‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
“Jujur saja—” Alice menggantungkan ucapannya. “Aku tidak sesibuk itu, pesan dan laporan darimu itu selalu aku baca. Tetapi aku tidak meresponnya—” Ucapan Alice terjeda, mulutnya terbuka ragu.
“K… Karena aku sengaja menarik dan membatasi diriku dari dirimu.”
“Membatasi? Dirimu?” Dahi Jimmy sempat mengerut.
“Karena—” Alice terjeda, ada rasa ragu saat ingin menjawab dan menuntaskannya. “Takut kalau aku kelepasan dan perasaanku terlibat jauh, aku akan mengacaukan segala-galanya. Sudah terbukti, kemarin—” Kelopak mata Alice bergetar perlahan. “S-Saat tahu kamu sama Sing-Sing ke Sha Tin untuk mengunjungi mertuamu… itu.”
Kali ini Jimmy yang terdiam sesaat—mencoba mengolah kata-kata Alice yang terasa sedikit semu untuk dipahami. “Maksudnya bagaimana, ya, Lis?”
Kata-kata yang sudah menjurus itu masih sulit dipahami olehmu, ya? Haruskah kucurahkan semua kecemasan mendasar ku kepadamu?
“Karena aku… ce-cemburu, Jim.” Untaian kata yang Alice berikan sempat terputus saat menyebut kata cemburu.
Satu kedipan mata—bibir Jimmy mengatup rapat. “Cemburu?”
Mulut Alice terbuka semu namun masih diam tanpa kata. Sempat ada getaran ragu di bibir itu. Alice segera menyesap bibir dan terdengar bunyi decakan saat melepasnya.
“Ya, Jim… Aku cemburu, buta. Aku tidak suka kalau Sing-Sing dan kamu masih bersentuhan dengan bayang-bayang mantan yang telah meninggalkan kalian—”
Jimmy menghela napas panjang, “L… Lis, itu—”
“Aku tahu itu salah, Jim… Salah, tidak benar. Tidak pantas aku memiliki perasaan seperti itu. Tetapi, itu mencuat begitu saja karena aku mulai tidak yakin dengan diriku sendiri—” Sorot mata Alice sedikit turun, tak lagi menatap ke wajah Jimmy. Kelopak matanya mulai terasa berat, sebab air mata mulai berkumpul disana.
“Aku… Takut, kalau… Perasaanku juga mulai tumbuh kepadamu.”
Kata-kata itu pada akhirnya terucap juga.
Tanpa privasi, Alice telah melangkahi jurang gengsi. Tak peduli dengan telinga orang lain yang dapat mendengarkan perbincangan mereka.
“Sebab jika aku mulai mencintai seseorang, aku akan mulai banyak menuntut dan hal itulah yang membuat masa laluku gagal—total.”
Alice menarik napas perlahan, matanya sempat terpejam. Air matanya tumpah namun cepat-cepat ia sapu
“Maka dari itu, aku sadar diri, aku mulai menarik diriku perlahan darimu. Sebab jika kamu membenciku, aku juga akan kehilangan Sing-Sing.”
— tenang.
Jimmy membiarkan waktu untuk terus bergulir selama beberapa detik. Menerima suara dari kemurnian hati seorang wanita yang baru saja dilimpahkan kepadanya. Tidak ada gerakan panik dari Jimmy. Ia terdiam mungkin saja sedang merangkai jawaban.
“Bukan kamu saja, Lis… Yang menyimpan ketakutan. Aku… juga,” ujar Jimmy dengan nada suara yang tenang.
“Kamu memberikan waktu, materi dan juga cinta kepada anakku… Lantas aku sebagai orang tuanya, bisa memberikan apa?” Jimmy menggeleng.
“Tidak ada… Tak ada yang bisa kuberikan Selain membalas dengan memberikan perhatian kepadamu. Namun, sepertinya itu malah… Membuat kesalahpahaman dan rasa tidak nyaman kepadamu… Aku yang tidak tahu diri—tidak sadar posisi.”
Tatapan mata Alice kembali terangkat ketika pria itu kembali menjatuhkan posisi dirinya.
“Mungkin… Kamu takut untuk jatuh dan terjebak kembali dalam percintaan, ya?” tanya Jimmy.
Alice sempat terdiam untuk beberapa detik. “Y… ya. Mungkin.” suaranya lemah.
Ada pergerakan di leher Jimmy, jakun yang bergerak naik turun—menelan ludah.
“Pandanganku… Berbeda. Aku menganggapmu bukanlah sosok yang akan menaruh rasa romantis kepadaku. Aku menerima dan memberikan perhatian kepadamu—menganggapmu sebagai seorang teman. Lebih tepatnya sebagai keluarga.”
Alice terdiam, tangan kanannya meraih cangkir teh—menyesapnya sedikit. Jimmy menunggu hingga Alice selesai menelan minumannya.
“Aku paham sekarang—” Jimmy tersenyum tipis. “Kata-kataku sebelumnya itu sepertinya agak ambigu? Soal… Yang menghilang itu yang dewasa, yang kecil tidak? Jadi… Kamu menahan diri, agar tidak jatuh cinta dan menjadi sosok penuntut itu? Agar aku tidak kabur dan menutup akses kepada Sing-Sing?” (Bab 24)
“Ya, Jim,” Suara Alice melunak.
Setelah mendengar pandangannya—suara hatinya. Aku menyadari kalau semua perasaan yang aku tahan itu sesungguhnya masih berada di tahap prematur.
—Keburu takut, aku lupa kalau rasa sayang dan cinta yang timbul kepadanya mungkin saja bukan untuk memilikinya sebagai pasangan hidup.
Aku pun bisa seperti itu, menyayangi dia sebagai seorang teman atau bahkan keluarga.
“Mungkin saja aku bingung, ya, Jim? Bisa jadi… Rasa yang timbul itu adalah respon dari kasih seorang sahabat?” gumam Alice.
“Mmh…” Jimmy menghela napas perlahan. “Aku tidak bisa mengiyakannya, sebab itu adalah perasaanmu sendiri, Lis.”
Benar, sepertinya? Jiwaku memang sudah terkacaukan karena seluruh kerumitan percintaan.
Lupa, kalau diriku sesungguhnya juga sanggup untuk menyayangi seseorang sebagai teman.
Dan semua itu… beresonansi seimbang.
Tindakanku yang ikut campur ke dalam bisnisnya—murni karena aku ingin melihatnya bangkit, tumbuh sehingga bisa mensejahterakan anaknya yang kusayangi itu.
Kata-kata ‘Soal Satu Paket’ dari Maggie…
Kini aku bisa memisahkannya.
Aku tulus menyayangi anak itu dan juga menyayangi ayahnya sebagai sebagai seorang teman.
Mereka bukan bisnis yang harus aku urus, Mereka… Keluarga yang tidak sempurna karena telah kehilangan peran ibu. Aku hadir sebagai Mami—teman Jimmy yang ikut mengurusi keluarganya ini.
Lewat semua rentetan kejujuran itu. Kini Alice menyadari kasih sayangnya tidak hanya tertuang pada satu wadah saja.
Ada Sing-Sing yang menerima cinta maternal-nya.
Ada Jimmy yang bisa menampung cinta platonic-nya.
Padahal hal yang platonik itu telah dan sedang Alice jalani kepada mantan kekasihnya, Kwon Hyun-Woo. Ia telah merelakan pria itu namun tetap berkomunikasi dan berhubungan baik bahkan dengan seluruh keluarganya.
Yang membuat keduanya berbeda,
Hyunwoo adalah orang lama. Sementara Jimmy adalah orang baru.
Karena label ‘orang baru’ itulah, membuat Alice panik dan bingung. Hal apa yang sesungguhnya tengah tumbuh di dalam hatinya itu. Segera membangun tembok penyangkalan nan tinggi yang sesungguhnya terlalu dini—membuat tindak-tanduknya menjadi aneh sehingga menghadirkan kesalahpahaman berkelanjutan seperti saat ini.
Tak ada kata lain yang terucap dari bibir mereka. Dalam keheningan. Senyuman tipis sudah saling merekah di wajah mereka.
“Lis, kamu… Habis minum-minum, ya?” tanya Jimmy yang memulai membuka kembali pembicaraan.
“Huh? Kok—” Bibir Alice langsung terkatup rapat. Jejak aroma manis alkohol memang masih dapat tercium tipis.
“Wajahmu, merah… lalu napasmu—” Jimmy terkekeh, bahunya naik-turun. “Cobain bubur, ya? Sedikit saja, buat hilangkan pengar dan aku ingin tahu komentarmu.”
Makan malam Alice yang menghabiskan seribu dollar lebih itu terlupakan dengan cepat begitu saja. Kemewahan yang dikalahkan oleh setengah mangkok bubur hangat yang harganya mungkin tidak sampai 50 dollar.
“Ehe—” Alice tersenyum lebar pada suapan pertamanya. “Enak ini, Jim.”
Entah memang bubur lembut itu benar-benar enak di lidah atau karena di dorong oleh kelegaan atas kejujuran setelah Alice berhasil mengikis seluruh perasaan gusar yang ada di dalam hatinya.
Yang jelas, sebelum suapan kedua, Alice segera menambahkan chilli oil terlebih dahulu. Hingga membuat Jimmy tertawa sambil menggelengkan kepala.
“Dasar, si perusak rasa,” celetuk Jimmy.
“Non, ini enak tau! sshh.“
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Sesungguhnya, siapa yang sedang menolong siapa?
Alice yang sedang menolong perekonomian keluarga Jimmy lewat bantuan strategi dan pinjaman modal?
Jimmy yang mengisi rasa hangat keluarga lewat perhatian dan masakannya?
Atau si kecil Sing-Sing yang sedang menarik keduanya dari ketidaksempurnaan itu?
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Dua minggu kemudian, setelah melewati badai kecil kesalahpahaman antara Mami dan Papa. Segala aspek kehidupan mereka terus berkembang.
Jimmy sudah mulai menambah beberapa pegawai lagi dan mulai melatih Ah Kit menjadi asisten di balik wajan. Walau harus sedikit ‘diketuk sadar’ terlebih dahulu oleh Alice. (Bab 29, narasi batin Alice di akhir bab: menata ulang krisis Jimmy.)
Malam itu ketika Alice mengetuk sadar Jimmy. Cuaca si Sham Shui Po sedang gerimis. Alice sudah hadir di dalam restoran sebelum hujan berubah mengguyur deras. Seperti biasa, di meja ketujuh serta Alice masih dengan setelan baju kerjanya.
Seperti kata Jimmy, cuaca mempengaruhi jumlah pelanggan. Dapur Sing-Sing Eating House menjadi sedikit lebih dingin karena kompor high pressure yang tidak menyala. Nuansa mellow itu diperparah dengan krisis kepercayaan sang koki yang sedang kembali di level akut.
“Ya, aku ‘kan ga saranin cari orang baru untuk membantumu, aku bilang… Percayakan tugas itu ke Ah Kit—naikan pangkatnya, jadikan ia asistenmu. Toh, menu kopitiam pagi itu tergolong mudah, biar orang baru saja yang berdagang di pagi hari. Jantung utamanya, tetap di kamu sama Ah Kit… Tugas di jam krusial, makan siang dan malam.”
Kepala Jimmy tertunduk dan menggeleng, “Lis, anak itu—”
“Hmm hmm hm!” Alice memotong Jimmy sambil mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya. “Mulai deh, penyakitmu itu—”
“Ehehe, Papa mulai sakit Papa!” si kecil Sing-Sing yang berada di pangkuan Alice meniru gerakan telunjuk dan meneruskan ucapan Alice.
Jimmy hanya berani memandang dengan tatapan malas ke arah Sing-Sing. Mulai merasakan kalau putri semata wayangnya semakin banyak meniru gelagat Alice.
“Kamu takut dikhianati lagi? Hm?” tanya Alice sambil menatap dalam-dalam ke arah Jimmy.
Jimmy menjawab lewat gerakan alisnya ke atas.
“Darah lebih kental daripada air. Kamu sendiri paham hal itu dan… Tetap memperbolehkan kakek-nenek di Sha Tin tetap menemui Sing-Sing.”
“Kung-Kung, Pho-Pho!” Sing-Sing terus merespons setiap ucapan orang dewasa. Alice mengusap kepala Sing-Sing. “Ssst, sayang diam dulu, ya, Mami mau ngoborol sama Papa, jangan ikut-ikutan dulu,” bisik Alice.
“Oke!” jawab Sing-Sing.
“Lah? Terus apa hubungannya sama Ah Kit?” tanya Jimmy.
“Tuhan Yesus—” Alice menghela napas panjang sambil memejamkan matanya. “Jim! Ah Kit itu bahan sempurna untuk kamu latih, untuk berbagi ilmu. Dia masih sangat muda, mau berkembang dan ia loyal kepadamu. Teh yang ia buat hasil otodidak, saat ditempatkan di pagi hari, ia menjalaninya tanpa keluhan, ‘kan?”
“Y… ya, karena itu tugas dia—tugas yang aku berikan.” Jawaban Jimmy terasa begitu skeptis.
“Gini deh, kamu sudah pernah tanyain belum? Bagaimana perasaan dia kerja disini dari awal kerja sampai sekarang? Hm?” Alis kiri Alice terangkat.
Jimmy menggeleng. “Dia kerja disini karena kuajak, daripada menganggur di kampungnya.”
“Coba deh ya, kamu tanyakan itu, kepadanya, Jim. Bisa dipastikan kalau anak itu mensyukuri apa yang telah ia jalani selama ini. Lalu kamu harus merubah mindset kamu—”
“Soal?”
“Ck. Jangan motong! Aku belum selesai! Gini ya, kalau nantinya Ah Kit bisa lalu lancar memasak dan bisa menerapkan ilmu kamu dan ia meminta berhenti karena mendapatkan tawaran lebih besar lagi diluar, itu bukan sebuah bentuk pengkhianatan. Itu—” Alice menelan ludah.
“Sebuah kebanggan! Sebab kamu telah berhasil membesarkan dan melatih seorang anak! Lalu ketika ia ingin mandiri dan mengasah lebih jauh kehidupannya, masa kamu halang-halangi dan menganggap itu sebagai pengkhianatan?”
Itulah ketukan yang Alice berikan terhadap dinginnya rasa tidak percaya Jimmy yang begitu akut. Membuat Jimmy tersenyum kecut sambil menggeleng.
“Perlu kamu tahu ya, aku bisa berkata demikian… Karena aku sedang menjalani hal yang sama. Kamu ingat pria yang waktu itu meeting denganku disini malam-malam? Namanya Rocky. Dulu dia pegawai di C&A, dia cuma staf bagian IT. Kerjaan dia cuma benerin printer, reset komputer dan jaringan. Setelah satu dan dua hal aku melihat potensi sebenarnya dari dirinya—” Alice menjeda, mengambil napas perlahan.
“Aku ajak dia untuk berbisnis, ia mau, ia resign, kini ia memimpin perusahaan startup kecil keamanan siber. Aku yang danai… Hasilnya? Dia berkembang Jim, Kemampuan IT-nya tak diragukan, di lapangan ia belajar marketing, menyerap strategi bisnis dariku… Dan kalau di masa depan ia mau mencoba berdiri sendiri, apa aku larang? Tentu tidak! Aku akan bangga Jim, Aku… bangga! Sebab akhirnya anak yang telah aku rawat dan latih itu bisa melangkah tanpa harus melibatkan diri ku.”
Begitu panjang dan lebar saat Alice membeberkan bisnis sampingannya itu.
Jimmy terdiam, menatap ke arah Alice. Wanita yang lebih muda daripada dirinya tampak sudah begitu terampil dalam mengolah asam garam kehidupan dan juga dunia bisnis.
“Oke, besok aku akan coba ngomong dengan Ah Kit.”
“Non, jangan tunda. Segera, bicarakan malam ini dengannya.”
Pada akhirnya, apa yang Alice duga dan rencanakan tervalidasi semuanya. Ah Kit mau dan siap dilatih oleh Jimmy. Semua keraguan Jimmy perlahan mulai teranulir.
Perlahan ia mulai melepaskan pandangan kalau murid akan berkhianat—menggantinya kalau murid itu harus terus tumbuh tanpa harus dijegal potensinya.
Kemudian, Sing-Sing. Walau belum begitu signifikan, tumbuh kembang motoriknya mulai mengalami kemajuan lewat jalan pagi rutin dan les renang. Lompatan anak itu semakin tinggi dari sebelumnya, gerakan badannya mulai semakin ekspresif mengikuti musik walaupun masih tetap ada sedikit rasa takut saat harus naik tangga berjalan.
Bagaimana dengan Alice? si Top Achiever di umur terbilang muda ini mendapatkan perkembangan apa?
Perkembangan dua dunia kontrasnya yang bertabrakan kini semakin membaur menjadi semu. Kini dirinya semakin menikmati laporan-laporan kecil dari Jimmy soal kehidupan harian Sing-Sing.
Tak ada lagi keraguan untuk mengakui bahwa Sing-Sing adalah anaknya jika berhadapan dengan orang-orang yang mengenali dirinya secara profesional—walau sering kali masih harus tetap memberikan catatan kecil yang terdengar konyol: “Anak ketemu gede”.
Alice tengah menjalani peran Mami seutuhnya untuk Sing-Sing walau tidak pernah mau melabeli dirinya sebagai ‘Istri-nya Jimmy’.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Tamat
Enggak, enak aja, belum! 🙂
Bersambung!
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
