‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

“Sing-Sing tadi memanggilku dengan sebutan itu, Jim… Ia memanggilku, Mama.”

Mata Jimmy sedikit terbuka lebar ketika menyerap kata-kata yang baru saja dihaturkan oleh Alice. “Oh, ya?”

Mulut Alice terbuka ragu, ada getaran kecil di bibirnya. Seperti ada kata-kata yang tercekat—susah untuk diutarakan.

“K… Kalau tidak suka, ya kamu… Larang saja, Lis.” Jimmy menangkap kalau Alice tidak menyukai gelar itu, mungkin saja jadi ‘terasa tua’ mengingat Alice adalah wanita lajang—janda kembang—tanpa tanggungan hidup.

“Bukan itu, Jim. A… A—” Alice tergagap, membuat ia harus menelan ludah dan menarik napas cepat. “Aku merasa tidak pantas saja dan sudah terlalu banyak terlibat banyak dalam hidup kalian.”

Jimmy menganggukan kepala.

“Bukan berarti—” ucapan Alice terjeda namun kali ini senyuman tipis hadir di bibirnya. “Aku tidak suka, Jim… Aku… suka… dipanggil Mama.”

Hening.

Jimmy sempat meraih satu butir kacang di tengah keheningan itu. Seperti sedang menyiapkan kata-katanya untuk Alice.

“Dua hal, Lis—”

Ucapan Jimmy yang menggantung membuat Alice memutar bola mata dan menatap ke arahnya.

“Satu, baik aku dan Sing-Sing dan bahkan pegawai di resto pun, tidak merasa risih dan keberatan akan kehadiranmu—” ucapan Jimmy tetap santai namun kata-katanya menjadi dalam. “Belum lagi kamu telah membuktikan bahwa kamu bukan orang asing dengan maksud jahat lewat hal kedua…”

Sekilas kelopak mata Alice sempat terangkat tinggi sembari menarik napas cepat. “Apa, Jim?”

“Kamu sudah membuktikan sendiri melalui hal yang aku peringatkan kepadamu—kehadiranmu. Bukan melalui siraman materi tetapi lewat pengorbanan waktu dan cara merawatnya.”

Alice terdiam saat menerima kata-kata yang terdengar begitu murni dari mulut Jimmy. Sudut bibir Alice terangkat semu walau tipis namun menghadirkan senyuman tulus.

“Yoyo itu… Menempatkan dirinya hanya sebagai seorang kakak, bukan wanita yang rela menggulung lengan baju untuk memandikannya… Jadi ya, aku rasa… dengan Sing-Sing yang menganggap kamu adalah Mama, itu… umh—” Jimmy menggaruk kepalanya. Seolah mencari kata-kata yang tepat. 

“Adalah bukti nyata kalau kamu adalah wanita itu, wanita yang bisa mengasihinya bukan hanya sekadar menemaninya untuk bermain saja—Mama.”

Merde…

Astaga. Apa ini? Jantungku terasa melorot hingga ke perut. Bukan karena terkejut setengah mati. Bukan karena amarah yang melonjak. Di dalam perut juga terasa menggelitik. Seperti ada kupu-kupu yang sedang terbang dengan manisnya kesana-kesini.

Inikah pujian paling tulus yang aku dapatkan dari mulut seorang pria?

“T… Thanks, Jim.” Alice sedikit menyembunyikan senyumannya dengan kepala yang sedikit tertunduk.

“Aku, memang aneh, ya? A Woman from nowhere yang tiba-tiba saja datang dan menyayangi anakmu?”

Jimmy menarik napas dalam-dalam. “Ya, awalnya sedikit, sih.”

“Jujur, Jim. Awalnya itu pelarianku. Dari sekadar mencari chilli oil enak sampai terlibat hingga sedalam ini.” Alice menarik napas dalam-dalam. 

“Sebab… Setiap kali aku mencintai seseorang… Mereka akan menghilang.”

Hyunwoo dan Raymond. Dua pria yang pernah aku cintai sampai akhirnya harus aku relakan karena benturan-benturan yang ada.

Kepala Alice sedikit tertunduk. Sedangkan Jimmy tersenyum simpul menatap ke arah Alice.

“Lis, yang menghilang itu yang dewasa… Kalau anak-anak seperti dia, apakah mengerti menghindar dan menghilang?” tanya Jimmy.

Alice sempat membuka mulut untuk menjawabnya namun Jimmy segera melengkapi ucapanya.

“Tidak, Lis. Tidak. Bisa dibilang, mereka merespons dengan tulus apa yang orang dewasa berikan kepada mereka…”

Air mata haru mulai memberikan beban di kelopak mata Alice. Matanya terpejam untuk menahan agar tidak berhamburan keluar setelah mendengarkan kata-kata itu.

Di hadapan Alice, tatapan milik Jimmy masih tetap lekat memperhatikan Alice.

“Gini deh—” Jimmy mendengkus perlahan. “Kalau, semisalnya kamu merasa gelar ‘Mama’ itu membebani dirimu karena tidak adanya jalinan darah… Mungkin… Kamu bisa mengganti gelar itu dengan… Mami?” ucap Jimmy.

Pfft. Alice mencoba menahan tawa, tubuhnya sedikit tersentak sehingga air mata yang sudah berkumpul itu melompat keluar. 

Sebab bagi Alice sebutan Mommy (Mami) identik dengan keluarga yang kaya. Ya, seperti dirinya—wanita mandiri yang kaya secara finansial. Sehingga solusi dari Jimmy terdengar lucu, seperti mengejek dirinya dengan cara yang amat halus.

Alice segera menyapu air mata dengan punggung tangannya. Kembali mengangkat kepalanya untuk menatap ke arah Jimmy. 

“Boleh juga, Jim. Ma—mi.”

“Dan kalau boleh jujur juga, Lis—” Jimmy menggantungkan ucapannya.

“Apa?”

Ada bunyi decak ragu dari bibir Jimmy. “Aku membutuhkan wanita seperti dirimu… Yang mampu mengarahkannya bagaimana menjadi lembut seperti perempuan—” Jimmy menarik napas lembut. “Aku khawatir, di lingkungan kami, Sham Shui Po yang lekat dengan suasana keras, akan membuat dia menjadi sosok yang tidak lembut.”

HEEEH?

Membutuhkan diriku? Untuk mengarahkan Sing-Sing?

Kenapa ini jadi terdengar seperti sebuah… Ajakan menikah? Agar menjadi istri dan ibu untuk merawat anaknya?

Oh… Non! Non! Non! Ga boleh mikir gitu!

Alice terdiam dengan tatapan yang penuh ketegangan kepada Jimmy. Seperti mencari cara agar kalimat itu tidak terserap secara romantis.

Ahh, Mmh, O… Okey?” jawab Alice dengan ragu sambil menggaruk dagunya.

M-goi Sai, Lis.” (Terima kasih banyak, Lis).

T-Tunggu…

A… Aku telah menyetujui menerima peran itu, ‘kan? 

Jadi MAMI buat Sing-Sing. 

B-Bukan menyetujui ajakan nikahnya?

Tak ingin pikiran romantis itu terus mencemari kepalanya, Alice langsung membuka topik lain.

“Eh, Jim, apa kamu menyadari kalau motorik Sing-Sing perkembangannya agak… Terlambat?” (Bab 20)

Mata Jimmy berkedip heran. “Terlambat bagaimana maksudnya, Lis?”

Jimmy tidak menyadari keadaan Sing-Sing dan Alice segera menceritakan keresahan yang ia temukan tadi siang, soal asinkron pertumbuhan anak. 

Penjelasan demi penjelasan diberikan oleh Alice. Di mulai dari lompatan Sing-Sing yang kurang tinggi, ragu menaiki tangga dengan kaki bergantian hingga ketakutannya pada eskalator. Semua karena kognitifnya yang pesat namun tidak diikuti dengan motorik kasar yang berkembang.

Pada akhirnya solusi dari itu semua berlabuh kembali kepada kerangka rencana Alice—soal waktu kerja Jimmy yang harus dipangkas untuk tetap menstimulasi kekurangan motorik Sing-Sing.

Pria itu tidak mendebat—terbuka—dalam diam menerima semua hal yang dikemukakan Alice.

“Jadi, Jim, jangan cuma mikirin supplier udang ya! Mulai lah mengajak dia jalan-jalan di pagi hari sambil mencari sekolah! Atau memancing dia untuk berdansa dengan musik, aku sudah mencobanya tadi, dia mau mengikutiku.”

Jimmy menghela napas. “Baiklah, Lis… Akan mulai aku coba…”

“Mungkin bisa bergantian, kalau weekend biar aku saja yang menemaninya—mungkin berenang lagi seperti tadi sore.” Alice meraih kaleng bir dan menikmati sisa minumannya.

“Berenang?” Alis Jimmy bertaut heran. “Dia mau? Kepalanya kesiram air saja suka marah-marah dan nangis, kok dia mau berenang?”

Alice menjawab melalui gerakan bahu yang naik turun. ‘Entahlah.’

“Hah? Aneh tapi boleh juga sih,” pungkas Jimmy sambil kembali bersandar di kursi.

“Oh, ya tenang saja, aku sudah daftarkan ia untuk ikut les renang. Usia dia sudah tiga setengah tahun, ‘kan? Jadi setiap weekend dia bisa latihan renang saja disini, aku yang temani.”

“Les? Daftar? Gimana, Lis?”

Astaga. Kelepasan. Rencanaku ini terlalu sepihak, tanpa melalui izin Jimmy. Apa biaya les itu mungkin akan membebaninya? Kalau aku bilang aku yang bayarin les renangnya? Pasti akan sedikit mengusik harga dirinya sebagai seorang ayah? Bohong kecil saja apa ya? Bengkokan sedikit konteksnya.

“Kenalan aku, Jim. Ada yang aku kenal dan bisa kasih bimbingan berenang disini setiap akhir minggu, gitu.” Mata Alice menghindari Jimmy.

“Kenalan? atau… Baru saja berkenalan, Lis?” Jimmy sepertinya menangkap pergerakan subtil pada raut wajah Alice saat memberikan kebohongan itu.

Alis menghela napas lembut. Dahinya berkerut karena tidak tega untuk berbohong lebih jauh lagi. “Iya, Jim. Maaf, Aku yang salah, baru kenal tadi sore. Tanpa persetujuanmu, aku langsung daftarin karena Sing-Sing bilang mau belajar berenang.”

“Ck…ck…ck…” Jimmy mendecak sambil menggelengkan kepalanya.

“Karena sudah terlanjur dan Sing-Sing nya mau, biar aku saja yang bayar. Tes dulu satu bulan… Kalau kedepannya Sing-Sing berubah pikiran, tidak usah dilanjut.” Alice mencoba mencari pembelaan dari perbuatan sepihaknya.

Seolah, baru dipanggil sebagai Mama dalam beberapa jam saja sudah mulai merangsek lebih dalam lagi—melewati otorisasi sang Papa—Jimmy.

Jimmy kembali mendorong uang seribu dollar itu ke hadapan Alice.

“Nih, kata kamu ini uang Sing-Sing, ‘kan? Sekarang, boleh dong kamu ambil uang ini sebagai ganti biaya les renangnya dia?”

Ahhh menyebalkan! Pria ini tahu bagaimana bermain dengan kata-kata di depanku. Menggunakan kata-kataku sebelumnya untuk menyerangku kembali. Oke kamu cukup pintar untuk menjebakku, Jim!

“Astaga, oke-oke, aku tak mau berdebat lagi denganmu. Oke, aku terima uangnya Sing-Sing ini, buat biaya les renangnya dia.” Alice meraih uang itu dari atas meja, menyelipkan ke bawah ponselnya.

Jimmy menggelengkan kepala baru kembali menyesap birnya.

“Maaf ya, Jim? Jangan marah.”

Jimmy menahan tawa, “Hm hmm, ya, Lis… Dan lain kali tolong diskusikan dulu, ya. Sebelum memutuskan sesuatu untuk Sing-Sing.”

“Y… Ya, Jim.”

Alice seperti baru saja mendapatkan sebuah klausul pertama dalam menjalankan perannya sebagai ‘Maminya Sing-Sing’. 

Diskusikan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan untuk Sing-Sing.

Rasanya aku seperti ikut terbungkus dalam ikatan ayah, ibu dan anak yang sesungguhnya. Untuk kepentingan anak, aku tidak boleh mengambil keputusan sepihak—harus mendiskusikannya dengan sang suami-

Ah, sang ayah!

Aku tidak bisa mendebatnya. Sebab kembali lagi, Sing-Sing adalah darah dan dagingnya Jimmy.

Bukan, ini bukan benturan dari ego masing-masing. Tetapi dinamika yang sudah sewajarnya harus terjadi.

Alice terdiam—terlarut dalam pikirannya sendiri. Ada sebuah perasaan hangat menjalar di dalam dada. Perlahan membuatnya tersenyum. Setidaknya wadah untuk menampung cintanya kali ini berlabuh kepada seseorang yang tepat, Sing-Sing.

Dua kaleng bir dan kudapan kacang telah habis. Perbincangan mereka harus terhenti ketika jarum kecil pada jam sudah mendekati angka sepuluh.

“Aku dan Sing-Sing harus pulang, Lis.” Jimmy beranjak dari kursi.

“Naik bus? Taksi? Aku antar saja deh,” sahut Alice.

“Tidak usah, Lis. Sudah malam juga, merepotkanmu.”

Hngh, kata siapa? Aku terbiasa tuh mengemudi malam, sering banget malah pulang dari kantor jam sepuluh, sebelas malahan pernah jam satu pagi dari bandara kesini.”

“Tidak, Lis.”

“Kalau begitu—” Alice melirik ke arah kamar kosong. “Kamu menginap saja? Tuh, pakai kamar yang kecil, biar Sing-Sing tidur sama aku, baru besok pagi kuantar kalian pulang sekalian aku berangkat ke kantor?”

Jimmy terkekeh. “Apalagi itu, mana etis ada seorang pria menginap di apartemen seorang wanita.”

“Eh, Ralat coba, ya. Pria dengan anak perempuannya,” ujar Alice masih tetap bersikeras menahan Jimmy dan Sing-Sing.

“Tidak…” Jimmy masih menjawab dengan nada sama—perlahan dan tetap tersenyum.

“Kalau… umm… Sing-Sing dan Papa yang menginap di rumah Mami, bagaimana?”

Detik itu juga ucapan  Alice langsung terhenti. 

ASTAGA! Ngomong apa kamu, Alice! Malah ngegodain dia!

“Lis—” Baru saja Jimmy sedikit membungkuk hendak menggendong Sing-Sing—digagalkan. Kembali berdiri tegak kali ini ini memutar kepalanya ke arah Alice yang berada di belakangnya.

Ah, gawat marah deh dia.

“Besok Senin, kamu harus bangun pagi dan ke kantor, ‘kan? Kenapa aku tidak mau sampai anak ini menginap… Karena Sing-Sing masih suka terbangun untuk buang air kecil. Itu… Akan mengganggu waktu istirahatmu.” Jimmy memberikan alasan yang sebenarnya. 

Tubuh Jimmy kembali membungkuk dan perlahan menarik tubuh Sing-Sing hingga pindah ke pelukannya. Tidak ada amukan yang berarti. Hanya hentakan kecil—terkejut. Lalu Sing-Sing kembali terlelap.

Alice segera merapikan tas dan serta barang milik Sing-Sing, memegang erat tas itu saat Jimmy mengulurkan tangan untuk mengambil tas itu—Alice masih mencoba menahan mereka. 

“Ayo, aku antar saja deh sampai ke bawah.”

Hingga akhirnya mereka tiba di lobi, perpisahan pun harus terjadi. “Sudah bobo—” Alice mencubit pipi kenyal Sing-Sing. “Selamat malam sayang…” suara Alice berbisik.

“Ya,” jawab Jimmy cepat.

“Dih, bukan kamu! Dia…” timpal Alice.

Ehem, Iya, Mami, iya.” Jimmy berdehem membuat suaranya menjadi melengking, seperti menirukan suara Sing-Sing.

“Dih, menggelikan.” Alice segera mendorong tas milik Sing-Sing kepada Jimmy.

Alice pun menyaksikan keduanya masuk ke dalam taksi merah. Masih berdiri sampai taksi itu berbelok ke arah kiri dan menghilang dari pandangannya seutuhnya.

Hari minggu ini terasa begitu berbeda. Biasanya ia akan bangun siang, menonton TV lalu pergi ke gereja di sore hari.

Hari ini berbeda, tak ada rutinitas akhir pekan seperti biasanya. Malah bermain dengan Sing-Sing seharian. Kemudian pengakuan dan penerimaan dari Jimmy telah membuat hati Alice menjadi begitu lapang dan tenang.

Walau sedikit meninggalkan kekhawatiran. Sebab membantu mensejahterakan anak itu tidak semudah berikan uang lalu pergi, Alice harus banyak mengoreksi hidup mereka—Sing-Sing dan Jimmy. 

Pada prosesnya tembok ketegasaan soal tidak ada perasaan terhadap Jimmy seolah terkikis perlahan karena romansa sesekali memperkeruh hingga sedikit membubarkan logika Alice.

Mungkin itu bukan percikan rasa suka, apalagi cinta. Hanya rasa kagumku kepada dia. Pria pekerja keras yang sanggup membesarkan putrinya seorang diri—itu bukan sebuah pekerjaan yang mudah!

Alice hendak menutup hari dengan beristirahat namun satu notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Sebuah chat dari Jimmy, foto Sing-Sing yang tertidur lelap di kasur mereka dengan caption “Mami, aku pules.”

“💕” 

Eh? Alice merespon dengan emoticon hati. Namun, segera dihapus.

“Selamat malam Sayang, selamat tidur.” 

EH!? Kok gini? 

Sekali lagi Alice menghapus pesan itu. Menyadari kalau ia mengirimkan pesan itu ke nomor Jimmy—jadi ambigu terkesan kata ‘Sayang’ itu ditujukan untuk Jimmy.

“Selamat malam Sing-Sing, selamat tidur!” hingga akhirnya pesan ketiga inilah yang final dikirimkan oleh Alice.

Hah… Oke sekarang mari memejamkan mata—beristirahat untuk menghadapi hari esok—senin.

Tunggu… SENIN! 

Aduh, mampus deh! Gosip itu! Gara-gara Winnie dan Ah Ling! Besok aku harus ngadepin Karen dan Maggie! (Bab 17, 18)

Semoga belum nyebar, Semoga belum nyebar!

Amin.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Eh, cie… Walau Papa dan Sing-Sing ga nginep, kok Mami Alice makin menjadi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *