‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

“Nggak, Jim, santai saja, tidak usah terburu-buru, sebab aku paham menerima orang baru itu akan susah untukmu, ‘kan? Ling saja baru bekerja disini setelah berapa lama aku ajukan untuk tambah pegawai? Pasti kamu tidak mau pilih orang sembarangan kan?” ungkap Alice yang memahami krisis kepercayaan Jimmy yang akut itu.

Jimmy kembali membaca ide serta rencana Alice yang tertuang ke dalam beberapa lembar kertas. “Ling itu kenalan Ah Kit,” jawab Jimmy singkat.

“Mungkin ideku terlalu berani dan agak mengganggu dengan apa yang sedang kamu kerjakan. Tetapi berdasarkan data, itu akan efektif. Beberapa saat ini aku juga ikut memantau penjualan harian restoran, Jim.” Alice mulai melipat tangannya, keseriusan mulai muncul dari raut wajahnya. 

Sementara Sing-Sing mungkin sudah mulai merasa bosan, karena kedua orang dewasa ini makin serius dan tidak lagi melayani dirinya. 

Balita itu segera turun dari pangkuan Jimmy—berlari menuju Yoyo dan Ah Kit di belakang sana.

“Menambah pegawai, daftar ke aplikasi online, menambah menu pagi dan mengurangi waktu kerjaku dengan masuk ke dapur di atas jam sepuluh siang? Pssh—” Jimmy melepaskan tawa yang berbaur dengan helaan napas, bahunya berguncang naik-turun. 

“Lalu membuat Ah Kit yang memasak di pagi hari? Pfft.” Ada tawa tertahan disertai gelengan kepala dari Jimmy. Semua ide Alice seperti terasa mustahil bagi Jimmy.

“Ah, begini. Bukan berarti Ah Kit akan memegang wajan besar. Aku lihat di laporan, hampir tidak ada yang memesan sajian berat di pagi hari, kebanyakan Mi—” Bibir Alice sempat merapat. 

“Karena Ah Kit kan sudah bisa memasak mi, jadi ya… Aku pikir kembangkan menu sarapan yang lebih light yang mudah yang bisa dimasak olehnya, tanpa campur tanganmu… serta—” Alice mengacungkan telunjuk tangan kanannya. “Menghadirkan menu kopi dan juga teh.” Alice mengangkat telunjuk tangan kanannya ke udara. 

“Ya, walaupun harus di fine tuning lagi, di latih sedikit… lagi, agar sempurna seperti buatanmu.”

“Kalau ada menu-menu seperti itu… Jadi kopitiam dong itu namanya, Lis?” Jimmy menghela napas.

“Loh? Lalu kenapa? Toh, nama restoran ini juga terdengar umum? Eating House. Mau kamu jualan spaghetti carbonara juga bisa, ‘kan? Yang penting bisa dimakan?” Tatapan Alice mulai berubah, semakin tajam dan menatap tegas ke arah Jimmy.

Jimmy membubarkan tautan alisnya. “Oke, pagi… Jadi Kopitiam, Ah Kit yang memasak. Terus kalau pagi saya ngapain?”

Setelah pertanyaan itu meluncur, tatapan mata Alice tak lagi tajam, berubah menjadi agak sayu—menekan sedikit bibir bawahnya sebelum kembali berkata-kata. Hadeuh!

“Ya, pergunakan waktumu bersama Sing-Sing, dong… Nih, mungkin… Bisa mulai mencari sekolah untuknya? Sehingga kedepannya nanti kamu bisa mengantar dia sekolah, menunggu, lalu pulang… terus kerja di dapur, ‘kan?”

Sorot mata Jimmy kembali terkunci ke lembar kedua kertas yang Alice berikan. “Baiklah…”

“Disamping itu juga untuk membatasi jam kerjamu, ya… Memforsir tubuhmu sama saja sedang merakit bom, Jim… Kalau kamu tumbang, tempat yang hanya digerakan oleh satu orang ini juga akan mati.” Alice menarik napas cepat. 

“Intinya nih ya, kamu dan Yoyo masuk siang. Pagi hari serahkan ke Ah Kit dan Ah Ling. Kemudian cari satu orang baru yang bisa menggantikan posisi Ah Kit sebagai pembuat minuman dan pengatur lalu lintas pesanan.” 

Lembar terakhir adalah proyeksi kecil soal keuangan jika Jimmy mau menerapkan ide ini. Sudah pasti ada modal tambahan yang harus digelontorkan untuk membeli beberapa keperluan jika di pagi hari akan menjual menu Kopitiam, juga salary expenses yang bertambah nilainya karena harus menambah satu pegawai baru lagi.

“Disamping itu juga, biar kamu ga kena tegur kementerian tenaga kerja, sebab mereka… Yoyo dan Ah Kit itu… overtime dan overwork juga!” Alice menggerakan alisnya ke arah Jimmy.

Jimmy kemudian meletakkan kertas itu kembali ke atas meja. Matanya terpejam untuk sesaat dan ia menggaruk pelipisnya. “Ya, mungkin… Mulai minggu depan dicoba dulu yang menu pagi. Kalau menambah pegawai… Takut perputaran uangnya belum siap, Lis.”

Perlahan kedua siku tangan Alice mendarat di meja. Matanya terpejam dan menarik napas  perlahan-lahan. “Oke, gini, Jim. Soal perputaran uang kenapa kamu tidak yakin?”

“F&B, Lis, di Sham Shui Po pula. Naik turunnya kadang tergantung cuaca, hujan sepi, terlalu panas juga sepi, belum lagi kalau ada acara besar di sekitar sini dan ya… Banyak hal lainnya juga.” Jimmy menjawab dengan nada suara tegas tanpa ada keraguan. 

“Sepi? Itu bisa kita akali dengan marketing dan balik lagi kamu harus kejar itu—pendaftaran pada aplikasi online! Sehingga pada momen tertentu, misalnya hujan deras, tetap bisa menerima pesanan, Jim.” Alice mencoba menepis keraguan Jimmy.

Namun, Jimmy tak menjawab. Sorot matanya masih menyiratkan ragu.

“Oke gini, karena di hadapan kamu ini adalah orang yang setiap harinya berkutat dengan instrumen keuangan—” Alice menarik napas perlahan. 

“Dan kamu sudah menunjukan keinginan untuk mewujudkan ide itu, bagaimana kalau libatkan aku? Aku bisa… kucurkan dana sebagai, modal—”

“Oh, oh… Lis, tidak. Kalau modal, aku bisa cari pinjaman ke bank atau investor lain.” Dahi Jimmy mengerut namun air mukanya tetap terlihat tenang.

“Dulu sempat ada beberapa customer yang aku kenal ketika masih di Golden Wok. Di antara mereka memang ada yang ingin berinvestasi jika aku mau membuka rumah makan yang sama besarnya dengan Golden Wok.” Jimmy kembali mengungkapkan hal lain mengenai dirinya.

Oh, jadi sudah ada orang lain dan ketertarikanmu, ya? Gini ya, Jimmy. Hal yang akan aku utarakan berikutnya ini akan men-skak mat dirimu sepenuhnya.

Ckckck” Alice menggerakan telunjuk tangan kanannya ke kiri dan kanan. “Be–da dong.” salah sudut bibir Alice naik, membentuk senyuman simetris.

“Mereka menanam modal—tidak akan peduli bisnisnya akan bagaimana, yang penting, uang itu harus kembali dengan bunga setelah term tertentu. Itu… mencekik.” Mata Alice terpejam dan menggeleng. 

“Sedangkan… Nih, yang akan aku tawarkan beda, Jim. Aku tidak akan diam duduk manis menunggu uangku kembali. Aku akan terlibat sebagai… konsultan bisnis?” Alice terjeda selama satu detik. “Err… Ya, itu—” dan juga… Memastikan restoran ini berkembang sesuai rencana. Gimana?” Alice menutup ucapannya dengan senyuman lebar.

Jimmy kembali terdiam, tatapannya tak lagi terarah kepada Alice.

Term-nya satu tahun, tidak ada bunga dan aku terlibat, bagaimana?” Alice menggerakan alisnya sekilas.

Dengan begitu, ide dari Alice ini akan sangat sulit untuk ditolak.

Pria yang di-skak mat oleh Alice masih membisu, matanya sempat terpejam sambil membuang napas perlahan.

Alice berdehem. “Ehem. Kapan lagi, loh, dapat fasilitas konsultasi bisnis denganku secara cuma-cuma, Jim? Coba aja hubungi kantorku, C&A, tanya kesana…Berapa biaya konsultasi per-jamnya dengan Alice Moon?” Alice terkekeh, ucapan ini hanyalah ucapan jahil tetapi kalau di buat serius—bisa membuat mulut orang menganga ketika mengetahui besaran biaya konsultasinya itu.

Jimmy menarik napas dalam-dalam. Sedangkan Alice meraih cangkir teh yang sudah berubah menjadi agak dingin karena perbincangan panjang mereka.

“Lalu? Misalnya… Jika gagal mengembalikan pinjaman itu dalam satu tahun, bagaimana?” tanya Jimmy sesaat setelah Alice menyesap teh miliknya.

“Sing-Sing–” Tiba-tiba mata Alice menatap tajam ke arah Jimmy. “Berikan Sing-Sing kepadaku.”

Jimmy terkejut bukan main, matanya langsung terarah kepada tatapannya Alice.

“Ya… Enggak, dong, Jimmy… Bercanda! ehehe.” tawa Alice pecah ia segera menutupi mulut dengan punggung tangannya.

“Astaga—” Jimmy mendengus kesal. “Lis… Aku sedang serius nih!”

Sorry, Sorry… Ya… Jika gagal dan telah jatuh tempo, kembalikan sisa dan jual yang telah menjadi aset—tidak perlu utuh,” tutur Alice yang telah kembali menjawab dengan serius.

“Oh, ya satu lagi, aku juga berhak menerima laporan keuangan resto darimu—secara utuh dan lengkap setiap bulannya. Omzet per-hari, purchasing barang, salary dan segala macamnya.”

Mereka tersunyi. Alice langsung membaca kalau Jimmy sedang mempertimbangkan hal itu dengan matang.

“Lis, sebelum aku mengiyakan. Aku mau tanya, ide kamu ini murni karena kamu sepenuhnya peduli dengan Sing-Sing, ‘kan?

Ah, ini lagi, Jim. Ya iyalah!

Alice mengangguk cepat. “Ya, seperti yang pernah kita bahas, Jim. Agar—kamu punya banyak waktu dengannya dan juga biar kamu tidak mati cepat karena kelelahan kerja demi dia.”

Jimmy menggeleng. Namun, kali ini ada senyuman lebar setelah kalimat brutal yang diucapkan Alice. 

“Oke, Nona Alice, tetapi saya tidak mau perjanjian kita cuma man to man begini saja. Semua harus ada bukti hitam diatas putihnya beserta semua klausulnya.”

Klik! Alice menjentikkan jarinya. “Oke, kalau kamu memang serius… Dalam waktu dekat aku bisa segera buat perjanjiannya. Apa perlu menghadirkan oleh orang hukum sebagai saksi?”

“Mh… mhh, kalau itu kayaknya berlebihan deh, Lis.”

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Malam kemarin itu hanyalah sebuah diskusi kecil saja buat Alice sama sekali tidak memberatkan pikirannya. Yang patut dicemaskan oleh Alice adalah hari ini.

Hari Minggu—dirinya akan bersama Sing-Sing seharian.

Baju baru Sing-Sing yang dibeli waktu itu, sudah dicuci dan terlipat rapi di dalam lemari. Beberapa mainan dan buku anak-anak pun sudah Alice siapkan di dalam sebuah boks transparan. Berharap malaikat kecil itu tidak akan merasa bosan ketika berada di apartemennya.

Begitu kondisi apartemennya sudah siap, Alice segera beranjak sambil membawa sebuah dus yang berat, besar dan menyebalkan.

Alice segera menjumpai kendala pertamanya di hari itu—kesulitan saat memasang booster seat di baris belakang mobil Lexus IS300-nya.

Sebab kini ada peraturan baru di Hong Kong yang mengharuskan anak di bawah umur 8 tahun harus mempergunakan Child Restraining Device (safety/booster seat, seat belt adjuster, harness). Jika tidak Alice bisa kena denda mencapai HKD $2000!

Begitu booster terpasang sempurna, Alice telah siap untuk segera menjemput Sing-Sing. Cepat! Mumpung lalu lintas belum sampai tersendat macet!

Terasa seperti mimpi, ketika Alice berhasil mendapatkan slot parkir di dekat restoran milik Jimmy! Sesuatu yang hampir mustahil dan sangat kecil kemungkinannya—sudah beberapa kali ia harus parkir jauh dari Sing-Sing Eating House.

Mobil sedan itu terparkir di antara mpv tua pengangkut barang. Warna abu-abu khas Lexus memberikan kesan kalau itu adalah sebuah kendaraan dari masa depan yang kini tengah berlabuh di wilayah klasik yang tak lekang oleh waktu.

Alice tidak sedang dalam mode petarung korporat yang selalu menjadi anomali ditengah keramaian suasana pasar. Ia membaur sempurna di dalam keramaian. Ia memakai topi anyaman, midi dress berwarna cream dan sepatu sneakers putih. Sebuah tas bahu Prada tersampir—berisikan semua barang kebutuhan dirinya dan juga Sing-Sing nantinya.

Begitu tiba di Sing-Sing Eating House, restoran masih terlihat sepi dari pengunjung. Aroma tajam kuah kaldu langsung menyapa penciuman Alice. Hanya terlihat Ah Kit di area dapur dan pegawai baru Ah Ling yang sedang mengiris daun bawang.

“Jimmy-gor sama Sing-Sing masih di atas, je. Tunggu sebentar yaMau sarapan dulu atau mau minum?” Ah Kit yang menyambut Alice. “Ah, minta es teh aja, ya… Panas banget soalnya—” Alice menarik kursi yang berada di hadapan Ah Ling yang sedang mengiris daun bawang. “Di luar.”

Tatapan mata Alice sempat bertemu dengan Ah Ling. Namun, gadis itu langsung terlihat kikuk, menghindari bertatapan dengan Alice yang memiliki aura kuat—’Istri Boss’.

Kesempatan nih, harus kau sidang. Gara-gara kepolosan dia kemarin, ya… Jadi Karen sampai salah tanggap!

“Ling—” panggil Alice. Seketika gerakan memotong dari gadis itu terhenti-langsung menegakkan kepalanya. “Y… Ya, Bu?”

“Saya bukan istri atau pacarnya si Boss ya, Ling.”

“A… Ah iya, Bu, maafkan saya.” Gadis itu sedikit membungkukkan tubuhnya walau dalam posisi duduk.

Senyum asimetris hadir di bibir Alice. “Saya harus meluruskan, soalnya hampir terkena gosip miring, nih—” Alis kiri Alice terangkat naik. “Gara-gara kamu salah sangka kemarin…”

Mata Ah Ling segera terbuka lebar penuh resah. “G… Gimana, Bu?”

Alice menahan tawa. “Yang kemarin kamu bilang traktiran dari Ibu Boss itu… Orang kantor saya.” Tawa Alice akhirnya pecah, terkikik kecil.

“Aduh Bu, maaf… Maafkan saya! Saya tidak—”

“Tak apa-apa, Ling.” Alice segera memotong Ah Ling agar suasana tidak semakin canggung—cuma ingin meluruskan saja.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Untuk beberapa saat Alice tersunyi membiarkan waktu terbuang percuma sembariditemani segelas teh dingin. Sesekali terdengar bunyi denting gelas beradu,bunyi pisau yang terus-terusan mengetuk talenan kayu serta bunyi lagi klasik kanton yang berasal dari speaker kecil yang berada di atas meja kasir.

“Bibi Aliceee!” Suara panggilan itu melengking panjang, membuyarkan keheningan di dalam restoran.

Sing-Sing berlari menghampiri Alice. Rambutnya masih sedikit basah dan begitu mendarat di pelukan Alice, ada wangi shampoo dan sabun bayi begitu ketara tercium oleh Alice. “Sudah siap melihat laut, sayang?” Bisik Alice.

“Udah! Siap!”

Sing-Sing memakai kaos berwarna kuning dan celana pendek berwarna biru muda. Yang membuat Alice semakin gemas karena ia memakai topi anyaman yang serupa dengan miliknya. 

Duh! Anak manis! Topi dan warna baju yang mirip… Kita kembaran ga sengaja nih?

“Dandan sendiri tuh, Lis. Pilih baju itu, topinya juga.” Jimmy tiba di dekat Alice sambil meletakkan tas ransel kecil berwarna ungu muda. Di dalam tas itu berisikan logistik milik Sing-Sing. Diapers cadangan, baju ganti, tisu, makanan ringan, beberapa buku dan botol minumnya Sing-Sing.

“Sing-Sing mau pergi dong, lihat laut dong…” Sing-Sing tengah berceloteh di hadapan Ah Kit.

Sementara Alice masih di-briefing oleh Jimmy soal ritual apa saja yang harus Alice perhatikan saat nanti mengurus Sing-Sing. 

Jangan berikan snack yang terlalu manis, jangan kasih nonton sewaktu makan, lepas diapers-nya saat di dalam rumah agar terbiasa memakai panties.

“Yakin, sanggup sampai sore?” Alis Jimmy bergerak sekilas mempertanyakan kesanggupan sang janda tanpa anak—Alice.

“Emh—” Alice mengangguk dan serah terima tas logistik Sing-Sing pun terjadi. “Yakin kok, Jim.”

“Kalau dia berulah, itu tandanya dia mengantuk, kalau belum sampai kamar, alihkan dengan musik… Kalau tidak mempan juga… Masih nangis-nangis ga karuan, bawa pulang saja kesini, Lis.” 

“Si—ap, Papa Jimmy!” Alice tersenyum kecil sambil menghalangi mulutnya dengan punggung tangannya. Bagi Alice, ia sedang mengejek si Papa yang protektif terhadap putri semata wayangnya.

Namun, hal itu berbeda di mata Ah Ling yang sedari tadi memperhatikan mereka. Terlihat seperti wanita kaya yang sedang menggoda seorang duda karismatik. 

Setelah semuanya siap, Sing-Sing dan Alice berpamitan. Alice segera menuntun tangan kecil itu sambil berjalan singkat di trotoar. Ada celotehan polos dari Sing-Sing ketika melihat mobil milik Alice. “Mobil Bibi kok keren?”

Hanya butuh beberapa menit Alice langsung menghadapi Sing-Sing si monster kecil—masalah keduanya di hari itu. 

Mobil yang asing lalu dipaksa untuk duduk seorang diri di baris belakang dengan kursi aneh dan terikat sabuk pengaman. Tentu saja Sing-Sing meronta dan meminta duduk di depan untuk dipangku oleh Alice.

Namun,  Alice tidak panik. Segera menyalakan kendaraan, menghidupkan ac ke posisi paling dingin dan menyalakan audio, memutar musik anak-anak. 

Manjur! Seketika Sing-Sing teralihkan dengan musik itu dan Alice mulai berkendara meninggalkan Sham Shui Po.

Baru beberapa menit keluar rumah, Sing-Sing sudah mengamuk. kalau sampai sore, hal apa saja yang akan dihadapi oleh Alice nanti, ya?

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅  

Ngasih modal ke cowok yang belum lama baru dikenal dengan dalih semua demi Sing-Sing? Ini Alice… Mabuk apa gimana sih?

Si Denial Queen satu ini makin gacor aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *