‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Tiga hari kemudian, setelah perpisahan dingin antara Alice dan Jimmy.
Sekitar pukul satu siang, Alice baru bisa menyentuh kembali kantornya. Bukan karena kesiangan tetapi kesibukannya sudah dimulai semenjak pagi hari.
Ia baru saja melakukan kunjungan ke sebuah maskapai besar yang beroperasi secara internasional di daerah Tung Chung dekat Bandara Chek Lap Kok (HKG).
Jam makan siang. Suasana di dalam kantor tampak sudah mulai tercerai berai. Ada yang mulai beranjak keluar untuk beristirahat, ada juga yang masih berkutat dengan pekerjaan mereka.
Sesekali ada yang mengangguk dan memberikan senyuman tipis kepada Alice yang sedang membelah lorong kantor, menuju salah satu ruangan.
“Annyeong~” sapa Alice sesaat setelah mendorong sebuah pintu kaca ruangan. Baru kepalanya saja yang tercondong masuk ke dalam ruangan itu. Namun, indera penciumannya langsung terusik dengan wangi gurih yang menguasai ruangan.
“Eh, ada Alice-nim… Baru sampai, Bun?” sapa Maggie. Juga ada Karen yang sedang sibuk mengunyah makanan dan hanya memberikan lambaian tangan untuk menyapa Alice.
“Beneran deh Bun, ini ruanganmu lama-lama jadi Cooked Food Center!” Alice melangkah masuk ke dalam ruangan milik Maggie. (Sebutan pujasera di Hong Kong)
“Yah… Lis. Kalo gitu tadi kita pewsenin sekawlian, kita kira kamu ga ke kantor lagi siang ini,” ujar Karen sambil tetap mengunyah makanannya.
“Eh, enak, nih harum. Pada makan apa, nih?” Alice segera menarik bangku dan duduk di hadapan dua rekannya yang sedang menikmati makan siang.
“Harum? Kenal ga… Sama aromanya?” Maggie terkekeh menggoda Alice. “Masakan chef Jimmy, nih, Lis,” sambung Maggie.
“Eh?” Kelopak mata Alice terbuka lebih tinggi, memperhatikan beberapa kemasan thinwall yang berada di atas meja kecil. “Kalian… Pick-up pakai driver online?”
Memang selama ini jika ada rekan kantor C&A yang hendak memesan makan siang ke Sing-Sing Eating House selalu dikumpulkan terlebih dahulu ke Alice baru pesan. Namun, hari ini mereka tampaknya sudah mandiri tanpa harus mengandalkan Alice.
“Lah… Gimana sih nih Maminya Sing-Sing? Itu sudah ada di foodpanda!” ucap Karen.
“Hah?” Dahi Alice mengerut dan sorot matanya segera tertuju ke arah Maggie dan juga Karen yang duduk bersebelahan di kursi sofa. “S-Sudah ada?”
“Lah? Kok malah ga tau?” Maggie memberikan sebuah sumpit bambu yang masih berada di dalam plastik steril kepada Alice untuk ikut bergabung makan siang. “Baru juga kayaknya sih Lis, baru ada foto logo toko, belum ada foto dan keterangan makanannya. Nih juga gara-gara si Karen iseng tadi, pas lagi nyari-nyari makan siang.” sambung Maggie.
Mulut Alice merapat ragu, sorot matanya berubah kosong.
Sebab hari ini—hampa.
Alice memang sibuk sedari pagi namun sesungguhnya ia masih menantikan laporan-laporan soal si kecil Sing-Sing yang selalu telat dibaca olehnya.
Hari ini laporan itu absen—libur—sama sekali tidak ada laporan. Bahkan, Jimmy tidak memberitahu kalau sudah mulai menjalankan strategi pesan online dari Sing-Sing Eating House.
Apa karena malam kemarin, ya? Aku yang cemburu dan jadi aneh itu… Benar-benar membangun jarak dengannya?
“Eh, makan, Lis! Malah bengong!” sahut Karen yang membuyarkan lamunan Alice.
“A… Ah, iya.”
Apa… Jimmy marah, ya?
Alice mulai mengambil potongan daging sapi dari lauk brokoli tumis. Harum, sedap dan tidak keras. Hanya itu yang bisa Alice komentari dalam hatinya dari masakan Jimmy di hari itu.
Padahal, biasanya hidangan yang dimasak oleh pria itu selalu menimbulkan kekaguman serta memuaskan perasaannya—kali ini tidak. Cuma dua suap, lantas Alice segera terhenti karena dihantui oleh perasaan kecewa dan bersalah.
“Loh, Lis, kok? Ga, lanjut makan lagi?” Maggie menyadari Alice yang tidak lagi mengambil makananan untuk ketiga kalinya—malah terdiam dan meletakkan sumpit di atas selembar tisu.
Alice menarik napas—melebarkan senyuman. “Meg, Ren… Ke… Artifact jadi, ga? Besok? Atau kalau malam ini mau, ga?”
Baik Maggie dan Karen juga langsung terhenti—melongo mendengarkan ucapan Alice. Kemarin Alice sempat menolak ajakan ke Cocktail Bar itu, tetapi hari ini berubah—malah mengajak mereka.
Tidak tahu menahu soal restoran Jimmy yang sudah muncul di foodpanda lalu menganulir penolakan sebelumnya.
Maggie dan Karen seharusnya langsung bisa menangkap kalau hubungan Alice dan Jimmy sedang tidak baik-baik saja.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Malam itu Alice memilih untuk absen dari Sing-Sing Eating House. Memilih untuk berkunjung ke Artifact seorang diri. Menikmati satu set menu makan malam mewah seharga lebih dari seribu dollar HKD sendirian.
Hingga pukul sepuluh malam, dirinya masih duduk menyendiri di sana sambil menikmati gelas cocktail ketiga.
Ponselnya berada di atas meja—jendela chat Jimmy pun terbuka. Belum ada pesan apapun—pesan terakhir masih berada di hari kemarin itu ketika Jimmy memberikan titik perjumpaan di Sha Tin.
Tangan kiri menopang dagu, ekspresi wajah yang dilukiskan olehnya pun begitu jauh dari kata ramah. Tajam dan menghakimi setiap orang asing yang melintas di hadapannya.
Sementara itu jarinya terlampau gengsi untuk sekadar mengirim pesan duluan. Kini, isi kepalanya tak lagi mampu untuk menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi.
Hingga akhirnya, senyuman asimetris di bibirnya pun terbit.
Tidak mungkin Sing-Sing tidak menangis dan merengek kepada Jimmy untuk menghubungi diriku.
PUH! Kurang ajar! Berani-beraninya kamu Jimmy, melakukan silent treatment ke investor mu ini.
Alkohol, dugaan yang tak menentu hingga kepala yang mulai terasa ringan—kombinasi yang membuat pikiran Alice menjadi berkabut hingga berlabuh pada sebuah kesimpulan yang sangat tidak sehat.
Alice segera menghabiskan gelas ketiganya, membayar dan beranjak pergi dari bar.
Tahu kalau dirinya sedang sedikit mabuk, Alice memilih untuk menyetop sebuah taksi—menitipkan mobilnya di parkiran.
“Malam, mau diantar kemana, Nona?” Sang sopir—pria paruh baya bertanya dengan nada yang tenang dan juga sopan.
“Sham Shui Po, sekarang.”
Taksi segera melaju, untuk mengantarkan Alice ke tempat Jimmy.
Begitu taksi berada di daerah Mong Kok, Alice masih dapat merubah arahnya—lurus, pulang ke apartemen saja. Namun, di bawah kondisi perasaan yang tak menentu itu. Alice membiarkan taksi terus melaju hingga tiba di Sham Shui Po.
Kalau sudah sampai di sana terus mau ngapain? Menekan bel rumah Jimmy? Merangsek masuk dan memaki dirinya?
Alice mengusap dahi—mencoba mengenyahkan kabut itu. Seolah ia telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri—alkohol telah mendorong emosi untuk menguasai jiwa dan tindakannya. Tidak seperti Alice Moon yang selalu memperhitungkan setiap langkah atau tindakan yang harus diambil.
Tinggal beberapa puluh meter lagi, taksi itu akan tiba di kediaman Jimmy. Alice segera mencondongkan badannya, hendak memberitahu sang sopir untuk lanjut saja—pulang ke apartemen.
“Di depan ya, Nona?” tanya sang sopir.
Alice sempat tidak mempercayai hal yang dilihat olehnya—papan nama toko “Sing-Sing Eating House” masih menyala terang. Folding Gate-nya pun masih terbuka lebar. “Disini saja, Paman,” ujar Alice.
Wanita yang isi kepalanya sedang berkabut itu kini telah mengetukkan langkahnya di atas trotoar malam Sham Shui Po. Hanya butuh sepuluh langkah, hingga dirinya tiba di restoran itu.
Ini jam setengah sebelas malam, ‘kan? Kok masih buka? Biasanya jam sembilan sudah selesai?
Ada sebuah spanduk asing menggantung tepat di bawah papan menyala resto: Congee, Youtiao, Cheong Fun, Siu Mai, Har Gow. (Bubur, Cakwe, Cheong Fun, Dim sum).
Bahkan ia tidak memberikan kabar? Kalau saudaranya sudah mulai berjualan di malam hari—kepadaku.
Dua meja terisi, dihuni oleh campuran dari beberapa jiwa tuda dan muda. Mata Alice langsung mengarah ke dalam dimana Jimmy biasa berdiri di balik wajan. Tetapi sosok pria yang sedang mengganggu pikirannya itu, tidak berada disana.
“Loh? Je?” Ada suara yang mengenali sosok Alice. Pemilik suara itu adalah Ah Kit.
“Oh, Kit?”
“Nyari Sing-Sing, Je?” Ah Kit bangkit—segera menghampiri Alice. “Sudah naik ke atas, Je, Jimmy-gor juga.”
Alice tersenyum sambil sedikit menundukan kepalanya. “Oh, gitu… Ya, sud—”
“Kalau… Jimmy-gor sih biasanya belum tidur jam segini, mau coba aku cek dan panggilkan dia?”
Kabut di dalam kepala Alice telah mengalahkan hati kecilnya yang sesungguhnya menolak tawaran itu. Alice tahu ini keterlaluan—kelewat batas, mencari Jimmy pada jam istirahatnya.
“B-Boleh… deh.”
“Oke, bentar… Duduk dulu saja, Je? Kamu mau minum? atau mau coba bubur? Ini saudara kita baru hari pertama jualan, nih.”
“Aku minta teh hangat saja, Kit.”
Sosok Alice langsung menjadi objek perhatian dari orang-orang yang berada di dalam sana. Gambaran sempurna dari wanita ‘Central’. Dirinya berbalut blouse ivory berbahan satin, celana high waist, heels Jimmy Choo serta tas Birkin adalah pemandangan yang yang teramat mewah serta kontras di lingkungan kelas pekerja yang di dominasi kaos tipis, celana pendek dan sandal jepit.
Sekilas Alice mencoba memberikan senyuman ramah, menduga kalau orang-orang yang sedang menghabiskan malam disitu mungkin masih memiliki hubungan erat dengan Jimmy.
“Silakan, Je, sebentar ya.” Ah Kit meletakan cangkir berisi teh hangat ke hadapan Alice dan segera beranjak naik ke atas untuk memanggil Jimmy.
Alice mulai menyesap sedikit teh yang dihidangkan untuknya. Teh hangat itu mulai mengeliminasi rasa pengar dengan perlahan. Mata Alice terpejam, menghela napas perlahan. Menyadari kalau kekacauan emosionalnya malah menyeretnya hingga kesini.
Kalau aku beralasan ingin menemui Sing-Sing malam ini. Sudah pasti Jimmy akan semakin marah. Astaga… Apa sebaiknya aku kabur saja, sebelum dia tib—
“Lis?”
Alice belum mengkurasi kata-kata namun Jimmy sudah tiba di hadapannya.
“Malem… Banget?” tanya Jimmy dengan santai sambil menarik kursi di hadapan Alice.
“Sing-Sing—” Kepala alice tertunduk. “Sudah tidur?”
Kedua sudut bibir Jimmy terangkat semu. “Ya, sudah dong, Lis. Sudah jam berapa ini…”
Kepala Alice mengangguk, matanya hanya sanggup menyorot ke cangkir teh miliknya.
Menghujaninya dengan kekesalan hari ini hanya akan menimbulkan perdebatan. Apa yang harus aku lakukan?
Haruskah aku bereskan terlebih dahulu sumber masalah ini, karena sikapku di hari kemarin?
“Kamu, lapar? Mau makan? Ini buburnya saudaraku, baru jualan hari in—”
“Maaf.” Alice segera memotong ucapan Jimmy dengan satu kata. Kepala Alice masih tetap tertunduk dengan kedua telapak tangan berada di pangkuan. Setelah mengucap kata maaf, jemari tangan kiri Alice meremas dan menekan kuat-kuat telunjuk tangan kanannya.
“Mmh—” Jimmy menghela napas perlahan saat dirinya telah berada di posisi duduk. “Maaf? Untuk?”
Walau kepalanya masih enggan untuk terangkat. Namun, bola mata Alice berputar untuk menatap Jimmy yang sedang keheranan sambil menggaruk bagian belakang telinganya.
“Yang kemarin, Jim. Aku—” Alice menelan ludahnya, lalu mengangkat kepalanya. “Aku terlalu ketus dan mungkin saja menyakiti hatimu.”
Mata Jimmy sedikit membelalak ketika kalimat itu terlepas dari mulut Alice. “Kok—”
“Sehingga kamu jadi mengabaikanku hari ini, tidak mengirimkan berita apapun soal Sing-Sing dan soal restoran ini…”
Ya, jujur saja. Kalau aku tutup-tutupi ini tidak akan selesai. Cape aku, kalau harus berlarut-larut.
Mata Jimmy terpejam, mulutnya merapat dan kemudian terbuka kembali menghasilkan bunyi decihan. “Ck… Aduh kok malah jadi salah paham begini… Tidak, Lis. Ini kayaknya aku yang salah.”
Alice terdiam. Namun, di dalam benaknya ia menggaris bawahi: ‘salah paham’ dan ‘aku yang salah’.
“Gini-gini, Lis… Aku kira tuh, ya… Kalau selalu mengirimkan kabar soal Sing-Sing itu membebanimu.” Jimmy menarik napas perlahan. “Terbukti kemarin, ‘kan? Kamu menjemput kami masih memakai baju kantor—kami itu jadi merepotkanmu. Maka dari itu, aku tidak mengirimkan kabar Sing-Sing hari ini, agar tidak membebanimu…” Panik di awal namun suara Jimmy tetap tenang saat menjelaskan hal itu. “Kalau soal resto? Maksud kamu, jualan bubur ini?”
“Foodpanda juga, aku malah tahu dari teman-temanku, Jim. Jujur saja, aku kaget, bingung karena ketidaktahuanku itu. Karena… tidak ada kabar apapun darimu.” Tanpa saringan, Alice terus melemparkan keresahannya kepada Jimmy.
“Ah—” Kepala Jimmy mengangguk. “Foodpanda… Itu baru di-approve hari ini, tadi siang Yoyo sedang coba input menu dan kami tak menduga kalau langsung ada pesanan yang… Masuk, setelah itu langsung ditutup lagi, kok, karena dapur yang kerepotan dan belum siap untuk segera melengkapi info serta foto-fotonya.”
Alice tidak mendebat, semua alasan Jimmy mampu ia terima dengan baik. Namun, Alice masih belum menerima penuh ‘pengabaian’ itu, masih merasa aneh dengan Sing-Sing yang sama sekali tidak mencari dirinya.
“Lalu… Sing-Sing, apa dia tidak mencari diriku? Tidak merengek meminta telepon atau video call ke aku?”
“Kalau soal itu… Berhubungan semua dengan malam ini.” Jimmy menegakkan tubuhnya. Kedua sikunya bertumpu di permukaan meja.
“Aku, ah—bukan-bukan… Tadi ada beberapa kerabat lain yang datang juga, meramaikan hari pertama berjualan bubur… Lumayan ramai tadi, Sing-Sing jadi sibuk bermain dengan saudara yang lain—” Jimmy mencoba menarik senyuman tipis.
“Aku tidak mengabaikanmu, Lis. Aku pikir pasti kamu akan datang malam ini, kesini, seperti biasa. Kami menunggu, tapi kamu tidak muncul-muncul. Mau kuberikan kabar, ya balik lagi… Takut mengganggu kesibukanmu atau waktu istirahatmu yang sudah larut ini—” Jimmy menghela napas ringan. “Begitu…”
Selesai mendengar hal itu, sudut bibir Alice sempat tertarik turun namun segera kembali terangkat, menimbulkan senyuman tipis.
Huh, salah paham? Semua gara-gara kelakuanku yang mencoba menarik diri dari hadapanmu.
“Maaf, Lis. Kalau malah jadi salah sangka dan membuatmu sampai datang kesini dan umh—” Sekilas Jimmy menyesap bibir bawahnya. “Meminta kejelasan?”
Pada akhirnya, Alice dapat sedikit menghela napas lega. Setelah mendengarkan penjelasan kenapa dirinya merasa terabaikan hari ini.
Tetapi Alice belum memberikan alasan kenapa sikapnya begitu ketus dan galak di hari kemarin—rasa cemburunya.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Lis sumpah, gengsi kamu itu ya… Sampai menembus langit ketujuh! Astaga.
