‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
“Halo, Lis? Dimana kamu? Sombong amat ga di angkat tadi? Lagi sibuk pacaran sama si duda koki itu ya? Ehehe.”
Mulut Alice langsung terkatup rapat—kesal, mendengarkan tudingan itu.
Lah, Tau dari mana duda?
Sebab Alice tidak pernah melepas informasi soal status duda itu. Yang dia lepaskan kepada Karen dan juga Maggie adalah Jimmy itu seorang chef yang dahulu pernah kerja di Golden Wok namun kini bikin usaha sendiri di Sham Shui Po.
“Ngomong apa sih, Ren?” Alice berusaha menghindar agar Karen membuka mulut lebih besar.
Info apa saja yang sudah kamu serap?
“Ya… Tahu dari Winnie, dong. Laporan tuh dia… tadi ke aku… Kalau ketemu kamu di SSP pas beli makanan di Sing-Sing Eating House. Katanya kamu lagi gendongin anak yang punya restonya… Pasti… anaknya Jimmy, ‘kan?”
Sialan, asumsi liarnya tepat!
“Duda, duda… Tau dari mana coba?”
Alice beranjak menghindari Sing-Sing, ia memilih untuk berdiri di dekat jendela sambil memandangi jalanan di bawah yang mulai kembali ramai.
“Lah… Itu loh waktu kamu mentraktir Winnie, pegawai di sana bilang “Itu di traktir ibu boss.” pfft… Ibu boss loh, Lis! Pria dengan anak tapi ibu bossnya… kok kamu? hm hmm yang namanya ibu boss ‘kan—ya, sudah pasti erat tuh urusannya sama Pak Boss Jimmy… Kalau ga istri sah… atau pacar barunya Pak Boss Jimmy yang telah menduda?”
Astaga. Ini kombinasi kekacauan antara: ceplas-ceplosnya Sing-Sing soal restoran milik ayahnya, kepolosan Ah Ling serta Winnie—jadi salah persepsi makanya jadi runyam begini. (Bab 17)
“Nggak, ya! Enak aja! Ibu anak ini masih ada—”
“Oh, bercerai, Lis? Kirain ditinggal mati.”
Sialan. Karen kerap memotong namun kalimat berikutnya langsung tepat pula.
Hadeuh… Ini orang kepalanya kenapa bisa begitu cepat dalam menanggapi kepingan cerita remeh macam gini sih?
“Ren, please… Jangan heboh-heboh amat, ya.“
“L… Loh, Lis?”
Alice tak mendebat semua asumsinya Karen malah ia langsung menutup dengan pesan; jangan terlalu berlebihan.
“Jadi beneran? Kamu lagi deket sama Jimmy? Pinter amat? Deketin anaknya dulu buat deketin bapaknya?”
“Heh! Ga, gitu ya, Ren! Nggak. Aku ga deket sama Jimmy dalam artian romantis, ya, aku itu mendekatkan diriku ke anaknya.” Alice mulai mengungkapkan sedikit fakta.
Alhasil Karen dibalik panggilan sana terdiam sunyi selama beberapa detik.
“Ooh… Bentar-bentar, jadi anak tetangga itu… Yang suka kamu ceritakan itu… Anaknya Jimmy, nih? Lis?”
“Iya, Ren. Iya.” Alice memejamkan mata dan mengusap-usap dagunya.
Ya, aku sering bertanya soal perkembangan anak kepada Karen dan Maggie. Selalu berdalih kalau itu anak tetangga.
Ada suara terengah kaget dari Karen.
“Wow, this is so new, Lis!”
“Ren, please, jangan cerita ke siapa-siapa lagi even ngejelasin ke Winnie, ga—ga usah jelasin apa-apa lagi ke dia. Daripada semakin kemana-mana sebab aku—” Mata Alice tertuju kepada Sing-Sing yang sedang menumpuk mainannya dijadikan gedung yang tinggi. “Belum siap dan mengerti arah hubungan kami ini.”
“Sshh—” Karen mendesis. “Ah elah. Mana udah nge-chat Maggie lagi, habis ini aku hapus deh.”
‘Kan? Soal dunia ghibah dan gosip si Karen memang nomor wahid. Belum apa-apa downliner-nya sudah ada satu.
“Ya, sudah senin begitu aku kembali ke kantor… Kita ngobrol-ngobrol lagi deh…” Alice menghela napas.
“Oh… Iya harus dong, Lis!”
Panggilan itu ditutup. Kepala Alice segera tertunduk lesu, melihat apakah ada notifikasi lain yang ia lewati sedari tadi.
Ternyata memisahkan dua identitas itu hampir mustahil ya?
Akhirnya bertabrakan juga. Namun, tidak aku duga bisa secepat ini. Aku kira masih nanti lagi. Tiga atau enam bulan lagi?
Ini baru satu bulan lebih dekat dengan Sing-Sing sudah mulai ada yang tahu.
“Nih, nih, Sing-Sing bikin gedung tinggi…” Celotehan Sing-Sing segera mengenyahkan wajah panik sang Vice President yang kehidupan pribadinya mulai terbongkar itu.
Alice mematikan layar ponsel. Segera melipat lutut di playmat untuk bermain bersama si kecil.
Ada celotehan kecil Sing-Sing yang membuat Alice kembali terkagum. “Kemarin pas di mall, naik lift aku tekan tombol ke lantai three!”
“Three? What is three?” Tahu kalau Sing-Sing mulai mengingat angka dalam bahasa Inggris—Alice segera mengujinya.
“Three itu tiga. One-Two-Three umm empat, lima—”
“Pfft—” Kepala Alice tertunduk, tersenyum lebar hingga tertawa dan ia segera menghalangi mulutnya dengan punggung tangan kanannya. “Duh, lucu banget sih kamu, Sing.” Alice mengelus rambut halus Sing-Sing yang masih terasa agak basah.
Kepanikan dan kekhawatirannya langsung enyah begitu saja ketika dirinya kembali menghadapi Sing-Sing. Masih ada beberapa puluh menit sebelum jam enam—jadwal makan Sing-Sing.
Alice segera menggunakan kreativitas nya untuk membuat sesuatu. Membuat gambar tombol dengan nomor satu hingga sepuluh yang disusun secara vertikal lengkap dengan huruf G dan B—menyerupai tombol di dalam lift.
Dalam sekejap Sing-Sing langsung mengetahuinya, “Tombol Lift!” Namun, bukan untuk sekadar pretend play saja. Perlahan Alice mengajarkan bahasa Inggris dari angka satu hingga sepuluh.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Waktu terus berputar, kini sudah mendekati waktu makan malamnya Sing-Sing. Memasuki jadwal makan malam, Alice dan Sing-Sing segera turun ke bawah.
Kondisi restoran, ramai dan hampir setiap meja terisi pelanggan. Satu meja tersisa adalah meja ketujuh yang dekat dengan kasir dan selalu ada tumpukan sayur atau daging yang akan dipotong untuk dipersiapkan.
Disana piring stainless bersekat sudah tersaji, ditutupi dengan piring besar lainnya—sajian makan malamnya Sing-Sing.
Setelah keadaan di restoran mulai bernapas, Jimmy bisa meninggalkan wajan—menghampiri Sing-Sing yang sudah mulai menyuap makan malamnya.
“Nyerah?” Jimmy melempar pertanyaan itu tepat setelah ia berada di belakang Alice.
“A… Apanya?” Jawab Alice dengan sorot mata menghindari Jimmy, sambil menyuapi Sing-Sing. “Sayang, ayo A… a…” refleks mulut Alice ikut terbuka sampai sendok berisikan nasi dan daging itu masuk ke dalam mulut Sing-Sing.
“Itu… Mandiin, dia? Baju kamu sampai ikutan basah begitu, Lis…” Jimmy tersenyum, memperhatikan Sing-Sing yang telah bersih dan segar setelah mandi sementara Alice terlihat kacau, baju dengan jejak basah disertai tatanan rambut yang kini dicepol.
“Nggak, belum.” Alice menjawab Jimmy dengan seadanya dan cepat. Bukan karena dirinya sedang konsentrasi menyuapi Sing-Sing tetapi pikirannya masih terganggu setelah telepon dari Karen tadi.
Itu Ah Ling, pegawai baru sudah salah sangka, bagaimana Ah Kit dan Yoyo yang sudah mulai mengenalku? Apa aku ini terlalu intens dengan Jimmy? Tapi batasan itu sudah saling kami ungkapkan dan dipahami dengan jelas.
“Mau makan malam apa, Lis?”
Sorot mata Alice kerap bergerak liar sebisa mungkin menghindari tatapan dengan Jimmy. “Umm apa ya? Ngau Lam Fan saja deh…” hanya itu yang terpikirkan oleh Alice karena makan malam Sing-Sing hari ini juga itu, semur daging sandung lamur sapi.
Jimmy mengangguk dan dia segera menyiapkan makan malam Alice.
Aduh-aduh ga bisa begini… Malah jadi aneh dan kaku. Kenapa harus terpengaruh Karen, sih? Kalau kenyataannya sungguh tak ada apa-apa di antara kami?
Mata Alice terpejam, segera mengusap dagu sambil menghela napas panjang.
Makan malam Alice benar-benar serupa dengan makan malam Sing-Sing. Daging semur, nasi dan sedikit tambahan sayur tauge. Sepertinya Jimmy sengaja menambahkan itu khusus untuk Alice. Sebab terakhir kali Alice menikmati Ngau Lam Fan, tidak ada tambahan sayur sama sekali.
Baik porsi dan rasa dari nasi atau daging itu tetap konsisten. Suapan pertama membuat Alice bersuara. “Mmhhh” karena indera pengecapannya kembali dimanjakan oleh tekstur dan rasa dari daging itu.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Pukul tujuh lewat lima belas.
Ah Ling mulai sedikit merapatkan folding gate. Alice sadar kalau waktu tutup restoran ini semakin cepat. Alice menoleh ke arah Jimmy yang kini sedang mengguyur wok dengan air bersih.
“Lah, Jim… Tutup? Sudah habis?” tanya Alice dengan suara yang sedikit berteriak.
Jimmy mengangguk. “Tadi siang ‘kan ramai banget, Lis.”
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Jimmy untuk membersihkan area kerjanya. Kemudian Jimmy mendekati meja Alice sambil membawa dua cangkir teh hangat.
Begitu ayahnya tiba, Sing-Sing langsung melompat dari kursi di samping Alice untuk berpindah ke pangkuan Jimmy.
Alice terbungkam saat memperhatikan pemandangan yang terjadi hadapannya. Bagaimana senyuman manis seorang anak dapat menghapus kelelahan seorang ayah yang baru saja membanting tulang seharian demi kehidupan mereka.
Jimmy tersenyum lebar begitu putri kecilnya melabuhkan pelukan dan berceloteh manja pada dirinya.
Alis milik Alice bertaut—mempertanyakan ketegaan dari wanita yang dinikahi oleh Jimmy, ibunya Sing-Sing. Setega itu, meninggalkan pria yang sedang menata ulang hidupnya.
Cih, Bukannya menemani malah meninggalkan mereka.
“Jim, waktu kemarin aku sakit, aku jadi memikirkan restoran ini.” Alice segera membuka percakapan.
“Hah? Kok bisa, Lis?” Jimmy mengangkat Sing-Sing agar duduk dipangkuannya.
“Jadi, kepikiran itu, kalau kamu yang sakit restoran juga jadi berhenti beroperasi… ‘kan, sayang tuh?”
“Hmm, ya… Sudah kubilang ‘kan, Lis? Nanti memang harus aku pikirkan lagi bagaimananya.”
“Ehem—” Alice berdehem sambil mengambil kertas dari dalam tas. Kemudian ia dorong kertas yang terlipat dua bagian itu ke arah Jimmy.
“Apa ini, Lis?”
“Cuma… umh, ide… Mungkin bisa dipertimbangkan namun tidak perlu buru-buru menerapkannya.”
Jimmy membuka lipatannya dan mulai membacanya sedikit.
“Papa apa ini? Bacain…”
“Ini bukan cerita ya, Sing,” jawab Jimmy.
Selama beberapa detik mata Jimmy memperhatikan beberapa baris awal dari proposal itu.
“Mengurangi waktu dan menambah pegawai, lagi?” Alisnya segera bertaut kesal. “Tidak ada… Ide lain ini, Lis?” Sambung Jimmy.
“Mengurangi jam kerja dan mulai menerapkan Shift, Jim,” ucap Alice dengan perlahan. Ia tahu ini pasti akan susah bagi Jimmy yang mengidap krisis tidak percaya terhadap orang baru.
“Umh…” Jimmy kembali melipat kertas itu. “Kupikirkan dulu, ya, Lis. Keputusannya tidak harus besok kan?”
“Y… Ya.” Alice tidak ingin mendebat lebih jauh.
Memberikan Jimmy waktu adalah sebuah jalan yang tepat. Idenya bukan prioritas yang krusial namun jika tidak diikuti, Jimmy hanya akan sedang memupuk bom waktu saja.
“Besok, jadi pergi dengan Sing-Sing?”
Alice menjawab dengan anggukan kepala, memberikan senyuman tipis ke arah Sing-Sing yang berada di pangkuan Jimmy. “Sing-Sing mau pergi kemana, Pa?”
“Loh, bukannya mau pergi lihat laut sama Bibi Alice? Sing-Sing mau tidak?”
“Mau, Papa ikut juga, ‘kan?” Sing-Sing menoleh ke arah Jimmy.
Jimmy tersenyum tipis, “Tidak, kamu sama Bibi Alice saja ya, Papa ga ikut.”
“Yah…” wajah Sing-Sing merajuk. Bibirnya meruncing kesal.
“Jam berapa, ya, Jim, besok enaknya? Aku jemput dia?”
“Umm, memangnya… Kamu rencana mau kemana saja?”
Alice menggigit bibir bawahnya dan bola matanya berputar ke kiri dan kanan. “Kayaknya sih jalan-jalan di promenade sekitaran apartemenku, disana bisa melihat laut… Terus makan siang di Olympian City? Lanjut, main di apartemenku… Sebelum jam enam sore, jam makan malam dia… Aku antar dia pulang, boleh?”
Jimmy menganggukan kepalanya perlahan. “Boleh, Lis. Apartemenmu juga tidak terlalu jauh, jadi kalau ada apa-apa aku mudah menghampiri kalian nantinya.”
Senyuman tipis segera merekah di wajah Alice yang mulai berseri. Selama beberapa saat mereka berdua meladeni Sing-Sing yang sedang mengoceh soal esok hari.
“Yang tadi—” Jimmy melirik ke arah Alice. “Yang kamu traktir Kwetiau… Orang kantormu?”
Alice mengangguk cepat. “Iya, Jim. You know what… Yang suka aku traktir makan siang adalah Maggie dan Karen yang kemarin sempat ketemu di RS… Sedangkan yang tadi datang itu, anak buahnya Karen… jadi… Karen-lah yang mempromosikan tempatmu ini.”
“Pfft—” Jimmy menahan tawa. “Oh, downliner?“
Alice menjawab dengan gerakan alis yang naik turun. “Kamu mungkin pindah dari wilayah Central kesini, tetapi tetap saja masakanmu masih diakui disana… Makanya, Jim. Aku berambisi mau membuat Sing-Sing Eating House ini muncul di aplikasi pesan online!”
Sekali lagi Jimmy melepaskan tawa diiringi helaan napas. “Kayaknya… Itu akan berhubungan dengan ide kamu ini? Harus saya jawab sekarang dong?” Tangan kanan Jimmy kembali membuka kertas pemberian Alice.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Sudahlah terima aja, Jim.
Apanya?
Cintanya Alice. :p
