‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
“Ga… Gagal?”
Alice tidak menjawab, setelah meletakkan kembali gelas. Kepalanya sedikit tertunduk. Tinggal tiga suap nasi tersisa di dalam mangkuknya.
“Ya, begitulah… Jim. Kekacauan masa lalu. Sudah terlalu lelah pokoknya untuk dibahas.” Sendok terangkat dan digoyang-goyangkan di udara tanda kalau Alice tidak ingin membuka lukanya lagi.
Jimmy mendengkus dan meruncingkan bibir bawahnya. ‘Oke’.
Ah, akhirnya ku ucapkan juga. Tetapi memang hal itulah yang sebenarnya menjadi inti kenapa aku begitu peduli terhadap Sing-Sing.
Seakan tidak mau kalah karena Jimmy telah berhasil menekan dan membuatnya membuka mulut soal kenapa begitu mempedulikan Sing-Sing, Alice juga melemparkan sebuah pertanyaan yang rentan kepada Jimmy.
“Kamu mau sampai kapan membiarkan konteks ‘mama pergi dalam waktu yang lama’ dari benak Sing-Sing? Aku rasa kamu harus menjelaskan dari sekarang kalau ibunya telah meninggal dunia daripada dia percaya kalau suatu hari nanti ibunya akan menemuinya kembali tetapi entah kapan?”
Mata Jimmy membelalak dan segera menatap ke arah Alice. “Wah… Nona, yang salah konteks sepertinya kamu… Ibunya Sing-Sing belum meninggal—”
“Eh?”
“Aah… Mungkin kata-kataku soal ‘meninggalkan kami’ itu rancu ya? Jadi salah sangka… Kasarnya deh ya, ibunya pergi, kabur, meninggalkan kami begitu saja saat Sing-Sing sudah bisa lepas dari ASI.”
Ulala.
Alice segera malu bukan kepalang. Ingin rasanya memasukan kepala ke dalam tas dan menjerit disana. Jadi selama ini aku salah mengartikan kalimat itu?
“Oups… Mian…” panik disertai kikuk—membuat Alice mengucap maaf dalam bahasa ibu—Korea.
Jimmy tersenyum kecut,memejamkan matanya sambil menopang dagu.
“Semua gara-gara aku juga, dari enak-enak kerja di tempat bagus di Central sana. Malah buka kedai kecil disini. Dari tinggal di apartemen modern malah beli apartemen di Tong Lau, ya… Kabur lah dia.”
“Hah?” Alice terkejut bukan main.
“Semua… Gara-gara aku yang lelah dengan politik dapur yang ujung-ujungnya cuma mau dimanfaatkan oleh pemilik usaha, Lis.”
“M… Maksudnya?”
Jimmy sedikit menegakkan tubuhnya, menghela napas perlahan.
“Disuruh mengangkat seorang asisten untuk dilatih menjadi murid, awalnya dipersiapkan untuk cabang namun pada akhirnya sang pemilik hendak mendepak diriku dari dapur, karena mereka—” ada napas terlepas diiringi senyuman kecut penuh cemooh.
“Lebih memilih orang baru yang pintar menjilat dan sudah aku latih.”
Lapisan alasan ini membuat semuanya semakin jelas. Kenapa Jimmy memiliki krisis kepercayaan yang agak ekstrim. Sebab dirinya telah dikhianati dua kali.
Pertama, Golden Wok yang enggan membayar tinggi kemampuan serta pengalaman Jimmy, lebih memilih orang baru yang sengaja dilatih olehnya. Dalam bisnis mungkin hal itu efisien, toh mendapatkan sumber daya yang sepadan namun dengan harga yang lebih murah.
Namun, dalam etika dan norma, itu kejam. Pihak Golden Wok mungkin tidak memikirkan aspek yang tidak ternilai dari pengalaman.
Kedua, Jimmy yang memutuskan banting setir. Karena trauma berada di lingkaran elit, membuat hidupnya yang mungkin sebelumnya mewah menjadi membumi malah membuat istrinya kabur.
Sudah pasti soal finansial yang timpang—turun drastis.
Tidak Jim, tak perlu kamu sesali. Dia tidak menerima dirimu dalam suka maupun duka. Dia pergi ketika kamu menghadapi duka. Dia menikahi materimu saat itu bukan jiwamu.
Mana ada ibu yang tega, kabur membiarkan anaknya dibesarkan oleh seorang pria yang sedang mencari nafkah untuk kehidupan dari titik bawah? Bukannya membagi peran tetapi malah kabur? Ngaco!
Jadi ini bukan idealisme sang maestro dalam berkarya, menghasilkan sajian lezat. Ini karena Jimmy takut dikhianati lagi. Mungkin dia takut jika Ah Kit yang dilatih dan dibekali olehnya untuk memegang wajan dan memasak sewaktu-waktu bisa pergi meninggalkannya.
“Pfft… Restoran dan wanita gila…” Alice merespon ucapan Jimmy dengan umpatan halus.
“Aku yang gila kayaknya, Lis. Menukar hidup enak menjadi kesengsaraan,” tukas Jimmy sembari menghabiskan minuman dinginnya.
Jimmy tidak ingin berlarut-larut dalam kenangan pahitnya. Mereka berdua harus segera bergabung kembali dengan Ah Kit, Yoyo dan Sing-Sing yang berada di kedai dessert.
Alice tidak membuka amplop pemberian Jimmy untuk membayar makan malam itu. Ia mengeluarkan sendiri kartu hitam miliknya untuk membayar harga yang murah dari mahalnya luka yang mereka pernah rasakan.
Hanya butuh beberapa langkah pindah ke kedai sebelah. Disana, mereka bergabung dengan Sing-Sing, Ah Kit dan Yoyo. Sing-Sing sudah mulai berulah, mulai merengek dan minta dipangku oleh Alice begitu melihat mereka.
Meja sempit dan duduk berhimpitan, suasana itu segera cair untuk saling mengenal sosok Alice yang sebenarnya.
“Tinggal dimana, Je?”, “Kamu kerja dimana?”.
Mereka sempat melupakan sosok mahal yang selalu datang berkunjung ke restoran di malam hari. Sebab, Alice hari ini terasa begitu membaur dengan mereka. Setiap jawaban faktual dari mulut Alice soal siapa dirinya kembali mengingatkan mereka betapa jauhnya kondisi mereka dengan Alice Moon sang Vice President di Crestview & Associates.
“Duh santai saja jangan kaku-kaku amat… Hehe”
Sebab aku merasakan kehangatan ketika membaur dengan mereka seperti hari ini. Bukan dilayani dengan penuh rasa cemas setiap malam. Mereka mungkin bukan keluargaku.
Tetapi kehangatan ketika berada di antara mereka seperti sesuatu yang mengisi celah sepi setiap malam yang selalu aku habiskan seorang diri.
Sesuai dengan janji Alice, ia yang membayar dessert malam ini. Secara simbolis, Alice membuka amplop dari Jimmy yang merupakan upahnya di hari itu, untuk membayar tagihan.
Pfft, langsung bokek. Ya, gaji sebagai part timer tidak seberapa—menyisakan beberapa pecahan kecil HKD yang kemudian tetap disimpan oleh Alice di dalam amplop itu.
Yoyo dan Ah Kit berpisah, mereka sepertinya akan menghabiskan sisa malam minggu dengan teman-teman mereka. Sedangkan ‘Golongan Tua’ Jimmy dan Alice memilih untuk kembali ke apartemen.
Dua dunia, dua luka berbeda.
Sing-Sing tidak ingin digendong, ia ingin jalan di trotoar bersama-sama. Kedua tangan kecil itu segera memegang erat tangan keduanya sewaktu menelusuri trotoar jalan. Tangan kanan memegang Jimmy sementara tangan kirinya memegang Alice. Perjalanan mereka singkat namun kebahagiaan akan hal-hal kecil yang mereka tertawai sepanjang perjalanan menjadi kenangan baru untuk Alice.
Sampai akhirnya mereka harus berpisah, tepat di depan pintu besi menuju rumah Jimmy dan Sing-Sing. “Bye, Sayang…” Alice sempat mengusap rambut lembut Sing-Sing. “Pai-pai Bibi…”
“Bye, Jim.” Alice memberikan senyuman simpul.
“Lis, kalau besok-besok mau bertemu Sing-Sing, tak usah pakai alasan untuk membeli makan malam. Silahkan, kamu bisa datang kapanpun tanpa alasan.”
Ucapan dari Jimmy membuat senyuman di wajah Alice semakin lebar. Rasa lelah di pundak dan pinggang karena begadang demi mempelajari POS, membantu di restoran, mengasuh Sing-Sing seakan menjadi sirna.
“T… Thanks, Jim…”
Bagi Alice penerimaan Jimmy terhadap dirinya ini tak bisa ia nilai dengan angka dan harga.
Apalah itu tender triliunan? Kalau kehadiranku telah diterima di keluarga kecil ini?
Hingga akhirnya sebuah taksi merah kosong berhenti ketika Alice melambaikan tangannya ke udara. Jimmy masih tetap berdiri bersama Sing-Sing, memperhatikan Alice yang masuk ke dalam taksi dan menghilang sepenuhnya dari pandangan mereka.
ˎˊ˗⋆。°✩📄
Jimmy mungkin sudah menyadari kalau jiwa keibuan Alice sudah tumbuh di atas kegagalan pernikahannya. Alice tidak ingin bermacam-macam dengan mereka. Nalurinya hanya ingin mengasihi Sing-Sing yang telah kehilangan sosok ibunya sedari bayi. Kendati anak itu bukan berasal dari rahimnya sendiri.
Disisi lain, kini Alice menjadi paham kenapa Chef Eksekutif seperti Jimmy malah berakhir di restoran milik sendiri di wilayah kelas pekerja menengah.
Bukan karena idealisme akan masakannya atau egois karena tidak mau diatur. Semua akibat trauma dari pengkhianatan yang beberapa kali terjadi di dalam hidupnya.
Lantas, jika Alice sudah menemukan keluarga barunya. Apakah Sing-Sing menyadari kalau Alice mungkin perlahan telah mengisi kosongnya peranan Mama di dalam hidupnya?
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Dua bulan kemudian.
Fullerton Hotel, Marina Bay, Singapura.
Alice
Jim, Sing-Sing sedang apa? |
Alice mengirimkan pesan itu kepada Jimmy. Begitu dirinya tiba di lobby hotel. Hari melelahkan lainnya bagi Alice, sebuah perjalanan bisnis. Ia harus menghadapi meeting dengan beberapa Crazy Rich Singaporean, dua perusahaan leasing pesawat—Apex Aviation Capital, serta AirLease Global.
Ditambah hidungnya mulai terasa berlendir sejak sore hari tadi, mungkin terkena flu—membuat rasa lelahnya di hari itu menjadi berkali-kali lipat. Rasa tidak enak itu membuatnya rindu akan mi kuah wonton di restoran milik Jimmy.
Namun, ia pasrah karena harus menahan diri untuk satu malam. Karena jadwal penerbangan pulangnya ke Hong Kong adalah besok pagi.
Daripada berkenalan di Hawker atau pindah ke tempat lain, Alice memilih untuk mengisi perutnya di restoran hotel—sendirian sambil menantikan balasan pesan dari Jimmy.
Sampai Alice menghabiskan Oxtail Soup masih belum ada balasan dari Jimmy. Resto lagi ramai ya, Jim?
Kekhawatiran Alice terjawab ketika ia membuka laporan dari aplikasi POS restoran Jimmy. Terlihat jelas di grafik penjualan dalam satu jam ini sedang begitu meningkat dari biasanya.
Satu bulan setelah mesin POS serta Terminal EDC terpasang, telah terjadi peningkatan penjualan dan respon positif dari pengunjung reguler.
Kini, mereka memuji kecepatan penyajian serta sistem pembayaran yang kini dapat menerima bermacam-macam vendor. Tentu saja waktu operasional semakin menjadi cepat. Kini, sekitar setengah delapan malam Jimmy sudah bisa tutup restoran.
Lantas kenapa Alice tidak memberikan usul untuk perbanyak stok mentah? Maksimalkan waktu hingga larut? Tidak. Karena Alice tahu Jimmy bukan robot, ia butuh beristirahat.
Walau hanya satu setengah jam lebih cepat dari sebelumnya, waktu itu selalu dipergunakan Jimmy untuk quality time dengan Sing-Sing.
Sepulang kantor, hampir setiap hari Alice selalu datang untuk menemui Sing-Sing. Terkadang langsung ke restoran dengan setelan kerja. Terkadang ganti baju dulu dan naik taksi atau mendatangi rumah Jimmy karena restoran sudah tutup karena Alice pulang terlalu larut malam.
Selain mengasuh dan mengajari ilmu pengetahuan yang baru kepada Sing-Sing, ia juga berdiskusi mengenai perkembangan restoran dengan Jimmy.
Hal ini membuat Alice menjalani dualitas yang berbeda, pagi hingga sore ia penat sebagai seorang VP yang dingin dan tegas di Crestview & Associates. Jelang malam ia seolah menjelma menjadi rembulan (Moon) yang menemani bintang (Sing-Sing)—sosok Mama untuk Sing-Sing dan juga seorang Auditor dapurnya Jimmy.
Malam di Singapura itu ditutup dengan sebuah panggilan video call dari Jimmy, dibuka dengan teriakan dan rengekan Sing-Sing yang kangen dengan ‘Bibi Alice’.
“Sabar ya, Sayang, besok kita ketemu, Oke?”
Rengekan Sing-Sing meneguhkan hati Alice untuk segera kembali fit, ia segera meminum obat sebelum tidur. Berharap gejala Flu akan berkurang di keesokan harinya—agar dirinya dapat segera menemui Sing-Sing.
Hari pun berganti, penerbangan pulang Alice berada di pukul sembilan pagi. Gejala Flu semakin parah, membuat dirinya harus memakai masker sepanjang penerbangan. Matanya kini berair dan memerah karena sudah mulai bersin-bersin. Penerbangan ini akan menyiksa.
Tentu saja, perubahan tekanan drastis menyebabkan barotrauma. Puncaknya saat landing, telinga Alice terasa begitu nyeri, hidung dan pipinya terasa ditekan hebat.
Beruntung dia dijemput oleh mobil kantornya, sehingga tidak harus mengemudi seorang diri untuk pulang ke rumah.
Alice langsung roboh di kursi jok Lexus LM itu. Pundaknya merosot dan kini kepalanya mulai terasa pusing. Supirnya hari ini adalah Paman Lam yang telah ia kenal baik. Maka dari itu Alice tidak segan untuk meminta diantar ke rumah sakit untuk segera berobat.
Alice
Jim, aku terkapar. |
Hari ini tidak bisa menemui Sing-Sing, |
takut dia malah tertular olehku. |
Alice mengirimkan pesan itu kepada Jimmy. untuk pertama kalinya Alice mengingkari janji kepada Sing-Sing. Kalau cuma capek dan lelah sih, bisa aku tahan. Namun, Flu ini bisa saja menulari Sing-Sing. Duh, maafin Bibi, ya, Sing.
Mulut Alice meringis menahan rasa sakit dari flu sementara hati kecilnya meringis—menahan rasa rindu dan janji yang dilanggar olehnya. Perasaan Alice semakin terkoyak ketika Jimmy mengirimkan sebuah video.
Sing-Sing duduk di kursi plastik yang biasa ada di restoran. Wajahnya merajuk dan pipinya basah memerah. “B… Bi… Bibi, cepat—”
“Cepat apa Sing?” Ada suara Jimmy yang ikut terekam.
“C… Cephat… Sembuh ya… Nanti main lagi sama aku. Huh huuh…” ucapan dari Sing-Sing ditutup dengan sedikit sesenggukan.
Ulangi, ulangi dan ulangi lagi. Video enam detik itu terus diputar ulang oleh Alice saat menunggu giliran periksa di rumah sakit. Ibu jarinya bergetar dan napasnya menjadi tak beraturan. Membayangkan kalau Sing-Sing menangis karena diberitahu kalau Bibi Alice belum bisa segera menemui dirinya.
Hingga akhirnya nama Alice dipanggil untuk masuk ke ruang periksa dan hati kecilnya yang telah teriris karena video itu membuat dirinya mengatakan hal yang tidak masuk akal di hadapan Dokter.
“Dok, tolong sembuhkan saya, saya harus sehat besok,” tuntut Alice tanpa basa-basi, membuat dokter itu tertegun.
“Beri saya obat paling keras. Suntik vitamin, Infus atau apa pun itu! Saya harus sehat kurang dari dua puluh empat jam. Berapapun biayanya… Akan saya bayar.”
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Ya ampun… saking bucinnya sama Sing-Sing.
