⚠️ Content Warning: Bab ini akan membawa kita menyelami titik terendah dari seorang Alice Moon. Terdapat adegan perselingkuhan, pengkhianatan emosional, dan trauma masa lalu yang melibatkan pemikiran depresif/bunuh diri.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
“Sayang—”
“Ssshh… Non, Ray… Besok aku ke LA, tidak jangan hari ini.”
“Ayolah, aku sudah sangat menginginkannya.”
Ada cumbuan berlabuh di leher Alice. Seketika, Alice membuka mata. Padahal, baru lima menit yang lalu ia memejamkan matanya—menuju ke alam mimpi untuk beristirahat.
Alice menghela napas panjang sampai menimbulkan mendesis halus dari mulutnya. Tali tipis dari gaun malam yang dikenakannya perlahan didorong oleh pria yang berada tepat di belakangnya—Raymond Chen.
“Ray, What language should I use for you to understand? Hm?“
Tidak sedikitpun Alice menolehkan wajah ke arah suaminya. Hanya memandang kesal ke arah lampu tidur berwarna kuning remang yang berada di atas nakas—disamping ranjang.
Tidak perlu umpatan atau jeritan, cukup dengan kekesalan dalam bahasa Inggris dan pergerakan rahang ke kiri dan kanan. Alice membekukan Raymond seketika.
Tangan Kanan Raymond menarik kembali tali tipis dari gaun tidur satin yang dikenakan Alice pada posisi semula.
Alice kembali memejamkan matanya dengan tubuh yang tetap membelakangi Raymond.
“Pulang kapan? dari LA?” Pada akhir ucapannya Raymond menghela napas singkat.
“Kamis.”
— Raymond Chen
Tidak mendapatkan apa yang diinginkan olehnya di malam itu. Malah sebuah penolakan dingin dari Alice yang harus mempersiapkan tubuhnya untuk penerbangan panjang dari Hong Kong ke Los Angeles. Di hari esok, Alice harus mengunjungi kantor pusat Crestview & Associates.
Alice tidak salah menghitung hari. Tepat di hari Kamis, Alice menjejakan kembali kakinya di Hong Kong.
Pukul sebelas malam, Alice menyentuh apartemen mewah mereka yang berada di kawasan Telegraph Bay, Bel-Air Residence.
Lampu spot otomatis berwarna kuning menyambut, lantai berlapis marmer putih mewah menyapa Alice ketika dirinya sedang melepaskan heels di dekat pintu masuk.
Ada sebuah anomali. Netra Alice mendapati sebuah flat shoes wanita berujung lancip yang terasa asing baginya—merknya saja tidak terkenal, antara lokal murah atau barang kw.
Alice memutar kepala—tatapannya langsung menyorot tajam ke arah sebuah pintu kamar yang sedikit tertutup. Hanya butuh satu detik untuk menatap ke arah pintu. Kemudian ia menarik napas dalam-dalam, matanya terpejam sambil menggigit bibir bawahnya—menahan emosi.
Alice melangkah ke ruangan tengah—meninggalkan tas kopernya di depan pintu. Netranya langsung mendapati sebuah botol wine serta dua gelas flute dengan sedikit cairan berwarna burgundy tersisa berada di atas meja makan. Alice mengangkat salah satu gelas flute. Terlihat jelas ada jejak merah lipstik—bibir wanita.
Sebuah ponsel hitam tebal berada tidak jauh dari gelas dan botol itu. Alice meraih ponsel itu sambil melangkah ke kursi sofa di ruangan tengah. Layar menyala—menampilkan foto Alice yang sedang tersenyum lebar, mengenakan gaun putih dan membawa buket bunga—ponsel Raymond.

“Hnggh… Ah ah ah… Ray… Ah…”
“Kelly, you’re so pretty, Honey… Ssshhh…”
Dalam hening dan napas yang terasa sesak, Alice menginspeksi ponsel suaminya tanpa izin—ditemani oleh suara erangan dan desahan dari dalam kamar.
Alice mengambil napas perlahan ketika melihat sebuah jendela chat berasal dari kontak bernama—Kelly.
Chat mereka begitu mesra, bukan selayaknya rekan kerja. Memakai emoticon dan stiker. Bahkan Raymond memanggilnya dengan Honey.
Alice mencoba tetap tenang dengan terus mengatur ritme napasnya. Namun, tetap saja gagal. Air matanya tetap tumpah seiring dengan napas yang terengah-engah. Alice segera menghapus air mata dengan cepat—menggunakan punggung tangan kirinya.
Kelly, sekretaris kamu, Ray? Kenapa harus dengan perempuan itu?
Inspeksi yang dilakukan Alice mulai beralih ke aplikasi email. Mengetik “Hotel Booking” pada kolom pencariannya.
Kepala Alice bergetar hebat saat ia menemukan beberapa invoice booking hotel di wilayah Hong Kong—Central dan Kowloon. Alice melepaskan ponsel itu hingga menghantam lantai. Karena dirinya dan Raymond tidak pernah menginap di tempat-tempat itu.
Sudah sering terjadi dibelakangku rupanya?
Wajah Alice sudah tidak bisa menahan emosi yang telah memuncak—Alice langsung menangis dalam kesunyian.
Perselingkuhan itu kini terjadi di depan hidungnya sendiri. Di atas ranjang yang seharusnya menjadi peraduan suci nan romantis milik berdua—kini telah ternodai oleh kehadiran wanita lain.
Wanita itu tak lain adalah sekretarisnya Raymond.
Satu jam Alice bertahan disitu—menanti hingga air matanya mengering dan bibirnya kini agak memucat.
“Bentar, ya, Honey, aku ambil air minum dulu—” wanita dengan rambut panjang sedikit berombak keluar dari dalam kamar. Tanpa busana ia hendak melintas menuju daerah kitchen.
“HUAH!?” wanita itu terhentak dan berteriak saat memutar tubuhnya setelah mengambil segelas air. Ia mendapati sosok Alice sedang duduk tegak di kursi sofa sambil menyilangkan tangannya.
“Honey… Kenapa?” suara Raymond terdengar dari dalam kamar.
“B… Bu Alice, s… Sudah pulang?” tanya wanita yang bernama Kelly.
Alice mendengkus dan tersenyum asimetris.
“Terus… Yang kamu lihat apa? Hantu? Suru si bajingan itu keluar dari dalam sana—SEKARANG!”
Kelly menutupi dada dan kemaluannya—lari ke dalam kamar dan seketika suasana seolah langsung berubah mencekam.
“APA? ALICE?” Raymond berteriak keras dan langsung keluar dari dalam kamar—hanya memakai celana boxer.
“Al? Kok, kamu—”
“DIAM!” pekik Alice sambil berdiri.
“Bajingan tolol! Aku bilang kamis waktu Hong Kong bukan waktu LA!” Alice menggeleng namun matanya sama sekali tidak menatap Raymond.
“Al, aku bisa jelas—”
“JELASIN apa? Ray? Hm? Jelasin kalau tadi enak? Apa ga enak? Karena pakai kondom? Hm? Semua sudah jelas, Ray… JE—LAS!” Alice melemparkan ponsel Raymond ke atas kursi.
“Besok pagi, kita urus perceraian kita. Besok! Langsung!” Alice mulai melangkah.
“Al!” Raymond menahan lengan kiri Alice.
“Lepas!”
“Al, dengerin dulu—”
“Ga ada penjelasan yang perlu aku dengar!”
DUK! Alice menghantamkan tumit kaki kirinya ke atas telapak kaki Raymond. “Argh!” Cengkraman Raymond terlepas—Alice langsung melangkah cepat ke pintu utama dimana koper miliknya masih berada disana.
Brengsek!
ˎˊ˗⋆。°✩📄
“Erghh!” tubuh Alice terhentak—matanya terbuka dalam sekejap.
Untungnya yang ia lihat adalah pintu lemari kamarnya yang berwarna cokelat muda.
Sialan, kenangan itu malah kembali.
Kedua telapak tangan Alice langsung menguasai wajah lalu mengusap-usapnya.
Namun, tangisan tak dapat dihindari. Kenangan buruk itu kembali menghantui dirinya—tidur siang itu tidak membawanya kepada bunga mimpi yang indah malah ke trauma perceraiannya.
Masa lalu kelam beberapa tahun yang lalu. Alice, Raymond dan perselingkuhan.
Alice mempertanyakan kenapa ingatan itu kembali lagi—seharusnya pernikahannya yang telah kandas itu sudah tertutup.
Perselingkuhan yang dilakukan Raymond adalah buah pahit dari ambisi Alice yang ingin menjadi wanita mandiri.
Namun, malah membuat dirinya menjadi seorang istri yang terlalu sibuk, dingin dan melupakan kehangatan rumah serta keintiman di atas ranjang.
Alice melepaskan Raymond bukan karena merasa jijik karena pria itu memilih wanita yang levelnya jauh dari dirinya. Tetapi murni karena dirinya sadar—tidak bisa menjadi seorang istri yang sempurna untuk Raymond.
Ya, Raymond adalah korban dari kompleksitas masa lalu Alice. Jika terus di cari sumber masalah utamanya maka akan berakar dari pria bernama Kwon Hyunwoo.
Dahulu kala ketika masih sama-sama berkuliah di Paris, Hyunwoo memutus secara sepihak hubungan mereka. Alasannya? Karena Alice dianggap mengganggu: banyak menuntut waktu dan kehadiran disaat Hyunwoo sedang berambisi dan fokus dengan dunia kerjanya.
Putus percintaan hampir membuat Alice menjadi gila hingga berniat menghabisi hidupnya sendiri di Versailles, Prancis—dirinya begitu hancur karena patah hati.
Bagi Alice, Hyunwoo adalah cinta pertamanya. Terdengar begitu naif, tetapi kala itu Alice benar-benar mencintai Hyunwoo dengan begitu tulus.
Bagi Hyunwoo, hubungan mereka transaksional—sebatas untuk mengakali pajak dan izin kerja lewat kontrak atau perjanjian hukum yang mengatur kehidupan bersama antara dua orang dewasa tanpa ikatan pernikahan resmi—PACS.
Akan tetapi, tindakan nekat Alice gagal karena ibunya Hyunwoo. Bukan karena sebuah keajaiban. Namun, beliau memang selalu menelpon untuk menanyakan kabar Alice pada hari itu.
Sebab Alice lah yang selalu menjadi ‘penyambung’ lidah serta mata sang ibunda ke Hyunwoo yang sedang tidak akur di kala itu.
Alice segera disuruh pulang untuk menata kembali hidupnya perlahan-lahan namun kebangkitan Alice didasari tujuan tidak sehat: Hidup untuk mengekori ambisi Kwon Hyunwoo—membuktikan kalau dirinya juga bisa berada di puncak tertinggi korporat seperti dia.
Berkat gelar sarjana S2 dari HEC Paris—Alice mendapatkan sebuah kesempatan kerja di Hong Kong—meniti karir cemerlang di Bank Investasi dunia, Crestview & Associates.
Persilangan di dunia perbankan, membuat Alice bertemu dengan seorang pria dari Mastercard—Raymond Chen. Pria yang jatuh hati kepadanya.
Namun, kala itu Alice memandang cinta dari Raymond adalah sebuah ‘penghapus’ untuk menghapus tinta yang sudah ditorehkan Hyunwoo terhadap dirinya.
Alice… memakai cinta dari pria itu (Raymond) untuk melupakan pria yang telah menyakiti dirinya (Hyunwoo).
Pada pernikahan itu, Alice menjadi dingin karena terus membentuk dirinya sendiri menjadi ‘Standar Hyunwoo’. Sehingga Cerai adalah jawaban terakhir dari hubungan Alice dan Raymond
Alice tersadar kalau menikahi pria dengan cinta pada satu sisi saja adalah hal yang salah.
Kisahnya dengan Hyunwoo tidak berhenti di masa lalu.
Sekitar satu tahun yang lalu, sebuah kesempatan datang kepada Alice. Kesempatan untuk kembali menyentuh Hyunwoo, lewat sang ibunda yang sedang meragu karena Hyunwoo telah memiliki kekasih baru yang perbedaan umurnya cukup jauh—10 tahun lebih muda dari Hyunwoo.
Alice dikirim untuk menilai sendiri kekasih baru Hyunwoo dan diberikan perintah absolut: rebut kembali Hyunwoo kalau pacarnya yang bernama Olivia memang terindikasi cuma main-main atau seorang gold digger.
Terdengar tidak masuk akal, tetapi Alice tetap melakukannya.
Hingga terjadi serangkaian drama panjang nan kompleks lainnya—pada akhirnya Alice berhasil mendapatkan sebuah penutupan dari masa lalunya yang telah menyetir dirinya hingga seperti saat ini.
Alice sudah sepenuhnya melepaskan Hyunwoo.
Alice tersadar kalau saat ini ia menyayangi Hyunwoo bukan seperti kekasih, tetapi sebagai partner bisnis (Hyunmoon Tech.) dan teman diskusi karena kesamaan frekuensi serta gaya pola pikir mereka.
Sementara itu, Alice juga menyayangi Olivia seperti seorang adik—karena wanita itu selayaknya cerminan dari dirinya di masa lalu, tulus, polos dan naif saat mencintai Hyunwoo.
Sembari menutupi wajah dengan batal, selama beberapa saat Alice menangis—meluapkan sisa-sisa kekesalannya. Mempertanyakan kenapa malah masa lalunya dengan Raymond yang kembali menghantui.
Apakah masih ada celah dengannya?
Perasaan bersalah atau penyesalan?

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
“Ma?” Ada suara kecil yang menghentikan Alice seketika.
“Mama?” Ada sesuatu yang merayap di pundak Alice—Perlahan, ia merasakan ada tekanan di lengan kirinya.
“Mama kok nangis?”
S… Siapa? Suara kecil ini? Alice memutar lehernya cepat. Mendapati sosok anak perempuan berambut pendek sedikit acak-acakan tengah bersimpuh di belakangnya.
Alice sempat mengalami rasa bingung dengan realita yang ada.
Sejak kapan aku punya anak? Bukankah aku dan Raymond telah bercerai? Atau itu benar-benar cuma mimpi buruk semata?
Sesungguhnya aku berbahagia dan ini anak kami berdua?
…
Ah… Iya… Dia Sing-Sing… Anaknya Jimmy.
Alice segera tersadar bahwa realitanya—ia tidak hidup berbahagia dengan Raymond Chen. Mereka telah berpisah beberapa tahun silam.
Sing-Sing memanggilnya dengan ‘Mama’ karena julukan baru itu baru saja diberikan oleh Sing-Sing sebelum mereka tidur siang tadi.
Alice bangkit, angsung memeluk tubuh Sing-Sing erat-erat.
“Maafin, Mama, ya, Sing… Maaf.”
Jika pernikahan itu baik-baik saja. Mungkin aku… Aku sudah memiliki putri kecil seumuran kamu, Sing!
“Maaf? Kamu kenapa? Sing salah apa?” Balita itu sedikit mendorong tubuhnya, menghindari Alice. Namun, tangan kecilnya mendarat di pipi Alice yang telah basah. “Kok, nangis? Jangan nangis.”
Butuh beberapa saat hingga akhirnya tangisan Alice terhenti, segera berganti menjadi senyuman manis untuk Sing-Sing—meyakinkan anak itu kalau dirinya baik-baik saja.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅

Maaf jika bab ini terlalu kelam, sebab Dilatasi Rasa memang cerita spin-off dari Titik Tanpa Kembali.
Bab ini memang dibuat untuk merangkum masa lalu kelamnya Alice agar para pembaca bisa memahami darimana sikap ‘denial’-nya Alice muncul.
Kalau tertarik sama cerita yang agak gelap dan sekacau apa Alice, Hyunwoo dan Olivia… Bisa kunjungi cerita “Titik Tanpa Kembali”. Alice baru muncul di bab 40 namun ada Bab Intermezzo (sebelum bab 40) yang merangkum Bab 1-39. Jadi kalian bisa menikmati cerita itu dari Bab 40 hingga tamat.