‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

“Pa, habis ini kita makan dimana?”

Jimmy terdiam saat mendengarkan kalimat itu, sebab kata-kata itu bukan berasal dari mulut Sing-Sing. Tetapi berasal dari wanita yang sedang berjongkok dan memakaikan sebuah sepatu baru kepada Sing-Sing—Alice.

“Hah?”

“Makan malam dimana… Jimmy? Mau makan malam disini atau kita masak di rumah?” Sambung Alice lalu ia mengangkat tangan kanannya ke udara memanggil pramuniaga. “Maaf Kak, Ada satu nomor di atasnya? Ini terlalu ngepas.

Selesai dengan pramuniaga—Alice masih belum mendapatkan jawaban dari Jimmy. Hingga akhirnya bola mata Alice berputar dan menatap penuh ke arah Jimmy yang masih terdiam membisu.

“Ah, oh—” Lamunan Jimmy pun buyar. “Di sini saja, sekalian mau berkunjung ke tempat kenalan.”

“Kenalanmu?”

Kini Alice sedang menepati janjinya, membelikan sepatu untuk Sing-Sing yang telah berani naik eskalator. 

“Memang itu uang kamu, tapi jangan sering-sering, Lis… Kebiasaan nantinya,” ucap Jimmy dengan perlahan ketika mereka keluar dari dalam toko sepatu.

“Paham. Lagipula ini hadiah karena pencapaian besar. Bukan untuk hal-hal remeh, tahu sendiri ‘kan, butuh berapa lama hingga ia akhirnya menemukan keberanian untuk bisa naik eskalator itu.”

Mereka kembali menghabiskan waktu untuk sekadar berkeliling—melakukan window shopping. Alice sempat berasumsi kalau Jimmy akan membawa mereka ke restoran yang high class berskala fine dining. Mengingat Jimmy adalah mantan executive chef

Namun, dugaan itu salah. Mereka tidak mengunjungi restoran mewah yang sepi dan kedap. Jimmy merujuk mereka ke sebuah restoran dengan aroma gosong yang begitu umami—sedap, manis dan gurih. Restoran yang menu utamanya adalah sate khas Jepang—kushiyaki.

Jimmy sempat menyapa kenalannya, tepat di depan pintu dapur restoran itu. Bercakap-cakap sebentar, lalu sosok pria paruh baya itu menyempatkan dirinya mengangguk—memberikan salam kepada Alice dan juga Sing-Sing.

Begitu kembali ke meja, Jimmy segera membeberkan sebuah cerita. Kalau kenalannya itu memiliki kesamaan nasib dengan dirinya.

Sama-sama lelah dengan perpolitikan dapur kelas tinggi dan mewah, lalu banting setir. Kalau Jimmy menggunakan uang pribadinya untuk membangun restoran kecil di Sham Shui Po. Sementara kenalannya itu berbeda, ia memilih bekerja sama dengan investor untuk membangun sebuah restoran di dalam pusat perbelanjaan dan kini tengah bersiap untuk membuka cabang berikutnya.

“Kamu… Ada niat buka cabang juga memangnya, Jim?” tanya Alice sesaat setelah Jimmy selesai bercerita.

“Cabang?” Jimmy menahan tawanya. “Satu saja masih kerepotan,” sambung Jimmy sembari menyuapi Sing-Sing.

Sesungguhnya Alice telah menyiapkan suatu rencana—namun, entah kapan bisa direalisasikan. Seperti yang pernah ia kemukakan kepada Jimmy. Resto yang terus berkembang stabil pada akhirnya akan terbentur—bottleneck—potensi tertahan karena terbatas oleh ruang yang ada.

Ditambah lagi, Alice memiliki deposito yang akan cair akhir bulan ini. Sehingga ia memutar otak harus ‘menaruh’ dimana lagi uang dinginnya itu. Sempat terpikir olehnya untuk berinvestasi dengan membeli bangunan niaga di Sham Shui Po—mirip dengan restoran Jimmy hanya saja harus lebih besar dan lega.

Lantas apa bangunan itu untuk ia berikan kepada Jimmy? Tentu tidak. Alice merencanakan akan menyewakan aset itu ke Jimmy dengan uang sewa cukup lewat sistem bagi hasil—tidak mencekik Jimmy dengan kenaikan harga sewa setiap tahunnya.

Akan tetapi, rencana itu masih tetap angan-angan saja. Tidak mungkin semudah itu menceburkan seorang Jimmy Lau untuk melakukan langkah ekstrim tersebut. Alice masih harus mencari kesempatan dan membutuhkan pemicu logis untuk mendorong sang koki ke level berikutnya.

“Eh, Eh, Apa maksud senyuman itu?” tanya Jimmy.

“Huh?” Tak sadar, Alice sedang tersenyum sendiri karena memikirkan rencana yang sedang ia matangkan itu.

“Jangan bilang kamu punya rencana aneh lagi?”

Alice menggeleng sambil meracik saus tare dicampur dengan bubuk cabai merah.

“Ra—ha—sia, Jim,” ujar Alice ditutup dengan tawa terkikik.

Hah?

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅

Beberapa minggu setelah vaksin influenza, balas dendam elegan serta pengungkapan masa lalu Alice saat di playground anak waktu itu.

Hampir setiap hari—menjelang istirahat siang, Alice selalu berkutat dengan halaman website real estate di Hong Kong. Mencari informasi soal unit bangunan yang dijual di Sham Shui Po.

Keseruan saat menjelajah dunia maya itu harus terusik dengan kehadiran Maggie yang tiba ke dalam ruangan Alice.

“Mau pesan apa, Bu?” Alice segera mengangkat ponsel, seolah tahu kalau Maggie atau Karen yang masuk ke ruangannya di siang hari adalah sebuah tanda mau titip pesan makanan dari restoran Jimmy.

Maggie sempat tertawa saat mendengar Alice seperti seorang waiters, “Nggak, Bun… Saya ga mau pesan apa-apa, malah mau ngajak kamu langsung kesana.”

Dahi Alice mengerut heran. “Kesana? Kemana?”

Aiyah! Sing-Sing Eating House, lah. Kita makan disana, terus habis itu, kamu temani aku ke Kwai Chung, Lis!”

Alice menghelakan napas. “Meg, Sham Shui Po, loh, jam segini loh, aku tiap sore kesana aja… Susah parkirnya, yang ada kita tidak makan malah kehabisan waktu buat cari parkir.”

“Lah, naik mobilku lah, Lis. Pakai sopir—”

“Oke lah, yuk!” Alice langsung memotong ucapan Maggie—begitu tahu kalau tidak harus mengemudi sendiri.

“Dasar! Sedetik nolak, sedetik langsung bucin!”

“Eh, apaan? Bucin apaan?”

“Budak cintanya Sing-Sing!”

Hari ini mereka tidak membutuhkan Lexus LM—kendaraam operasional milik C&A yang memiliki tiga plat nomor—untuk melintas di wilayah Greater Bay Area (Hong Kong – Macau – Shenzhen)

Alice menumpang mobil Maggie, sebuah mobil sedan premium besutan Lexus lainnya—LS500h.

“Oh, Sing-Sing sudah sekolah?”

“Sudah Meg, sudah dari minggu lalu.” Alice melebarkan senyumannya.

“Hooh, K1, ya?”

Alice menjawabnya dengan anggukan kepala.

“Oh, oh, gimana Lis rasanya? Senang? Dulu sih tiap kali anak aku masuk sekolah di hari pertama, rasanya seneng banget… Habis itu—” Maggie menggetarkan bibirnya—mengeluarkan bunyi brrr. “PR lah, prakarya lah, disuruh bawa ini-itu… Pokoknya ada aja!”

Alice menarik napas cepat dan menegakkan tubuhnya. “Ya, ga ngerasain juga sih… Pas hari pertama dia sekolah kemarin itu, aku ‘kan ke Bangkok. Belum lagi, Sing-Sing juga masuknya jam delapan pagi, pulang jam sebelas… Sementara jam segitu aku harus ngantor, ya… Pokoknya sulit deh.”

Maggie mengatupkan bibir. “Jadi, kamu cuma ketemu dia setiap sore sampai malam?”

“Yap, sama sabtu-minggu full, sebab dia akan menginap di rumahku.”

Maggie tersenyum simpul, “Ya… you’re a working mom. Kita kurang lebih sama lah Lis, ketemu anak waktu sore ke malam. Baru bisa erat sama mereka pas weekend.”

Mom, ya? hehe—” Alice bergumam sambil menahan tawa.

“Terus—” Maggie menopang dagu, tangan kanannya bertumpu di arm rest. “Kalau… Sama Jimmy nya… Gimana, Lis?”

“Huh, gimana apanya?” Sekilas Alice sempat tersenyum simpul. “Masih ga ada apa-apa, ya, Meg,” jawab Alice.

Alice menutup rapat-rapat persoalan kalau mereka sudah pernah berpelukan karena permintaan polosnya Sing-Sing. Antara itu adalah sebuah hal yang eksklusif atau Alice memang tidak ingin gosip tentang dirinya dengan Jimmy merebak semakin liar.

Maggie meruncingkan bibir bawahnya sambil mengangguk. “Tahu kok… Lis, pas kamu ngamuk-ngamuk depan Karen. Maksudku tuh, sekarang kamu memandang ayahnya Sing-Sing bagaimana? Masih tetap sama seperti awal kalian berjumpa? Atau—” Maggie menjeda ucapannya, melirik sekilas ke arah Alice. “Sudah mulai mencintai satu paket bersamaan?”

Alice sempat mendecak, kemudian terdiam untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Alice menghela napas perlahan disertai ekspresi wajah yang berubah menjadi lebih tenang.

“Jimmy, dia itu… Sesungguhnya, pria yang bisa diandalkan, Meg. Hanya saja terjepit keadaan dari keputusan yang diambil olehnya.”

Sepuluh menit perjalanan mereka menuju Sham Shui Po, Alice melepaskan beberapa update cerita mengenai hubungannya dengan Jimmy dan juga Sing-Sing.

Ada cerita yang langsung di garis bawahi oleh Maggie: Keterlibatan Alice dengan memberikan pinjaman modal untuk pengembangan restoran Jimmy.

Namun, raut wajah Maggie tidak melukiskan kekaguman. Alisnya bertaut penuh heran. Tangannya bertumpu di armrest—menopang dagu dengan tubuh yang kini sedikit berputar ke arah Alice.

“Kamu agak… Mmh, nekat, ya.”

“Hah? Nekat gimana?”

“Gini—” Maggie menarik napas terlebih dahulu. “Dua hal yang aku tangkap ya, satu… Kamu enteng banget berinvestasi—menggelontorkan uang ke orang yang baru kamu kenal, memangnya kamu sudah melakukan due diligence kepadanya belum? Atau semata-mata kamu sedang dibutakan oleh perasaanmu terhadap Sing-Sing? Bagaimana kalau pria itu diam-diam malah memanfaatkanmu?”

Alice menyesap bibirnya, tak mau langsung menjawabnya. “Yang kedua, Meg?” malah ia menantikan hal kedua yang ditemukan Maggie.

“Yang kedua ini—” Maggie sempat menarik bibir bawahnya hingga menimbulkan suara decapan. “Ah sudahlah, ga perlu aku halus-halusin ke kamu… Lis, kamu itu tidak sedang mencoba membeli mereka, ‘kan? Dengan cara memberikan hutang agar mereka terikat denganmu? Seolah kamu adalah penyelamat mereka?

“Astaga! Non, non, tidak seperti itu!” sambar Alice menghentikan asumsi gelap yang keluar dari mulut Maggie.

Wanita seperti Maggie maupun Alice tidak akan cukup puas dengan kata “Tidak”. Mereka yang logis dan rasional butuh penjelasan untuk meruntuhkan asumsi mereka.

“Soal due diligence, Meg. Walaupun berskala amat kecil aku sudah melakukannya—dua kali. Pertama, saat aku menyelipkan tip berlebih—seribu dollar. Stafnya tidak nakal, Jimmy pun mengembalikannya ke hadapanku, dia menegurku—jangan berlebihan.” Sekilas Alice sempat tersenyum simpul. (Bab 23)

“Kedua, saat aku gemas dan memberikan pembaruan di mesin kasirnya. Kuberikan ponsel baru dan printer kasir… Ia juga kembali berusaha mengembalikan uang itu dalam waktu singkat. Terlebih dari itu Meg—” Alice terjeda, sempat membasahi bibir bawahnya dengan menyesapnya. “Lalu… Saat aku kucurkan modal, Jimmy meminta bukti hitam diatas putih dan—aku lengkapi dengan klausul kalau Jimmy sebagai pihak kedua harus terbuka mengenai kondisi keuangannya, juga laporan penjualan dan keuntungan bisnisnya kepadaku.”

Maggie terkekeh, topangan dagunya terlepas kini bahunya kembali bersandar penuh di kursi jok. “Alice… Alice—” Mata Maggie terpejam dan kepalanya sempat menggeleng. 

“Kamu menjawab selayaknya kita sedang melakukan pekerjaan kita, memprediksi perusahaan yang berpotensi namun kekurangan dana lalu kita suntik agar mereka bisa terus maju.”

Kepala Alice bergoyang, bibir bawahnya sedikit meruncing. 

“Lah, memang, begitu, ‘kan? Kamu sendiri yang memulai, nanyain soal due diligence.

“Ya, itu cuma mencatut istilah dari meja kerja kita doang, Lis. Ini kita membicarakan soal meja makan di rumah dengan segala dramanya, loh. Kamu itu… Ah, pasti kamu akan kesal lagi deh ini—” Maggie menjeda ucapannya seolah menunggu reaksi Alice.

“Apa? Aish, Just spill it lah!

“Kamu itu sesungguhnya… Telah menjadi ibunya Sing-Sing, memberikan cinta kasih kepada anak itu dan juga menjadi istrinya Jimmy. Pria itu mengurus dapur, kamu mengurus keuangan—menata, membangun ulang kehidupan mereka. Kamu itu… Sadar tidak sih? Kalau sedang mempraktekan kehidupan pernikahan dengan Jimmy.

Pfft… Hahaha” Alice sempat menahan tawa namun pada akhirnya pecah juga. Reaksinya kini tak lagi marah atau menghindar malah tertawa.

“Heh! Perlu dicatat, aku masih tetap menolak untuk dilabeli sebagai ‘istrinya’ Jimmy ya, Meg. Cukup sebagai ‘Maminya’ Sing-Sing saja. Kayaknya hubunganku dengan Jimmy itu… Lebih seperti orangtua yang sudah bercerai namun masih harus bekerjasama untuk membesarkan seorang anak dengan cinta kasih yang utuh.”

Maggie memutar bola matanya ke atas dan kepalanya menggeleng. “Haha… Walaupun sudah cerai, kalau masih ada rasa ‘kan bisa nikah ulang, Lis… Haha”

“Nggak!” sergah Alice dengan ketus.

Maggie masih tetap tersenyum lebar. “Ya udah gini aja, jawab ini dengan jujur… Perasaan kamu kepada Jimmy sudah sampai dimana? Ah salah, gimana?”

Mulut Alice terbuka semu, penuh ragu. “Mungkin… Ya, mungkin… Aku sudah mulai menyayangi dia sebagai teman? Karena aku—” Saat mulutnya merapat, timbul senyuman tipis di bibirnya. “Tidak mau kehilangan mereka.

Maggie kembali tertawa walau tanpa suara. Sementara Alice segera mencondongkan tubuhnya ke depan ke arah kursi sopir begitu tiba di wilayah Sham Shui Po. “Paman, nanti belok ke kanan lalu belok ke kiri di gang kedua.”

“Eh, Meg, baru ingat—” Alice memutar lehernya, menatap ke arah Maggie. “Suamimu punya perusahaan realtor, ‘kan? Boleh dong minta info, kalau beli properti di SSP, bangunan tong lau prospeknya gimana dan dia ada portfolio listing disini, ga?”

Bola mata Maggie berputar cepat, seolah tahu kalau Alice akan berbuat ‘hal gila’ lainnya. “Lis? Kamu mau beli satu gedung bangunan? Apa gimana?”

“Ya, enggak lah, saya tidak se-sultan itu, Bun… Cuma… Lagi nyari properti komersial aja di dekat sini, yang sekiranya strategis.”

“Buat—” Sebelah alis Maggie terangkat naik. “Apa, Lis? Kantor Hyunmoon Tech? Kayaknya ga mungkin, ‘kan?”

Ada desahan kecil disertai napas terhela. “Inves doang, Meg—”

“Ah, bohong kalau soal inves uang, investasi perasaan kali maksudnya? Aku tebak saja deh, mau beli bangunan terus sewain ke Jimmy? Perluasan? Cabang?”

“Ssst!” Alice mengangkat jari telunjuk kirinya ke depan hidungnya. “Jangan bocorin kemana-mana dulu ah, Meg.”

Maggie kembali terkekeh saat mendengarkan kegilaan yang sedang seorang Alice Moon rencanakan. Tetap dengan dalih yang sama, semua demi anak yang ia kasihi dan perasaannya sudah kian melebar, hingga untuk sang suami yang masih enggan diakui olehnya.

“Memang sudah ada yang kamu incar belum, Lis? Nanti aku coba tanyakan ke suamiku deh.”

Akhirnya, mereka berdua turun beberapa meter sebelum restoran milik Jimmy. Alice menunjuk ke bangunan yang tepat berada di sebelah Sing-Sing Eating House. Bekas toko kain yang sudah tutup operasional.

Alice bahkan sudah pernah mencoba menghubungi nomor yang tertera di bekas papan nama toko itu. Namun, tidak pernah tersambung.

Mungkin saja baik Jimmy, Ah Kit atau Yoyo yang notabenenya orang sekitaran sini—tahu keberadaan pemilik bangunan itu. Akan tetapi, jika Alice bertanya kepada mereka, itu akan segera memantik rasa curiga. Sebab yang Alice inginkan adalah secara diam-diam ia membeli gedung itu, daripada ditegur terlebih dahulu oleh Jimmy.

“Hahaha” Maggie tertawa renyah. “Duh, kamu itu kayak suamiku deh, Lis… Mending minta maaf daripada minta izin! Mending beli diam-diam, begitu barangnya ada dirumah—” Mulut Maggie meruncing. “Maaf sayang, aku khilaf… Halah…Basi!” tutur Maggie menirukan suaminya sendiri.

Pfft. Ya… Intinya deh, bisa bantu, ga? Suamimu?”

Maggie berdehem, “Hm, Nanti malam deh, coba aku tanyain ke suamiku, ya, Lis.” Maggie mengangkat ponselnya untuk mengambil beberapa foto tampak depan bangunan itu.

“Ya, Bun… Aku tunggu deh, kabar baiknya.”

Keduanya kemudian melangkah masuk ke dalam restoran milik Jimmy. Saat itu juga, Maggie menyaksikan sendiri bagaimana Alice si hiu korporat yang selalu mengerikan di atas meja rapat, bertransformasi menjadi seorang ibu. 

Alice melemparkan tas mahal miliknya begitu saja ke atas meja, melangkah masuk ke dalam dengan gerakan yang begitu cepat. Bukan untuk menyapa atau menggoda Jimmy, tetapi untuk segera menggendong dan mencium Sing-Sing. Selayaknya menumpahkan rasa rindu seorang ibu kepada anaknya.

Di mata Maggie ini adalah sebuah validasi dari seluruh hal yang telah ia lontarkan tadi. Alice tidak butuh rayuan—ikrar soal pacaran atau keintiman khas anak muda. Ia telah melampaui semua hal itu. Sebab Alice telah menjadi seorang ibu yang sempurna dan juga istri yang gengsian untuk mengakui suaminya. Baginya ini hanya tinggal menunggu waktu saja, sampai akhirnya tembok penyangkalan itu tergerus hingga setipis tisu.

Sudah ada indikasi kerasnya tadi—bahwa Alice menyayangi Jimmy walau bibirnya masih berucap kalau rasa sayang hanya itu sebatas teman. 

Ya, tinggal tunggu kapan Grand Opening-nya: Alice akan menyatakan bahwa ia mencintai seutuhnya ‘satu paket lengkap’ ini—Sing-Sing dan juga Jimmy.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅

Gila, si Alice… Mau beli bangunan diam-diam?

Doi ngegas ugal-ugalan? Nggak. Dia itu sekelas bulldozer yang siap ratakan bangunan dalam sekejap hanya untuk mendirikan kuil cinta di atasnya!

Btw… Lis, saya diundang ga nanti? ke Grand Opening cintanya kamu dan Jimmy? Ikut!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *