‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅

Sham Shui Po (SSP), Hong Kong.
Pukul delapan malam. Mobil sedan berwarna abu-abu tua baru saja terparkir di sisi jalan, di bawah kepungan Tong Lau (gedung tua) dari pertokoan yang beberapa diantaranya terlihat masih berdagang di malam hari itu.
Alice berada di balik kemudi sedan Lexus IS300 itu. Ia tidak langsung turun—membuka aplikasi peta pada ponselnya. Mengetik ‘Wonton Noodle‘ pada kolom pencarian. Hingga muncul beberapa rekomendasi restoran yang masih beroperasi yang menawarkan mi pangsit yang diinginkannya.
Pilihannya jatuh pada sebuah restoran, “Sing-Sing Eating House”. Alasan memilih restoran itu karena terdengar lucu baginya. Alice Moon (Bulan) makan malam di Sing (Kanton: Bintang).
Sudah tiga bulan terakhir, hampir setiap malam Alice berkeliling ke berbagai pelosok Hong Kong demi sebuah pelarian dari kepenatan dalam hidupnya. Tujuannya satu: Mencari sebuah restoran yang memiliki condiment—chilli oil yang enak dan cocok di lidahnya. Jika ketemu yang pas, maka ia akan berlangganan di restoran itu.
Letak restoran itu agak masuk ke dalam, ke jalanan yang lebih kecil. Alice sempat meragu namun rasa itu terkalahkan oleh hasrat untuk menikmati semangkuk mi kuah pangsit.
Alice terlihat masih rapi dengan setelan blazer abu-abu tua serta rok ketat yang tampak sempurna memeluk tubuh—pakaian yang dijahit khusus untuknya. Melangkah perlahan penuh kehati-hatian, menghindari genangan air agar tidak menodai pump shoes bludru hitamnya.
Seorang wanita berkelas yang selalu menjaga penampilan—sekalipun sudah di luar jam kantor dan berada di pinggiran kota. Dirinya begitu mencolok, kontras dengan dominasi penduduk yang berlalu-lalang hanya dengan kaos dan celana pendek. Selayaknya ‘hiu korporat’ yang berpindah ke kolam dengan banyak ikan kecil di dalamnya.

Tidak sampai dua menit berjalan kaki menyusuri trotoar, ia menemukan restoran yang direkomendasikan itu. Namun, alisnya segera bertaut ragu sebab restoran itu terlihat sepi dari pengunjung. Bukan restoran dengan ruangan AC tertutup—hanya bangunan tua dengan beberapa kipas angin yang bertiup kencang mendorong angin dari dalam ruko sebagai sirkulasi udara.
Tembok di dalam berwarna putih, berlapis keramik hijau dihiasi dengan berbagai macam dekorasi. Di mulai dari tulisan menu yang ditawarkan oleh restoran itu hingga poster ‘jadul’ artis Hong Kong era 80 an. Lampu putih terang yang cahayanya memantul di permukaan meja melamin putih—membuat restoran itu terasa tetap hidup dan walau telah sepi dari pengunjung.

Ada seorang pria yang sedang melap meja. Oh, masih buka?
Tatapan mereka bertemu, mulut Alice segera terbuka—mencoba untuk bertanya. Namun, gestur tangan yang memanggil dari pria berkaos putih dengan apron abu-abu di pinggang itu segera memberikan jawaban, ‘Masuk, masih buka.’
Alice melangkah masuk, mengambil tempat tidak jauh dari pintu utama karena ia menduga di dalam akan terasa pengap. Wangi gurih dari kaldu segera menyapa penciuman Alice, memicu penglihatannya untuk mencari menu apa yang ditawarkan yang biasanya dipajang di tembok. Mi kuah pangsit dan tambahan bakso ikan enak kali ya?
Mata Alice masih menyapu di setiap sudut tembok.
“Hai, mau pesan apa?” Ada suara kecil yang mengejutkan Alice.
Ada seorang anak perempuan kini tengah berdiri di dekat Alice. Mungkin berumur sekitar tiga atau empat tahunan yang tingginya sudah melebihi tinggi meja. Anak perempuan dengan rambut sepundak, sedang tersenyum manis layaknya menyambut tamu hendak menerima pesanan. Yang membuat Alice tersenyum karena anak perempuan itu telah memakai setelan piyama, membawa buku catatan kecil serta pensil.
“Oh halo, cantik… Kamu mau mencatat pesananku?”
“Iya, iya.” kepalanya mengangguk dan buku kecil itu segera terangkat diiringi dengan ujung pensil yang ditekan ke permukaannya seolah siap untuk menulis.
Ah, pelayan kecil ini lucu banget sih.
“Oke catat, ya, Sayang… hmm… Aku mau pesan… Mi Wonton—”
“Iya…” tangan kecil itu bergerak namun bukan huruf yang ia tulis, hanya sebuah garis tak beraturan.
“Lalu bakso ikan—”
“Oke. Mingnumnya mau apa?”
Alice tak kuasa untuk tidak tertawa—mendengar kata-kata yang tidak sempurna terucap. “Ahaha… Aku mau teh hangat, ya, Sayang…”
“Oke, seben—”
“Sing-Sing!”
Interaksi mereka diganggu oleh pria yang tadi membenahi meja. Pria itu menarik pundak anak perempuan itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya meletakkan nampan kecil berisikan peralatan makan serta bumbu pelengkap.
“Ya? Mau pesan apa?” tanya pria itu kepada Alice. Pria itu terlihat waspada, mungkin menganggap wanita berkelas seperti Alice akan terganggu dengan kehadiran dari anak kecil itu.
“Papa… Katanya Bibi mau mi wonton, bakso ikang dan teh hangat,” jawab anak kecil bernama Sing-Sing itu—menjawab pria yang ia sebut sebagai Papa.
Hmm… Hebat, anak itu dapat mengingat apa saja yang aku pesan dan mengulanginya.
Namun pria itu terdiam, tidak menanggapi anaknya.
Alice menggoyangkan kepala. Diikuti dengan telunjuk tangan kanan yang menunjuk ke arah Sing-Sing yang tengah berdiri di belakang kaki pria itu. “Mi wonton, bakso ikan dan teh?”.
“Yap,” jawab Alice.
Tanpa ada kata “Iya”, pria itu berlalu sambil terus mendorong Sing-Sing ke arah dalam. Alice masih melabuhkan senyum ke arah anak perempuan itu.
Sembari menunggu pesanannya, Alice menyadari sesuatu. “Sing-Sing Eating House”. Ah, jadi nama tempat ini berdasarkan nama anak itu ya?
Alice dapat melihat jelas ke area dapur—ada tiga orang pekerja disana. Papanya Sing-Sing yang saat ini sedang sibuk memasak, seorang wanita muda yang sedang sibuk di mesin kasir yang terakhir ada seorang pria lain yang keluar dari dalam lorong membawa tumpukan mangkuk yang terlihat masih basah dan mengkilap.
Terdengar bunyi ‘wusshh’ dari arah dapur, bunyi kas dari kompor high pressure. Disusul dengan irama dari mangkuk keramik yang beradu. Gerakan Papa-nya Sing-Sing terlihat cekatan dan luwes saat mempersiapkan pesanan. Mata Alice kemudian berpindah ke arah condiment yang berada di hadapannya.
Wah, Chilli Oil-nya… Terlihat menjanjikan, padat. Bukan sekadar di dominasi minyak berwarna merah saja.
“Sing-Sing duduk disini, ya.” Sosok gadis kecil itu kembali ke hadapan Alice. Kali ini ia membawa sebuah buku bergambar hewan. Anak kecil itu segera mendorong kursi plastik dan memanjatnya.
“Eh, eh, bisa?” Perhatian Alice langsung tersita kepada anak itu. Bahkan ada refleks—sedikit bangkit dari duduk untuk mencondongkan badan sambil mengulurkan tangan demi menjaga Sing-Sing yang sedang memanjat kursi.
Dengan bangga Sing-Sing langsung membuka buku miliknya yang sudah berada di atas meja. “Mamalia ini namanya singa… Kalau mengaum berisik… AUUUMM!” dengan polosnya Sing-Sing bercerita.
Alice memperhatikan anak itu dengan mata yang terbuka lebar dan mulut yang tersenyum.
“Hei, kita belum berkenalan… Siapa nama kamu, Sayang?”
“Sing-Sing… Lau Hui-Sing! Kalau… Kalau Bibi?”
Astaga dia menggemaskan sekali! Bisa menyebutkan nama panggilan dan nama lengkapnya sendiri!
“Alice…” terdengar seperti ‘Elissh’ karena Alice menyebutkannya dalam pelafalan Prancis.
“Eyyiss?” Alice tersenyum lebar.
Ah iya, dia masih kecil, mungkin lidahnya susah untuk menyebutkan namaku.
“Bukan-bukan… Ikuti aku ya, A—”
“A—” Sing-Sing mengikutinya.
“Li… Su…”
Alice membuat pelafalan namanya menjadi berbeda, menjadi lebih mudah untuk lidah Asia, menjadi Alisu.
“Alisu? Bibi Alisu?”
Alice mengangguk sambil tetap tersenyum lebar, “Sing-Sing umur berapa?”
“Tiga!” Sing-Sing mengangkat tiga jari kecilnya ke udara.
“Oh… Tiga tahun, kok belum bobo, Sayang?”
“Nggak, mau baca buwku dulu… Bibi bacain ini dong, aku nggak bisa baca…”
Alice langsung tertawa mendengarkan permintaan kecil itu. “Haha… Sini-sini mana yang mau bibi bacakan?”
Buku itu terlihat sedikit kumal—beberapa bagian berwarnanya bahkan sudah mulai bergaris putih. Entah sudah berapa ratus kali Sing-Sing membuka untuk melihat gambarnya, mungkin saja buku itu telah menjadi buku kegemarannya.
Alice sama sekali tidak keberatan untuk membacakan buku berbahasa Inggris itu dan menerjemahkannya ke bahasa Kanton agar dimengerti oleh Sing-Sing. Baginya ini sebuah hiburan setelah kepenatan seharian penuh menghadapi lembar demi lembar laporan keuangan dan beradu argumen dengan para manusia berkerah putih di dalam gedung kantornya, Crestview & Associates.
“Lalu ini yang tubuhnya besar dan memiliki belalai—”
“Gajah!” belum selesai Alice bercerita sudah dipotong oleh Sing-Sing.
“Bibi, bibi tahu nggak? Mamalia apa yang punya leher panjang, apa?” Sing-Sing memberikan pertanyaan kepada Alice.
“Mmm… Apa ya?” Alice berpura-pura berpikir. Rasa takjub hadir, karena anak kecil ini sudah mampu memberikan teka-teki soal mamalia kepadanya.
Ah, mungkin buku ini sudah dibacakan berulang-ulang kali kepadanya? Sehingga pengertian soal ‘Mamalia’ itu adalah murni ingatannya bukan pemahaman arti dari mamalia itu sendiri.
“Jerapah?”
“Benar! Yey! Sekarang bibi tutup mata, aku mau kasih Suw-pai-su!“(surprise)
Astaga. Sing-Sing begitu lucu sekali dan dia pintar!
Alice menurut—langsung menutup matanya. “Surprise itu apa sih, Sing?” tanya Alice dengan mata yang masih terpejam.
“Kejutan! Hadiah!” jawab Sing-Sing.
Alice terkekeh. Semakin kagum dengan Sing-Sing yang sudah mampu mengerti bahasa Inggris sederhana.
“Sekarang… buka matanya! Nih dia!”
Alice perlahan membuka matanya dan melihat ke hadapannya, Sing-Sing tengah mengangkat sebuah sumpit bambu yang masih berada di dalam plastik kemasannya. “Wah, apa ini, Sing?”
“Sumpit! Buka dong!”
Alice masih terus tersenyum—menerima dan lekas membuka sumpit bambu itu. “Wah, ini untuk apa, ya, Sing?”
“Makan! Untuk makan mi, kan Bibi pesan mi…”
Anak tiga tahun namun logikanya seperti sudah berkembang pesat, di mulai dari pretend play sebagai waiter yang mencatat menu, mengingat seluruh pesanannya, meminta Alice untuk membacakan buku, menyebut nama lengkapnya, memberikan teka-teki hingga menghadiahkan sesuatu untuk Alice ketika berhasil menjawabnya.
Ini bukan sekadar hiburan… Aku telah bertemu dengan anak yang pintar atau mungkin saja dia jenius?
Pesanan makan malam Alice pun tiba. Mi wonton, bakso ikan dan segelas teh hangat.
“Sing-Sing! Ayo sini jangan ganggu tamu…” bukan suara dari Papa-nya Sing-Sing tetapi dari pria lain yang sebelumnya keluar dari dalam lorong membawa tumpukan mangkuk.
“Ga mau, awku mau disini sama Bibi Alisu.”
“SING-SING!” suara kencang dan besar kini terdengar dari arah area masak, suara milik Papa-nya Sing-Sing.
Namun Alice langsung mengangkat tangan kanannya ke udara disertai anggukan kepala sambil tersenyum lebar ke arah dapur sana. ‘tidak apa-apa’.
“Temani aku makan ya, Sing-Sing…” Alice mencelupkan sumpit yang diberikan Sing-Sing ke dalam mangkuk mi.
“Ya…” Sing-Sing segera kembali sibuk memperhatikan buku miliknya.

Oke sekarang kita coba mi kuah pangsit dan cabenya ini. Alice mengambil sedikit chilli oil yang terasa menggoda secara visual itu, meletakkan sedikit pada sendok bebek sembari mengambil sedikit kuah pada mangkuknya.
Kuah kaldunya begitu gurih, tidak tipis. Ketika rasa pedas menjalar di lidahnya, chilli oil itu terasa sedikit asin saja seperti ada perpaduan beberapa rempah, bawang putih, merah, udang ebi dan kacang? Entahlah yang jelas kombinasi ini enak!
“Sing-Sing sudah makan malam?” tanya Alice sambil mengaduk-aduk mi dengan perlahan.
“Sudah”
“Makan apa tadi, Sing?”
“Nasi goreng… Buatan Papa enak loh…”
Tawa Alice kembali pecah namun kali ini ia menghalangi mulut dengan tangan kirinya.
Ini Soft Selling Marketing oleh anak kecil kah? Lucu sekali sih…
Memang Alice sempat melihat ada menu nasi goreng pada daftar menu. “Oh, ya? Lain kali Bibi coba pesan deh, ya, buatan Papa kamu…”
“Mmh… harus coba, enak enak.”
Mata Alice tidak terlepas dari sosok Sing-Sing saat ia telah mulai menikmati hidangan makan malamnya.
Pangsitnya berisikan udang segar dan beraroma rempah yang otentik, tidak amis. Mi-nya juga tidak overcooked sampai lembek. Masih terasa kenyal ketika dikunyah. Beres satu suap mi, ia mencoba satu dari lima butir bakso ikan. Teksturnya begitu lembut dan berisi, bukan tipikal garing yang berongga.
Alice mempunya kebiasaan untuk Live Comment jika makanan yang masuk ke dalam mulutnya terasa tidak enak. Kali ini, ia tidak berkomentar apapun. Bukan karena menghargai masakan ayahnya Sing-Sing tetapi karena hidangan itu benar-benar cocok dengan lidahnya.
Oke, ini akan jadi tempat langganan yang baru.
Mata Alice berbinar memperhatikan Sing-Sing yang terus mengoceh menemaninya saat makan malam, kontras dengan sosok sang ayah yang berada di ujung sana, berdiri sambil melipat tangan di depan dada dan memberikan tatapan tajam—memperhatikan buah hatinya.
Hufh! Rasanya seperti sedang berkencan namun diawasi dari kejauhan oleh orangtuanya.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
