‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Dalam sepuluh menit Alice telah menghabiskan makan siangnya. Selamat! Dari kelaparan. Piring makan siang Sing-Sing pun hadir, Jimmy sendiri yang meletakkannya di hadapan Alice dan Sing-Sing. “Sing, ayo sini makan dulu.”

Sing-Sing beranjak berpindah ke pangkuan Jimmy. Rupanya sikap tantrum Sing-Sing tadi itu karena dirinya lapar. Terbukti saat ini ia begitu lahap menyuap makan siangnya. 

Jimmy kemudian melirik ke arah Alice. “Kenapa repot-repot membantu? Lalu kenapa meminta Ah Kit yang membuatkan mi untukmu?”

“Mmh—” Alice menyesap sedikit teh dingin miliknya. “Aku jawab dulu soal mi. Aku cuma pengen tahu aja, seberapa beda buatan dia dan buatan kamu.”

“Terus? Beda, ‘kan?”

Telunjuk serta ibu jari Alice terangkat saling menempel. “Dikit, hehe… Soal rasa sih sama, ya… Cuma beda di kekenyalan mi nya saja. Aku rasa latihan beberapa kali lagi, mi buatan dia akan menyerupai yang kamu buat.”

Jimmy menggelengkan kepalanya. “Mau membuktikan sendiri ya? Kalau Ah Kit belum layak masuk ke dapur? Hm?”

“Yap, sebab aku akan memprotes panjang lebar soal hari ini… Lebih tepatnya satu jam yang lalu.” Dengan tangan kiri, Alice segera menopang dagunya.

“Soal apa? Kurang orang? Biasanya siang sampai jam makan malam ada satu tenaga tambahan, part timer lah yang cuma membenahi meja dan mencuci piring, tetapi hari ini dia tidak masuk.” Jimmy segera memberikan keterangan sebelum Alice membidiknya dengan pertanyaan.

“Kamu tuh—” Alice menggelengkan kepalanya. “Udah tau kurang orang, bukannya segera cari orang lagi… Ga lihat apa? Tadi beberapa orang di meja udah mulai lirik-lirik sinis dan kesal ke arah dapur karena kelamaan?”

Jimmy menghela napas. “Kabar soal itu telat, kalau tidak bisa masuk hari ini. Ketika Ah Kit mau keluar mencari orang lan, resto tiba-tiba ramai. Bukan berarti kita tidak berusaha, Lis.”

Alice pun terdiam. “Umh—Sorry.” 

Rupanya Alice terlalu cepat menilai kalau Jimmy teledor. Jimmy tidak marah atau beradu argumen saat Alice menudingnya. Ia malah tersenyum simpul dengan komentar Alice.

Mereka kini terdiam seolah sedang melepas lelah sambil sesekali membantu Sing-Sing menyuap makanannya.

“Kenapa repot-repot membantu tadi?” Jimmy kembali membuka pertanyaan.

“Tidak tuh tidak repot sama sekali, nostalgia malahan.”

“Nostalgia?”

Alice tersenyum kecil. “Ingat waktu remaja sering membantu di restoran keluarga dan waktu kuliah di Prancis juga, sempat jadi server di Kafe.”

Saat mendengar Prancis ada sedikit pergerakan pada alis Jimmy membuatnya kembali melirik lagi ke arah Alice yang sedang terpejam dan tersenyum simpul—sedang mengenang masa lalunya.

“Jim, aku sudah beli printer-nya. Habis ini kita pasang dan coba pakai, ya? Sebab mesin kasir yang sekarang—” Alice menarik napas. “Merepotkan, tidak ada nomor antrian yang jelas dan keterangan meja berapanya. Itu fatal, Jim. Jika kamu salah urutan, bisa-bisa ada yang marah.”

Jimmy menganggukan kepala. “Ya, coba saja. Berapa harga mesinnya? Biar aku ganti.”

“Hmm—” Alice meruncingkan bibir. “Tidak… Nanti saja bayarnya, kalau ideku ini sudah berhasil dan menghasilkan.” 

Meskipun harga printer dan ponsel baru itu sungguh sangat kecil nilainya untuk Alice. Namun, tidak ada niatan untuk memberikan itu secara cuma-cuma untuk Jimmy. 

Karena ide awal aplikasi POS itu adalah idenya maka Alice yang akan menanggung biaya trial & error ini seorang diri. Jadi jika gagal, Jimmy tidak akan terbebani.

Pelan-pelan saja, buktikan dulu kalau saranku efektif: mesin POS dulu lalu EDC dan nanti tambah pekerja tetap. Aku harus membangun kepercayaannya dulu sampai akhirnya bisa ikut campur lebih dalam lagi dengan bisnisnya ini.

“Oh aplikasi ini sih aku ngerti, Je, ini bisa dipantau online, laporannya lengkap dan bisa mencetak struk kitchen order, kan?” ucap Yoyo saat Alice memperlihatkan aplikasi yang akan digunakan. Sementara Ah Kit memasang printer, kabel otg dan menyambungkannya dengan ponsel tanpa masalah.

See?” Alice tertawa lebar ke arah Jimmy.

“Bisa? Pakainya? Terus masukin barang dan kalau ada yang custom order bagaimana?” tanya Jimmy sambil sedikit menyesap bibirnya.

“Oh, kalau soal itu…” Alice pun beraksi, tidak sia-sia tidur subuh karena sudah mempelajari tutorial di youtube soal aplikasi itu.

“Ini gampang deh, gor, ga bikin pusing dan perlu ngafalin nomor item, bisa pasang foto lagi biar makin mudah,” ujar Ah Kit kepada Jimmy ketika ia mulai memahami ‘kuliah singkat’ dari Alice.

Testimonial dari mereka membuat Alice semakin memasang wajah angkuh, kepalanya mendongak dan sebelah alisnya bergerak-gerak naik turun. Bibirnya juga merekahkan senyuman begitu lebar ke arah Jimmy. ‘Tuh Kan! Mereka bisa!’

Kepala Jimmy mengangguk-angguk, bibir bawahnya kini meruncing. Mulai ada persetujuan yang terlukis dari raut wajahnya.

Alice menyalakan kipas angin portable—mengarahkannya ke arah dirinya. Dadanya terasa begitu hangat karena Sing-Sing sepertinya sudah mulai tidur siang di pelukan Alice.

“Lis, pindahkan ke belakang saja, pakai kasur yang ada di belakang.”

Alice langsung melirik tajam ke arah Jimmy. Kasur, di belakang sana katamu? Kasur kapuk tipis dan lembab itu? Bisa sakit badan yang ada. Alice memang sempat melihat keberadaan kasur lipat tipis itu di belakang, tampaknya dipakai oleh Ah Kit ketika bermalam di restoran.

“Tak apa-apa, Jim.” Alice menjawab dengan santai. Namun, gengsinya begitu besar. Menahan rasa sakit di pinggang kendati dia tengah duduk bersandar di kursi plastik.

Tepat setelah Alice menjawab Jimmy, masuk beberapa pelanggan. Saat itu Yoyo melirik ke arah Jimmy. “Boss, mau pakai mesin lama apa yang baru?”

“Yang baru sudah siap? Sudah pasti bisa?”

Ah Kit mencatat pesanan pelanggan dan langsung menyerahkannya kepada Yoyo. Perpindahan ke aplikasi POS itu terasa seamless—hampir tidak ada jeda saat Yoyo mencoba memasukan menu dan mencetak struk Kitchen Order.

Good. Walau kali ini tidak ada stopwatch namun Alice bisa merasakan proses di kasir begitu cepat. “Yo… Coba cetak ulang Kitchen Order yang tadi, aku mau lihat,” pinta Alice. 

Ia benar-benar terlihat seperti seorang ‘istri boss’, duduk tepat di belakang kasir sambil memeluk anak yang tertidur.

Jika tidak ramai, tenaga tiga orang cukup. Ah Kit akan menerima orderan, meneruskannya ke Yoyo lalu melakukan input, mencetak order dan bergeser sedikit untuk mempersiapkan minuman.

Sesungguhnya efisien, Yoyo hanya butuh melangkah sedikit ke area pembuatan minuman. Namun, ada dua hal yang langsung Alice perhatikan dengan pertimbangan tajam.

Pertama Mesin POS baru telah berhasil memangkas waktunya di kasir. Efisien! orderan tidak akan tumpang-tindih karena kni terlihat jelas ada nomor urut order. Sehingga Yoyo dapat dengan cepat berpindah station.

Kedua ini yang berbahaya kalau terlihat pelanggan. Kehigienisan. Yoyo kerap merapikan uang pada cash drawer dan langsung berpindah tanpa membersihkan tangannya. Itu… tidak higienis. Bisa saja gelas pelanggan jadi terpapar kuman. Aiyah! Cuci tanganmu atau minimal pakai hand sanitizer! Memang harus ada satu orang lagi, seperti posisiku tadi, pengatur lalu lintas makanan yang mampu merangkap sebagai pembuat minuman.

Perlahan Alice memikirkan flow baru. Jimmy akan tetap di balik wajan dan kompor. Yoyo mengurus kasir dan membantu membersihkan peralatan makan jika tugas kasirnya selesai. Ah Kit, dia harus menjadi pengatur lalu lintas order dan membuat minuman, orang lama yang sudah paham dengan restoran ini. 

Jadi tambahan orang baru hanya akan bekerja sebagai waiter dan server yang wilayah kerjanya diluar dapur, bersentuhan langsung dengan pelanggan.

Semakin Alice memikirkan jauh soal perdapuran di Sing-Sing Eating House—sadar kenapa Jimmy belum mau menerima order online. Bukan ini bukan membicarakan Old Soul. 

Alice membayangkan saat ramai seperti tadi lalu ponsel pun berdering menerima pesanan online baru. Bukan Chaos lagi, itu kiamat!

Namun, Alice tetap gigih. target barunya kini adalah memaksimalkan restoran ini. Mencari cara agar Jimmy tetap membuka jalur online itu.

Agar orang-orang di Central sana tahu ada makanan enak yang dimasak oleh seorang maestro. Sing-Sing Eating House tidak boleh hanya terkenal di sekitaran Sham Shui Po saja!

“A… Ah…. Ssshh” desahan disertai desis itu lolos dari mulut Alice. Satu jam sudah Sing-Sing tidur dipelukan Alice. Tubuhnya sudah mencapai batas untuk menahan rasa sakit di area pinggang karena tertekan oleh berat tubuh anak itu.

“Y… Yo, b… bisa pegang Sing-Sing sebentar?” suara Alice bergetar dan ia mulai menggerakan tubuhnya, mencoba merubah posisi duduknya.

“Iya, Je… Sing-Sing berat, ya?” Yoyo menjulurkan tangannya dan Alice langsung memperhatikan tangan itu. “Eh, Yo, bisa cuci tangan dulu sebelum memegang dia?” ucapan Alice terdengar sinis dan dingin. Yoyo langsung mematuhinya tanpa sedetikpun merasa keheranan.

Namun, perpindahan tangan itu membuat Sing-Sing terbangun dan langsung menangis karena terganggu. Jimmy beranjak dari posisinya, hendak mengambil Sing-Sing dari Yoyo namun saat itu ada pelanggan yang mendekati kasir hendak membayar, membuat Jimmy berbelok dan mengoperasikan mesin POS baru itu.

“Sudah di-input tadi oleh Yoyo, tinggal open ticket—” Alice berdiri disamping Jimmy dan menjelaskan cara mengoperasikan aplikasi POS pada ponsel itu. Jimmy mengikuti setiap petunjuk Alice dan langsung mencetak struk itu. 

Saat Alice memberikan petunjuk, tangis Sing-Sing semakin menjadi, menghiasi keheningan restoran.

“Jim, ini Mamanya Sing-Sing?” Pelanggan wanita paruh baya yang sedang membayar itu sempat memperhatikan sosok Alice hingga akhirnya ia melabuhkan pertanyaan itu kepada Jimmy. “Cantik, banget kamu.” Puji wanita itu terarah kepada Alice.

Alice dan Jimmy tersenyum tipis. Alice sempat melirik ke wanita itu dan menganggukan kepalanya sebagai tanda terima kasih atas pujian itu. Namun, Jimmy menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilayangkan kepadanya. “Bukan.”

“Sing-Sing mau ke Mama! AAAA!”

Rengekan Sing-Sing seketika membuat Alice langsung menoleh ke arah Yoyo yang tengah menggendong Sing-Sing. Ucapan tadi? Mama?

“Mau digendong Alice! Mau!”

Ah, halusinasi. Salah dengar ya. Tangan kecil Sing-Sing terjulur ke arah Alice yang belum lama baru bangkit dari duduk, demi melancarkan peredaran darahnya. 

Namun, wajah Sing-Sing yang merajuk, membuat Alice tak bisa menolaknya. “Cup… Cup… Sini, Sayang.”

Begitu kembali ke gendongan Alice, tangisan Sing-Sing langsung berhenti. “Ssshhh-ssshhh” Alice sengaja bergerak-gerak ke kiri-kanan menimang Sing-Sing agar kembali tertidur.

Transaksi pembayaran selesai dan Jimmy langsung berbalik menghadap ke Alice. “Gimana? Gampang, kan?” Alice menantikan testimonial dari Jimmy, seakan Jimmy yang akan menjadi penentu dari proyek Alice semalam suntuk itu berhasil atau tidak.

Kedua alis Jimmy terangkat pelan, bersamaan dengan bibir yang terkatup rapat. “Oke.” Ada senyum yang merekah tipis di bibir Jimmy.

Persetujuan itu menjadi pertanda kalau proyeknya telah berhasil. Padahal cuma hal remeh: aplikasi POS dan printer thermal. Namun, bagi Alice ini terasa seperti sebuah kemenangan atas sebuah proyek miliaran dollar.

Sing-Sing yang sempat terbangun enggan untuk kembali melanjutkan tidur siangnya. Memilih untuk main bersama Alice. Walaupun kini mereka terlihat sedang bermain namun sesungguhnya Alice sedang mengajarkan angka dan urutannya melalui mainan-mainan kecil yang dimiliki oleh Sing-Sing. “Habis empat berapa, Sing?”

“Lima!”

“Pintar! Sekarang jadi ada berapa coba yang di meja, coba Sing-Sing hitung…” Alice mendorong beberapa mainan lainnya hingga berjumlah tujuh macam.

Untuk beberapa detik mulut anak itu bergumam perlahan menghitung setiap mainan yang ada di meja. “Tujuh!”

“Yay! Sing-Sing hebat ya!” Alice tersenyum dan kembali memeluk erat Sing-Sing yang sedang duduk disampingnya. “Iya dong, aku hebat!”

Beberapa saat kemudian, mulut Alice sempat terbuka lebar. Langsung dihalangi dengan punggung tangannya, matanya terpejam hingga segaris—rasa kantuk menyerang.

“Lis, kalau lelah sebaiknya kamu pulang,” ujar Jimmy berada di belakang keduanya. 

Entah sedari kapan ia berada di belakang Alice dan Sing-Sing. Ucapan Jimmy juga terasa seperti pengusiran secara halus kepada Alice.

“Tidak kok, Jim. Tenang saja. Kapan lagi bisa produktif di hari libur?”

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *