‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Keterampilan tangan saat memasak, pemilihan bahan dan idealisme Jimmy sesekali dipadukan dengan penilaian lidah berstandar tinggi dari Alice—melahirkan beberapa menu baru di Sing-Sing Eating House.

Memang sebuah kerjasama yang tak lazim antara si ‘Ratu Langit’ dunia investasi dengan mantan Chef restoran berbintang Michelin dalam membangun sebuah kedai kecil di lingkungan kelas menengah seperti Sham Shui Po.

Siang itu, Alice terkesiap kaget ketika menikmati sisa waktu sebelum jam pulang kantornya. Bagaimana tidak, food vlogger yang ia ikuti di Youtube memuat sebuah video review mengenai beberapa restoran di Sham Shui Po—memuat Sing-Sing Eating House dalam daftar videonya!

Alice tidak pernah melemparkan ide untuk melakukan tindakan marketing secara besar-besaran, membiarkan restoran berkembang secara organik lewat skema YTTA (Yang Tau-Tau Aja) hanya dari mulut ke mulut. Sebab skema kecil itu saja sudah membuat seluruh staf memeras keringat saat jam makan siang dan malam: rentetan antrian order dine-in dan online.

Namun, siapa sangka kabar itu sampai ke sang vlogger itu secara organik?

Memang bukan satu episode khusus yang menyoroti restoran Jimmy, masih ada dua restoran lainnya. Segmen Sing-Sing Eating House hanya sekitar lima menit. Alice sampai mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke layar laptop saat segmen restorannya Jimmy berlangsung.

“Ini yang kedua ya guys, Sing-Sing Eating House. Kata subscriber di kolom komentar Kwetiau disini jempolan!”

Bener-bener itu! Kwetiaunya nomor wahid! Enggak! Semuanya! SE-MU-A-NYA! Mata Alice semakin terbuka lebar menyaksikan kamera yang perlahan mulai masuk ke dalam ruang restoran.

Rame banget guys, pas makan siang…

Video kemudian berpindah cepat saat sang vlogger pria itu hendak memesan di meja kasir.

Ayo, Yoyo! Kamu sedang disorot! Jangan jutek-jutek walau lagi ramai! 

Pfft. Alice menahan tawa saat melihat ada kaki kecil yang terlihat menggantung berada di balik sosok Yoyo—sudah pasti itu kakinya si kecil Sing-Sing.

Yoyo menjawab dengan tegas dan lancar saat pertanyaan demi pertanyaan diberikan kepadanya. Beberapa lemparan pertanyaan dari sang vlogger bahkan langsung Alice catat di dalam kepalanya. Soal belum adanya menu dimsum dan nasi claypot. 

Bagus! Ini bahan pertimbangan R&D berikutnya, Jim!

Meja, MEJA! Lihat meja kasirnya! Lihat seberapa membanggakan Papa-nya Sing-Sing! Alice melebarkan senyumannya.

Oh? Ini pemiliknya, Kak? Lau Chi-Yeung—

Klik! Geuroji!” Alice sampai menjentikkan jari—saking antusiasnya saat sang vlogger menemukan artikel kebanggan itu bersembunyi di balik kaca meja kasir.

“Oh? Golden Wok, itu yang di Central guys! Wah… Ini sih—Hidden Gems!”

“Hahaha!” Bahkan Alice langsung tertawa puas saat restoran itu dilabeli sebagai Hidden Gems.

Namun, kesenangan Alice tidak berhenti sampai disitu. Masih harus tahu soal pendapat soal rasa yang akan dikomentari olehnya. Sebab kalau membicarakan makanan itu akan berhubungan erat dengan rasa bukan kebanggan soal mantan koki yang pernah bekerja dimana.

Alice tidak mempercepat video itu, ia tetap memperhatikan setiap detiknya. Ketika tangan Jimmy tersorot saat memasak hingga hidangan berwarna cokelat mengkilap itu hadir di hadapan sang vlogger.

“Oke, mari kita coba!”

Bahkan saat pria itu menyantap suapan pertamanya, Alice sampai ikut menelan ludah saking tenggelamnya ke dalam video tersebut.

Wah… Wah… Ini sih enak banget! Wanginya, wangi gosong sedap! Kwetiaunya tidak menggumpal! Dagingnya… Ugh! Empuk banget ini! Ga susah dikunyah guys!”

Pfft—Puhahaha” Dari menahan tawa sampai akhirnya Alice tertawa renyah—memecah keheningan ruang kerjanya sendiri. Apa yang baru saja disampaikan sang food vlogger itu sama persis ketika Alice menyantap sajian itu untuk pertama kalinya.

Tiba di penghujung segmen. “Gila guys, beneran ini Hidden Gems! Rasa bintang lima, harga kaki lima! Wajib banget nih kesini kalau ke Sham Shui Po!

Alice tersenyum bangga sampai sedikit meneteskan sebutir air mata karena perasaan haru itu. Buru-buru ia meraih ponsel dan membagikan tautan video itu kepada Jimmy.

Alice
Jim, kamu harus tonton ini. |

“Sore, Alice-nim! Dih, ketawa-ketiwi sendiri…”

Alice langsung terkesiap, tak menduga sosok Maggie telah berada di pintu dan merangsek masuk ke dalam ruangan Alice.

“Ada apa nih? Soal Sing-Sing nih pasti? Udah bisa ngapain anak itu?” Maggie menduga-duga.

“Udah masuk Youtube, Meg!”

“Hah? Anak itu masuk Youtube? Gimana?”

“Ya, bukan anaknya dong, restonya, Meg! Sini-sini lihat…” Alice melambaikan tangan, Maggie segera mendekat dan segmen soal Sing-Sing Eating House kembali diputar ulang oleh Alice.

“Ciyeee… Senang banget dong, kamu?” ujar Maggie begitu selesai menyaksikan video itu.

“Banget!” jawab Alice dengan cepat disertai senyuman masih tetap lebar.

“Hayo, lebih bangga mana? Pas kemarin Rocky dan Hyunmoon Tech dapat tender IOT Smart Home buat satu komplek perumahan mewah atau restoran Jimmy yang masuk ke Youtube?”

Kepala Alice menggeleng namun senyumannya tetap merekah. “Kayaknya ini sih, ini. Sebab aku terlibat banyak banget disini.”

Maggie menahan tawa sembari duduk di kursi sofa. Ia tahu apa itu Hyunmoon Tech, perusahaan startup kecil yang didanai oleh Alice dan mantan kekasihnya dengan merekrut Rocky—mantan staff IT di C&A.

Hyunmoon Tech (Hyun-woo & Alice Moon).

Jawaban Alice tadi mengukuhkan kalau Alice sudah sepenuhnya move on dari mantan kekasihnya dan menjadi murni hubungan berbisnis saja. 

Jelas, jiwa Alice kini telah sepenuhnya terserap kepada Sing-Sing Eating House.

“Eh, Lis, tadi siang pas kamu diluar… Frankie Cheung, Direkturnya Maan Hoi nyariin kamu tuh…”

“Hah?” Dahi Alice mengerut lalu mulutnya mendecak. “Ck, ah, si Vivian lupa lagi nih pasti! Aku ga dapat kabar apa-apa, tuh.”

“Ya, soalnya… Frankie nyari lewat aku, tidak lewat Vivi… ‘kan, Maan Hooi sudah bersentuhan sama C&A, dibawah pengawasanku, kamu lupa?”

“O… Oh iya, ya? Wah… Aku kira mereka belum pernah nyolek kita…”

Alis kanan Maggie terangkat. “Kok… Bisa kenal dia, sih, Lis?”

“Oh, itu… Pas di Konsulat kemarin, baru kenalan sama dia… Anak INSEAD kerja di perusahaan besar pula, aku kira bagus nih untuk portofolio… Eh, taunya aku sudah di handle sama kamu, ya.” Alice meraih ponselnya—benar saja ada pesan yang tertimbun di bawah, dari Frankie.

Frankie Cheung
| Bonjour, Alice Moon.
| Ini saya Frankie Cheung.
| Ada waktu malam ini? Mungkin kita bisa berbincang sambil makan malam?

“Ya, Tuhan… Meg, dia mengirim pesan ternyata, duh, kelewat pula.” Kedua ibu jari Alice bergerak cepat, hendak membalas pesan itu.

“Pesan apa, Lis?”

“Ngajak dinner, sih…”

Satu detik Maggie terdiam, ikut menyaksikan Alice yang tengah mengetik untuk membalas pesan Frankie.

“Lis—” panggilan dari Maggie menghentikan Alice.

Wae?” Alice melirik ke arah Maggie.

Maggie menarik napas perlahan. “Hati-hati… Kalau bukan urusan bisnis… Sebaiknya hindari saja… Bukannya aku cemburu karena Maan Hooi malah jadi ada kontak denganmu, ya… Tapi takutnya-, ah enggak, kecuali kalau kamu memang mau kenal lebih dekat dengannya.”

Alice terdiam untuk beberapa detik. Memang ucapan Maggie agak tidak jelas—namun, Alice mengerti konteks utuhnya. Alice segera menghela napas perlahan dan menghapus pesan yang hendak ia kirim ke Frankie.

Maggie tersenyum tipis namun tatapannya menghindari Alice. 

“Ingat anak, Lis.”

Kata-kata Maggie begitu sederhana namun langsung mendorong Alice maju untuk mengambil keputusan.

Alice
Bonjour, Frankie… |
Maaf, kalau untuk dinner, saya tidak bisa. |
Kalau ada urusan bisnis, |
bisa bertemu langsung di kantor C&A saja? |

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Video itu baru tayang tadi sore. Namun, impact-nya yang tak terduga segera terasa di hari itu juga. Lupakan meja ketujuh dimana Alice biasanya duduk diantara tumpukan piring kotor dan sayuran segar yang belum dipotong. Meja itu kini terhuni oleh pengunjung, bahkan ada kerumunan orang yang berdiri di luar resto, membentuk antrian.

Alice sempat melihat ke arah ponselnya. Jam enam. Sudah mendekati waktu makan malamnya Sing-Sing. Dapur sedang repot, tak mungkin Jimmy ada waktu luang untuk memasak makanan Sing-Sing?

Dengan langkah perlahan, Alice menembus masuk ke dalam sembari sesekali mengucap maaf karena menerobos antrian. Tujuannya satu: mengekstrak anaknya dari keramaian nan pengap ini.

Mata Alice sempat menyorot tajam ke arah dapur. Mendapati Jimmy dan Ah Kit tengah bersinergi dalam memenuhi pesanan. Ah Ling menjaga lalu lintas pesanan dan membuat minuman. Dua orang pegawai baru bergerak kesana kemari bertugas menjadi waiters. Yoyo, tetap fokus di kasir. Walau terlihat samar, ada satu pegawai lagi yang berstatus sambilan berada di ruangan belakang sana sebagai dishwasher. 

Baiklah, semua bergerak efisien dalam melayani pesanan. Aku tidak perlu menarik lengan baju untuk membantu mereka. Biarkan tim kecil ini terus bekerja sebagaimana mestinya.

“Sayang…” Panggil Alice saat tiba di hadapan Sing-Sing yang sedang duduk di kursi plastik.

“Mami…” Sing-Sing melepaskan gawai dari tangannya. Suara anak itu terdengar lemah, langsung minta digendong oleh Alice. 

Alice dapat merasakan rambut Sing-Sing yang basah oleh keringat dan wajahnya terlihat memerah.

Anak ini… Overstimulated? Riuh dari dapur terlalu ramai, pengunjung membludak, sirkulasi udara pengap. Sing-Sing harus segera diungsikan!

“Yo, bilangin ke Jimmy, nanti tidak usah masak makan malam Sing-Sing… Kami akan cari makan diluar,” bisik Alice saat terjadi pergantian pelanggan yang memesan.

“Oh, oke, Je…”

Misi penyelamatan berhasil. Sambil menggendong Sing-Sing, Alice memilih tempat makan terdekat, dengan prioritas utamanya adalah ruangan ber-ac agar Sing-Sing bisa melepas rasa pengap. Alice memilih sebuah kafe yang tidak jauh dari restoran, tempat yang sepi dari pengunjung namun ruangan di dalamnya cukup dingin.

Segelas es limun untuk Sing-Sing—berhasil mengembalikan senyuman dan keceriaan anak itu. 

“Tadi panas, Mi. Sing ga suka,” celoteh anak itu—berkeluh kesah.

Alice hanya bisa tersenyum sambil melap dahi Sing-Sing dengan tisu kering. “Sabar, ya sayang. ‘Kan, Papa lagi kerja… Cari uang.”

“Hiyah…” Kepala Sing-Sing mengangguk lalu kembali menikmati minuman dengan rasa manis asam itu.

Alice memesan seloyang pizza untuk dirinya dan sepiring pasta untuk si kecil. Terkoyak hati Alice begitu mulai menyuapi Sing-Sing—anak itu begitu lahap ketika disuapi olehnya. Biasanya sore hari Sing-Sing selalu menerima kudapan sebelum jam makan malam. Namun, hari ini menurut Sing-Sing ia tidak menerima kudapan sore itu. 

Dia kelaparan, kepanasan dan Jimmy tak kuasa untuk meninggalkan medan perangnya demi mengurus anak ini.

Ketenaran restoran menjadi pisau bermata dua. Bagus untuk bisnis namun tidak bagus untuk malaikat kecil ini.

Pizza yang dipesan Alice tiba. Sing-Sing terkesima melihatnya sebab ukurannya yang begitu besar—hampir mendominasi seluruh meja. Sementara Alice menepuk jidat—aiyah, tidak menyangka kalau ukurannya akan sebesar ini. Alamat dibungkus punya deh ini!

Alhasil Alice hanya sanggup menghabiskan tiga potong pizza atau lebih tepatnya 2,5 karena setengahnya lagi berbagi dengan si kecil. Sing-Sing telah menghabiskan sepiring pasta dan setengah potong pizza.

“Mi… Papa Jim, Mami.” Sing-Sing sedang menonton tayangan youtube namun bukan film anak, tetapi video food vlogger yang tadi siang.

“Iya, sayang itu Papa lagi mas—”

Namun, yang Sing-Sing maksud adalah panggilan telepon yang masuk sehingga mengambil alih tampilan layar seutuhnya. 

“Bentar ya, Sing. Mami angkat dulu telepon dari Papa…”

Jimmy menanyakan posisi mereka. Alice sempat melirik ke arah jam dinding restoran—jam tujuh malam lewat sepuluh menit. 

“…Ga apa-apa Jim kalau masih sibuk, Sing-Sing sama aku dulu saja. Kita juga sudah makan kok, tenang saja.”

“Sebentar lagi aku samperin kalian ya, Lis.”

“Oke, Jim.”

“Papa kenapa Papa?” tanya Sing-Sing.

“Mau kesini katanya, sayang…”

Tidak sampai sepuluh menit, Jimmy tiba menghampiri keduanya. Tak ada lagi apron melingkar di pinggangnya. Hanya kaos tipis dan celana cargo hijau tua saja. Jimmy mengambil kursi di hadapan Alice.

“Kok, bisa kabur dari dapur? Memang antriannya sudah selesai?” Alice mengangkat tangannya ke udara, memanggil pelayan toko. “Mau minum apa, Jim?”

“Limun dingin satu.”

“Astaga—” Alice menggeleng. “Bapak sama anak seleranya sama ya, hm hm hmm…”

“Bahan baku habis hari ini, Lis. Tadi saja tiga porsi terakhir ngambil stok buat besok. Ide siapa sih? Diliput oleh vlogger beberapa hari yang lalu itu? Kamu?” Jari telunjuk tangan kanan Jimmy tertuju kepada Alice.

“Enggak ya, bukan aku. Lagian si vlogger itu netral tahu, ga pernah mau menerima bayaran buat promosiin suatu toko, dia murni mencari sesuatu yang jarang disorot orang-orang agar engagement-nya dia bagus… Ya, intinya kabar baik soal resto dan kualitas kamu sudah sampai telinga dia tuh…”

Jimmy mendengkus. “Seumur-umur masak, baru pernah kompor menyala ga berhenti dari siang, pengen mati rasanya! Erghh…” di akhir ucapan, Jimmy mengusap wajah dengan telapak tangan kanannya.

“Papa kenapa mati?” tanya Sing-Sing.

“Psst! Jim! Ah! Jaga ucapanmu!” Geram Alice sambil melemparkan sorot mata tajam ke arah Jimmy. Namun, tatapan itu segera melunak ketika menoleh ke arah Sing-Sing. “Maksudnya… Papa bilang lupa matiin kompor…” Alice harus berbohong putih demi menetralkan ucapan Jimmy.

“Makan, nih Jim. Bantu habisin…” Alice menunjuk ke pizza yang masih tersisa beberapa potong.

Tanpa penolakan, Jimmy mengambil satu potong dan segera melahapnya. “Lis, apa… Aku harus tambah stok bahan mentah, ya? Ga tega tadi mengusir pelanggan reguler toko karena kehabisan bahan…”

Rupanya jiwa pria itu masih tersangkut di restorannya, masih memikirkan banyak hal karena lonjakan pengunjung yang telah terjadi hari ini.

Alice menghela napas, menatap lekat ke arah Jimmy sambil menopang dagu—mengusap dagunya.

“Jangan—”

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Yutubernya siapa Lis? Nex ya? :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *