
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Alice telah menghabiskan hidangannya hingga tuntas. Ada dua faktor: lapar iya, enak juga iya.
“Bibi bacain lagi dong… Ini dong…” Sing-Sing tidak memberikan kesempatan kepada Alice untuk sekadar merapikan lipstik di bibirnya setelah selesai makan. Sing-Sing malah ‘memalak’ Alice untuk segera membacakan kembali buku miliknya.
Saat Alice melirik ke arah jam dinding—sudah hampir pukul sembilan malam. Pasti wanita di kasir tadi adalah ibu dari anak ini dan akan segera mengambilnya.
Namun, dugaan Alice salah. Wanita muda itu malah terlihat seperti bersiap untuk pergi. Sudah memakai jaket lalu menggendong sebuah tas. “Boss, aku pulang ya!”
P… Pulang? Boss? Bukan ibunya Sing-Sing?
“Eh, Sing-Sing ayo masuk, nanti diomelin Papa, loh.” Wanita itu sempat menegur Sing-Sing yang masih menunjuk-nunjuk ke gambar hewan yang berada di dalam buku.
Tatapan mata Alice sempat bertemu dengan wanita itu—saling merekahkan senyum disertai anggukan kepala. Wanita itu berlalu dan menarik pintu besi depan untuk menutup sebagian toko.
“Sing, Mama kamu mana? Tidak mau ke kamar? Nanti, kamu diomelin loh…” dengan suara lembut Alice memberikan pertanyaan itu kepada Sing-Sing—matanya sudah mulai terlihat sayu.
“Haa? Kata Papa, Mama pergi lamaaa banget.”
“P… Pergi?” Mulut Alice seketika terkatup.
Tatapan Alice sedikit melorot ke arah buku bergambar yang sedang Sing-Sing lihat. Pergi lama banget? Apa itu adalah kata-kata pengalihan kepada anak kecil yang masih polos dan belum mengerti apa-apa ini kalau… ibunya kerja di luar kota? atau ibunya telah tiada?
“Iya pergi,” jawab Sing-Sing.
“Pergi kemana Sing?”
“Ga tau.”
“Mama sering pulang temui Sing-Sing?”
Perlahan, Alice mencoba menyelidiki sosok ibunya Sing-Sing.
“Ga pernah”
Tidak pernah? Rasa heran semakin menyelimuti Alice. Kalau ibunya bekerja di luar kota, masa iya tidak pernah pulang ‘kampung’ untuk menemui anaknya? Alice tidak melanjutkan investigasi, sebab sang Papa terlihat sedang berjalan mendekati meja mereka. Pria itu telah melepaskan apronnya. “Sing-Sing ayo sini…”
“Ga mau! Sing-Sing masih mau baca buku.” Sing-Sing menggelengkan kepalanya.
Ini terasa seperti sebuah usiran halus karena waktu operasional restoran tampaknya sudah berakhir dan sudah masuk ke jam tidurnya Sing-Sing.
“Maaf, anak saya telah mengganggu anda…”
“Ah, Tidak apa-apa… Oh iya, saya mau bayar.”
“Oke, sebentar—” Pria itu menyentuh dan mengusap perlahan kepala Sing-Sing lalu melangkah kembali ke dalam ke area kasir.
Alice mengikuti pria itu agar dia tidak bolak-balik hanya untuk memberikan struk pembayaran.
Meja dengan sekat kaca itu terlihat begitu ‘penuh’ di mata Alice. Ada hal unik disana—sebuah mesin kasir tua yang sudah ketinggalan zaman. Tidak ada layar LCD, hanya layar VFD tua yang memuat angka-angka berwarna hijau cerah. Terlihat juga ada tumpukan kertas struk yang ditancapkan hingga menggunung di samping mesin itu. Salinan dari setiap tagihan yang telah dicetak.

Buset. Jadul banget, gimana kalau lagi ramai? Seingatku mesin macam itu harus hafal dengan kode-kode itemnya.
“Chilli Oil-nya, enak…” puji Alice sambil menunggu tagihannya.
“Oh ya, ya, Terima kasih…” Pria itu menganggukkan kepalanya sekali.
“Bikin sendiri?”
“Iya.” Pria itu masih sibuk mengetik sesuatu. Tampaknya dia sendiri pun tidak begitu menghafal kode barang.
Jawaban singkat itu membuat Alice meruncingkan bibirnya, “Ooh…”
Mata Alice kemudian berlabuh ke sebuah artikel yang berada dibalik kaca meja. “The Golden Wok: How Executive Chef Jimmy Lau is Redefining Cantonese Fine Dining.” artikel lama, kertasnya sudah terlihat menguning dan foto yang dimuat sudah memudar. Namun, terlihat jelas itu adalah foto wajah Papa-nya Sing-Sing.
Jimmy Lau? Executive Chef? Turun kasta hingga ke wilayah seperti ini? Hhm…
“Maaf, satu mi wonton, bakso ikan… jadi totalnya 45 dollar.”
“Teh nya?”
“Gratis.”
Tangan kanan Alice segera merogoh ke dalam tas, mencari keberadaan card holder. Begitu menemukannya, sebuah kartu hitam berlogo Mastercard itu keluar dari dalam sana—segera diarahkan kepada Jimmy.
“Maaf Nona…” Jimmy menepuk-nepuk sekat kaca di hadapan mereka. Ada tulisan tercetak besar di atas kertas berukuran A4. “NO CARD CASH ONLY“.
“Aish—” Alice menggerutu kesal. Gila hari begini masih ada aja yang ga punya mesin EDC? Namun logikanya segera membantah rasa sinis itu. Wajar aja sih, ini Sham Shui Po. Mungkin saja biaya MDR memberatkan untuk usaha kecil. Alice meraih selembar uang pecahan seribu dolar yang diselipkan pada Card Holder.
“Aduh Nona… Jangan bercanda… Masa membayar 45 dollar memakai pecahan sebesar itu… Pakai Octopus saja, bisa.” Jimmy meraih alat kecil berwarna oranye putih.
Ah, Octopus. Alice mencari keberadaan kartu Octopus miliknya. Tidak sampai satu detik ia langsung menemukannya karena warnanya yang mentereng, oranye. Duh, masih bisa dipakai tidak ya? Terakhir kali pakai kayaknya tahun lalu. (Octopus sejenis E-Money atau Flazz BCA di Indonesia)
Doot! Transaksi berhasil 45 dollar terpotong dari saldo di dalam kartu milik Alice.
“Cepat sekali… Jam tutupnya? Biasanya tempat makan disekitar sini tutup jam 11? 12?”
Jimmy tersenyum simpul, “Sing-Sing harus tidur, saya harus menemaninya… Lagi pula kami sudah buka dari pagi, kok.” Jimmy memberikan bukti struk pembayaran kepada Alice. “Terima kasih, Nona.”
Harus… menemaninya? Hmm… Jadi benar, dia merawat Sing-Sing seorang diri?
“Sing-Sing… Ayo!” dengan alis yang bertaut Jimmy melihat ke arah anaknya.
Alice tersenyum ketika menoleh ke belakang. Sing-Sing menuruti perintah itu. Ia sudah turun dari kursi, melangkah perlahan sambil memeluk buku dan mulai mengucek-ucek matanya.
Saat hendak memasukan dompet rampingnya kembali ke dalam tas, Alice melihat ada sebuah tip jar beling di meja. Berisikan beberapa uang lebar dan koin pecahan kecil. Ada tulisan kecil pada tip jar itu. “Untuk mainan Sing-Sing.”
Tanpa ragu, uang seribu dollar yang masih di berada tangan kirinya segera didaratkan ke dalam tip jar—saat Jimmy lengah karena hendak menggendong Sing-Sing. ($1.000 HKD = +/- 2.2jt rupiah).
“Selamat malam, Sing-Sing… Selamat bobo,” ujar Alice sambil melambaikan tangan ke arah Sing-Sing.
“Met bobo, besok—besok… bibi Alisu kesini lagi ya, kita main lagi.”
“Eh, jangan begitu… Bibi mungkin sibuk, Sing…” bisik Jimmy.
Alice masih tetap tersenyum. “Tidak janji, ya… Tapi Bibi usahakan…”
Sing-Sing melambaikan tangannya. “Bye-bye“
Alice masih memberikan senyuman kepada anak itu. Menganggukan kepala sekilas sebelum kakinya melangkah untuk keluar dari dalam restoran.
Bunyi derit besi terdengar sesaat setelah Alice keluar dari dalam restoran. Folding Gate merah tua itu segera menyempit, hampir tertutup sempurna. Neon Box kecil di atasnya pun berhenti menyala, menandakan “Sing-Sing Eating House” sudah selesai beroperasional.
Perut dan perasaan Alice telah penuh di malam itu. Saat itu juga ia mengakhiri misi pribadinya: mencari rumah makan yang punya Chilli Oil yang enak.
Selain kriteria utama ada dua hal lainnya yang memberikan nilai lebih: Pertama, sajiannya klop dengan selera Alice. Kedua, kehadiran si kecil Sing-Sing yang pintar itu menjadi hiburan tersendiri untuk Alice.
Alice melangkah perlahan sambil berkutat dengan ponselnya, bukan untuk urusan pekerjaan tetapi untuk memberikan rating 5 pada restoran itu.
Wilayah Sham Shui Po malam itu masih ramai, ada bisnis yang masih buka ada juga yang sudah tutup dan sedang melakukan bongkar muat barang.
Bagi Alice makan malam tadi bukan sekadar mengisi perut, tetapi ada sebuah teka-teki baru yang sedang disusun di dalam pikirannya atas sosok Sing-Sing dan Jimmy.
Jimmy, dahulu adalah seorang Executive Chef sampai pernah muncul di sebuah artikel. Menandakan dia bukan sekadar pria yang bisa memasak saja. Sebab lewat masakan sederhananya telah memberikan fakta kepada Alice. Lantas, apa yang membuat dia turun kasta? Jika sebelumnya ia memasak untuk restoran mahal, kenapa kini ia ‘tersesat’ di lingkungan menengah yang padat dan sempit ini?
Apa dia problematik? Atau meneruskan usaha keluarga?
Lalu si kecil Sing-Sing. Dia… pintar! Rasa kagum itu masih belum pudar karena daya ingat anak perempuan berumur tiga tahunan itu. Diawali ketika mengingat semua pesanan Alice lalu saat anak itu memberikan kuis kepadanya. Awalnya Alice menduga kalau pertanyaan itu murni karena perkembangan logika dari anak itu—tidak. Rupanya pertanyaan itu berasal dari buku yang dibacakan untuknya. Ingatan dia hebat!
Sing-Sing bilang ibunya pergi untuk waktu yang lama. Apakah benar-benar sudah tiada? Atau… Jimmy sudah bercerai? Intinya kalau sosok ibunya telah meninggalkan Sing-Sing, selama ini dia hanya dibesarkan oleh sosok ayah di lingkungan seperti ini?
Rasa-rasanya potensi besar Sing-Sing akan menjadi percuma.
Belum lagi Alice merasa ‘gatal’ dengan jiwa tua dari rumah makan itu. Padahal para pekerja di tempat itu masih terbilang muda. Kenapa masih memakai cash register tua yang merepotkan? Padahal bisa memakai ponsel, aplikasi POS dan printer thermal agar semua pesanan dan laporannya jelas!
Lalu, mesin EDC! Aiyah! Bagaimana jika yang datang grup besar dengan pesanan banyak saat membayar mereka ingin “tap” atau “gesek” Credit Card tetapi tidak bisa? Apa karena potongan besar MDR-nya?
Mulut Alice ingin mengkritik habis-habisan namun apa daya, ia hanyalah seorang pelanggan baru di “Sing-Sing Eating House”.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Pukul satu siang, Gedung 2 IFC Building kembali menelan para penghuninya. Gelak tawa seketika membeku ketika mereka melangkah masuk ke gedung yang dingin dan senyap—kontras dengan trotoar Central yang panas dan bising suara kendaraan.
Alice berada di antara kerumunan pegawai korporat. Ada dua orang wanita yang lain yang merupakan rekan kerja Alice. Sedang berbincang mengenai lika-liku mengurus anak—seperti biasa jika sudah membahas anak, Alice tetap hadir namun tidak ikut dalam perbincangan karena tidak relate dengan kehidupannya saat ini.
Hari ini sedikit berbeda, si kecil Sing-Sing seolah sudah mulai hadir di dalam sistem kepala Alice. Sempat membayangkan kembali wajah ceria anak itu saat dibacakan buku serta wajah merajuknya karena telah mengantuk saat mereka berpisah kemarin malam.
“Anak… Tiga tahun biasanya diajak main apa sih? Untuk menstimulasi mereka?” Alice melepaskan pertanyaan itu.
Ketika mereka sedang mengantri untuk take away kopi. Sontak kedua rekan kerja Alice langsung menoleh ke arahnya yang biasanya selalu diam ketika sedang membahas buah hati.
“Tiga tahun, ya? Biasanya sih sudah mulai ke roleplay kali, ya?” Karen melirik ke arah Maggie yang berada di sisi kanannya.
“Iya, benar, Lis, dulu anak aku yang kecil sering banget minta main dokter-dokteran… Aku disuruh jadi pasiennya lah, Kakak-nya jadi suster lah,” jawab Maggie sambil memperhatikan papan menu yang berada di hadapan mereka. Tinggal satu antrian lagi mereka dapat memesan.
“Ah, iya tuh, benar… Bisa juga motorik sih, main sepeda, menari—eh, tumben Lis?” Karen menyadari, kali ini Alice ikut terlibat dalam perbincangan mereka. Mereka tahu Alice tidak mempunyai anak dari pernikahan sebelumnya.
“Ren, Lis, mau pesan apa?” Belum sempat Alice menjawab, Maggie sudah memotong mereka—entah ia tahu kalau pertanyaan itu akan sensitif kepada Alice atau agar tidak membuang waktu untuk sekadar menentukan pesanan mereka.
“Anak tetangga, anak perempuan umur tiga tahun.” Alice sepertinya masih penasaran dan kembali menyambungkan pembicaraan sebelumnya yang sempat terjeda.
Ya anak tetangga, sebab jarak apartemenku dengan Sing-Sing Eating House tidak sampai tiga kilometer—masih terbilang dekat, tetangga.
Baik Maggie dan Karen langsung meruncingkan bibir mereka, “Ooh…”
“Eh, coba aja tanya dulu… Lagi minat apa dia? Kalau anak aku dulu sih… Lebih tertarik kepada buku, hewan lah, dinosaurus lah,” jawab Karen.
Hewan ya? Ingatan Alice masih segar. Mengingat kembali buku kesayangan Sing-Sing yang memuat berbagai macam hewan mamalia.
Ah, ya, aku belikan buku baru saja kali ya?
Sebab malam ini, Alice akan menepati janjinya kepada si kecil Sing-Sing. Kembali berkunjung kesana untuk seporsi hidangan makan malam serta bermain dengannya.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅