ˎˊ˗⋆。°✩📄 

“Non, saya sembari makan roti nya, ya?” Paman Lam meminta izin kepada Alice.

“Ah, ya, silahkan,” jawab Alice. Fokusnya terputus karena hal itu. Matahari hangat mulai terasa menyilaukan. Alice segera menutup atap kaca, membuat kabin menjadi lebih teduh.

Sudah setengah jam perjalanan, mobil sudah berada di atas jembatan HZMB (Hong Kong–Zhuhai–Macau Bridge).

Alice menarik napas kasar—aroma dari bekal yang dibawanya sedikit tercium. Aroma gurih dari Ngau Lam Fan beradu dengan aroma oakwood dari pewangi mobil telah menguasai penciumannya. Matanya langsung tertuju ke kantong plastik merah yang berada di kursi sebelah kanannya. Sarapan ah, lapar.

Sedikit membuat dirinya santai—Alice menutup laptop, melepaskan heels dan menaikan sandaran kaki. “Paman, aku sambil makan, ya.” Kali ini Alice yang meminta izin, karena ia tahu aroma dari bekalnya akan tajam. Ia juga menurunkan sedikit jendela di sisi kirinya agar ada sirkulasi udara namun harus menukarnya dengan suara bising dari mobil yang melaju cepat. “Oh, iya, silahkan, Non.”

Alice mengangkat kemasan thinwall dari dalam kantong, merogoh—mencari sendok plastik. Namun, ia juga mendapati ada sesuatu lainnya berada di sana. Uh? Apa ini? Kecap? Saus? 

Alice mendapati sebuah kemasan thinwall cup kecil berisikan Chilli Oil. Sebuah condiment yang membuat Alice melepaskan senyuman—ternyata Jimmy memberikan cabai kesukaannya.

Terlebih dari itu, Alice menyadari sesuatu. Alih-alih mendapatkan kemasan styrofoam—ciri khas bungkus makanan dari restoran kecil, Alice malah mendapatkan kemasan thinwall. 

Apa karena Jimmy menyadari kata-kata ku soal sibuk dan sarapan?

Kemudian, Chilli Oil. Apa Jimmy juga sengaja memberikannya dalam jumlah banyak karena Alice mengungkit dan memujinya saat perjumpaan pertama waktu itu?

Masa sih?

Krek! Bunyi kasar ketika thinwall dibuka. Mata Alice langsung tertuju kepada daging berwarna cokelat tua yang mengkilap.

Sudah tidak begitu panas namun masih tetap terasa hangat di pangkuannya. Alice juga menuangkan sedikit Chilli Oil pada pojokan Ngau Lam Fan-nya. Tampilan yang kini membuat air liurnya segera terbit.

Alice memilih nasi, saus dan lobak. Untuk suapan pertamanya. Hmm…

Nasi nya terasa pulen, berbeda dengan nasi goreng Yang Chow kemarin. Mungkin Jimmy membedakan berasnya? Lalu sausnya, benar-benar gurih dan sedikit manis. 

Aromanya tajam dari bunga lawang menguasai rongga mulut. Lobak nya tidak hambar seolah bumbu sudah mulai menyerap kesana, rasa manis sedikit berair benar-benar menjadi dominan ketika lobak itu hancur.

Suapan kedua, kali ini menu utamanya. Ia mencoba memotong daging menjadi lebih kecil untuk disuap. Hanya satu tekanan kecil dari sendok plastik—daging itu segera terbelah. 

“Mm… mmhh…” suara rintihan lolos ketika daging sandung lamur itu lumer di lidahnya. Seperti ada sebuah pernikahan rasa terjadi di dalam mulutnya, bagaimana rasa gurih bersatu dengan manis disusul dengan lapisan aroma yang dalam dan eksotis.

Ini enak, banget. Rasa-rasanya aku telah menemukan sebuah harta karun bersembunyi di Sham Shui Po.

Jimmy kamu benar-benar seorang Chef! Bukan sekadar pria yang kemarin sore belajar masak dari ibumu saja. Coba kamu jual ini di Central? Ga mungkin cuma di harga $52 saja, ini sih bisa dijual $100 atau mungkin $200!

Sarapan yang mengenyangkan perut itu membuat Alice semakin meneguhkan hatinya kalau malam ini ia harus langsung segera pulang ke Hong Kong untuk menepati janjinya kepada Sing-Sing.

ˎˊ˗⋆。°✩📄 

Hari ini Alice menghadiri sebuah pertemuan panjang dengan seorang Chairman pemilik kasino di Macau. Beliau hendak membangun resort di kawasan kasino miliknya.

Alice sendiri sudah membaca angka demi angka yang dibicarakan. Menurut Alice ini agak riskan. Namun, keputusan “Go or Not Go” dari Crestview & Associates tidak berada di tangannya—masih harus melewati penilaian dari pusat.

Terlebih dari itu, tanah dan beton bukanlah bidang Alice. Ia itu dijuluki ‘Ratu Langit’ oleh rekan-rekannya karena terbiasa mengurus portofolio yang berhubungan dengan burung besi.

Kehadiran ia di Macau hanya substitusi sementara dari rekan kerjanya yang collapse hingga harus dirawat di rumah sakit.

Jam 6 sore… Pas kali ya? Beli Egg Tart dulu buat Sing-Sing lalu kebut kembali ke Hong Kong. Mungkin sampai Sham Shui Po sekitar pukul delapan lewat, sebelum restoran tutup.

Alice tahu benar ketika meeting sudah mulai berubah ke arah entertain, begitu sang Chairman Wong membuka botol minuman sebelum jamuan makan malam mereka.

Belum ada ‘deal’ namun Taipan Wong sudah menjamu dengan Champagne. Hmph, terlalu dini untuk sebuah perayaan.

Alice mengangkat gelas flute berisi cairan emas dengan bulir yang terus bermunculan tanpa henti. 

“Chairman Wong… Maafkan saya, bukannya saya tidak menghargai jamuan anda tetapi saya masih ada conference call dengan Singapura.” Alice meneguk minuman itu dalam sekali tegukan—seolah sama sekali tidak ada kadar alkohol yang berarti untuknya.

Alice berbohong, menghindar. Agar waktu dari rencana pribadinya cukup. Membeli egg tart sebagai buah tangan dari Macau lalu pulang ke Hong Kong demi menepati janjinya. 

Ada sedikit penyesalan di dalam diri Alice: Kenapa tidak titip Paman Lam saja? Beliau mungkin lowong seharian ini? Karena cuma mengantar lalu menungguku?

Butuh dua puluh menit dari Venetian Macao hingga tiba salah satu gerai Lord Stow’s Bakery di Coloane Village.

Begitu pintu mobil terbuka Alice langsung melangkah cepat dengan heels Louboutin-nya di atas jalanan berbatu conblock.

Semakin ia memaksa untuk mengantri membeli egg tart, semakin terasa pula kalau ini adalah sebuah misi yang mustahil.

Resah dan gelisah. Pada akhirnya satu lusin egg tart berhasil dibeli oleh Alice sebagai buah tangan.

Pukul delapan malam Lexus LM350 hitam itu telah melewati imigrasi Macau dan segera melintas dengan kecepatan penuh menuju Hong Kong. 

Di dalam mobil beberapa kali Alice menghela napas khawatir.

Keburu lah ya, bisa!

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Hujan sempat mengguyur wilayah Sham Shui Po dari pukul enam sore. Membuat suasana senja di sana menjadi sepi dari pengunjung yang berlalu lalang. Kini hujan telah mereda—di beberapa titik trotoar dan jalanan kini terlihat ada beberapa titik air menggenang, memantulkan cahaya lampu led dari bisnis yang sedikit mengantuk karena sepi dari pelanggan.

Sing-Sing Eating House.

Sedikit terkena imbasnya, rumah makan itu agak sepi dari pengunjung yang makan ditempat. Namun, Jimmy tetap terlihat sibuk dengan wajan besarnya—masih ada beberapa pesan antar yang harus tetap dipenuhi.

Yoyo yang menerima pesanan melalui telepon, Jimmy yang memasak dan Ah Kit yang mengantarkan pesanan dengan sepeda motor tua yang terparkir di depan toko.

Terdengar musik kanton pop era 80an akhir melalui sebuah speaker kecil yang berada di area kasir. Musik pop yang mendayu sendu dengan vokal pria lembut dan hangat mengisi kekosongan waktu—mengisi seisi ruangan restoran. 

Love of the Past – Leslie Cheung.

Sing-Sing. Gadis kecil itu tengah duduk di kursi meja makan semalam, dimana ia dan Alice menghabiskan waktu bersama.

Setelah menyelesaikan pekerjaan, Jimmy menghampiri putri kecilnya. Segera membelai rambut halus Sing-Sing. 

“Mau Papa bacakan buku barunya, Sing?”

“Enggak, Bibi Alice saja. Papa… Bibi hari ini datang, kan?”

Ada helaan napas panjang melalui mulut Jimmy. Wajahnya berubah ragu—dia tahu malam ini akan menjadi malam yang berat untuknya. Mungkin Alice tidak datang dan Sing-Sing akan menangis kencang sampai akhirnya lelah dan tertidur. 

Inilah kenapa Jimmy menekankan Alice soal: Jika dirasa tidak sanggup sebaiknya jangan berjanji kepadanya.

Jimmy tidak mempunyai kontak Alice. Tidak bisa sekadar bertanya: “Apa kamu jadi kesini?” untuk memberikan kejelasan kepada Sing-Sing yang masih menunggu kehadirannya.

Alhasil, Jimmy harus tetap mematahkan keinginan kuat anak itu. 

“Sing, Bibi Alice mungkin tidak datang, dia hari ini sibuk.”

“Tapi… tapi bibi kan udah janji, hari ini mau ketewmu.”

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Sepanjang perjalanan, kotak egg tart itu terus berada di pangkuan Alice. Seolah dirinya sedang membawa barang berharga pecah belah jika diletakkan sembarangan.

Kecepatan mobil sempat menurun karena jalanan yang sedikit licin ketika memasuki area Hong Kong—curah hujan yang tidak merata di sekitaran Greater Bay Area.

Apa yang sebenarnya sedang aku lakukan? 

Pertanyaan itu muncul di dalam benaknya. Mempertanyakan sendiri perbuatannya di hari ini. 

Kenapa memprioritaskan janji kepada seorang anak kecil yang baru beberapa hari dikenal olehnya? Ini bukanlah sebuah janji pertemuan yang melibatkan korporasi besar dengan keuntungan finansial.

Pukul sembilan malam, mobil berhasil melewati imigrasi Hong Kong. Butuh sekitar setengah jam lainnya untuk sampai ke wilayah Sham Shui Po. Keresahan Alice semakin menjadi ketika ia memutar pergelangan tangannya—melihat waktu di bawah samarnya siraman lampu penerangan jalan.

Sudah terlambat, restoran Jimmy pasti sudah tutup dan si kecil pasti sudah siap ke alam mimpi. 

Alice baru menyadari sesuatu; Kenapa tidak mencari nomor telepon restoran dan berbicara kepada Jimmy? Bilang kalau sudah di Hong Kong dan sedang menuju kesana? Meminta izin agar Sing-Sing bisa menemui Alice walau untuk satu menit—demi memberikan egg tart itu dan menepati janjinya.

Alice segera membuka ponsel dan mendapatkan nomor telepon restoran dari peta.

Panggilan itu masuk namun tidak ada yang kunjung menjawabnya. Alice langsung mengartikan kalau toko sudah benar-benar tutup dan harapannya telah mulai pupus. 

Mobil masih tetap mengarah ke Sham Shui Po. Dalam waktu setengah jam, Alice tiba di wilayah yang masih ramai.

Mungkin karena sempat hujan, sehingga napas kehidupan di Sham Shui Po menjadi agak telat. Sudah setengah sepuluh malam namun volume orang-orang yang berlalu-lalang tampak seperti masih jam tujuh malam.

Pergerakan Lexus LM350 menjadi merayap perlahan. Membuat suasana hati Alice menjadi semakin tidak karuan. Masih menyimpan harapan tipis  kalau pintu rolling door dari Sing-Sing Eating House masih terbuka dan si kecil Lau Hui-Sing masih terjaga serta menunggu kehadirannya.

Ah, tidak. Cahaya dari papan nama toko itu sudah padam. Harapan Alice pupus.

“Non? disini?”

“La… Lanjut saja, Paman, pulang saja ke apartemen,” suara Alice terdengar lesu. Tangannya mencengkram erat kantong plastik yang masih tetap berada di pangkuannya.

Mobil melaju—merangkak perlahan di hadapan restoran itu.

Namun tatapan Alice masih menatap ke pintu besi itu—masih ada cahaya dari dalam yang menembus sela-sela pintu besi dari restoran milik Jimmy. Tunggu! Masih ada harapan!

“Paman… Berhenti sebentar, aku turun disini.”

Pintu tengah bergeser, Alice segera mendaratkan langkahnya di jalanan Sham Shui Po.

Heels-nya memecah genangan air, menimbulkan percikan—tak peduli, segera melangkah cepat ke restoran yang berada beberapa langkah di belakang.

“Permisi… Sing-Sing? Jim?” Alice tahu kalau tindakannya itu akan sia-sia dan bodoh.

Bisa saja cahaya dari dalam bukan karena masih ada orang, tetapi sengaja dinyalakan untuk keamanan.

“Sing?” Kali ini sudah bukan ketukan, lebih mendekati sebuah pukulan keputusasaan karena Alice tidak bisa menepati janjinya.

“Ya?” sayup-sayup Alice dapat mendengar ada suara dari dalam sana. Suara seorang pria.

“Siapa ya?” Suara itu semakin dekat, hingga terdengar bunyi besi gembok beradu dari dalam. Alice melangkah mundur, menjaga jaraknya dengan pintu besi itu.

Pintu besi itu tergeser, seorang pria yang tidak asing di mata Alice menyambutnya. Oh, pegawai yang bernama Ah Kit!

“Eh, Nona Alice, ya?”

Alice tersenyum—matanya agak berbinar. Harapannya kembali hadir karena setidaknya oleh-oleh yang ia bawa dari Macau itu bisa disampaikan hari itu juga.

Sebuah pembuktian kepada Jimmy kalau Alice bisa menepati walau itu walau hanya setengah dari janjinya saja—tidak bisa menemui Sing-Sing.

“Saya mau… Titip barang buat Sing-Sing, bisa?” Alice mengangkat kantong berisikan egg tart itu ke hadapan Ah Kit.

“Ah—” Kepala Ah Kit mengangguk. “Sing-Sing dan Jimmy-gor belum lama baru naik ke atas, mereka sempat menunggu anda tadi… Aku antar ke atas saja, mau?” Ah Kit mendorong pintu sedikit lebih lebar, dirinya segera keluar dari dalam toko.

“Eh, tidak apa-apa nih saya mengunjungi mereka di atas?”

“Tentu, pasti Sing-Sing masih menangis… Dia menantikan anda sedari tadi.” Ah Kit memasang gembok dan meminta Alice agar mengikutinya. 

[Foto Pintu Tong Lau]

Hanya butuh beberapa langkah saja hingga Ah Kit berdiri di hadapan sebuah pintu, terbuat dari stainless steel tua yang warna dasarnya sudah tidak jelas karena telah dipenuhi oleh berbagai stiker iklan. Ah Kit menggunakan kunci lainnya untuk membuka pintu gerbang itu. Bunyinya terdengar begitu kasar.

Alice mengikuti Ah Kit, melewati tangga semen yang terbilang cukup sempit dengan penerangan di tangga terkesan seadanya—kuning redup yang menyirami tembok berwarna putih agak kusam.

Kaki Alice harus agak sedikit menyamping saat naik setiap anak tangga. Sembari mengeratkan tangannya pada handrailing yang agak berkarat dan catnya terkelupas. 

Bau disini tak lagi amis seperti di depan sana. Samar-samar, tergantikan oleh bau dupa.

Langkah Ah Kit terhenti di depan pintu teralis hitam dengan pintu kayu berwarna cokelat tua dibaliknya. 

Ia menekan bel yang bunyinya terdengar aneh, tidak nyaring atau lembut, lebih menyerupai motor listrik yang berputar cepat memukul permukaan kaleng. 

BRRRTT!!!

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Bahan Utama: 

  • 1 kg Daging sapi bagian sandung lamur (beef brisket)
  • 500 gr Lobak putih (daikon), kupas dan potong bongkah besar
  • 4-5 siung Bawang putih, memarkan utuh dengan kulitnya
  • 1 jempol Jahe, iris tipis
  • 3 sdm Minyak goreng untuk menumis

Rempah Kering:

  • 2-3 butir Bunga lawang (star anise)
  • 1 batang Kayu manis
  • 2-3 lembar Daun salam (bay leaves)

Bumbu/Saus:

  • 2-3 sdm Saus Chu Hou (Chu Hou Paste)
  • 1 sdm Saus tiram (Oyster sauce)
  • 2 sdm Kecap asin (Light soy sauce)
  • 1 sdm Kecap hitam pekat (Dark soy sauce)
  • 2 sdm kaldu sapi bubuk
  • 1 bongkah kecil (±30gr) Gula batu (rock sugar)
  • 1 sdt Minyak wijen
  • 1,5 – 2 liter Air mendidih
  • Campuran tepung maizena dan air secukupnya untuk mengentalkan kuah (opsional)

Cara Membuat:

1. Blanching (Membersihkan Daging)

Didihkan air dalam panci. Masukkan daging sandung lamur, rebus selama 10-15 menit untuk membuang kotoran dan darah. Angkat, bilas bersih di bawah air mengalir, lalu potong-potong menjadi bongkahan besar (daging akan menyusut saat dimasak, jadi jangan potong terlalu kecil).

2. Menumis Aromatik

Panaskan minyak di dalam wajan atau panci tebal dengan api sedang. Masukkan irisan jahe dan bawang putih geprek, tumis hingga harum. Masukkan rempah kering (bunga lawang, kayu manis, daun salam), aduk sebentar selama 30 detik.

3. Masak Daging & Bumbu

Masukkan potongan daging ke dalam wajan. Tumis hingga permukaan daging sedikit kecokelatan. Tuangkan semua Saus Chu Hou, saus tiram, kecap asin, kecap hitam, minyak wijen, gula batu, dan kaldu sapi. Aduk rata hingga semua bagian daging berbalut bumbu.

4. Proses Braising (Presto/Slow Cook)

Tuangkan 1,5 hingga 2 liter air yang sudah mendidih ke dalam panci. Biarkan mendidih kembali.

Jika menggunakan panci biasa: Tutup rapat dan kecilkan api, masak perlahan (simmer) selama 2 hingga 2,5 jam.

Jika menggunakan panci presto (pressure cooker): Masak selama kurang lebih 40-50 menit.

5. Masukkan Lobak

Setelah daging mulai empuk (sekitar sisa 30-40 menit waktu memasak), masukkan potongan lobak putih. Masak kembali hingga lobak menjadi sangat lembut dan menyerap warna serta rasa dari kuah kaldu.

6. Penyelesaian

Cicipi dan koreksi rasanya. Jika kuah dirasa terlalu cair, tuangkan sedikit larutan maizena sambil terus diaduk dan masak selama 1 menit agar kuah sedikit mengental dan melapisi daging dengan cantik.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Ngau Lam ini paling nikmat disajikan di atas mi telur tipis khas Hong Kong dengan tambahan sawi hijau rebus, atau bisa juga dinikmati bersama nasi putih hangat. 

Makanan ini akan terasa lebih kaya rasa jika didiamkan semalaman di kulkas dan dipanaskan kembali keesokan harinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *