‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

“Astaga…” Jimmy menghela napas berat saat melihat buah hatinya tengah tertidur di sofa bed dengan mainan yang bertebaran di sekelilingnya.

Alice yang membukakan pintu, hanya bisa menahan tawa dan mempersilakan sang ayah untuk masuk ke dalam apartemennya. 

“Baru tidur tuh—” Alice menunjuk dengan dagunya, “Jim.”

Jimmy langsung membungkuk dan berlutut, bukan untuk menyentuh anaknya tetapi untuk segera merapikan mainan yang berhamburan.

“Harusnya tadi kamu langsung seret saja, Lis. Bawa pulang, ini kalau sampai Sing-Sing tidur jam segini sih… bisa repot, kalau tidak lanjut sampai pagi. Bisa-bisa dia lanjut main di rumah hingga subuh.”

Ketika mendengarkan ucapan Jimmy, Alice sedang membuka lemari pendingin—meraih dua kaleng bir dingin dari dalam sana. “Ga, tega aku, Jim. Tadi saja dia masih tetap keras… Tetap nggak mau pulang.”

Dua kaleng bir, sebungkus kudapan kacang dan Alice yang kini duduk di kursi meja makan. Itu adalah sebuah undangan terbuka untuk Jimmy, untuk duduk bersama dan berbincang hingga larut.

Mata Alice menatap lekat ke arah Jimmy yang sedang merapikan setiap mainan yang berserakan. 

Bagi Alice saat ini Jimmy adalah pria yang berbeda. Karena ketidakhadiran handuk di kepala, kaos tipis dan apron di pinggangnya. Ia hanya seorang pria matang asal Hong Kong yang memiliki seorang putri semata wayang dan dia—duda.

Astaga, mikir apa sih, Lis? Kok, jadi melamuni dia?

Alice meraih kaleng bir. Tidak ingin merusak warna dusty pink—cat kukunya. Lantas ia menggunakan sebuah sendok sebagai alat bantu untuk menarik tuas pembuka. Menghasilkan bunyi nyaring yang t menyita perhatian Jimmy. 

Leher Alice segera berputar ke arah lain—putarannya kaku seperti robot. Jelas sekali menghindari kontak mata dengan Jimmy. Belum lagi saat mengangkat kaleng bir—pergerakan tangannya tersendat seperti video yang sedang buffering.

Begitu ruangan kembali rapi, Jimmy segera menyentuh anaknya—membetulkan posisi tidurnya lalu menatap malaikat kecilnya untuk beberapa saat. Kemudian melabuhkan sebuah kecupan di pipi Sing-Sing.

“Gimana? Dia tidak semanis yang kamu bayangkan, ‘kan?” tanya Jimmy sambil menarik kursi di hadapan Alice.

Mmh—” Sekilas, Alice menyesap bibir atasnya. “Biasa aja tuh,” sambungnya ringan.

Rambutnya sedikit basah—baru mandi? Tak ada wangi Wokhei, bawang putih atau minyak wijen seperti biasanya. 

Parfum dengan aroma kayu unik, mendekati Oud—maskulin dan hangat.

Sialan. Apa yang lagi kamu pikirkan sih, Alice Moon!?

Hmph.” Jimmy menahan tawa saat meraih bir kaleng yang tersaji di atas meja. Matanya memperhatikan kaleng bir berwarna merah marun dengan tulisan 1842 dengan logo ilustrasi dari celana tradisional (samfu) seorang tuan muda (Young Master)—bir yang sangat mudah ditemukan di  Hong Kong.

“Apa?” tanya Alice—curiga dengan tawa yang tertahan itu.

“Lucu aja, wanita kayak kamu minumnya malah ginian.” Jimmy kemudian membuka penutup kaleng itu.

Lah nantang.

“Terus? Harusnya apa Jim? Ini enak, kok. M… Mau liquor lain? Ada Soju sih, Bordeaux atau mau Macallan sekalian?” Alice mengangkat sebelah alisnya—flexing sekaligus menantang pria itu.

Aiya, m’sai la... Tidak usah repot-repot,” ucap Jimmy setelah menelan tegukan pertamanya. (Aduh, tidak perlu).

Sebuah senyuman lebar terukir di mulut Jimmy. Walau tidak diarahkan langsung kepada Alice namun senyuman itu seperti memicu rasa gugup di dalam diri Alice.

Gak. Gak boleh gini!

“Ah, Jim, Gimana resto hari ini? Ramai?” Alice segera membuka percakapan. Menolak perasaan romantis yang terus tercipta saat berhadapan dengan Jimmy.

Jimmy mengangguk. “Ramai, Lis. Tadi pagi juga sudah mulai strategi kecilmu itu… Cuma jualan mi dan Ah Kit yang bertugas di dapur.”

“Oh, ya? Mhh… Pantas tadi tidak melihat Yoyo, terus, terus bagaimana?” Bicara bisnis, Alice menjadi antusias.

“Yah… Sempat beberapa terpental… Ya, ada lah satu dua orang yang mengharapkan menu berat.”

“Ooh…” bibir Alice meruncing. Ia segera meraih ponsel, membuka aplikasi laporan POS—karena Alice yang memasang alat dan aplikasi itu di kedai, sehingga ia bisa ikut memantaunya. 

“Parah, ya? Turun drastis, ya? Kalau Beg—”

“Tak apa, Lis. Baru juga satu hari percobaan. Itu juga karena mengandalkan menu mi saja, masih pada… kaget—kurasa.”

Alice tidak menghela napas lega. Otaknya berputar cepat ditandai dengan mengusap area di bawah bibirnya—dagu.

Segera memproyeksikan berbagai hal serta kemungkinan dan segera menemukan sumber permasalahan utamanya.

Penjualan pada pagi hari menurun karena Jimmy yang telah menjalankan strategi dari Alice tanpa dilengkapi dengan pelebaran menu dan penambahan jumlah pegawai.

Modal belum Alice berikan sebab Jimmy menuntut kesepakatan yang jelas—hitam di atas putih.

Alice mengangkat kembali kepalanya tanpa ragu menatap Jimmy. “Senin, besok, aku buat perjanjian pinjaman modal. Lusa pagi kamu belanja, siangnya mulai R&D menu kopitiam.” Alice segera membeberkan strateginya yang begitu—cepat.

“Wah, Nona Alice Moon, santai. Tidak perlu ada yang kamu khawatirkan sampai segitunya. Aku tidak kecewa atau marah setelah mencoba sedikit rencanamu itu,” jawab Jimmy diakhiri senyuman simpul.

“Ga! Ga bisa sesantai ini, Jim! Kita harus cepat! Ah—” Alice menyadari penggunaan kata ‘kita’ itu mungkin membuatnya terlalu mencampuri urusan dapur Jimmy. “Kamu… Maksudnya kamu harus cepat bertindak, jika tidak ini akan menjadi lubang kegagalan.”

“Kata siapa gagal, Lis?”

“Aku,” jawab Alice cepat dengan mata yang masih tetap tertuju kepada pria dengan suara yang tetap terdengar santai itu.

“Ya… Mungkin buat kamu itu gagal, buat aku tidak. Toh, selepas kamu dan Sing-Sing pergi dan aku tidak berada di balik wajan, aku jadi punya waktu lebih untuk… Mengeksplorasi ke dalam pasar, cari bahan, cari supplier baru… Udang yang tadi itu buktinya.”

“Udang? Bukti?” Dahi Alice mengerut heran. “Jelaskan,” suara Alice terdengar berat dan dalam. Ia segera berubah menjadi seorang VP yang meminta kejelasan dari hal yang kurang masuk di logikanya.

“Ya itu, yang kamu rencanakan… Agar di pagi hari aku punya waktu dengan Sing-Sing dan mulai mencari sekolah untuknya, tadi pagi… Selepas kalian pergi, aku melakukannya. Namun, bukan sekolah yang aku dapatkan, malah itu supplier baru.” Kedua alis Jimmy terangkat untuk sekilas.

“Astaga—” Alice menggeleng, kerutan pada dahinya bubar. Senyuman hadir disertai gelengan kepala. “Fokus dikit dong, Jim. Sekolah loh sekolah! ini malah udang.”

“Eh, saya fokus, ya, Lis. Udang berkualitas itu juga bagian penting. Coba kalau nasi goreng yang chow yang aromanya sudah enak dirusak karena tekstur udang yang buruk? Terlalu lembek dan bau amis?”

Mata Alice terpejam. Sialan, ada benarnya juga.

Dunia korporat yang diarungi Alice memang selalu berputar cepat. Layaknya arus serta ombak di lautan yang tidak menentu. Harus selalu gesit dalam memanfaatkan peluang demi segepok uang Dollar. Akan tetapi, Itu semua seakan tidak berlaku di dapurnya Jimmy. 

Jimmy terkesan santai namun ironisnya dialah sang ahli di balik panasnya wajan. Bisa dikatakan, Golden Wok telah melepaskan Gold yang sesungguhnya dari dapur mereka—Jimmy.

Sikap santai dan seberapa idealisnya Jimmy sudah terbukti nyata melalui lidahnya Alice—tak ada komplain—enak!

“Oke, Jim, oke. Kita sudahi perselisihan udang-udangan ini.” Jari telunjuk Alice teracung di udara menghentikan perdebatan. Menyadari kalau dirinya adalah seorang arsitek menghitung dan merancang, sedangkan Jimmy adalah petarung di lapangan—tahu teknik, bahan dan problematikanya.

“Tapi tetap ya, besok aku akan tetap buat perjanjian itu agar bisa kamu bisa tandatangani sehingga dananya bisa aku kucurkan dengan segera.” Alice kembali menyandarkan tubuhnya setelah sempat sedikit condong karena perdebatan tadi.

“Secepat itu, Lis? Aku belum—”

“Et tet tet!—”Alice memotong ucapan Jimmy. “Ga, ga ada nego! Lagi pula itu pernyataan bukan pertanyaan!” 

Jimmy terdiam seketika. Ia mengatupkan bibir dan menganggukan kepalanya—menurut.

Alice segera menambahkan sebuah Reminder pada ponselnya. Senin: Perjanjian Peminjaman Modal Jimmy Lau.

“Oh ya, Lis—” Jimmy sedikit bangkit mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku kemejanya. Amplop itu segera di dorong di atas permukaan meja ke arah Alice. “Sebelum lupa.”

Mata Alice berkedip cepat, sorotnya berganti ke amplop putih dengan jejak lipatan dua itu. “Apa ini, Jim?”

Jimmy berdehem. “Uang… Untuk mesin printer dan ponsel kasir yang kamu beli kemarin itu.”

Alis dan kerutan pada dahi Alice segera merenggang. Baginya uang itu tidak seberapa namun pria dengan pendirian teguh ini tidak mengingkari janjinya. Mungkin saja ada etika di dalam dirinya: Melunasi pinjaman terlebih dahulu sebelum meminjam dana yang lebih besar lagi.

“Oke, aku terima—” Alice meletakkan ponselnya, lalu menarik perlahan amplop itu. “Tapi—” Alice mendorong kembali amplop itu ke arah Jimmy. “Perlu diingat, mesin printer dan ponsel itu saat ini cuma ada satu di resto. Jadi… Pergunakan uang ini lagi, untuk membeli unit cadangannya, Jim. Jadi… Kembalikan lagi, nanti.”

“Lis—” Jimmy menghela napas. “Jangan membebaniku, seperti ini, terima sajalah.”

“Loh? Ini aku sudah menerimanya loh—” Jemari Alice mengetuk-ngetuk amplop. “Tapi aku melihat ada kemungkinan resiko kedepannya, sebelum itu terjadi dan menjadi kendala operasional… maka dari itu pergunakan lagi—” Ketukan jari Alice terhenti. 

“Kalau dari perputaran uang di kedaimu sekarang, aku rasa dua atau tiga minggu kamu bisa mengembalikannya lagi?”

Tidak, Alice tidak memberikan kembali uang itu secara cuma-cuma. Ia tetap terus menguji Jimmy namun kini dengan berlandaskan kemungkinan buruk yang akan terjadi kedepannya.

Amplop itu kembali di dorong hingga benar-benar berada di ujung meja, di hadapan Jimmy. Sembari tersenyum hangat, Alice kembali memundurkan tubuhnya, meraih bir dan meneguknya.

“Ngomong-ngomong soal uang, Lis—” Jimmy mencondongkan badannya. Kedua siku tangannya menumpu di meja. 

“Apa kamu yang memasukan Golden Cow pada kunjungan pertamamu di kotak tip?” (Golden Cow sebutan untuk pecahan uang HKD $1000)

Mmh, ya… wae?” Alice keceplosan memakai bahasa ibunya. Sekilas menarik bibir bawahnya lalu merevisi ucapannya dalam bahasa Kanton. “Me si?” (Kenapa?)

Lagi, Jimmy mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja bajunya. Pecahan uang seribu dolar. “Berlebihan, Lis.” Jimmy menyodorkan itu ke hadapan Alice.

Ah… Uang tip yang ditolak, dikembalikan. Mengingatkanku pada masa mudaku. Perjumpaan pertamaku dengan Kwon Hyunwoo di Prancis. Kala itu aku bekerja sambilan menjadi pramusaji, ia memberikan 20 Euro di meja sebagai tip. 

Sebuah taktik meminta atensi lewat flexing dari anak orang kaya yang membuatku emosi. Aku segera mengejarnya dan mengembalikannya. Setelah kejadian itu, sisanya menjadi sebuah sejarah kalau dunia kami pernah bersatu.

Sesungguhnya Alice tahu itu sangat berlebihan memberikan uang tip yang sebanding dengan dua juta rupiah. Namun, Alice mempunyai sebuah senjata agar uang itu tidak kembali kepadanya.

“Loh, Jim, aku berikan itu kemana? Kotak tip, ‘kan? Tulisan di kotak tip itu apa?” Alice ingat bahwa tulisan di tip jar itu adalah ‘Untuk mainan Sing-Sing‘. (Bab 2)

“Lis—”

“Itu bukan uang kamu, aku memberikannya untuk dia—” Alice menunjuk melalui gerakan dagunya—kepada Sing-Sing yang sedang tertidur di kursi sofa.”Untuk mainannya.”

“Astaga… Alice.” Tangan kanan Jimmy jatuh lesu sehingga meletakkan uang itu di atas meja—di hadapan Alice.

Alice tersenyum, berhasil menepuk kembali pria berprinsip itu dengan berkelit. Merayakan kemenangan kecilnya, Alice mengambil beberapa butir kacang dan menikmatinya.

Sementara Jimmy yang baru saja dikalahkan oleh wanita yang lebih keras daripada dirinya memilih untuk kembali menikmati bir.

Mereka terhening. Mata keduanya tersorot ke arah Sing-Sing yang baru saja mengigau di tengah tidur pulasnya. 

“Ga mau, maunya main sama Mama aja.”

Mata Jimmy sempat berkedip cepat—bingung kenapa anak itu bisa mengungkit kata ‘Mama’ dalam mimpinya. Sosok yang sudah absen selama dua tahun belakangan ini. “Ma… Mama?”

Alice menelan ludahnya. Menyadari kalau ‘Mama’ yang diucapkan Sing-Sing itu mungkin menunjuk untuk gelar baru pada dirinya yang baru saja diberikan anak itu siang tadi.

“Jim, apa… Sing-Sing pernah menyebut Yoyo sebagai Mama?”

“Hah?” Jimmy memutar tubuhnya, kembali menghadap Alice. “Yoyo? Tidak pernah tuh. Sing-Sing tadi, ngomongin hal aneh tadi kepadamu?”

Ya, jangan kepedean dulu. Di kedai Jimmy ada satu wanita yang juga lekat dengan Sing-Sing. Mungkin saja gelar ‘Mama’ itu kerap ia berikan kepada sosok wanita yang dekat dengannya.

Alice menyesap bibirnya penuh ragu. Tatapannya menghindari Jimmy, memperhatikan butiran kacang yang berada di piring kecil.

“Sing-Sing tadi memanggilku dengan sebutan itu, Jim… Ia memanggilku, Mama.”

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *