‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Sosok Sing-Sing telah berada di seberang jalan—digendong oleh seorang pria. Tentu saja netra Alice segera menangkap kehadiran sosok malaikat kecil itu.
Begitu tiba di depan restoran, Sing-Sing langsung memasang senyuman lebar, tubuhnya sedikit meronta—meminta turun dari gendongan.
“Mamaaa!”
Sempat terpikirkan oleh Alice, kalau julukan itu tidak akan bertahan sampai ke hari ini. Begitu tidur malam dan bangun pagi, Sing-Sing akan melupakannya.
Nyatanya, tidak. Sing-Sing masih tetap memanggil Alice dengan Mama. Anak itu langsung memeluk dan merebahkan kepalanya di pangkuan Alice.
Sosok pria dewasa yang tadi menggendong Sing-Sing memasang raut wajah heran. Saat bertatapan, Alice memberikan senyuman tipis serta anggukan kepala ringan sebagai sebuah salam.
Pria segera memantapkan langkah ke dalam restoran. “Sing, Paman ke dalam, ya…”
Alice segera memperhitungkan berbagai macam efek yang akan segera terjadi. Pasti pria yang tadi akan segera bertanya: siapa sosok asing yang dipanggil sebagai ‘Mama’ oleh Sing-Sing?
“Anak… Kamu, Je?” tanya Rocky—rekan bisnis yang duduk di hadapan Alice, sedang menikmati hidangan makan malamnya.
Sebuah gelar intim namun ketika berada di lapangan, harus banyak melakukan klarifikasi.
“Ah, ini… Anak ketemu gede.” hanya kalimat singkat terasa konyol itu yang dapat diberikan oleh Alice untuk merangkum hubungannya dengan Sing-Sing.
“Sing, Mama masih ada perlu sama Om… Kamu ke Yoyo dulu, ya?”
“Ga mau… Sing maunya disini sama Mama…” Sing-Sing bahkan sudah mulai memanjat ke pangkuan Alice.
“Ya, udah boleh tapi Sing-Sing duduk tenang dulu ya, habis ini Mama janji kita akan menemanimu, oke?”
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Di dapur, Jimmy pun mendapatkan pertanyaan dari kerabatnya—mempertanyakan sosok Alice.
“Yeung, siapa wanita itu? Bukan Priscilla, ‘kan?”
Dahi Jimmy berkerut kesal. “Bukanlah, ngaco.” Nada suara Jimmy terkesan sinis.
“Oh, ku kira si Pris, pulang-pulang oplas sampai tidak kukenali.”
Jimmy menggeleng—tetap sibuk menyiapkan pesanan dari konsumen lainnya.
Sebab Priscilla adalah nama ibu kandungnya Sing-Sing. Wanita yang telah meninggalkan Jimmy.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Alice memejamkan mata. Tubuhnya bersandar pada tembok keramik—dingin namun menyegarkan untuk mengusir penat setelah bekerja seharian penuh.
Keperluan bisnis di hari ini telah usai. Tinggal mengisi kebutuhan jiwanya, memeluk anak itu sebelum absen tiga hari kedepan.
Sing-Sing masih berceloteh di pangkuan Alice sambil membuka halaman demi halaman dari sebuah buku. Setiap tutur kata dari anak itu membuat Alice tersenyum lebar. Sesekali mengusap lembut kepala anak itu sambil menanggapi ucapannya.
Sudah tidak ada suara riuh pengunjung—berganti ke bunyi dentingan peralatan makan keramik yang beradu serta suara gesekan kasar dari wok yang sedang dibersihkan oleh Jimmy.
Sing-Sing Eating House akan segera beristirahat.
“Mama cape? Mama bobo?” Sing-Sing menyadari Alice yang sedang terpejam.
Alice membuka matanya perlahan diiringi senyuman di bibirnya. “Tidak bobo sayang, cuma mata Mama saja yang lelah.”
“Kalo gitu, Mama nginep di kamar Sing-Sing bobo sama aku dan Papa, ya…”
Alice lengah, kepolosan murni dari Sing-Sing membuatnya terkekeh. Walau dalam hati Alice ingin menjawabnya, “Tidak seperti itu sayang.”
Walau sempat sedikit tersipu, Alice hanya menjawab lewat pelukan yang lebih erat—melengkungkan tubuhnya agar bisa mengecup pipi Sing-Sing. “Nanti ya, kapan-kapan.”
Alice menjadi pelanggan terakhir di restoran itu. Bahkan ketika Yoyo berpamitan pulang dan folding gate telah ditutup setengah ia masih menemani Sing-Sing.
“Jadi, mulai sekarang panggil Bibi Alice sebagai Mami saja, ya. Jangan Mama?”
“Iya! Ehehe, Mami Alice!” ujar Sing-Sing yang masih tetap energik.
Jimmy tiba di hadapan mereka berdua. Meletakkan sebuah kantong plastik merah memuat dua kemasan thinwall di dalamnya.
“Apa ini, Jim?”
“Bekal untukmu… Besok pagi.”
Jimmy menempati kursi di hadapan Alice. “Padahal besok malam aku mau coba R&D dan Test Food untuk menu pagi, kamu malah pergi, Lis.”
Alice mengangkat telunjuk tangan kiri ke ujung hidungnya—mengisyaratkan sesuatu agar Jimmy segera menutup mulutnya. Alis Jimmy bertaut heran tidak mengerti kode yang Alice berikan.
“Jangan bilang kalau aku akan pergi, Jim.” Bisik Alice.
“Kenapa?”
Alice menggeleng sambil tersenyum. “Biar dia ga nyariin aku.”
Giliran Jimmy yang tersenyum mendengarkan alasan Alice. “Bilang saja, Lis. Kalau tidak, nanti bertambah runyam.”
Mata Alice berkedip cepat, “Runyam gimana?”
“Dia pasti akan bertanya, kenapa kamu tidak muncul? Kamu pergi kemana? Itu… Akan membuatku harus berbohong kepadanya nanti.”
Alice menghela napas. Apa yang Jimmy katakan—benar.
“Sing—” Alice mengusap bahu Sing-Sing—meminta atensinya.
“Ya, Mami?”
“Mami, besok mau pergi beberapa hari… Jadi mungkin tidak bisa menemui kamu, Sing…”
“Pergi kemana?”
Alice terdiam ragu—sekilas bola matanya sempat melirik ke arah Jimmy.
Pria itu memberikan senyuman sambil menganggukan kepala, seakan memberikan sebuah izin dan keyakinan bagi Alice untuk terus berkata jujur kepada buah hatinya.
“Sing, Mami mau ke Shenzhen dan Shanghai… Mami ada urusan kerja.”
“Sing mau ikut!”
Inilah ketakutan kedua Alice. Kenapa ia ingin merahasiakan kepergiannya. Bagaimana anak itu merengek meminta untuk ikut. Tidak tega serta tidak tahu bagaimana cara melarang atau memberitahukannya.
Apa anak sekecil ini akan mengerti kesibukan orang dewasa?
“Sing—” Jimmy mulai turun tangan. “Mami pergi kerja, bukan pergi bermain… Yang ada kamu mengganggu Mami kerja, tidak boleh, ya?” Tangan kanan Jimmy menyentuh pipi Sing-Sing. Membuat anak itu mengangguk paham.
Rupanya tidak sesulit itu. Mungkin aku sudah terlalu tenggelam dalam kehidupan dewasa—dimana kebohongan kecil dan menutup-nutupi sesuatu adalah sebuah makanan sehari-hari.
Sing-Sing itu masih kecil, masih sangat murni. Berkata jujur, berikan pemahaman yang lurus. Bukan mencemarinya dengan kebohongan, jika dia melawan maka itulah tantangannya, mengajari pemahaman dan benturan kehidupan—mengajarkan bagaimana cara mengalah.
“Lis, bukannya aku mau mengusir… Tapi kamu sebaiknya pulang, segera beristirahat.” Di mata Jimmy, dua perempuan yang berada di hadapannya sedang memberikan sorot mata yang serupa—sayu.
“Sayang, Mami pulang, ya. Mami lelah, mau bobo, kamu juga bobo, ya… Kalau Sing-Sing tidak rewel dan pintar… Nanti kita pergi berenang lagi, Sing-Sing mau berenang, ‘kan?” Alice mengeratkan pelukannya.
“Iya, Mami…” Melihat wajah Alice yang sudah berada disampingnya, si kecil langsung mendaratkan sebuah kecupan di pipi Alice, seolah tahu mereka akan segera berpisah.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Tidak ada drama saat Alice berpisah. Begitu si kecil berpindah ke tangan Jimmy, Alice segera meninggalkan restoran dengan mulus—tanpa jeritan tak ingin berpisah.
“Thank’s Jim, bekalnya.” Alice mengangkat sedikit kantong plastik sambil melambaikan tangannya ke arah Sing-Sing.
“Nanti, kalau sudah balik ke HK, main kesini ya, Lis. Aku butuh pendapatmu untuk menu baru nanti.”
Dahi Alice berkerut tipis. “Non, buat apa kamu meminta pendapatku? Kamu tentukan saja sendiri, Jim. Soal rasa itu—”
Alice tersenyum simpul sambil sedikit menggeleng. “Bukan ranahku, itu bidangmu. Jangan membuang waktu untuk menentukannya. Just… Surprise me, aku percaya dengan apa yang nanti kamu buat, ok?”
Mungkin Jimmy sudah tahu kebiasaan Alice yang suka ‘Live Comment‘ dengan kondisi makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Jimmy ingin menjadikan ‘standar Alice’ sebagai patokan dari menu baru yang sedang direncanakan.
Namun, bagi Alice—ia tidak ingin birokrasi dapur tersendat karena melibatkan dirinya yang akan pergi keluar kota untuk beberapa saat. Itu akan membuang waktu, karena kondisi pagi hari di Sing-Sing Eating House sedang bercelah—tidak ada ‘koki utama’ yang memasak dengan wajan besar demi waktu bersama buah hatinya.
Jimmy harus bergerak cepat dengan menghadirkan menu Kopitiam yang mampu dibuat oleh Ah Kit untuk menutup celah di pagi hari.
Jimmy dan Sing-Sing berada di ujung pintu restoran—memperhatikan sang ‘Mami’ yang telah perlahan menghilang dari hadapan mereka.
“Papa… kata Mami… Nanti… Nanti kalau Mami mengantuk… Mami mau tidur sama Papa,” ujar Sing-Sing.
“Eh—” Jimmy langsung memutar kepalanya—menatap ke arah Sing-Sing. “Ngomong apa kamu Sing?”
“I… iyah, tadi… tadi Mami ngantuk, Sing bilang tidur sama Sing dan Papa, kata Mami… katanya kapan-kapan.”
Pada akhirnya Jimmy tersenyum dan menggeleng—mungkin Sing-Sing telah salah dalam menangkap perkataan Alice.
ˎˊ˗⋆。°✩📄
Semakin dirinya tenggelam ke dalam dunia Sing-Sing Eating House, batasan yang pernah Alice bangun dan ia kemukakan kepada Jimmy seakan semakin tipis.
Bukan Alice yang menipiskannya, tetapi karena tangan kecil Sing-Sing yang kerap menariknya untuk terus masuk ke dalam kehidupan mereka.
Seolah perkataan Maggie tadi siang perlahan menjadi tepat. Soal: “Mereka itu satu paket.”
Sejauh ini, sampai detik ini, seisi kepalaku masih terus berasaskan kepada Sing-Sing. Namun, Jimmy?
Alice mengeratkan pegangannya pada kantong plastik merah, berisikan masakan yang Jimmy buat sebagai bekal untuknya.
Kalau sampai aku melepaskan semuanya? Membiarkan perasaanku mengalir dan pada akhirnya perasaan untuknya itu lahir?
Apa yang akan terjadi?
Sebab setiap kali aku mencintai seseorang…
Mereka akan menghilang. Hyunwoo lalu Raymond.
Kalau sampai aku mencintai Jimmy?
Kutukan itu? Akan menimpaku lagi? Aku… Tidak akan kehilangan satu orang. Tetapi langsung dua, sebab mereka satu paket?
“Hah…” suara desahan lolos dari tenggorokan Alice.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Fajar menyingsing. Hari sudah berganti.
Pukul tujuh pagi, Alice sudah berada di lobi apartemennya—menunggu dijemput untuk perjalanan ke Shenzhen.
Ada koper, laptop bag, shoulder bag hingga sebuah kantong plastik merah yang sedikit beruap panas—menemani Alice di pagi itu.
Mobil kantor tiba, Lexus LM dengan tiga plat nomor berderet disopiri Paman Lam siap mengantarkan Alice menuju kesibukan dunia kerjanya—perjalanan darat menuju Shenzhen.
Alice tidak tahu apa yang dibuat Jimmy untuknya. Semalam kantong itu langsung dimasukkan ke dalam kulkas, dipanaskan ke dalam microwave, ditinggal mandi dan bersiap-siap.
Satu kemasan thinwall berbentuk mangkuk di dalamnya berisikan bulatan putih—sudah pasti bakso ikan. Namun, yang menjadi misteri adalah yang satunya lagi, kemasan kotak memuat masakan berwarna kecokelatan.
Kwetiau goreng rupanya. Belum masuk ke dalam mulutnya namun Alice sudah berpikiran sinis—dibungkus bawa pulang beberapa puluh menit saja kwetiau bisa saling menempel. Ini lagi, menginap dulu di kulkas semalaman sudah pasti akan sulit untuk dijepit atau disendok.
Tak peduli dengan seberapa susahnya untuk dikonsumsi atau bibirnya akan berlumuran minyak, Alice segera menikmati sarapannya—tidak lupa menuangkan chilli oil yang turut disertakan pada bekalnya itu!
Kwetiau dulu, lalu ku gempur Shenzhen dan juga Shanghai!
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Lima belas jam kemudian.
Dua jam perjalanan darat, dua setengah jam perjalanan udara, enam jam lebih otaknya berputar keras. Kini Alice baru bisa menutup seluruh kepadatan harinya di dalam kamar Hotel di Shanghai.
Alice tidak mengeluh—hanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang berwarna kekuningan. Sesekali menarik napas panjang dan menelan ludahnya. Sempat menutup mata untuk beberapa detik, begitu terbuka kembali sorot matanya berubah sepi.
Sembilan lewat enam.
Alice mengangkat ponselnya. Memastikan tidak ada notifikasi penting yang terlewati. Hingga akhirnya berlabuh ke jendela chat dari Jimmy. Berkali-kali pria itu mengirimkan chat—laporan harian yang sama sekali tidak diminta oleh Alice.
Jimmy Sing-Sing
| (Foto)
| Sing-Sing lagi jalan pagi nih. 07.30
| (Foto)
| Bandel nih numpahin makan siang 11.46
| (Video)
| Kangen Mami. 20.40
Sesungguhnya Alice sudah menyimak setiap foto yang diberikan oleh Jimmy. Namun, mode korporatnya seolah tidak mengizinkan dirinya untuk sekadar membalas walau dengan emoji saja.
“Mami sibuk, ya? Ga bisa ketemu Sing-Sing. Mami dimana?”
Celotehan Sing-Sing di video menerbitkan senyuman miris di bibir Alice.
Baru satu hari, kenapa rasanya sudah sesak, ya?
Alice
Jim, kalian sudah tidur? |
Aku ingin telepon |

Begitu pesan terkirim, Alice baru menyadari kenapa dirinya menulis ‘kalian’ bukan menulis ‘Sing-Sing’ saja. Seolah dia sedang mempertanyakan keduanya.
Senyuman miris itu memudar seketika tergantikan senyuman semingrah ketika sebuah panggilan video masuk ke ponselnya—dari Jimmy.
[foto Video call Alice]
“Mami Aliceee!” suara itu menyapa Alice—layar ponselnya segera dipenuhi wajah menggemaskan Sing-Sing.
Alice memutar tubuhnya, berada pada posisi tengkurap, menopang dagu dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya terus memegang ponsel.
“Halo, Sayang…Lagi apa, kamu?”
“Mau, bobo… Ehehe…” Sing-Sing sedang berguling di ranjang. Sorot kamera tetap mengikuti kemana anak itu bergerak—Jimmy lah yang memegang ponsel.
“Kamu bandel, ya? Hari ini? Kata Papa kamu numpahin makan siang kamu?”
“Nggak.“
“Yang benar? Jangan bohong ke Mami, ya… Kalo bohong minggu ga jadi berenang, nih?”
“Mau… mau rewnang! Sing mau… Mami.“
“Ayo jawab jujur, Sing.” Suara Jimmy hadir di panggilan itu.
“Iya, Mami… Sing ga suka makanan tadi.“
Sebelah alisnya Alice terangkat. “Ga suka? Kenapa?”
“Ga enak!” saat mengucapkan itu kepala Sing-Sing tertunduk, menolak menatap ke arah Alice.
“Ga enak gimana, Sing? Katanya masakan Papa enak… Kok sekarang dibilang ga enak sih?”
“Sing-Sing ga suka kol, ga enak, ga suka.“
Teka-teki kecil itu terpecahkan.Celotehan demi celotehan Sing-Sing terus mengalir, menjadi simfoni malam menggantikan rasa lelah di tubuh dengan sebuah senyuman di wajah Alice.
“Sing-Sing bobo, ya… Sudah malam.”
Sudah lima belas menit, Alice hendak menutup panggilan itu karena tahu si kecil harus segera memasuki alam mimpi.
“Ayo Sing, bilang apa? Bye-bye?” sekali lagi suara Jimmy hadir.
“Pai-pai Mami.” Sing-Sing mulai mengusap-usap wajahnya.
“Bye sayang—”
“Lis!“
Huh? Wajah Jimmy langsung menguasai layar. Hanya berlangsung satu detik, Alice segera melepaskan ponselnya—tergeletak di atas kasur.
“K… Kenapa, Jim?”
Aduh, kenapa tiba-tiba dia deh?
“Gimana, Lis… Hari ini? Lelah?”
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Jimmy mulai gerak, nih?
