‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Wanita mahal berbalut silk dress burgundy Alexander McQueen itu tengah duduk dan menikmati sajian makan malamnya di sebuah apartemen tua. 

Satu hingga dua seruput sup telah dinikmati dalam diam dengan wajah yang sedikit merekahkan senyuman. Ada kehangatan tersendiri yang menjalar dari mulut hingga ke dada saat menikmati sup itu.

Sementara itu Jimmy sedang membelakangi Alice, merapikan kembali dapur kecil di apartemennya.

“Kalau di negaraku, ini mirip dengan Miyeok-guk. Sup rumput laut.” Tangan Alice memutar sendok bebek dan sesekali tahu putih, serabut telur dan daging sapi cincang berwarna abu-abu muncul silih berganti dari dasar mangkuk. “Oh… ya? Kalau disini namanya… Mmh… Chi Choi Tong.”

Chi Choi Tong vs Miyeok-guk. Beda?

Kepala Alice mengangguk, sempat salah sangka kalau Jimmy sengaja memasak masakan rumahan khas Korea untuknya. Namun, nyatanya di Hong Kong pun ada masakan serupa. Rasanya sedikit berbeda namun tetap membuat Alice teringat akan kampung halamannya. 

Sendokan ketiga, Alice menikmati potongan tahu yang lembut, langsung hancur begitu ditekan sedikit oleh lidahnya. Aromanya kaldunya lebih dominan jahe dan lada—ketimbang bawang putih dan minyak wijen. “Tahunya? Bikin sendiri, Jim? Enak lembut.”

“Hahaha—” Jimmy tertawa kecil. “Tak sempat, Nona… Membuat tahu sendiri akan memakan banyak waktu. Saya membelinya.”

Alice menganggukan kepala dan melanjutkan suapan. 

“Apalagi Nona? Apakah mau tanya soal daging, telur dan rumput lautnya hasil dari peternakan sendiri?” Jimmy melemparkan ucapan jahil itu kepada Alice.

Alice menahan tawa, hampir saja sup nya tersembur keluar dari dalam mulutnya. “Sorry, deh terlalu detail tanyanya… Aku kira bikin sendiri, toh mantan Executive Chef… Hehehe”

Jimmy memutar badannya, pinggangnya bersandar ke meja dapur, melipat tangan di depan dada dan memperhatikan Alice dari situ. “Ya, tidak semua-mua saya harus bikin sendiri Nona, toh, bahan dasar tersedia di pasar dengan berbagai pilihan, tinggal pintar-pintar saja memilih yang murah dan berkualitas.”

Alice tersenyum lebar sambil tetap menikmati makanannya. Sajian hangat nan sederhana yang menyelamatkannya dari perihnya asam lambung karena telat makan malam.

“Ah Kit, pegawai kamu itu… Tinggal di bawah? Resto?” tanya Alice.

“Ya, begitulah, rumahnya jauh jadi sering menginap disana… Masih ada hubungan saudara juga sih.”

Alice mengangguk kecil. “Dia bisa memasak juga sepertimu? Atau murid kamu?”

Napas Jimmy terembus panjang. “Ya, baru bisa merebus mi saja… Kalau memegang wajan belum aku kasih…”

Hm… Kenapa tidak buka sampai malam saja sekalian? Selepas jam segini mungkin hanya jual mi yang bisa dia buat? Lumayan sepertinya, sebab di bawah masih ramai, mungkin akan ada yang ingin mengisi perut sebelum pergi atau setelah pulang mabuk?”

Sudut bibir Jimmy tersungging ada tawa terlepas sebelum menggelengkan kepalanya. “Ya, dia masih terlalu muda, sehari-hari saja sering aku tegur karena sibuk bermain ponsel.”

Alice meruncingkan bibir dan menganggukan kepalanya. “Sudah mencobanya? Buka sampai larut dan hanya menjual mi? Menyerahkan tugas dapur itu ke Ah Kit?”

Lagi-lagi Jimmy menggeleng. “Tidak bisa menyerahkan begitu saja soal urusan dapur ke orang lain, Nona…”

Entahlah, aku malah merasakan ada sebuah krisis kepercayaan dari Jimmy kepada pegawainya sendiri. Dari ucapannya terdengar seperti orang yang sangat idealis dan begitu ketat, jika harus berbagi tugas di medan perang dengan prajuritnya.

Mungkin soal proses masak yang dapat mempengaruhi kualitas rasa?

Tidak saat ini, mungkin nanti di masa yang akan datang aku akan mendebatmu lebih dalam, Jim.

“Nona… Kamu… Benar-benar sengaja kesini hanya untuk menepati janji kepada Sing-Sing?”  Pertanyaan itu begitu sederhana dan diucapkan secara perlahan oleh Jimmy. 

Alice terdiam—logikanya seakan absen untuk menjawab.

Bagaimana bisa seorang Vice President Bank Investasi berlarian demi sekotak egg tart dn berlomba dengan waktu agar tidak mengingkari janji dengan seorang anak umur tiga tahun? Anak yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya. 

Tidak masuk akal!

Rasanya itu seperti sedang jatuh cinta, tidak ada alasan yang mampu untuk menjelaskannya.

“Y… Ya?” jawab Alice dengan ragu.

“Oh… Memangnya, pernah… Punya anak kecil?” sambung Jimmy dengan perlahan seolah-olah berhati-hati dalam mengatakannya.

“Tidak.” Kepala Alice menggeleng. “Rasanya… Seperti melihat diriku di masa lalu saja… Yang juga tumbuh di lingkungan pasar dan restoran.” Alice kemudian menyuap kembali sup itu. 

Jimmy tersenyum simpul setelah mendengarkan alasan itu. Dalam satu tarikan napas ekspresi yang selalu waspada itu sedikit agak meluntur.

Alice mengangkat mangkuk putih itu, bibirnya beradu dengan bibir mangkuk dan segera menghabiskan sisa supnya. 

Fyuh… Chef Jimmy kamu menyelamatkan diriku dari kelaparan!”

Jimmy tertawa sunyi—segera menoleh ke arah lain untuk menyembunyikan senyumannya.

“Jadi… Apa menu ini nanti dijual di resto?” tanya Alice sambil menggerakan sebelah alisnya.

“Haha… Itu cuma, menu sederhana, Nona… Bisa dibuat sendiri kok di rumah.” Jimmy mendekati Alice, meraih mangkuk kosong yang berada di hadapan Alice.

“Jim, apa mmh—” ucapan Alice terjeda untuk sesaat, tatapan matanya mencoba melihat sosok Jimmy yang sedang membelakanginya, sedang mencuci mangkuk. 

“Aku boleh tetap menemui, Sing-Sing?”

“Apa alasanku untuk melarangmu, Nona?” ucap Jimmy.

“Melarang orang yang sudah datang dari Macau hanya untuk memberikan egg tart untuk putriku?” Jimmy sedikit menoleh ke belakang ke arah Alice. 

“Silahkan saja, kamu temui dia, Nona Alice. Namun dengan satu catatan—” Jimmy menjeda ucapannya.

“A… Apa?” Alice sedikit memiringkan kepalanya.

“Jangan paksakan dirimu seperti hari ini.”

Alice tersenyum simpul sambil sedikit menganggukan kepalanya. 

“Thank you, Jim… Ah, Oh iya! Jangan lupa besok—”

“Besok?”

Snoopy World, kamu sudah berjanji kepadanya loh…”

Alice mengakhiri hari yang panjang itu dengan sebuah senyuman lebar. Bukan hanya karena perutnya selamat dari serangan asam lambung tetapi karena ada ia mendapatkan izin kecil dari sang Ayah: Memperbolehkan dirinya untuk terus menemui Sing-Sing.

Kalau dipikir-pikir… Kok, rasanya ada yang aneh, ya?

Dimulai dari misi mencari Chilli Oil yang enak (Bab 1) hingga beberapa bulan setiap malamnya kesana-kesini ke berbagai tempat di sudut kota Hong Kong.

Pada akhirnya secara harfiah tiba di wilayah yang bertetanggaan dengan rumahnya, Sham Shui Po. Disana ia bukan sekadar menemukan sesuatu yang ‘Hidden Gem‘ yang membuat lidahnya puas—perutnya kenyang. Ia seperti menemukan sebuah wadah untuk menampung perasaannya setelah badai kehidupan yang selama ini berhasil ia lalui. 

Tanpa dia sadari, perasaan baru itu tumbuh di dalam hatinya. 

Alice Moon telah jatuh cinta lagi.

Namun, kepada siapa cintanya itu berlabuh?

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Kamis, toko libur. Jimmy menepati janjinya kepada sang buah hati—Sing-Sing, membawa anak itu pergi ke Snoopy World. Untuk mengalihkan waktu malam yang kosong di hari kamis itu, Alice memilih untuk berkumpul makan malam bersama teman-temannya di daerah Central.

Sepanjang makan malam itu, isi kepala Alice berisi keresahan akan Sing-Sing saja. Ditambah ia sama sekali tidak memiliki kontak Jimmy. Hari itu benar-benar terputus, membuat Alice sedikit takut kalau Sing-Sing akan melupakan dirinya.

Keesokan harinya—Jumat, Alice kembali ke Sing-Sing Eating House. Dirinya datang dengan menumpang sebuah taksi merah. Tidak sanggup untuk mengemudi ke SSP yang lalu lintasnya terasa chaos untuk tubuhnya yang sedang lelah di hari itu.

Begitu memeluk Sing-Sing dan mendengarkan segala celotehan akan kunjungannya ke Snoopy World kemarin. Alice seolah kembali memiliki semangat kembali untuk menghadapi dua hari kedepan—harus pergi keluar negeri pada akhir pekan untuk menghadiri acara kantor.

Perlahan, satu minggu sudah terlewati setelah kunjungan pertama kalinya ke restoran milik Jimmy. Hampir setiap malam Alice selalu datang berkunjung. Selalu menghabiskan waktu setelah pulang kantornya untuk sebuah sajian makan malam dan bermain dengan Sing-Sing.

Bagi pekerja di restoran, Alice kini adalah seorang pelanggan tetap yang selalu datang di malam hari. Bagi Sing-Sing, Bibi Alice itu bagaikan seorang ibu peri yang selalu datang membawa buku baru dan membacakan untuknya.

Kehadiran Sing-Sing dalam hidupnya itu telah masuk ke dalam sistem operasi Alice. Seperti di pagi itu, Alice sedang berolahraga—mengelilingi sekitaran Tai Kok Tsui. Sempat melihat ada beberapa rombongan anak sekolah dasar yang segera memicu dirinya untuk mulai mencari pendidikan untuk Sing-Sing. 

Saat langkahnya melambat ia mengeluarkan ponsel, bukan untuk mengganti lagu yang masih berdendang di telinganya melalui wireless headset yang dikenakan. Tetapi melakukan pencarian: ‘Sekolah untuk anak umur tiga tahun.’

Ada sebuah sekolah tidak formal di dekat apartemennya. 

Ini berlebihan sih, kalau sampai aku menyokong biaya sekolah Sing-Sing.

Alice menghela napas dan langkahnya terhenti seketika dikala logikanya mulai kembali dan mengambil alih perasaannya. 

Tetapi, mungkin aku bisa mulai mendiskusikan hal ini kepada Jimmy. Mungkin saja dia kurang begitu paham soal pendidikan usia dini?

Pagi hari ia memikirkan Sing-Sing. Siang hari, Alice memikirkan bisnis milik Jimmy. 

Tepat jam makan siang, Alice melakukan soft selling di antara rekan-rekannya, Maggie dan Karen adalah dua korban utama saat keduanya bertanya-tanya soal: Makan siang dimana nih kita?

Alice dengan santainya mereferensikan restoran milik Jimmy dan membanggakan latar belakang Jimmy, mantan Chef di Restoran Golden Wok yang berbintang Michelin.

Tentu saja dua wanita itu langsung terpikat untuk mencoba dan Alice langsung berniat untuk melakukan pesan antar melalui aplikasi online.

Namun, setelah bolak-balik di aplikasi pesan antar raksasa di Hong Kong, Foodpanda. Alice sama sekali tidak menemukan “Sing-Sing Eating House”. 

Apa namanya beda ya? Alice yang diliputi penasaran langsung menghubungi restoran Jimmy.

“Halo? Dengan Sing-Sing Eating House? ini Alice…”

“Oh ya, Bu Alice… erm, mau berbicara dengan Boss? Dia sedang sibuk.” 

Klang-klang! Wussh!

Tak perlu dijelaskan, mendekati jam makan siang dan suara riuh dari sutil yang beradu dengan permukaan wajan itu adalah jawabannya—Jimmy sibuk!

“Eh, bukan, aku mau tanya kok resto kalian tidak ada di aplikasi online, ya? Pakai nama lain, ‘kah?” tanya Alice dengan suara kecil sambil menghindari dua rekannya yang sedang duduk di kursi sofa di hadapannya. Alice berdiri, melangkah mendekati jendela sambil memandang ke arah luar.

“Oh, memang tidak ada, Bu…”

“Hah?” Alice sempat tersentak kaget. Namun ia langsung mengatupkan bibirnya. “Gimana? Ga ada? Lah? Bukannya ada pesan-antar juga?”

“Ehe, iya bu, hanya via telepon dan radius 1 kilometer dari toko saja itupun dengan minimum pembelian.”

Oh Tuhan. Dia sungguh berjiwa tua sekali. Ini sudah tahun berapa Jimmy… Kenapa tidak memanfaatkan teknologi? Pertama tak ada EDC, sekarang tidak ada di aplikasi.

“Kalau saya pesan via chat bisa, ‘kan? Lalu nanti saya suruh orang untuk mengambilnya kesana?” Alice memutar otak karena kedua rekannya sudah mulai terpikat dan menentukan menu makan siang mereka.

“Tentu saja bu, bisa…”

“Syapa?” sayup-sayup suara kecil itu terdengar oleh Alice.

“Sing-Sing, ya?”

“Ah, iya Bu.”

“Coba berikan kepadanya, sebentar…”

“Ha, hawoo?” (Halo?)

“Sayang, ayo tebak suara siapa ini?” suara Alice tak lagi berbisik, kali ini ada semangat tersendiri ketika mendengar suara Sing-Sing.

“Bibi Alice! Bibi, malam ketemu Sing-Sing, ‘kan?”

“Iya sayang, nanti malam Bibi kesitu ya… Sing-Sing sudah makan belum?”

“Udah tadi—”

“Belum ya, Sing… Kamu belum makan siang.” sahut Yoyo merevisi Sing-Sing.

“Hayo! Kamu bohong, ya! Bibi marah nih… Kalau Sing-Sing belum makan siang, nanti malam Bibi ga jadi dateng ya?”

“I… Iya Sing-Sing makan, Sing-Sing makan!”

“Nah begitu dong, sayang… Sekarang kembalikan ke Bibi Yoyo ya teleponnya…”

“Y… Ya bu?”

“Yoyo, nanti saya kirim lewat chat ya, pesanan saya…”

“Oke baik, Bu ditunggu…”

Jika menyuruh supir kantornya ke SSP dan balik lagi ke IFC akan menghabiskan waktu satu jam lebih untuk pulang-pergi. Lantas karena sudah terlanjur merekomendasikan restoran Jimmy, Alice melakukan pick-up items melalui aplikasi pengiriman barang.

Enggak-enggak aku tidak mempermasalahkan biaya kirimnya. 

Aku mempermasalahkan kenapa dia tidak mendaftarkan resto nya pada aplikasi online? Padahal itu akan membuka kesempatan lain. Aku rasa, nanti malam aku harus mulai mempertanyakan bisnisnya ini.

“Telepon siapa, Lis?” tanya Maggie yang penasaran karena panggilan telepon tadi terdengar begitu intim karena Alice sempat menggunakan kata “Sayang”.

“Pacarnya lah!” serobot Karen.

“Ahaha—” Alice tertawa hambar. “Itu loh, anak tetangga yang selalu aku ceritain.”

ˎˊ˗⋆。°✩📄 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *