‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Sing-Sing Eating House tutup lebih cepat di hari itu. Setengah delapan malam folding gate sudah ditarik. Alice masih berada di dalam toko—bermain bersama Sing-Sing di salah satu meja.
“Lah, sudah tutup?” tanya Alice kepada Ah Kit yang baru saja sedikit merapatkan pintu besi. “Iya, je. Stok menipis.”
Alice langsung menoleh ke arah dapur dimana Jimmy sedang merapikan wok dan peralatan masak. Habis? Lah aku aja belum makan malam. Yoyo bahkan sudah sibuk menghitung uang di kasir.
Lima belas menit kemudian, Jimmy menghampiri Alice dan Sing-Sing. Begitu duduk di hadapan Alice, Jimmy mendorong sebuah amplop putih di atas meja kepada Alice.
“Upah anda, hari ini karena sudah jadi part timer.”
Salah satu alisnya terangkat dan sudut bibir Alice merosot. Untuk sepersekian detik matanya menatap amplop lalu kembali menatap Jimmy. “Jasa profesional ku di bayar per-jam loh, Jim.” Pada akhir ucapannya mulut Alice merapat dan sudut bibirnya kembali terangkat, menahan senyuman.
Jimmy menelan ludahnya saat mendengar ucapan itu. “Y… Ya aku berikan sesuai standar di Sham Shui Po, sih.”
Tawa Alice terlepas. “Haha becanda, Jim. Tak usah lah—”
“Terima saja, Alice. Walau tidak seberapa bagimu.” hardik Jimmy. Seketika tawa Alice terhenti, berganti menjadi sebuah senyuman. Menyadari kalau itu adalah sebuah harga diri seorang pria selaku pemilik restoran ini.
“Oke, oke, aku terima ya, Boss!”
“Boss Papa! Ehehe” sahut Sing-Sing seakan ikut membantu Alice dalam menjahili Jimmy.
“Memang habis bahan, Jim? Sampai harus tutup?”
“Masih ada sih… Sebenarnya, cuma hari ini benar-benar terasa ramai dan begitu cepat saja perputarannya, badanku sudah lelah tak sanggup jika dipaksakan.”
Alice pun menganggukan kepalanya.
“Berkat kamu, Lis,” sambung Jimmy. Seketika ucapan itu membuat dahi Alice mengerut kebingungan. Dikira aku patung kucing pembawa keberuntungan apa?
“Aku? Wae? Eh, kenapa?”
“Alat POS kamu mempercepat kasir, memudahkan antrian terlebih dari itu semua, kamu jadi pengurus lalu lintas orderan dan QC sebelum disampaikan ke meja itu sangat membantu. Terima kasih, Alice.”
Alice tidak memasang wajah angkuh, karena ternyata sedikit campur tangan serta investasi tenaga dan waktunya pada hari ini tidak sia-sia.
Jimmy mengakui tangan dingin seorang Vice President telah sedikit memberikan pengaruh kepada bisnisnya.
Yak, langkah pertama berhasil dengan begini berarti kamu akan siap mendengarkan saran demi saran dariku, ‘kan?
“Iya, Jim. Iya.” Alice meresponnya singkat namun bibirnya tersenyum bangga. “Ngomong-ngomong, karena inj gaji pertamaku, disini.” Alice mengetuk permukaan amplop upah nya. “Dan aku belum makan malam, jadi aku mau traktir kalian makan, ah. Sing-Sing juga mau es campur katanya tadi, ya?”
“Iya, Papa… Sing-Sing mau es buah… Mau!”
Tepat pukul delapan malam mereka berlima keluar dari Sing-Sing Eating House. Menelusuri trotoar jalan yang masih terasa ramai di akhir pekan. Sing-Sing duduk di bahu Ah Kit, melihat gemerlap lampu dari ketinggian tubuh orang dewasa, Yoyo mengikuti mereka.
Sementara Jimmy dan Alice berjalan sejajar beda dua langkah di belakang mereka. Seperti keluarga kecil dengan lima anggota keluarga.
“Mau makan apa, Lis? Ada restoran Jepang atau India di ujung jalan sana…” ucap Jimmy.
Hmph, “Lis”—Terdengar lucu keluar dari mulutmu.
“Nasi saja, kalau tidak salah ada Claypot Rice di dekat sini, ‘kan?”
Namun, pilihan Alice harus membuat mereka “terpencar” untuk sementara. Ah Kit, Yoyo dan Sing-Sing mengunjungi sebuah kedai dessert, sementara Alice dan Jimmy akan makan malam ‘singkat’ lalu kemudian menyusul ketiganya.
Keputusan itu disetujui oleh si ‘Boss Kecil’ Sing-Sing yang sedang senang karena telah diajak jalan-jalan keluar.
Begitu tiba di dalam restoran Claypot, keduanya duduk berhadapan di meja sempit. Netra keduanya langsung memindai restoran.
Jimmy memperhatikan ke arah dapur, dimana ada tumpukan mangkuk cokelat dari tanah liat yang tersusun rapi dan sesekali terlihat kepulan asap tebal beraroma arang.
Sementara Alice memperhatikan jumlah pekerja serta alur sistem pemesanannya. Jimmy memperhatikan teknik, sementara Alice mekanisme. Dua manusia ini seolah menguliti dan mempelajari tempat itu.
“Mau jualan nasi claypot juga, Jim?” Alice melemparkan pertanyaan itu sesaat setelah memesan.
“Haa—” Jimmy menghela napas matanya masih terpaku ke arah dapur restoran. “Sulit, Lis. Secara teori untuk membuat lauknya, aku bisa. Namun, nasi Claypot punya teknik sendiri, agak ribet dan panjang prosesnya.”
“Ribet? Panjang?” Pertanyaan dari Alice dijawab oleh Jimmy dengan dagu yang menunjuk ke arah dapur.
“Slow Cooking, mereka menggunakan arang untuk membuat nasinya. Walau Lauk nya tetap di masak di wok dengan api dan gas. Arang, memberikan sensasi smoky yang lebih tebal dan otentik.”
Alice menganggukan kepala, segera memahaminya.
“Jim, nanti… Cari… Pegawai lagi, ya, tambah satu orang namun jangan part-timer, bisa, ‘kan?” dengan perlahan dan berhati-hati Alice mengucapkan itu.
Jimmy segera menoleh ke arah Alice. “Kenapa memangnya, Lis?”
Alice segera mengemukakan pendapatnya.
Bagi Alice jika mempergunakan tenaga ‘cabutan’ seperti part-timer akan merusak sinergi kerjasama tim. Orang cabutan itu mungkin mengenal Ah Kit namun akan canggung dengan Yoyo apalagi Jimmy. Jimmy harus memiliki waiter dan server yang ter-bonding dengan mereka bertiga.
Kemudian buat posisi Ah Kit menjadi posisi yang dijalani oleh Alice tadi. Pengatur lalu lintas makanan, pesanan dan membuat minuman. Jadi Ah Kit akan bergerak secara efisien, hanya di sekitaran stasiun kerjanya dan tangan Yoyo yang ‘kotor’ karena memegang uang tidak akan menyentuh peralatan minum yang masih bersih—steril.
Jimmy mendengarkan semua masukan Alice dan hanya ada satu pembelaan saja setelahnya.
“Aku sudah sering memperingatkan Yoyo agar cuci tangan atau pakai sanitizer sebelum memegang gelas… Namun, ya begitu, mungkin panik dan terburu-buru jadi langsung menyentuh gelas begitu selesai dengan cash drawer.”
“Jadi? Kalau… Tambah pegawai? Apa itu akan mengganggu pendapatan?” Alice masih sedikit concern soal perputaran uang restoran.
“Jujur, iya, sedikit. Namun, itu sebanding melihat kecepatan dapur di hari ini dalam memenuhi pesanan, aku rasa ide kamu valid. Resto bisa tutup lebih awal dan aku bisa mengajak Sing-Sing bermain setelahnya.” Jimmy tersenyum simpul, sorot matanya berada di permukaan meja.
Pesanan minuman dingin mereka tiba di hadapan mereka.
“Kalau mau lebih cepat dan modern lagi sih, bisa nih sekalian pasang EDC Jim, mengingat Yoyo dan Ah Kit tidak gaptek-gaptek amat. Tapi kamu masih khawatir soal biaya MDR-nya, ya?”
Wajah Jimmy menjadi sedikit berubah saat Alice mengajukan ide itu. “Duh, Lis, disamping biaya, agak ribet juga jika harus mendaftar ke berbagai vendor lain serta menambah mesin lainnya di meja kasir.”
Oke masuk akal. Memang biaya MDR nya besar kalau menghadirkan mesin EDC untuk berbagai macam pembayaran.
Alice terdiam untuk sesaat setelah Jimmy mengutarakan hal itu. Namun bukan berarti dia diam tanpa memutar otak mencari jalan lain. Dirinya segera mencari jalan keluar lain agar metode pembayaran di Sing-Sing Eating House tidak hanya mengandalkan Cash Only dan Octopus Card saja yang notabenenya sudah 98% persen warga Hong Kong pasti punya.
Wanita itu segera meraih ponsel—berselancar di dunia maya, mencari ide untuk solusi satu pintu namun dengan biaya cukup ringan untuk usaha kecil. Hingga akhirnya pencarian singkatnya menemukan sebuah titik terang.
“Kalau pakai Terminal All-in-One bagaimana?”
Alis Jimmy bertaut—tanda tidak mengerti.
“Mmh, itu loh. Mesin sejenis EDC juga namun bisa menerima berbagai macam pembayaran. Dari Octopus, Bank, Mastercard sampai E-Wallet macam AliPay… Cuma daftar ke satu vendor dan biaya per transaksinya hmm, ya… Lebih murah.”
“Oh, ada yang seperti itu?” Jimmy meneguk sedikit minuman dinginnya. Astaga beneran dia tidak tahu ya.
“Ada Jim… Lalu untuk soal biaya yang terasa membebani itu, coba ubah mindset kamu. Anggap biaya itu sebagai umm… Biaya keamanan dan efisiensi waktu.”
“Maksudnya, Lis?”
“Iya, biar uangnya langsung masuk ke rekening setelah settlement malam hari, menghindari… umm kelalaian, kecurangan pegawai dan tidak perlu repot-repot setor uang cash ke bank di hari liburmu.”
Jimmy tersenyum simpul saat mendengarkan Alice. Mungkin tidak bisa mendebat lagi si ahli keuangan yang satu ini.
“Nih ya—” Alice menatap kembali ponselnya. “Kadang-kadang juga, penyedia layanan E-Wallet suka mengadakan promo untuk penggunanya, yang tidak membebani pelaku usaha… Misalnya cashback poin atau apalah dengan minimum transaksi agar mendorong minat konsumen mereka. Jadi ya… It’s a Good Deal kan? Mau langsung aku bantu daftarin, Jim?”
“Ahaha, kirimkan saja link artikel atau pendaftarannya kepadaku, Lis… Biar aku yang daftar sendiri.”
Alice memutar posisi ponsel miliknya, sudah memuat dialler.
“Ehem, nomor ponsel, kamu… Sampai sekarang kita belum bertukar nomor.”
Jimmy tersenyum tipis saat mengetikkan nomor ponselnya kepada Alice.
‘Jimmy Sing-Sing’. Alice melabeli kontak nama Jimmy seperti itu. Ia juga langsung mengirimkan pesan chat ke nomor Jimmy. “Ini Alice Moon.” Lalu, chat berikutnya adalah sisipan link pendaftaran untuk mesin Terminal itu.
Kontak Jimmy kemudian terasa lucu bagi Alice. Sebab berada di antara kontak nama yang telah disederhanakan oleh Alice. Seperti KRH – C&A yang artinya: Karen Ho – Crestview & Associates—Inisial tiga huruf dari nama, disusul dengan inisial perusahaan.
Dua foto profil yang segera terasa kontras. Alice dengan tampilan korporatnya, seperti foto profil untuk LinkedIn sedangkan Jimmy memasang foto saat bersama Sing-Sing.

“Ah, kelembekan nasinya.” Alice langsung berkomentar ketika sesuap nasi claypot tiba di dalam mulutnya. Jimmy terkesiap saat mendengarkan live comment-nya Alice.
“Nih, lagi daging bebeknya, kok keras dan ga gitu panas, kayak ga diangetin lagi, ambil dari display, potong, hidangkan.” Alice berkomentar buruk namun tetap menyendok dan mengunyah makanannya.
Berbeda dengan Jimmy yang sama sekali tidak berkomentar soal hidangannya. Saat Alice mencari validasi dari sang jenderal dapur seperti Jimmy—ia malah terdiam.
“Ya, bagiku sih makanan yang dijual sudah pasti sudah dirasa enak dan pas bagi si pemiliknya. Tidak mungkin mereka hendak menjual makanan yang tidak enak di lidah mereka… Ini mungkin ada pelanggaran sop. Mungkin seharusnya nasi itu dimasak pada suhu atau waktu tertentu. Begitu juga dengan daging bebek itu. Ya, mirip dengan mi buatan Ah Kit tadi siang yang kamu santap lah… Kelembekan, kan?”
Oh, gitu. Ngerti sekarang. Kenapa dia belum kasih izin ke Ah Kit untuk menjadi ‘Man Behind the Wok’. Sebab itu krusial. Salah SOP sedikit, rasa berubah.
Standar yang ditetapkan oleh Jimmy mungkin tinggi walau hanya berjualan di area urban. Itu adalah pride dirinya sebagai mantan chef di tempat bergengsi.
“Lis, satu pertanyaan—”
“Apa?” Mata Alice segera melirik ke arah Jimmy.
“Kenapa mau repot-repot membantuku?”
Saat itu Alice tahu, jika dia salah menjawab ini akan menjadi kesalahpahaman.
“Membantu Sing-Sing, bukan kamu.” Alice menjawabnya dengan cepat—tegas tanpa keraguan.
“Pssh… Sing-Sing lagi yang kamu jadikan alasan.” Jimmy tersenyum simpul.
“Loh, memang benar. Jadi Visi ku itu, aku mau Sing-Sing Eating House itu agak modern… Terdengar hingga ke Central karena harganya terjangkau, semakin luas market kamu berarti pendapatan kamu akan meningkatkan? Bisa menabung lebih cepat untuk biaya sekolah Sing-Sing,’ kan?” Alice meletakkan sendoknya di mangkuk claypot seolah ucapannya belum selesai begitu saja.
“Sedangkan misinya… Alur pemesanan dipercepat dengan sedikit memodernkan kasir dan menambah pekerja. Semua agar kamu bisa lebih punya banyak waktu luang untuk Sing-Sing! Bukan artian… aku sedang menaruh perhatian kepadamu, ya.“
Jimmy terkekeh kecil.
“Kenapa harus Sing-Sing? Tidak ada anak lain? Ada alasan lain disamping karena kamu pernah mengalami masa kecil yang mirip dengannya?”
Alice terdiam untuk sesaat. Nasi di mangkuknya mungkin tersisa tiga suapan saja. “Karena, Sing-Sing yang menyapaku di malam itu. Anak tiga tahun itu telah mengusik diriku dengan kepintaran yang dimilikinya dan mungkin—” Alice terjeda tangan kanannya meraih gelas dingin minumannya.
“Kalau pernikahan ku tidak gagal, aku mungkin sudah memiliki anak sebesar Sing-Sing.” Alice menutup ucapannya dengan meneguk sedikit teh dingin.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Si denial queen dengan kejutan status jandanya.