‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Biasanya Alice selalu meninggalkan ruangan hening di kantor Crestview & Associate (C&A) ketika langit sudah menjadi gelap demi menghindari kesemrawutan lalu-lintas pada jam pulang kantor. Namun, hari ini ia memilih untuk “teng go” begitu lonceng jam bubaran kantor berbunyi “teng“, ia langsung pergi “go”.
Hari ini, ia tidak berkendara seorang diri—ditemani oleh tiga buah buku anak-anak bergambar yang dibeli dari toko buku di pusat perbelanjaan yang satu gedung kantornya.
Senyuman tipis hadir ketika mobilnya terhenti di tengah tersendatnya lalu lintas—matanya menatap ke arah buku yang berada di sebelahnya. Membayangkan wajah Sing-Sing yang akan berbinar senang ketika melihat hadiah yang ia bawa.
Tidak sampai setengah jam, mobil milik Alice tiba di wilayah Sham Shui Po namun membutuhkan waktu sepuluh menit lainnya untuk mencari parkiran. Pada akhirnya mobil berhasil terparkir namun dengan jarak yang cukup jauh dari “Sing-Sing Eating House”.
Matahari belum berganti bulan, rona langit masih jingga namun lampu led pertokoan sudah mulai menyala untuk berbisnis. Tekad Alice sudah bulat untuk menepati janji kecilnya kepada Sing-Sing, tanpa ragu ia mengarungi lautan manusia yang berlalu-lalang di wilayah SSP—salah satu wajah urban Hong Kong yang dihiasi oleh berbagai pertokoan yang menjual barang-barang elektronik, tekstil dan kuliner kaki lima.
Sesekali ada alunan suara musik berbahasa Kanton yang bocor dari speaker pertokoan—beradu dengan suara pedagang yang sedang menjajakan dagangan mereka kepada Alice—sosok yang ‘mahal’ di SSP senja hari itu.
“Leng Lui! Leng Lui! iPhone case? Very cheap also nice! Ten dollar only!” (Gadis Cantik! Gadis Cantik! Casing iPhone? Murah dan bagus! Sepuluh dollar saja!)
Alice terus mantap melangkah—tak menghiraukan para pedagang yang kerap menggoda untuk menawarkan dagangan mereka.
Hingga dirinya tiba di depan Sing-Sing Eating House. Kali ini Alice dapat melihat jelas kondisi Tong Lau (bangunan tua) enam lantai itu—dinding luar dilapisi keramik kotak-kotak kecil warna hijau yang sudah agak rontok di beberapa bagian. Ada juga jalur pipa terekspos yang merambat di bagian atas dinding luarnya.
Alice segera melangkah masuk. Kali ini suasana di dalam sana sangat hidup—ada banyak pengunjung yang duduk menunggu pesanan mereka. Kebanyakan menunggu untuk Wai Mai (Take Away).
Dari tujuh meja makan, enam diantaranya telah terhuni. Sedangkan meja terakhir, tidak beroperasi—dipenuhi oleh sayuran segar dan tumpukan piring kotor yang belum dicuci.
Bunyi riuh dari kompor High Pressure mendominasi, disusul dengan sutil besi yang beradu dengan Wok (wajan besar) menguasai pendengaran Alice. Ada kepulan asap tipis disertai wangi lezat yang lolos dari tarikan exhaust fan—menyapa penciuman Alice.
Perutnya belum begitu lapar, mungkin akan menunggu sesaat hingga ketegangan di dapur mereda. Tidak ada waiters yang datang menghampiri, para pengunjung mengantri untuk memesan di kasir.
Sing-Sing dimana ya? Lagi sibuk seperti, jika dirinya berkeliaran akan menghalangi pergerakan mereka.
Alice menarik bangku plastik tanpa sandaran di meja terakhir yang tidak beroperasi itu—menjadikannya sosok mewah yang bersembunyi di belakang tumpukan sayur sawi, kol dan piring-piring kotor.
Wanita itu duduk tegak sambil menyilangkan tangan dan matanya memindai setiap pergerakan yang terjadi di dapur—mencari keberadaan si kecil Sing-Sing.
Nihil. Alice hanya mendapati empat pekerja termasuk Jimmy yang sedang sibuk dengan pesanan pelanggan. Tujuan utama Alice teralihkan ketika keadaan dapur mulai terasa kacau karena suara bentakan Jimmy yang memaki karena ada pesanan yang salah dibuat.
Para pegawai terus bergerak kesana kemari mengerjakan berbagai tugas sekaligus.
Hmmm, Sibuk namun tidak efisien.
Alice mengeluarkan ponselnya, bukan untuk bermain sembari menunggu waktu—membuka aplikasi stopwatch.
Kemudian sorot mata Alice terkunci kepada pelanggan yang baru saja selesai memesan di kasir. Seorang pria paruh baya. Setelah transaksi pembayaran terjadi, Alice menekan tombol start dan memperhatikan bagaimana alur pemesanan itu berlangsung.
Setelah beberapa menit mengamati, Alice memejamkan matanya. Tangan kanannya mengelus-elus dagu. Seolah ia menghentikan matanya untuk menilai dan membiarkan telinganya saja yang mendengarkan semua kekacauan itu.
“Ibu… Sudah pesan?” Wanita yang berada di kasir menyadari Alice yang sedang duduk menunggu di dekatnya belum memesan apapun. Mata Alice perlahan terbuka dan tersenyum simpul. “Nanti, saya sedang menunggu.”
Alice menekan tombol stop begitu pesanan dari pria itu telah terpenuhi.
Butuh sembilan menit… Untuk sebuah nasi goreng dan satu lauk pendamping. Ada berapa tiket antrian sebelumnya? Ini mungkin agak terlalu lama. Yang masak cuma dia? Ketika resto seramai ini?
Frustasi dengan ketidakefisienan yang berada di hadapannya, Alice mencoba mengembalikan tujuan utamanya—mencari keberadaan Sing-Sing. Apa dia di dalam? Alice melirik ke arah lorong dimana ada ruangan lain di belakang sana.
Kalau bertanya kepada pegawai “Dimana Sing-Sing?” mungkin akan terasa aneh dan membuat mereka waspada.
Ada sebuah papan petunjuk “Toilet” yang mengarah ke lorong, jadi separuh wilayah di dalam sana masih tempat umum untuk pelanggan. Alice bangkit—untuk berpura-pura ke toilet.
Sangat besar kemungkinan Sing-Sing masih berada di wilayah yang sama dengan para orang dewasa—tidak mungkin ia sedang main seorang diri tanpa pengawasan.
Benar saja. Ketika Alice tiba di depan pintu toilet, ia dapat menemukan kaki kecil yang menggantung bersembunyi di antara tumpukan krat plastik dari botol-botol kecap. “Sing-Sing?”
“Y… Yaa?” suara nyaring itu menjawab Alice.
Alice mendekat dan mendapati Sing-Sing tengah duduk manis—sedang menonton melalui layar ponsel yang diletakan pada sebuah stand holder.
Keberadaan gawai seolah menjadi pengasuh murah untuk anak umur tiga tahun agar tidak menghalangi para orang dewasa yang sedang bekerja. “Bibi Alisu!” pekik Sing-Sing dan langsung berusaha berdiri dari kursi plastik putih dengan sandaran itu.
Alice langsung tersenyum, sebab si kecil itu dapat mengingat sosok dirinya—padahal pertemuan mereka kemarin malam begitu singkat.
“Sing-Sing mau pipis,” ujarnya saat mendekati Alice.
Hah?
“Pi… Pipis?”
Biasanya anak kecil akan mengenakan diapers untuk menampung air seni mereka. Namun, Sing-Sing sepertinya sudah lulus toilet training. Sehingga ia sudah mampu mengutarakan keinginannya untuk buang air dan meminta bantuan orang dewasa untuk menemaninya di toilet.
Aduh bagaimana ini? Di depan sana sedang repot—kacau.
“Pipis-pipis! Sing-Sing mau pipis!” pekik suara Sing-Sing membuat Alice langsung menjatuhkannya kepada sebuah keputusan: ini darurat daripada dia mengompol.
Toilet itu tidak kotor jauh dari kata dekil dan menyeramkan. Cenderung bersih hanya ada sedikit jejak bau amis tersisa saja.
“Sebentar, ya…” Alice menekan tombol flush terlebih dahulu, meletakan tas miliknya di atas wastafel—mencabut dua lembar tisu basah dari dalam tas miliknya—untuk membersihkan permukaan toilet duduk itu terlebih dahulu.
Alice menarik lengan panjang blouse-nya. Saat semuanya sudah siap dan menoleh ke belakang, Sing-Sing sudah melepaskan sendiri celana serta dalamannya.
Hoo… Dia hebat, dia mandiri. Sudah bisa melepaskan celananya sendiri.
Kenapa Sing-Sing meminta bantuan? Karena tubuh kecilnya itu masih belum pas dengan dudukan toilet. Sehingga membuat Alice harus menggendongnya sambil membungkukan badan.
Saat itu tatapan keduanya bertemu dengan jarak yang sangat dekat. Tanpa ragu, Alice melabuhkan senyumannya ke arah Sing-Sing.
“Ehehe, Bibi Alisu cantik deh…” puji Sing-Sing.
“Duh, terima kasih sayang.” mulut Alice tersenyum lebar tetapi di dalam hatinya ia sedang berteriak kegirangan dipuji oleh kepolosan anak kecil yang telah menyita perhatiannya sedari kemarin.
Begitu selesai, Alice segera membantu Sing-Sing untuk memakai celananya kembali. Saat itu Alice sudah tidak peduli kalau celananya akan kotor, sebab dengkulnya tengah tertekuk dan bertumpu di lantai. Matanya tetap lekat memperhatikan Sing-Sing sambil tetap menarik karet celana Sing-Sing hingga celananya itu terpasang sempurna.
“Eh, Sing, Bibi bawa buku baru loh buat kamu… Kita baca di depan, yuk?”
“Enggak bowleh ke depan kata Papa, ganggu… Sing-Sing mau di belakang saja…”
Jawaban polos itu membuat hati kecil Alice sedikit memberontak. Tindakan ini benar, karena mengusir si kecil dari area panas nan berbahaya di dapur sana. Namun, ruangan dimana Sing-Sing diasingkan itu agak pengap dan pencahayaannya pun—tidak begitu terang seperti di wilayah depan.
Tidak ada kursi lain dibelakang sana—membuat Alice harus memangku Sing-Sing sambil memberikan tiga buku baru yang ia bawa. “Dino! Kereta! Plincess!“
Lima belas menit telah Alice habiskan untuk memeluk tubuh kecil itu sembari membacakan sebuah buku. Sing-Sing juga tampak begitu antusias dengan buku barunya.
“Sing-Sing?” Suara Jimmy terdengar diiringi dengan bunyi derap langkah yang cepat. Alice menoleh ke arah kiri dimana sang Papa kini berada di hadapan mereka.
“Sorry, tadi mau ke toilet, malah bertemu Sing-Sing disini.” ucap Alice. Menjelaskan sebelum Jimmy marah karena Alice telah melanggar batas privasi.
Alis Jimmy segera bertaut heran, bukan kesal. Mungkin heran bagaimana sosok wanita mahal seperti Alice mau menemani anaknya di ruangan pengap dan sempit itu.
“Papa-Papa, buku bawru dari Bibi!” Sing-Sing mengangkat buku barunya.
Untuk sesaat Jimmy terperangah. “Sing jangan merepotkan orang lain, nonton lagi saja, habis ini kamu harus mandi…”
“Maaf, merepotkan anda… Tinggalkan saja Sing-Sing disini.” Jimmy memisahkan dua botol kecap dari krat plastik di dekat Alice lalu meletakkannya di meja. Jimmy kemudian melangkah mendekati keduanya.
“Sing, ayo.” Jimmy mengulurkan tangannya.
“Gak,” Sing-Sing menjawab.
“SING-SING…” suara Jimmy bereskalasi—tangannya mulai meraih lengan Sing-Sing.
“Gak, Gak!”
“SING-SING!” Jimmy mulai berteriak tegas.
Alice sedikit terkejap saat suara pria itu menggema pada seisi ruangan. Ah, mungkin saja dia tidak nyaman dengan kehadiranku.
“Ho la, ho la…” Alice yang menyerah—mencoba mengurai ketegangan yang terjadi dengan mengangkat tubuh Sing-Sing untuk diberikan kepada Jimmy. (Baiklah… Baiklah…)
“GAK MAU GAK MAUUU!!!” Kali ini Sing-Sing yang menjerit dan meronta. “Maunya sama Bibi! Sama Bibi!”
“LAU HUI-SING!” Sekali lagi Jimmy memperingati Sing-Sing. Tangan Jimmy mulai menyentuh ketiak Sing-Sing.
“BOSS? Pesanan!” Ada teriakan di ujung lorong, sebuah teriakan panik karena dapur telah kehilangan mesin masaknya.
“Sebentar!” pekik Jimmy. Tubuh Sing-Sing telah berhasil diangkat oleh Jimmy.
“Ayo Sing, main di depan saja,” bisik Alice.
“GAK MAU!” Kaki kecil Sing-Sing mulai beraksi—menendang dada Jimmy. Sing-Sing semakin menjerit kencang dan mulai menangis—dalam sekejap ruangan sempit itu dikuasai oleh tangisannya.
Mulut Alice terbuka ragu—tidak tega melihat hal ini terjadi di depan matanya. “M… Maaf, kalau kamu tidak keberatan, saya bisa menemani dia sebentar.”
Jimmy menarik napas cepat dengan alis yang bertaut ragu, tatapannya berlabuh kepada Alice untuk beberapa detik.
“Bibi Alisu! Bibi! BIBIII!” jerit Sing-Sing.
“Maaf, maafkan saya.” Jimmy menyerah—mengembalikan Sing-Sing kepada Alice.
“Mungkin… Sepuluh menit saja, kalau dia masih menangis, boleh bawa saja ke depan.” Pria itu menghindari tatapannya—mungkin ada rasa malu karena mempercayakan putri kecilnya kepada orang asing yang baru saja jadi pelanggan kemarin malam.
“I… Iya, tak masalah… Silahkan kembali bekerja.” Alice tersenyum dan kembali menggendong Sing-Sing sepenuhnya.
Tangisan anak itu terhenti. Jimmy melangkah mundur, berkali-kali membungkukan badannya sambil membawa dua botol kecap yang diambilnya tadi.
“Koki sana kembali! Masak!” Keinginan yang sudah terpenuhi, membuat Sing-Sing mengejek—mengusir Jimmy agar kembali ke dapur dan berkutat dengan pekerjaannya.
Hingga akhirnya Alice dan kembali membacakan buku untuk Sing-Sing.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Sepuluh puluh menit kemudian, riuh di depan sana perlahan berkurang. Ketika Alice menoleh—membaca suasana, pengunjung sudah mulai menghilang—mungkin kesibukan di dapur juga sudah mulai berkurang. Menyisakan beberapa pengunjung yang sedang makan ditempat saja.
Sosok Jimmy kembali ke belakang dengan tergesa-gesa. “Sing, ayo sini, kita mandi…”
“Ga mau… Sing-Sing mawsih mau baca! Eh, tadi… tadi, Sing-Sing piwpis ditemani Bibi Alisu…”
Astaga anak kecil—agak acak ya? Dari bilang masih mau baca, lalu memberikan informasi berlebih yang tidak nyambung?
“A… Astaga Sing-Sing—” Jimmy menghela napas. “Kan, kamu bisa ke depan, minta Bibi Yoyo untuk menemanimu…” Sorot mata Jimmy seketika langsung menghindari Alice.
“Ah, tidak masalah,” sambar Alice. Seketika Jimmy langsung membungkukan badannya beberapa kali. “Terima kasih, terima kasih dan maaf. Jadi merepotkan anda…”
“Sing! Ayo…” Jimmy mencoba kembali membujuk dengan tangan yang menjulur untuk menggendong Sing-Sing.
“Sing, ayo mandi jangan bikin Papa marah lagi, habis mandi… Nanti bisa main lagi sama Bibi…” Alice berbisik dan Sing-Sing langsung bergerak. “Iya…” Sing-Sing menurut dan segera berpindah ke pelukan Jimmy.
“Ah, maaf, Nona… kalau mau pesan makan, kalau mi, bisa langsung dibuatkan… Kalau mau yang lain… Harus menunggu sebentar, saya harus memandikan dia dulu,” ujar Jimmy.
Alice menjawab dengan senyuman tipis serta anggukan kepala kecil. Perlahan, Alice membuntuti sosok Jimmy dan Sing-Sing hingga kembali ke area depan—langsung berdiri dihadapan kasir untuk memesan.
Alice diam berdiri untuk beberapa saat—menimang beberapa daftar menu.
Hmm, nasi goreng Yang Chow kali, ya? Ah, rupanya aku terpengaruh oleh soft sellingnya Sing-Sing kemarin malam? Oke kalau begitu, mari kita coba seberapa enak buatan Chef Jimmy.
“Maaf, Bu, kalau untuk nasi goreng, harus—”
“Menunggu? Tak apa-apa,” potong Alice sambil memberikan kartu oranye miliknya untuk membayar pesanannya.
Siapa sangka aku akan menggunakan kartu Octopus ini lagi. Kartu yang sudah terkubur lama di dalam dompet kembali bekerja di tempat seperti ini.
Mata Alice kembali memperhatikan area di meja kasir. Sekilas ia kembali memperhatikan kembali artikel-artikel yang berada di sana.
Hingga tatapan Alice bergeser—berlabuh ke sebuah botol tip jar itu—uang Golden Cow yang ia berikan semalam masih berada disitu. Berarti pekerja disini tidak jahil untuk mencuri uang itu.
Setelah transaksi selesai—Alice segera menempati meja kosong, kali ini ia duduk menghadap luar dimana sinar matahari kini sudah berganti menjadi gelapnya malam dan lampu warna-warni mulai menghiasi pertokoan lain diluar sana.
Oh ya, Chilli Oil!
Alice si penyuka pedas kembali menyoroti botol bening di meja. Ia kira Chilli Oil yang semalam akan berbeda—akan cair karena ditambahkan minyak sayur ketika sudah mulai menipis demi penghematan.
Tidak. Chilli Oil itu masih tetap sama, kepadatannya konsisten dengan yang semalam. Duh sedap nih kalau nanti makan nasi gorengnya dicampur ini.
Menunggu. Alice tidak membuang waktu secara cuma-cuma dirinya segera sibuk dengan ponsel—melihat jadwalnya di hari esok.
Astaga hampir lupa, besok subuh harus ke Macau!
Begitu selesai dengan ponselnya, Alice menghelakan napas. Restoran dan si kecil Sing-Sing mengingatkan dirinya akan masa lalu.
Alice tidak terlahir dari keluarga Golden Spoon. Ketika masih kecil, keluarganya memiliki usaha ayam goreng—bahkan dirinya pernah terkena percikan minyak panas ketika masih balita. Hasil kerja keras orang tua dan restoran itu mampu mengantarnya hingga meraih gelar sarjana satu.
Jadi… Ya, memisahkan Sing-Sing dari dapur adalah sebuah solusi murah namun ironis—memicu potensi kecanduan gawai.
Untuk gelar Master Alice meraihnya sendiri melalui beasiswa di Prancis. Perjalanannya berat karena ia harus bekerja paruh waktu di Prancis untuk menyambung hidup. Berhemat dan bahkan tinggal serumah dengan pacarnya saat itu, Kwon Hyunwoo. Mereka mengakali pajak dan izin kerja dengan memanfaatkan hukum PACS.
Sehingga kehidupan menengah dan sederhana serta perjuangan keras di balik kedai Sing-Sing Eating House seakan menjadi sebuah refleksi dari masa lalunya.
“Bibi Alisuuu!” suara si kecil Sing-Sing memecah lamunan Alice mengenai masa lalunya. Dengan cepat senyuman Alice merekah untuk ia berikan kepada anak itu.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅

Author Notes:
Sejak 1999, Prancis punya hukum PACS (Pacte civil de solidarité), yaitu bentuk kemitraan sipil yang mirip pernikahan tapi lebih ringan. Pernikahan versi lite.
Prosedur Super Gampang: Tidak perlu pesta, tidak perlu pendeta. Cukup datang ke pengadilan setempat (Tribunal d’instance) atau notaris, tanda tangan kertas, selesai. Bubarnya pun gampang: cukup kirim surat putus resmi.
Dengan mengambil PACS, mereka menciptakan simbiosis mutualisme hukum yang sempurna: Hyunwoo (mantan pacar Alice) mendapatkan pemotongan pajak progresif yang signifikan karena penghasilan tingginya, kini dihitung rata dengan pendapatan rendah Alice.
Sebagai imbalannya, Alice memperoleh status residensi “Vie Privée et Familiale” yang mengamankan izin tinggal dari birokrasi imigrasi dan menghapus batasan kuota jam kerja mahasiswa, mendapatkan kebebasan legal untuk bekerja penuh waktu kapan saja tanpa takut dideportasi.