‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
“Jadi tuh, kemarin itu… Kita sempat ngomongin kamu, pas kamu lagi pergi melihat bangunan. Masa ya, Lis… Kata Maggie tuh, kamu mungkin saja sudah persiapkan pernikahan sama Jimmy!? ‘Kan, aneh, ya?” ujar Karen dengan mata yang terbuka lebar serta tubuh mencondong ke arah Alice.
“Ssshh—” Alice mendesis kesal, mendecih dan menatap ke arah Maggie dengan tatapan malas. “Non! Maggie… that’s… too wild!“
“Kan—” Karen menyenggol lengan Maggie. “Aku bilang juga apa? Gak mungkin!”
Maggie mengangkat bahu. “Who knows? Isi kepala dan hati Alice-nim satu ini.” Dengan alis yang terangkat sebelah—Maggie melirik ke arah Alice.
Ucapan Maggie itu seringkali berbahaya. Sudah beberapa kali Alice tersugesti oleh kata-kata sederhana hingga melekat dengan baik di benaknya?
Berkali—kali—sekarangi, soal pernikahan.
Pernikahan, ya? Huft, memang. Itu cara terakhir untuk mengukuhkan diriku sebagai ibunya Sing-Sing. Dengan begitu, aku akan menghapus eksistensi sang ibu kandung seutuhnya?
Tetapi, apa Jimmy maumenikah denganku? Pernikahan tanpa romantisme? Bahkan saat kami dipaksa berpelukan oleh Sing-Sing saja, aku tidak merasakan debaran di dalam dadaku. [Bab 35]
Ah, bukan.
Bukan hanya soal debar di dada.
Sampai saat ini, baik nama atau sosok mantan istrinya saja—aku tidak pernah tahu. Yang cuma aku tahu, keluarga mantan istrinya itu tinggal di Sha Tin. Ya, cuma itu saja.
Sementara Jimmy? Sepertinya ia sudah tahu banyak soal diriku? Mantan kekasihku, mantan suamiku—
Haruskah? Malam ini aku mulai mencari tahu soal bayangan masa lalunya Jimmy?
“Jadi Lis—”
Lamunan soal pernikahan serta sosok ibunya Sing-Sing harus buyar karena Maggie telah melemparkan pertanyaan berikutnya.
“Kamu sama Papanya Sing-Sing gimana? Kamu mau bilang kalau Papa-Papahan tadi itu karena sedang bermain peran di depan sang anak? *Ehem* Lagi nggak ada Sing-Sing loh disini, adanya kita-kita doang,” ucap Maggie—lembut namun mematikan.
“Iya, ya? Rasanya kayak sengaja banget kamu pamer, loh, Lis…” sambung Karen.
Mata Alice terpejam, dirinya tampak telah di skakmat habis-habisan. Bisa saja Alice menghindar dengan mengajak mereka untuk segera mencari makan siang. Namun, kalau di diamkan berlarut-larut—ini tidak akan selesai.
“Masih tetap sama kok, Meg. Sebagai teman…. Iya, aku jadi sering panggil dia Papa dan dia juga samanya, mulai sering panggil aku Mami.”
Baik wajah Maggie dan Karen langsung menahan tawa, ditambah dengan Karen yang mencubit lengan Maggie—merasa gemas.
“Tapi rasanya, sama sekali tidak ada ketertarikan untuk ke arah sana,” sambung Alice.
“Arah, sana?” tanya Maggie.
“Pacaran dengan Jimmy.” Sisi kanan sudut bibir Alice terangkat—senyum tak seimbang.
“Lah? Kok, bisa Lis?” Dahi Karen mengerut heran.
“Malas, Ren… Mengulangi semua hal-hal kayak gitu. Nyatain cinta, cemburu, kencan, apalah itu… Yang penting aku sudah merasa nyaman saja dengannya.Itu cukup, meskipun statusnya: tidak jelas,” jawab Alice.
Seketika Karen terdiam.
“Jelas kok, itu Lis. Jelas banget!” sahut Maggie dengan volume suara yang tegas.
Bola mata Alice berputar, menatap ke arah Maggie. Sekilas ada gerakan pada alis milik Alice—bertanya tanpa kata-kata.
“Nya—man.” Maggie menyenggol lengan Karen, membuat kepala Karen langsung mengangguk.
“T… Tunggu, aku tidak paham ini. Apa maksud senggolan itu—apa yang kalian sembunyikan dariku sih? Huh?” tanya Alice keheranan.
“Ha—ah… Sudah ah, cari makan yuk? Lapar nih?” Maggie melakukan peregangan kecil, bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk perutnya.
“Yuk, yuk! Yuk, Lis, kita makan?” sambar Karen.
“Hu—uh?” Alice memperhatikan keduanya—benar-benar clueless.
“Yah! Jawab aku dulu!”
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Baru setengah jam Alice berada di rumahnya. Sudah ada bel berbunyi diiringi suara gaduh terdengar di balik pintu. Alice tidak perlu melihat lagi dari intercom—siapa yang datang berkunjung. Sebab tamunya malam ini sudah pasti putri kesayangan serta sang suami yang masih belum diakui olehnya.
“Mamiii!” Begitu pintu terbuka, Sing-Sing langsung memeluk kaki Alice. “Sing kangen Mami!”
Alice langsung membungkuk untuk memeluk dan mengecup pipi lembut nan kenyalnya Sing-Sing.
“Aigoo—” Alice kembali berdiri sambil menggendong Sing-Sing. “Sing-Sing kayaknya tambah berat aja nih… Sing-Sing pintar ya, hari ini makannya, ya?”
“Iya!” jawab Sing-Sing sambil tertawa.
“Ramai banget hari ini? Sampai jam segini kamu sudah kesini?” Tangan kiri Alice menggendong Sing-Sing, sementara tangan kanannya terangkat untuk menyentuh pundak Jimmy. Mengusap jaket berbahan jeans itu dengan perlahan.
“Dari… Jam lima juga sudah selesai, gara-gara pesanan tadi siang itu loh, jam lima jadi benar-benar ludes. Tinggal sisa saus doang kayaknya, hahaha.” Jimmy meletakkan kantong yang ia bawa ke atas meja makan.
“Mhh… Pesanan dari satu pihak yang sama? Seperti catering dong?”
“Iya, pagi-pagi ada staf perusahaan yang datang, memesan langsung ke Ah Kit, kemudian Ah Kit telepon aku, pas lagi anter Sing-Sing. Aku sanggupin, walau siang harinya toko harus ditutup sementara.”
“Ya, pokoknya, ludes lah, ya! Hebat, ih… Papa Jimmy hebat!” Alice kini menepuk-nepuk bahu Jimmy.
“Iya, Papa hebat!” Sing-Sing mengacungkan ibu jari tangan kanannya ke arah Jimmy.
Jimmy memutar tubuhnya, menghadap ke arah Alice dan Sing-Sing. “Iya, makasih ya—” Jimmy mengalihkan tatapannya ke arah Alice yang sedang menoleh ke arah Sing-Sing. “Sayang.“
“Jim, kamu bawa makanan? Aku padahal aku mau masak, loh.” Alice menunjuk ke arah mangkuk besi berisikan daging sapi yang tengah di marinasi.
“Cuma bawa sayuran doang, Lis. Daging sold out.”
“Oh, baguslah! Soalnya aku lagi masak daging. Ah, Kamu—” Alice melirik ke arah Jimmy. “Lanjutin masaknya, ya Jim? Bisa? Dagingnya sih sudah dimarinasi, tinggal oseng-oseng saja sih, aku mau mandi soalnya.”
“Oke… Ayo sini Sing, temenin Papa masak, Mami mau mandi dulu.”
“Gak mau, aku… Aku maunya sama Mami!” Sing-Sing mengeratkan pelukannya kepada Alice dan membuang tatapannya dari Jimmy.
“Ya, sudah, temenin Mami di kamar ya, tapi pintunya jangan Sing buka-buka, malu nanti Maminya,” bisik Alice ditelinga Sing-Sing.
Tinggalah Jimmy seorang diri—segera melepaskan jaket dan bersiap ke medan tempur kecilnya. Siapa sangka selesai di restoran, kini ia harus bertugas kembali di dapur kecil milik Alice.
Setelah mencuci tangan, Jimmy memperhatikan daging yang tengah di marinasi di dalam mangkuk besi itu. Ia angkat dan perhatikan bumbu apa saja yang berada di dalamnya—dengan memakai sendok kecil ia mencoba terlebih dahulu bumbu marinasi dari daging itu—kepalanya pun mengangguk.
Daging yang Alice pakai adalah daging yang telah dipotong tipis—sliced beef. Jimmy menuangkan air dari bumbu marinasi itu terlebih dahulu ke atas wajan hingga panasnya merata hingga mulai timbul buih yang meletup, baru daging mulai dimasukan.
Diaduk dengan gerakan memutar tanpa henti selama beberapa menit. Hingga akhirnya Jimmy mematikan energi panas dari kompor induksi. Kemudian menuangkan daging yang telah matang itu ke atas piring. Selesai tersaji—ia kemudian sibuk menata lauk lain yang dibawanya.
Sayup-sayup suara Sing-Sing yang sedang tertawa lepas terdengar—pintu kamar pun terbuka.
Jimmy dapat langsung mencium perpaduan aroma manis serta segar bunga ketika udara dari dalam kamar merangsek hingga ke ruangan tengah. Rambut panjang Alice masih terlihat basah, sedang diusap-usap dengan handuk kecil. Sementara Sing-Sing melangkah keluar menuju ke arah Jimmy sambil tersenyum-senyum.
“Ehehe, tadi Mami malu, Papa—Mami ga pake baju, kulit Mami bagus deh, putih!”
“Heh! Sing-Sing—” Pada waktu bersamaan, suara Jimmy dan Alice menyatu untuk menegur Sing-Sing. Alice langsung melangkah kabur ke laundry room—menjemur handuk.
Sementara Jimmy langsung menutupi mulut Sing-Sng dengan telapak tangannya. “Jangan ngomong gitu, Sing, tidak sopan.”
Alice tengah menggerai rambut panjangnya yang mulai kering, memakai tanktop putih dengan celana pendek. Pakaian yang nyaman ketika di rumah tanpa memperdulikan kalau malam ini ada Jimmy dan juga Sing-Sing di kediamannya.
“Sing, mau makan lagi?” tanya Jimmy saat menyiapkan nasi putih di mangkuk.
“Tidak, Sing sudah kenyang, ‘kan tadi sudah makan sebelum pergi,” jawab anak itu.
“Sing, Mami ada keju di kulkas, mau tidak?”
“Keju? Mau!” Sing-Sing sudah sering menginap di apartemen Alice, alhasil lemari pendingin apartemen Alice pun mulai ketambahan penghuni: keju, snack dan susu uht kemasan kecil.
“Sing, mau susu juga!” Ketika pintu kulkas terbuka ia melihat keberadaan susu UHT.
“Dihabiskan tidak dua-duanya? Kalau tidak, Mami ga mau kasih, ya!” Alice berkata-kata cukup tegas.
“Habis, Mami… Sing-Sing jangji, habisin!”
Baru satu suap keju stick disantap, Sing-Sing sudah meminta hal berikutnya. “Sing mau denger lagu!” Tentu saja hal itu segera membuat Alice mengerutkan dahinya. “Boleh, tapi Sing tidak boleh diam aja ya, harus joget!”
“Iya, Mami!” Sing-Sing menjawab dengan suara kencang—cempreng.
Sebuah lagu anak terputar melalui speaker bulat menyerupai handbag wanita—Onyx Studio 6. Lagu itu segera memisahkan Sing-Sing dengan dunia orang dewasa yang hendak mengisi perut mereka.

“Hoah… Akhirnya makan malam oleh Chef Jimmy!” ucap Alice yang menarik kursi dan duduk di hadapan Jimmy.
“Apaan, Lis? Aku cuma meng-oseng daging manis yang sudah kamu bumbui saja.” Jimmy mempersiapkan peralatan makan untuk Alice.
“Bulgogi namanya, Jim. Manisnya dari buah pir.”
“Mmhh pantas saja, bukan gula, bukan kecap ternyata… dari buah.”
“Ihh, gimana sih? Masa executive chef tidak tahu bumbu masakan Asia? Masa kamu ga pernah buat bulgogi?“
“Ya, Tidak semuanya aku masak juga, Lis.” Jimmy menggeleng sambil menyesap sedikit air di gelas sebelum mulai makan malamnya.
“Makan~” Alice sudah mulai menyuap makan malamnya. Sementara Jimmy masih mengamati Alice sebelum mulai makan. Sepintas Alice sempat tersenyum tipis saat mulai menyantap daging dan sayur yang dibawa oleh Jimmy.
Ditengah-tengah makan malam mereka, Alice sempat memutar tubuhnya, meraih sebuah map yang berada di lemari yang berada di belakangnya.
Dada Alice segera membusung sembari mengangkat map yang ia buka itu—memamerkan sertifikat bangunan yang ia dapatkan hari ini! “Tadaaa!”
“Lis, hari ini aku transfer balik modal yang kemarin itu, ya?” Jimmy kembali membuka pembicaraan.
Jimmy kemudian meraih sesuatu dari dalam kantong yang dibawa olehnya. Rekap dari catatan penjualan harian, pembayaran ke distributor dan vendor bahan, gaji karyawan tiap bulannya hingga ke catatan mutasi rekening toko. Ada tulisan tangan Jimmy, ada yang berasal dari catatan ponsel. Semua tersusun rapi dan juga apik.
Modal pinjaman itu tidak Jimmy pakai seluruhnya. Mungkin hanya sekitar 60 persen saja—sehingga kurang dari satu tahun Jimmy dapat mengembalikannya.
Alice memperhatikan kurva penjualan yang sempat spiking namun kembali normal dengan angka yang tinggi karena pengaruh food vlogger. Serta volume penjualan dari sisi online order yang cukup berpengaruh besar pada penjualan harian.
“Kamu disini… Tidak mengambil keuntungan seluruhnya… Tetapi menggaji diri sendiri? Nominal cuma sebesar ini… Apa cukup? Untuk kebutuhanmu dan Sing-Sing?”
“Cukup, Lis. Dari dulu juga cukup kalau untuk hidup kami berdua,” jawab Jimmy.
“Ahhh—Ada persenan yang kamu ambil dari omzet, kamu bagikan juga sekarang kepada Ah Kit dan Yoyo, great! Kamu menghargai kerja keras kamu sendiri dan juga loyalitas mereka!” Alice terus mempelajari laporan keuangan itu sambil sesekali menyuap makan malamnya.
Napas Alice terhela dan matanya segera mengarah ke arah Jimmy dengan sangat tajam. “Ini apaan Jim?” Telunjuk Alice mengarah kepada salah satu baris. “Bulan lalu sempat ada tiga kali mengganti waiters? Pantas saja selalu ada wajah wajah baru di toko, aku kira kamu lakukan sistem shift?”
Jimmy menghela napas cepat. “Mereka itu, susah dikasih tahunya, tidak paham, tidak peka. Ya, aku ganti saja.”
Setelah mendengarkan hal itu, dahi Alice mengerut heran. “Ini yang aku dengar ga salah, nih? Ini kata-kata ego seorang Executive Chef atau seorang tukang masak di Sham Shui Po yang susah percaya sama orang sih?”
Jimmy terdiam—tak menjawab Alice. Seolah egonya telah disabet oleh Alice.
“Jim, aku kasih tahu ya—” Alice mengacungkan telunjuk tangan kirinya ke atas. “Kalau mereka pintar—” Senyuman asimetris muncul di bibir Alice. “Mereka tidak akan cari kerja di Sham Shui Po, mereka akan bekerja di Central, paham?”
Saat itu Alice dapat melihat sendiri rahang jimmy yang terlihat mengeras, seolah tidak suka dikomentari dengan tajam seperti itu.
“Aku paham, kamu itu strict di dapur. Orang baru yang kamu rekrut, tak mungkin bisa memahami hanya dalam satu, dua malam! Beda sama Kit atau Yoyo yang sudah ikut kamu dari awal resto berdiri!” Alice terus memojokan Jimmy.
“Jadi… Berikan mereka waktu untuk beradaptasi, dengan kamu, dengan tim. Mungkin tiga minggu sampai satu bulan?”
Ucapan Alice yang menohok dan memberikan solusi langsung meruntuhkan ego Jimmy. “Baiklah, Lis. Akan aku coba.”
Alice menganggukan kepalanya. Ia segera kembali mengamati laporan keuangan itu kembali.
Alice melihat sendiri saldo akhir dari rekening toko yang sudah berada di 20% lebih banyak dari modal yang Alice berikan.
“Well done, Papa! Kamu, hebat!” ujar Alice sambil tersenyum.
Jimmy tertunduk—tersenyum malu karena pujian itu.
“Jadi, aku kembalikan sekarang, ya?” Jimmy mengangkat ponselnya—mungkin bersiap untuk memindahkan dana itu kembali ke rekening Alice.
“Mh mmh!” Jari telunjuk Alice teracung ke udara. “Jangan dulu, habis ini kita harus membahas ekspansi. Tetap pegang uang itu di rekening toko, malah mungkin harus aku tambahin—sebab ekspansi akan membutuhkan dana yang lebih besar, Jim,” ungkap Alice dengan optimis.
Jimmy mengunyah perlahan sendokan terakhir dari makan malamnya. Senyumannya mulai agak memudar.
“Kamu, yakin, Lis?” tanya Jimmy.
Alice menutup lembar laporan Jimmy. Tatapannya kemudian terarah ke Jimmy. “Kamu tidak yakin, Jim?” Alice membalikkan pertanyaan itu.
“Kamu sudah menghabiskan banyak uang untuk membeli bangunan sebelah. Sekarang masih mau meminjamkan modal lagi untuk ekspansi itu?” Jimmy menggelengkan kepalanya.
Alice mendecih. “Ck… Masih saja—” ia kemudian menghela napas panjang.
Jika di meja rapat kantor, mungkin saat menghadapi klien yang sama sekali tidak memiliki keoptimisan atau plan lain—akan langsung Alice hantamkan dengan ucapan dingin: ‘oke tidak usah.’
“Jim! Dengar, ya! perjanjian ini masih akan sama dengan yang sebelumnya. Aku akan terlibat, sebagai konsultan dan partner bisnismu. Bukan orang yang mencekikmu dengan hutang. Lagipula—”
Bruk! Alice memukul laporan keuangan Jimmy. “Ini sudah menjadi bukti mutlak kalau kamu itu, bisa.”
Pukulan itu menyita perhatian Sing-Sing. Membuat anak itu kini berhenti berdansa dan mengamati kedua orangtuanya dari kejauhan.
“Tapi, Lis… Aku merasa kalau itu akan membebanimu—”
“Tidak! Jim, sama sekali, tidak. Kamu sudah setuju tempo hari akan ekspansi itu. Sekarang, jangan buat aku menyesal, sudah membeli bangunan itu tetapi tidak berfungsi sebagai apa-apa! Aku percayakan uangku kembali kepadamu, karena—” Alice menelan ludahnya—tatapannya berubah tajam ke arah Jimmy.
“Karena sebagai Mami aku masih tetap percaya sama Papa yang bisa mengelola dengan baik uang itu demi kehidupan kalian.”
Alice pikir kata-kata itu akan menyadarkan Jimmy seutuhnya. Namun, nada suara yang kerap meninggi itu malah…
“Huuh—Mami… Papa… Jangan berantem!”
Membuat Sing-Sing menangis—mengira kalau Alice dan Jimmy sedang bertengkar.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Bukan Alice yang sedang menyelamatkan finansial Jimmy. Bukan juga Jimmy yang telah menyelamatkan Alice dari kepercayaan akan kutukan masa lalunya.
Tetapi Sing-Sing lah yang terus merekatkan keduanya.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅

Resep Bulgogi-nya Mbak Moon Dal-Young
🥩 Bahan-Bahan Utama
Daging Sapi (Bagian Has Dalam/Sirloin): 500 gram (iris sangat tipis khusus bulgogi/shabu-shabu)
Bawang Bombay: 1 buah (iris tipis)
Daun Bawang (Daepas/Batang Besar): 1 batang (iris serong)
Wortel: Setengah buah (iris tipis memanjang)
Jamur Shiitake atau Jamur Tiram: 2-3 buah (iris tipis)
Wijen Sangrai: secukupnya untuk taburan
🍯 Bahan Saus Marinasi
Kecap Asin Korea (Ganjang/Jin-ganjang): 5-6 sdm
Gula Pasir: 2 sdm
Madu: 1 sdm
Bawang Putih: 1,5 sdm (cincang halus)
Minyak Wijen: 1,5 sdm
Jus/Parutan Buah Pir Asia: 5 sdm (bisa diganti jus apel jika sulit dicari)
Lada Hitam Bubuk: Seperempat sdt
[OPSIONAL] Cheongju (Arak Masak/Mirin): 1-2 sdm (untuk menghilangkan bau anyir) — Kebanyakn Mirin mengandul alkohol.
👩🍳 Langkah-Langkah Memasak
1. Proses Pelunakan Daging
– Keringkan sisa darah pada irisan daging sapi menggunakan tisu dapur bersih.
– Masukkan daging ke dalam wadah, lalu taburkan gula pasir dan madu. Remas-remas lembut dan diamkan selama 10–15 menit.
Mengapa? Molekul gula berukuran lebih besar daripada garam/kecap asin. Memasukkan gula terlebih dahulu akan memecah serat daging sehingga teksturnya menjadi sangat empuk.
2. Proses Marinasi
– Campurkan sisa bahan saus lainnya: kecap asin, parutan pir, bawang putih cincang, mirin, lada hitam, dan minyak wijen ke dalam mangkuk terpisah.
– Tuangkan campuran saus tersebut ke atas daging yang sudah dilapisi gula tadi.
– Masukkan irisan bawang bombay, wortel, daun bawang, dan jamur.
– Aduk rata, tutup wadah, lalu simpan di dalam kulkas minimal 30 menit hingga 2 jam agar bumbu meresap sempurna
3. Memasak Bulgogi (Gaya Pan-Fry/Tumis)
– Panaskan wajan anti-lengket dengan api sedang-tinggi tanpa perlu menambahkan minyak goreng lagi (karena saus sudah mengandung minyak wijen).
– Masukkan seluruh daging beserta sayuran dan sisa air marinasi sekaligus ke dalam wajan.
– Tumis dengan cepat agar daging tidak overcooked dan teksturnya tetap juicy.
– Masak hingga daging berubah warna menjadi kecokelatan dan sayuran mulai layu (sekitar 3–5 menit). Jus alami dari daging dan buah pir akan keluar membentuk kuah kental yang gurih.
– Matikan api, lalu pindahkan ke piring saji. Taburi dengan wijen sangrai di atasnya.