‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Dua potong roti terakhir. Saat itu Alice telah mendapati sosok Jimmy dan Sing-Sing yang tiba ke dalam restoran.

Langkah Jimmy sempat tertahan untuk menyapa beberapa pelanggan. Sementara si kecil? Tetap melangkah dengan ringan dan perlahan sambil sedikit menebarkan senyum kepada ‘Opah dan Omah’ pengunjung restoran yang dikenal olehnya.

“Sayang~” panggil Alice dengan nada mendayu.

Sama seperti yang lain, anak itu juga tidak menyadari sosok Alice karena pakaian serta waktu kunjungan yang terjadi di pagi hari. “Ih? Mami! Mami Alice!!!”

Sing-Sing langsung merentangkan tangan. “Duh… Duh… Sini sayang sini.” Alice menyambut pelukan itu dan langsung mengangkat tubuh Sing-Sing ke pangkuannya. 

“Kangen tidak sama Mami, hm?” tanya Alice sambil melebarkan senyuman.

Sing-Sing menganggukan kepala. Lalu, meruncingkan bibir. Tubuhnya maju bergerak demi melabuhkan sebuah kecupan di pipi Alice. “Kawngen, Mami… Sing, kangen…”

Dalam waktu singkat, Alice segera terhanyut untuk menanggapi setiap celotehan Sing-Sing. Bahkan mulai menyuapi si kecil dengan roti yang tersisa di piring.

“Loh? Lis?” langkah Jimmy terhenti di hadapan Alice. “Tumben, pagi kesini? Tidak ngantor?”

Alice tersenyum tipis. “Cuti,” jawabnya singkat.

Jimmy tersenyum simpul, meninggalkan buah hatinya bersama dengan Alice. Matanya mulai memantau kondisi dapur terlebih dahulu.

Lewat Sing-Sing, Alice mendapatkan kegiatan pagi keduanya selama beberapa hari ini. Jimmy benar-benar menuruti apa yang ditekankan oleh Alice, mencari sekolah untuk Sing-Sing.

“Sing-Sing mau sekolah, ya? Senang tidak? Nanti banyak teman-temannya loh…” Alice menarik napas—mengecup pipi Sing-Sing.

“Iya, senang, Sing suka.”

Sambil tetap memeluk Sing-Sing dengan erat, Alice terus berbisik. Memberikan beberapa ajaran, bagaimana Sing-Sing harus bersikap nanti kepada guru atau temannya. Mulai mengajarkan tata krama dan mengontrol suaranya yang kerap terlalu ekspresif—berteriak.

“Mami, Sing lapar… Mau roti, lagi.”

Dua potong kecil roti yang sebelumnya berada di piring Alice telah habis—berpindah ke dalam perut Sing-Sing namun tampaknya itu belum menutupi rasa laparnya. 

Alice segera menoleh ke kanan, hendak memanggil Jimmy. Namun, sang ayah sudah berdiri di dekat mereka, membawa piring kecil lainnya berisikan roti.

“Baru mau bilang… Minta masakin roti lagi satu. Sing-Sing masih lapar katanya,” ujar Alice.

“Cobain, Lis. Ini menu yang gurihnya.”

“Gurih? Ini tampak—” Alice berhenti berucap karena roti yang tersaji di hadapannya berbeda, rotinya lebih berminyak—mengkilap karena berselimutkan telur dan ada potongan butter kecil yang mulai meleleh di atasnya. “Eh, beda?”.

Tergocek—lagi. 

Alice masih menduga kalau french toast itu akan berisikan selai kacang yang gurih, tidak. Isinya daging ham. Alice kemudian menyuapi Sing-Sing terlebih dahulu baru kemudian menyuap untuk dirinya.

Pada setiap kunyahan daging olahan itu, menghadirkan tekstur yang lembut, padat namun tetap kenyal. Sari-sarinya perlahan merembes memenuhi mulut rasa asin dan gurih yang ringan yang tertinggal melapisi lidah tanpa ada serat yang menyangkut di gigi .

“Daging hamnya… Buat sendiri?”

Hah?” Jimmy terkesiap karena sedang sibuk dengan ponselnya. “Mmh, ya, bisa dibilang begitu.”

Hah?” Alis milik Alice bertaut. “Gimana, maksudnya?”

“Bukan daging kalengan, Lis. Beli sudah jadi, produksi rumahan.”

“Oh… Homemade, gitu aja susah banget ngomongnya, Jim.”

“Terus gimana? Enak?” Jimmy menyembunyikan ponsel dan mulai kembali menatap ke arah Alice.

“Enyakkk!” Namun, yang menjawab Jimmy malah Sing-Sing yang sedang mengangkat kembali garpu dan menyuap kembali makanannya.

“Tuh, kata Sing juga enak.” Alice memutar bola matanya memperhatikan ekspresi Jimmy yang hambar. “Kalau aku bilang tidak enak… Memangnya… Mau kamu ganti resep atau suppliernya?”

“Mmh, mung—”

“Nggak Jim, menu pagi dan modalnya mungkin ide dariku. Namun, bukan berarti kamu harus memuaskan lidahku. Jangan turuti aku, percaya pada idemu. Tuh, lihat hasil idemu—” Alice menunjuk dengan dagunya ke arah pengunjung. “Ramai.”

Jimmy terkekeh. “Duh, tidak bisa jadi tolak ukur juga sih, Lis. Sebagian besar yang ada disini, hari ini adalah kenalan yang aku undang.”

“Lalu, pendapat mereka? Dengan menu baru dan—” Alice melirik sekilas ke arah Ah Kit. “Ah Kit yang memasak ada keluhan krusial apa tidak?”

“Tak ada, Lis.”

Bien! Anggap saja ini marketing murah. Lewat kenalan dan saudara biarkan kabar berkembang perlahan. Aku punya saran karena ini masih baru—sebagai promosi on-site kasih harga promosi atau extra items!”

Melihat Sang Boss dan ‘Bu’ Boss terus berbincang panjang soal bisnis, Ah Ling segera beranjak dari hadapan Alice sembari mengangkat talenan dan daun bawang. Secara tidak langsung memberikan posisi itu kepada Jimmy.

“Cuma ya, Jim. Perlu kamu pertimbangkan ini: Banting harga harus diiringi produk baru yang savory. Jaring ketertarikan konsumen dengan harga, mereka suka produknya, mereka akan kembali karena rasa bukan harga.”

Hari ini Alice tidak bekerja di kantor C&A. Akan tetapi, otaknya telah mulai berputar—bekerja sebagai penasihat bisnis kedai. Menepati kewajibannya setelah meminjamkan dana kepada Jimmy.

“Lalu—” Alice menerbitnya senyuman asimetrisnya. “Bisa kita lakukan permainan psikologis sedikit.”

“Psikologis?” Dahi Jimmy mengerut heran.

“Itu kamu sudah memasang Set A, Set B, sudah bagus. Tanpa menurunkan harga Set, tambahkan pada daftar—jika beli satuan harganya berapa, ya, naikan sedikit harganya. Itu akan memaksa pikiran orang-orang: Oh, menu Set lebih murah! Ketimbang satuan!”

Jimmy mengangguk perlahan—setuju.

“Kalau membuat breakdown harga ala carte dirasa terlalu… umh, ribet? Lakukan tipuan kecil saja. Berikan stiker ‘Gratis’ pada minuman yang berada di Set. Iming-iming gratis itu ampuh! Menarik ketertarikan orang.”

Kali ini Jimmy tersenyum lebar. “Baiklah—” Jimmy mengembuskan napas panjang. “Akan aku coba, membuat harga menu satuan, sebab itu akan memudahkan kedepannya kalau ada pelanggan yang cuma ingin memesan tambahan, satuan.”

Bien, bien!

Mata Jimmy kemudian memperhatikan Sing-Sing yang sedang mengemut makanannya. “Sing, kunyah! Jangan diemut!”

Setelah konsultasi ringan itu, Alice hendak berpamitan pulang—sudah mulai tidak nyaman karena masih memakai pakaian olahraga sementara matahari sudah semakin bersinar terik.

Tahu dong apa yang terjadi selanjutnya? Pertemuan singkat Sing-Sing dan Alice yang telah absen tiga hari akan menjadi seperti apa? Ya. Sing-Sing merajuk, menangis dan mengamuk—ingin ikut bersama Alice.

Jimmy mencoba melarang Sing-Sing, karena itu akan mengganggu waktu istirahat Alice. Namun, Alice tidak keberatan kalau harus membawa anak itu ke rumahnya.

“Nanti, sebelum makan siang. Aku jemput dia.” Sang papa menyerah saat melepaskan Sing-Sing.

“Tak apa Jim, kalau kamu sibuk biar dia bersamaku, nanti malam baru kami pulang, untuk makan malam disini.”

Alice mungkin tidak sadar, memakai kata kami (dirinya dan juga Sing-Sing) dengan padanan kata ‘kami pulang’ seolah alam bawah sadarnya mulai menganggap restoran Jimmy di bangunan tua ini adalah rumah baginya—juga.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Anak ini bukan gangguan. 

Tak peduli seberapa berantakannya apartemen ini, seberapa gaduhnya dia bernyanyi-nyanyi dan melompat-lompat di atas kasur. Anak ini adalah warna yang terus mengisi kekosongan.

Siang hari itu, dapur apartemen Alice kembali mengepulkan asap. Sebab sang pemilik rumah telah kembali menyentuh area yang terlupakan itu.

Ia mencoba membuat hidangan sederhana untuk makan siang dan memperkenalkan rasa kampung halamannya kepada Sing-Sing, membuat sajian pajeon dan japchae.

Lagi-lagi, Alice tak menghiraukan panggilan dari Jimmy saat tengah sibuk memasak.

Jimmy Sing-Sing
| Lis, aku mau kirim makan siang untuk kalian.
| Kalian di apartemen?

Alice
Tidak usah, aku memasak siang ini |

Bagi Alice, masakannya sukses besar. Sebab anak itu suka dan menghabiskan porsinya hingga tuntas. “Sing-Sing suka! Enak enak! Kalau Papa suka nggak, ya?”

“Ga, tau deh… Kenapa, emangnya Sing?”

“Pengen Papa cobain ini juga, masakan Mami.”

Sia-sia. Padahal Alice sedang mencoba sedikit menarik diri dari Jimmy—menjadi tidak begitu peduli jika bukan urusan bisnis atau soal Sing-Sing. 

Akan tetapi, balita polos itu tetap kembali menarik Alice ke ranah yang sedang dihindari itu.

Memang, ada japchae berlebih di hadapan mereka. “Kalau begitu… Kita bawain ini buat Papa ya, Sing?” ungkap Alice.

“Iya!!!”

Alice menduga kalau hari ini akan ia lewati dengan ‘aman-aman’ saja bersama Sing-Sing. Bermain dengannya—mengisi apartemen yang dingin dan sepi itu dengan nyanyian dan tawa bersamanya.

Namun, dunia korporat yang sempat Alice tinggalkan untuk sejenak, telah kembali memanggil dirinya dengan tingkat urgensi tinggi.

Dua dunia yang kembali berbenturan. Alice tidak bisa menikmati waktu cutinya begitu saja, ada satu dua hal yang harus segera diurus olehnya. Terpaksa harus membuka laptop di atas meja makan sambil sesekali mengamati ke arah pintu kamar yang terbuka—takut Sing-Sing terbangun saat tidur siang kemudian menangis.

“Bu Alice, ini ada undangan dari Konsulat Jenderal Prancis untuk anda.”

Teleconference memang telah berakhir namun masih ada satu partisipan yang masih aktif, Vivian—asistennya Alice di kantor.

France? Quoi? Eh, maksudnya, apa isinya?”

“Saya kurang tahu bu—”

“Ya, coba kamu buka dan bacakan, Vi.”

“Baik, sebentar, Bu.”

Ada bunyi kertas yang disobek. Sambil menunggu isinya, Alice mengikat rambut panjangnya ke belakang.

Sudah lebih dari 30 detik. Namun, Vivian malah membisu.

“Apa, Vi?”

C… Chère? Alice Moon, N… Nous—

Pfft. Oke, oke, fotoin saja, Vi, isian suratnya—” Alice menahan tawa. Karena Vivian begitu menurut dan berusaha membaca surat itu sampai tergagap.  “Maaf jadi menyuruhmu membacanya.”

“Ehehe, Maaf, Bu. Oke akan segera saya foto dan kirim ke Ibu.”

Teleconference berakhir sepenuhnya. Sambil menarik napas dari mulut—membuat suara desis panjang, Alice memilah-milah daftar chat di ponselnya. Benar saja, ada chat yang terlewat olehnya. Pesan yang belum dibuka, sempat dikira olehnya sebagai broadcast yang tidak penting.

Ada sebuah undangan untuk menghadiri pertemuan para alumni yang pernah mengenyam pendidikan di Prancis. 

Pesan dari Vivian masuk, isinya pun sama persis. Memang satu tahun sekali, Konsulat sering mengadakan acara itu. Alice pernah mengikutinya beberapa kali sebagai bentuk untuk jejaring dunia kerjanya. Acara dari undangan itu akan diadakan minggu depan, hari Kamis saat jam makan malam.

Kepala Alice mengangguk dan segera membalas pesan yang sudah usang itu sebagai bentuk konfirmasi akan kedatangannya.

Huhh… Mami…” sayup-sayup ada suara rengekan dari dalam kamar. 

Astaga! Sudah dua jam saja! Ga kerasa!

Laptop yang kembali ditutup dan Sing-Sing yang terbangun dari tidur siangnya, membuat Alice kembali bertransformasi menjadi seorang Mami.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Sesuai janjinya, ketika langit siang mulai berpamitan dan hendak berganti malam. Alice harus mengembalikan Sing-Sing.

‘Nyonya’ Sing-Sing pun sudah dilayani dengan baik oleh Alice. Sudah diberikan kudapan sore hingga mandi malam. Kini tinggal menunggangi kereta besi, menuju Sham Shui Po.

Mencari parkir yang luar biasa susah, membuat Alice terpaksa menghubungi nomor restoran agar dapat mengutus seseorang untuk menjemput Sing-Sing terlebih dahulu.

Ah, kalau begini tadi naik taksi saja! Alice mulai merasa kesal karena mobilnya semakin lama semakin terparkir jauh dari Sing-Sing Eating House. 

Sepanjang menelusuri trotoar yang ramai, Alice sempat memikirkan hal konyol: Apa beli apartemen di sekitar sini saja ya sekalian? Lalu menyulap interiornya menjadi mewah dan kedap?

Namun, hal konyol itu menguap ketika ia harus berjalan dengan berbagai gangguan, jalanan yang becek dan bau tak sedap kerap mengganggu penciumannya. 

Alice pun tersenyum asimetris. Ah, beneran konyol, apaan sih, Al? Udah bener tinggal di One Silversea, malah mau ikut-ikutan turun kasta.

Tak lupa Alice juga membawakan buah tangan dari Shanghai untuk semua penghuni di restoran Jimmy. Sebuah bentuk perhatian kecil kalau Ah Kit, Yoyo dan Ah Ling kini sudah berada di dalam radarnya Alice bukan sekadar “cuma kenal”.

Makan malam di resto, hingga Alice tetap menjadi pengunjung terakhir di meja ketujuh hingga menjelang restoran tutup.

“Lis—” Jimmy menghampiri Alice. Sambil membawa segelas teh dingin di tangan kanannya—gelas kedua untuk Alice.

“Y… Ya?” Alice memperhatikan sosok Jimmy yang keluar dari dapur setelah selesai memasak—segera duduk di hadapan Alice.

Terlebih dahulu, Alice mendorong sebuah kemasan thinwall ke hadapan Jimmy.  Japchae tadi siang.

“Apa, ini, Lis?”

Alice menelan ludahnya, tatapannya menghindar habis-habisan dari Jimmy. “Masakanku, kata Sing-Sing kamu juga harus cobain.”

“Enak Papa! Papa harus coba!” sambar Sing-Sing yang duduk disamping Alice.

“Hah?” Mulut Jimmy terbuka semu, melepaskan napas diiringi dengan senyum yang melebar. “Kamu? Masak? Oh, bisa?”

Alice mendecak kesal, tidak ada pujian malah diberikan ejekan.

“Iya, nanti Papa cobain ya, Sing… Masakannya Mami.” Jimmy meraih kotak bening itu lalu sedikit mendorongnya ke arah pojok meja.

Sekilas senyuman tipis sempat terlukis di wajah Alice. Namun, segera sirna ketika kedua sikut Jimmy bertumpu di atas meja.

“Mmh, Lis… Aku… Mau berdiskusi denganmu,” ujar Jimmy.

“Soal?” Tanpa ragu Alice langsung menjawabnya.

“Gini—” Begitu mendapatkan izin, sikut Jimmy langsung bertumpu di atas meja. “Saudaraku ada yang mau sewa tempat ini…”

“Sewa? Tempat ini? Bangunan, ini?” Dahi Alice langsung mengerut dan langsung menghujani Jimmy dengan pertanyaan. “Lah? Resto ini mau udahan apa gimana?”

“Eh, bukan, bukan itu maksudnya—”

“Lantas?”

“Maksudnya selepas jam 9 malam, setelah resto tutup, saudaraku ada yang mau ‘numpang’ berjualan bubur, hingga pagi hari.” Jimmy mulai menjelaskan dengan perlahan.

“Oh—” Kenapa Alice mengangguk. “Kirain, mau kamu tutup tempat ini… Enak saja, modalku belum kembali malah mau tutup! Terus? Ada kendala apa? Bagus dong? Jadi efektif?”

“Beneran… Ga apa-apa?”

Dahi masih mengerut kini alisnya pun bertaut. “Kenapa kesannya kok kamu harus lewat izinku dulu sih, Jim?” Merasa kesal, Alice mulai menegakkan tubuhnya lalu melipat tangan di depan dada.

“Ya… Cuma… Takut aku salah mengambil keputusan saja, nanti malah diprotes olehmu.”

“Astaga… Tidak , Jim. Ini kedai kamu, semua keputusan ditangan kamu—” Alice sempat terhenti, menggelengkan kepalanya. “Aku konsultan, memberikan kritik dan solusi bukan berarti aku… Adalah boss yang harus kamu ikuti dan ladeni. Big boss disini… Ya, tetap kamu.”

Sebab melalui serangkaian hal pada hari ini, Alice merasakan itu. Pria yang keras dengan idealismenya seolah mulai tunduk dengan keberadaan Alice sebagai seorang investor.

Jimmy tidak mendebat asumsi Alice, ia mengangguk dan tersenyum simpul. 

“Jadi, oke, ya?”

Mata Alice sempat terpejam. Kamu benar-benar membutuhkan validasi dariku? Oke! Kalau kamu mau beradu kepala denganku.

“Sudah kubilang dari awal kan—” Alice menghela napas panjang. “Itu bagus—efektif. Lakukan saja… Na—mun…” kata ‘namun’ yang ditarik panjang oleh Alice seketika membuat Jimmy waspada.

“Dari awal kamu harus tegas soal uang sewa: apakah akan kamu tagih dalam jumlah tetap atau sistem bagi hasil. Lalu—” kata-kata Alice terhenti, ia memberikan waktu kepada Jimmy untuk menyerap kata-kata yang baru saja ia lontarkan.

“Lalu?”

“Pikirkan ini: kamu akan berbagi dapur dengan kerabatmu yang notabenenya orang luar resto—Apa kamu rela? Mereka mungkin akan mengacak-ngacak dapurmu lagi setiap malam? Apa rela semua peralatan dipergunakan kembali oleh mereka? Mengingat Ah Kit saja baru kamu beri lampu hijau akhir-akhir ini… Jadi… Kamu harus tegas soal batasan ruang, peralatan dan segala sumbernya. Intinya meskipun saudara, jangan lunak.”

Alice kembali membagikan logika bisnisnya. Meskipun itu saudaranya Jimmy, ia harus tetap menentukan batasan serta memberikan sebuah klausul yang tajam dan tanpa ampun—mengeliminasi segala kemungkinan buruk di masa depan.

Jimmy mengangguk. “Oke, Lis. Paham-paham aku memang sudah memikirkannya.”

Oh tunggu. Kamu sudah memikirkannya, Jim?

Jadi… Dia tidak kehilangan otonomnya. Bukan, ini bukan pria yang kehilangan kendali atas keputusannya. 

Ya, dia hanya membutuhkan satu pendapat lagi untuk menjalankan rencana itu.

Apa selama ini kamu kerap tertahan karena tidak ada partner sparing?

Apa kini keberadaan dan validasi dariku mampu merobek ketakutan serta keengganan untuk terus maju?

“J-Jim… Kalau ada hal mengganjal lainnya lagi nanti, jangan ragu untuk berdiskusi lagi denganku.”

Pada akhirnya, Alice yang mengalah dan melunak setelah mengasumsikan kalau Jimmy tidak kehilangan kepemimpinannya, ia hanya butuh second opinion dari orang yang paham atau bahkan dengan intelektual yang lebih tinggi.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Bilangnya ga perlu tanya-tanya, tapi Alice malah ngomong panjang lebar. Penyangkalan dia di Shanghai dan di depan Karen kemarin itu kok… Malah bikin Alice semakin peduli sama Jimmy, sih?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *