
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
“Jangan—”
Larangan dari Alice membuat alis Jimmy bertaut heran.
“Kok? Jangan?”
“Jawabannya—” Tatapan Alice melunak, ada sedikit gelengan kepala kecil. “Sudah jelas, ‘kan?”
Jari Alice tak lagi mengusap dagu, kini menunjuk ke arah Jimmy. “Kamu.”
“Kok? Aku?” Jimmy kembali menyuap pizza. Sempat ada remahan adonan tipis garing pinggiran pizza yang terlepas.
”Kamu tidak sadar? Kapasitas serta kemampuan dapurmu itu sudah overcapacity. Kamu sudah mengeluh lelah dari siang hingga malam—sampai mengeluarkan stok bahan mentah untuk hari esok hanya untuk memenuhi pesanan hari ini,” ungkap Alice dengan perlahan.
Jimmy mengangguk sambil tetap mengunyah.
“Kamu mau tambah bahan mentah, itu benar secara strategi… Tetapi ‘mesin memasak’ yang sudah berpacu dari siang hingga malam, apa tidak mengalami burn out? Staf yang lelah, akan berbuntut apa?” Alice menarik napas perlahan, “Banyak detail kecil jadi terlewat, sangat bisa terjadi… kualitas makanan jadi menurun. Bukankah bagi kamu kualitas itu yang nomor satu, Jim? Yang membedakan Sing-Sing Eating House dengan restoran sejenis adalah rasa yang membuat pelanggan tetap terus ingat dan ingin kembali lagi ke tempatmu?”
Jimmy terdiam, gerakan jakunnya terlihat naik-turun—menelan makanan yang baru saja dikunyah olehnya.
“Kondisi tempat, dapur dan staf kamu saat ini sudah berada di level maksimal. Lewat dari itu—sebuah perlombaan, antara kamu yang tumbang atau para pegawai yang akan menyerah. Aku paham—” Alice tersenyum tipis.
“Kamu mungkin merasa tidak enak kepada pelanggan harian serta ingin memanfaatkan ombak saat ini.”
Jimmy mengangguk. “Ya, bukankah ini kesempatan?”
Alice menggeleng. “Memang sebuah kesempatan, tapi balik lagi ke hal yang aku utarakan tadi… Sadar kapasitas, Jim. Lagi pula, lonjakan ini aku rasa cuma sementara—wajah baru yang datang, cuma sekadar penasaran. Paling puncak dari rasa penasaran itu berada di akhir pekan ini. Lagipula pfft—” Alice menahan tawa—tersenyum asimetris.
“Ini bisa jadi marketing organik baru. Mereka yang kecewa karena tidak kebagian akan menyebarkan kabar burung, ‘aku ga kebagian hari ini, laku keras, kayaknya disana seenak itu deh.’ Dengan memicu rasa penasaran.. Apa itu istilahnya? FOMO? Kalau benar-benar berniat mereka akan mencoba lagi di lain hari. Lalu—” Netra Alice masih tetap lekat kepada Jimmy saat menarik napas dengan lembut.
“Setelah euforia vlogger itu berakhir… Penjualan akan masuk ke kondisi stabil baru yang lebih tinggi dari biasanya karena sudah banyak yang terjaring.”
Tak ada debat atau penolakan, Jimmy menyerap semua kata-kata Alice sambil terus mengisi perutnya dengan pizza.
“Kalau nanti, penjualan benar-benar terus meningkat stabil atau kondisi penjualan yang tinggi ini masih tetap sama, Sing-Sing Eating House harus kembali berevolusi—”
“Tambah karyawan?” tanya Jimmy—memotong ucapan Alice.
“Non, tambah pegawai dengan zona sempit itu akan mengurangi pergerakan staf dan juga kenyamanan pelanggan. Kamu tuh ga sadar ya?” Alice terhenti, dagunya menunjuk ke arah Sing-Sing yang berada disampingnya. “Anak kita kepanasan di dalam, sumpek, sempit dan berisik.”
Di tengah dialog Alice, yang masih merambat di telinga. Napas Jimmy sempat terhela cepat, sebuah senyuman samar pun sekilas hadir. Kepalanya sedikit tertunduk untuk menyembunyikan senyuman itu. Frasa itu tampaknya benar-benar telah diserap sempurna oleh Alice—’Anak kita’.
Alice kembali mengusap dagu. “Yang berikutnya akan sangat masif, Jim… Ekspansi ruang dan ya… Itu wacana dan rencana semu dulu saja, sebab tidak hanya akan membicarakan staf baru yang kompeten, tetapi perluasan area kerja—dapur, ruang yang nyaman untuk pengunjung dan area yang semakin luas berarti kita harus siap untuk menambah variasi menu.”
Jimmy memejamkan matanya untuk sesaat—mungkin membayangkan seberapa epic-nya nanti.
“Jim, kamu belum makan?” tanya Alice yang menyadari dua hal: Jam kudapan sore Sing-Sing yang terlewat dan sepotong pizza yang begitu cepat Jimmy lahap.
“Terakhir tadi siang.”
“Astaga, anak-anak di toko bagaimana? Sudah—”
“Sudah, Lis, Tadi pas tutup. Aku suruh mereka istirahat dulu sebelum berbenah. Yoyo kusuruh beli lauk untuk mereka makan malam.”
“Aduh-duh. Kalau gitu, kamu habiskan ini Jim. Aku sama Sing-Sing sudah kenyang nih.”
Jimmy mengangkat potongan pizza lainnya. Terlihat lelehan keju mozarella berwarna kuning sedikit oranye yang membentuk untaian seperti benang tipis.
“Besok siang—sebelum ramai, aku akan siapkan snack sore dan makan malamnya Sing-Sing terlebih dahulu—hari ini sih beneran kecolongan.”
Alice tersenyum lembut. “Pikirkan snack sorenya saja, Jim. Minggu ini aku tidak ada keperluan di luar kota, jadi bisa pulang cepat… Aku bisa mengurus dia… Tapi, minggu depan yang menjadi masalah… kalau kedai masih sesibuk itu, sebab aku harus ke Singapura dan Shanghai lagi—”
Jimmy mengangguk. “Bisa, tenang saja, bisa aku titipkan dia ke saudaraku yang tempo hari itu, Lis.”
“Mmh… Good. Ngomong-ngomong, modal yang kemarin, masih ada, ‘kan?”
“Masih, Lis. Masih sangat banyak.” Jimmy melirik cepat ke arah Alice. “Kenapa? Kamu membutuhkannya? Bisa segera aku kembalikan.”
“No, no, no—” telunjuk tangan kanan Alice teracung bergoyang ke kiri dan kanan. “Aku mau, kamu… Tambah kipas angin buat di toko, pakai yang digantung di langit-langit yang berbentuk baling-baling besar itu loh.”
Jimmy menghela napas panjang, bahunya pun terlihat melorot perlahan. Netranya menatap langit-langit, bibirnya merapat untuk berpikir sesaat.
“Oke.” Jimmy pun melahap habis pizzanya—segera menarik selembar tisu untuk membersihkan telunjuk dan jempolnya yang sedikit menghitam karena warna hitam gosong berasal dari charcoal.
“Pizzanya enak menurutmu, Lis?”
“Ya—” Alice menggeleng sekali. “O—kelah, otentik, mereka pakai tungku kayu, saos tomatnya segar, cuma… Jamurnya sepertinya sudah lama, layu kurang segar, pepperoni-nya juga agak berbau tengik,ya.”
Ya, Alice dengan ‘Live Comment’ soal makanan yang masuk ke dalam mulutnya, selalu tanpa filter.
Sing-Sing Eating House yang dikepalai Jimmy memang tutup cepat dihari itu. Namun, gerai malam yang menjual bubur tetap buka setelah jam sembilan malam. Dampak viral di hari itu pun masih berbuntut hingga ke hidangan malam itu.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Lonjakan pengunjung yang FOMO masih terus berlanjut hingga beberapa hari ke depan—persis dugaan seperti Alice.
Upgrade kecil pun sudah terlaksana, dua buah kipas angin besar kini sudah terpasang. Sehingga membuat pengap sedikit terusir karena sirkulasi udara yang semakin lancar.
Alice selalu datang untuk mengevakuasi Sing-Sing. Daripada mengunjungi kafe setiap hari, Jimmy memberikan kunci akses rumahnya kepada Alice. Agar Alice dapat tenang dan leluasa untuk menemani Sing-Sing. Bahkan di hari libur toko—Kamis. Alice tetap datang ke rumah mereka.
Bisa dibilang keadaan akhir-akhir ini telah membuat Alice cuma ‘numpang tidur’ malam saja di apartemen mewahnya. Setengah dari harinya dihabiskan di Central—C&A untuk bekerja dan Sham Shui Po untuk mengurus Sing-Sing.
Jimmy selalu naik ke apartemennya sekitar pukul delapan malam. Setiap kali tiba, selalu ada sambutan hangat yang menghadirkan senyuman lebar di wajahnya. Si kecil Sing-Sing yang langsung memeluk riang ayahnya dan juga sang Mami, Alice yang selalu memberikan pertanyaan klise, “Cape, Jim? Gimana hari ini?”
Hari itu Jimmy sempat terdiam ketika melihat Alice yang begitu berbeda dari biasanya. Wanita itu tidak diselimuti kemewahan. Sebab Alice telah mengganti baju kerja dan menghapus make-up. Menggantinya dengan kaos, celana pendek dan mencepol rambutnya—membuat dirinya senyaman mungkin saat mengurus si kecil.
“Kamu sudah makan belum? Tadi aku ada masak lebihan buat kamu… Tapi, ga tau deh cocok sama kamu atau tidak.” Alice bangkit dari posisi duduk di lantai—menuju area dapur—untuk menyiapkan lauk makan malam yang dibuat olehnya.
“Papa… Ntar Papa makan deh, Pa, masakan Mami enyak-enyak!” sahut Sing-Sing. “Iya… Tapi Papa mandi dulu, ya…”
Hanya butuh waktu sepuluh menit Jimmy habiskan di kamar mandi, mengubah wangi wokhei yang melekat di tubuhnya menjadi wangi bersih dari sabun mandi.
“Ih! Pake kaos dulu, kek!” Alice terkejap saat pria itu bertelanjang dada—melintas dengan cepat menuju kamarnya untuk memakai baju. “Lupa ambil di kamar, Lis,” jawabnya cepat.
“Ih… Papa malu ih malu!” Sing-Sing mengejek Jimmy.
“Heeh… Diam kamu Sing.”
Secepat kilat Jimmy mengenakan pakaian—kembali ke depan untuk segera menggendong Sing-Sing, untuk ia peluk dan kecup.
“Papa cape ya, Pa, ya?” tanya Sing-Sing.
“Sedikit kok, Sing.” Jimmy tak bisa berhenti untuk tetap mencium pipi Sing-Sing yang begitu lembut dan kenyal selayaknya adonan kue.
Alice tersenyum lebar menyaksikan pemandangan itu.
“Makan sana Jim, itu… Sudah aku siapkan di meja.”
“Apa ini, Lis?” tanya Jimmy saat melihat mangkok besi besar telah dihuni oleh berbagai macam warna dari sayuran, daging ham dipotong dadu kecil, telur mata sapi serta saus merah yang membuat Jimmy penasaran.
“Makan malam kamu, lah… Maaf, tadi aku pakai daging ham sama telur yang ada di kulkas… Kalau sayur dan sausnya sih aku beli tadi sore pas jalan kesini.” Alice mendekati Jimmy—duduk di hadapannya.
Sementara si kecil sibuk mengoceh bersama boneka-boneka miliknya—bermain sendiri di atas playmat.
“Makan malam kita hari ini—” Alice memasang senyuman tipis. “Dari… Kampung halamanku.”
“Ah, oke… Mari aku coba buatan Chef Alice.” Sendok yang berada di tangan kanan Jimmy mulai mengoyak permukaan makanan—memindai segala sayuran yang ada. Warna kuning jagung, hijau bayam dan rumput laut kering, jingga wortel. Sendok itu kemudian meraih jagung, sedikit dicelupkan ke saus merah marun. Kemudian sendok itu diangkat untuk segera Jimmy cicipi.
“Ck, aniya!” Alice langsung mendecak kesal. “Sini!” Alice langsung merebut mangkuk besi serta sendok itu dari tangan Jimmy.
“Bukan gitu caranya, Jimmy… Ini tuh harus diaduk dulu, sampai tercampur rata, biar sedap!” Dengan gerakan memutar yang cepat Alice mencampur semua bahan yang ada di dalam mangkuk. “Masa… Mantan koki eksekutif tidak tahu caranya makan bibimbap sih?”
Jimmy menahan tawa, “Tahu kok, cuma ingin mengetes gochujang-nya saja. Oh, ternyata dicampur dengan minyak wijen dan—” Jimmy mendengkus kasar, merasakan aftertaste yang hadir pada rongga mulutnya. “Bawang putih.”
“Nih…” Alice mendorong kembali mangkuk itu ketika semuanya telah tercampur rata. Visualnya kini tak lagi penuh warna—telah terdominasi dengan warna merah tua.
Jimmy kembali menyuap. Sementara Alice tetap memperhatikan Jimmy dengan lekat—menantikan reaksinya.
“Emh, em, phedas juga ya ini…” Jimmy berkomentar dengan dahi mengerut dan mulut yang tetap sambil mengunyah.
“Aku tambahin bubuk cabe yang banyak! Biar makin pedas! Ehehe…” Alice tertawa bangga sampai bahunya bergerak naik-turun.
“Eh, tadi kamu bilang apa? Makan malam kita? Kamu… Kasih gochujang juga ke Sing-Sing?”
Alice mengembuskan napas panjang dari mulutnya, bibirnya bergetar menghasilkan bunyi brr, bola matanya pun berputar kesal ke arah atas.
“Ngaco! Ya—enggak lah, Jimmy! Aku bikin kimbab tadi, ‘kan bahan-bahannya sama, cuma di—” Alice menggerakan kedua tangannya memperagakan bagaimana caranya menggulung kimbab. “Gulung.”
“Oh, ya? Suka tuh dia? Banyak sayuran gini?” Jimmy menyuap kembali makanannya.
“La—hap,” jawab Alice dengan menjeda kata itu secara dramatis.
Kepala Jimmy mengangguk. “Oh, ya?” tangan kiri Jimmy meraih beberapa brosur yang berada di ujung meja.
“Lis… Ini ada beberapa sekolah yang sudah aku lihat, mending yang mana, menurutmu?”
“Sudah aku lihat tadi, semuanya, oke… Kok. Tinggal kamu pikirin jarak, lingkungan dan yang terpenting… Kamu sanggupnya yang mana?”
Alice sudah terlebih dahulu melihat brosur sekolah yang disertai rincian biayanya. Kini ia mengembalikan pilihan itu pada kesanggupan finansial Jimmy.
“Semuanya, bisa, kok, Lis. Aman, kalau penjualan resto tetap stabil seperti kemarin-kemarin—sebelum viral itu ya.”
Alice menopang dagu—satu helaan napas membuatnya tersenyum lebar. Investasi waktu, strategi dan pemberian modal kepadamu tidak sia-sia. Kini anak itu bisa bersekolah setelah ku dongkrak terlebih dahulu dasarnya—Jimmy.
“Kalau begitu… yang di Mong Kok saja, Jim. Yang dekat, jangan jauh-jauh repot perjalanannya, nanti…”
“Mmh… Oke, kalau begitu minggu depan mungkin aku daftarin dan trial dulu.”
Alice mendecak. “Ngapain nunggu minggu depan sih? Kan bisa hari sabtu besok, biar nanti siangnya aku jemput dia, malamnya menginap—besok pagi dia harus les renang.”
Dahi Jimmy mengerut. “Besok? Memangnya kamu tidak ngantor?”
“Asaga, Jimmy—” Alice menyesap bibir bawahnya. “Kemarin toko anda libur—itu hari apa? Kamis! Sekarang buka, jadi hari ini hari apa? Jumat. Lalu besok—”
“Ah! Iya-iya, Sabtu!” Jimmy menelan makanan di mulutnya lalu meneguk air untuk memberikan sedikit dorongan pada pencernaannya.
“Ck-ck-ck… Saking sibuknya sampai lupa hari? Dasar.”
Pembicaraan pasangan dewasa ini harus terganggu karena Sing-Sing berdiri, mendekati Alice. “Mami, Sing ngantuk…”
“Umh? Ngantuk? Tumben?”
“Iya, Sing maunya bobo sama Mami,” pinta Sing-Sing sambil memeluk kaki Alice.
“Ya, udah, kita gosok gigi dulu ya, sayang?”
“Sing, sebentar ya. Papa habiskan dulu ini habis itu Papa temenin kamu tidur.”
“Gak! Maunya sama Mami!” Dahi si kecil mengerut kesal.
Alice segera bangkit berdiri. “Tak apa, Jim. Biar aku yang temani dia dulu…”
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Satu jam kemudian.
Astaga, malah ketiduran! tadi Sing-Sing susah sekali untuk langsung tidur! Minta dibacakan buku, diajak main, baru ia terlelap dan aku malah ikut-ikutan tertidur!
Alice keluar dari dalam kamar, menutup pintu kamar dengan perlahan—mengendap-endap.
Kosong. Ruangan tengah yang sebelumnya berantakan oleh mainan Sing-Sing kini telah rapi. Namun, Alice tidak mendapati sosok Jimmy berada di dalam rumah.
Alice
Jim, kamu kemana? |
Lima menit setelah mengirimkan pesan, Jimmy kembali ke apartemennya.
“Kemana deh? Ngilang,” keluh Alice sambil meletakkan ponsel kembali ke dalam tasnya.
“Ke bawah, Lis, ngobrol tadi. Soalnya di bawah masih ramai.”
Bibir Alice membentuk huruf O disertai anggukan kepala.
“Sudah mau pulang, Lis?”
“Iya,” jawab Alice dengan cepat.
“Oh, kirain mau menginap di kamar kosong itu.”
Salah satu sudut bibir Alice terangkat, menghela napas kasar dari mulutnya hingga menimbulkan bunyi pfft.
“Ogah, ya. Kasurnya keras. Lagipula kalau aku tidur disitu, Ah Kit mau tidur dimana coba? Dia sudah ga bisa tidur di resto, ‘kan? Soalnya ada saudaramu yang jualan sampai pagi.”
Sambil menahan tawa, Jimmy sibuk dengan ponselnya—seperti mengirimkan pesan. Alice masuk ke dalam kamar mandi—menukar celana pendeknya dengan celana panjang bahan.
“Sing-Sing sudah tidur, gor?“
“Sudah, bentar ya, Kit. Aku mau antar Alice dulu…”
Ah Kit naik ke atas untuk bergantian dengan Jimmy yang hendak mengantar Alice.
“Apaan sih, ga perlu diantar segala,” ungkap Alice saat dirinya telah berada di trotoar jalan.
“Bentar, ya! Mau antar Alice dulu!” Jimmy tidak menjawab Alice, malah berteriak ke arah restoran. Alice ikut memberikan senyuman dan anggukan kepala—menyapa mereka.
Akhirnya mereka mulai melangkah. Kendaraan milik Alice terparkir pada ujung jalanan yang berbeda.
“Saudaramu pada bilang apa, Jim? Soal aku?” tanya Alice dengan suara perlahan. “Pasti anggap aku… Aneh? Wanita yang tiba-tiba saja muncul dan menjadi Maminya Sing-Sing?”
Kepala Jimmy sedikit tertunduk sekilas ada tawa terlepas. “Bukan aneh sih, bisa ketebak lah… Banyak yang menduga, kamu pacarku, kamu calon istri baruku dan lain-lain.”
Sekilas salah satu alisnya milik Alice terangkat naik. “Terus? kamu iyakan?”
“Ya, enggak lah. Aku bilang, kamu temanku. Saking dekatnya kamu sama Sing-Sing, ia jadi menganggap kamu adalah ibunya.”
Alice tersenyum simpul. Ternyata godaan serupa dari orang terdekat tidak hanya dialami oleh Alice—Jimmy pun demikian.
Sepuluh langkah mereka bersebelahan dalam diam, kemudian menyeberang jalan.
“Ngomong-ngomong, sudah beberapa hari ini, aku belum memasak untukmu, lagi, malah jadi sering kebalik, kamu yang memasak untukku. Waktu itu japchae hari ini bibimbap,” ucap Jimmy.
“Terus? Kenapa? Ga enak ya masakanku?”
Jimmy tersenyum lembut. “Bukan itu, lucu aja yang tukang masak ‘kan aku… Malah… Dimasakin sama investornya.”
Alice mendecih. “Ck… Apaan sih, Jim. Masakan aku juga simple kok itu, anak SMP di Korea juga bisa masak campur-campur bumbu doang begitu.”
“Korea ya—” Jimmy sedikit melirik ke arah Alice yang berada di sisi kanannya. “Jadi ingat sesuatu… Di surat perjanjian peminjaman modal waktu itu, nama kamu benar-benar Alice Moon… Apa itu sudah menjadi nama kamu dari lahir?” (Bab 25).

“Tidak—” Alice mulai melipat tangan di depan dadanya. “Alice itu… Nama yang aku pakai saat kuliah di Prancis—” Alice menelan ludahnya. “Eh, keterusan… Sampai pindah kesini buat kerja… Pada akhirnya aku ubah secara legal saat mau menikah dulu.”
Langkah Alice dan Jimmy terhenti ketika mereka tiba di dekat mobil sedan milik Alice. Mobil itu terparkir di pinggir jalan—di depan sebuah toko kelontong yang sudah tutup.
“Nama asliku… Dal Young, Jim. Moon Dal-Young.”

ˎˊ˗⋆。°✩📄
Udah main ‘rumah-rumahan’ aja nih si Alice Jimmy?
