanda itu sudah ada dari lama. Namun, aku mengabaikannya, sampai akhirnya mereka melakukan perselingkuhan itu di atas ranjang kami dan… Aku menangkap keduanya.” Di akhir ucapannya Alice memejamkan mata, bibirnya terkatup rapat—napasnya terhela cukup panjang. Lipatan tangannya pun terlepas, bahunya kini sedikit merosot turun. (Bab 21)
Kepala Jimmy sedikit mengangguk—bingung memilih kata-kata untuk menanggapi Alice. “Hm hm… Kompleks juga kisahmu, ya.”
“Ah, karma… Mungkin,” gumam Alice. Kepalanya terus menunduk—menukik perlahan ke arah pundak Jimmy—bagaikan pesawat yang hendak melakukan sebuah pendaratan.
Tubuh Jimmy sedikit tersentak karena kepala Alice mendarat di pundaknya—wajah Alice pun segera terbenam di sana.
“Maaf, sebentar saja, Jim. Sebentar.”
Tanpa harus bertanya, Jimmy mengerti kalau wanita itu telah terkalahkan dengan masa lalunya. Tak kuasa menahan tangis—Alice menggunakan pundak Jimmy untuk menyembunyikan kerapuhannya.
Dugaan Jimmy tervalidasi, soal ucapan Sing-Sing soal Alice yang sempat menangis di mobil benar adanya. Suasana hati Alice sedang tidak baik-baik saja, sampai harus mangkir dari kantor hari ini.
Sekitar dua menit Alice berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri di posisi itu.
Dengan tubuh yang masih tetap tegak untuk menopang Alice, Jimmy bersusah payah meraih tas kecil milik Sing-Sing untuk meraih tisu kering dari dalam sana.
“Lis?” Tangan kanan Jimmy mengangkat kemasan kecil dari tisu dan diarahkan kepada Alice.
Tangan kanan Alice terangkat ragu—mendekat namun bukan untuk mengambil tisu. Tetapi untuk memegang punggung tangan kanan Jimmy.
Bagi Jimmy, tangan yang berukuran lebih kecil dari tangannya itu terasa begitu lembut dan halus. Akan tetapi, membawa serta getaran kecil—sebuah rasa rapuh dari masa lalunya.
“A… Aku manusia jahat, Jim,” rintih Alice.
Ibu jari Jimmy bergerak, menyentuh jari tangan Alice dengan perlahan dan mengusapnya.
“Kalau… Kamu merasa dirimu jahat, lantas—” Gerakan ibu jari Jimmy terhenti. “Apa kamu sudah memaafkan dirimu sendiri?”
Alice mengangkat sedikit kepalanya—tak lagi terbenam di pundak Jimmy.
“Kalau menurutmu… Rasa kesal tersisa itu seperti sebuah karma. Lalu dengan kamu sudah merelakan pria itu. Apa kamu yang sekarang sudah memaafkan dirimu sendiri atas semua perilakumu di masa itu?”
Ada bunyi desis halus saat Alice menarik napas dari mulutnya.
“Ssh… Untuk apa? Aku memaafkan diriku sendiri?”
Salah satu sudut bibir Jimmy terangkat sedikit. “Kamu… mungkin tidak sadar, saat ini kamu masih terjegal dengan rasa bersalah itu. Aku rasa dengan memaafkan dirimu sendiri… Akan mengakhiri seluruh rasa kesal itu dan… Membuatmu terlepas seutuhnya dari kutukan yang selama ini kamu percaya sedang menimpa dirimu, ‘kan?”
Perlahan tangan Alice meraih tisu dalam kemasan kecil itu dari tangan Jimmy. “Pssh, Kutukan, ya?” bisik Alice.
Alice menarik tubuhnya perlahan, hingga tak lagi bertumpu pada Jimmy. Perlahan dengan menggunakan selembar tisu, Alice menghapus air mata yang sempat menderai.
Jimmy memutar kepalanya, mengarahkan netranya kepada Alice—memastikan kalau wanita itu benar-benar telah kembali kuat.
“Pssh—” Saat tatapan mereka bertemu, Alice menahan tawanya. “Parah ya, aku? Cengeng?”
Kepala Jimmy menggeleng. “Tidak, Dal-Young. Kamu itu wanita terkuat yang pernah aku temui.”
Alice tersenyum asimetris dan menyenggol lengan Jimmy ketika nama lahirnya mencuat dari mulut Jimmy. “Halah, bohong…”
“Serius, Dal-Young. Kamu itu wanita tangguh, kuat dan juga hebat. Tidak banyak wanita yang sanggup melewati badai kehidupan namun tetap sukses di kerjaan. Jarang—langka malah.”
Mendengarkan nama lahirnya yang kerap disebut oleh Jimmy dengan nada yang kaku, senyuman Alice pun melebar seutuhnya. “Jim… Jim, kalau mau memanggilku dengan nama itu… Gunakan Young-ie saja…”
Alice melirik ke arah Jimmy yang menahan tawa, mulutnya merapat senyum hingga dadanya bergetar perlahan.
“Sesungguhnya, Jim… Saat ini, aku juga sedang tidak yakin dengan kehidupan yang aku jalani ini.”
Setelah mereka sama-sama melahirkan senyum di bibir, Alice kembali mencurahkan isi hatinya kepada Jimmy.
“Kehidupanmu? Yang mana?”
Alice meremas tisu yang ia gunakan lalu kembali melipat tangannya. “Ah, pake nanya lagi.”
“Ya, ‘kan saya tidak tahu, Nona Young-ie… Kehidupan sebagai seorang VP di C&A atau sebagai… Maminya Sing-Sing?”
“Ya, bukan yang Mami dong, Jim. Kehidupan kerjaku… Balik lagi, karena aku memulainya dengan tidak sehat—setelah aku diputuskan oleh mantanku yang gila kerja itu. Aku bertekad kuat kalau wanita yang dibuang olehnya ini juga bisa sukses—bukan hanya jadi penghalang.” Alice menarik napas lembut. “Namun, sekarang… Lihat apa yang aku dapatkan? Mantanku pacarku yang sudah kurelakan, mantan suamiku yang telah aku kecewakan… Yang aku rasakan hanya kekosongan, Jim.” Alice mencoba untuk tersenyum simpul.
“Mungkin kamu benar… Aku harus mulai memaafkan diriku sendiri… Agar kutukan itu lepas dan semua ini tak lagi terasa kosong,” pungkas Alice.
Jimmy tidak merespon Alice—keduanya terdiam dengan sorot mata yang telah kembali memperhatikan Sing-Sing. Saat ini, anak itu telah berpindah ke mainan lain, sedang mencoba mengayuh sebuah sepeda roda tiga.
Jimmy meruncingkan bibir dan kepalanya sedikit mengangguk.
“Kalau akhir-akhir ini… Bagaimana? Setelah masuk ke dalam kehidupan Sing-Sing… Kamu mencintai dia… dan dia bisa merasakan perasaan itu sampai memanggilmu Mami. Apa kamu masih merasakan kekosongan itu?”
Mata Alice menyorot ke arah Sing-Sing yang berada di depan sana. Setelah menyerap kata-kata Jimmy, mulutnya terbuka semu—ada kata-kata yang tertahan namun siap untuk dilepaskan olehnya.
“Tidak Jim, sedikit berbeda. Seolah setiap kali aku bangun pagi aku punya alasan lain untuk segera melewati hari. Aku… Ingin segera menemui kalian.”
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Mungkin Alice tidak sadar. Kata-kata terakhirnya sudah tidak lagi memprioritaskan Sing-Sing.
Telah menjadi, Kalian: Sing-Sing dan Jimmy. Jadi, apa-apa udah nggak “Semua ini demi Sing-Sing!” dong?
Sekarang… Apakah “Semua ini demi kalian!” atau malah… “Semua ini demi kita?”
Hm…
