‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Malam itu Alice kembali mengunjungi Sing-Sing Eating House. Hari Jumat—kondisi lalu lintas sangat padat. Seperti minggu lalu, ia mengemudi dari kantor ke apartemen lalu melanjutkan perjalanan ke wilayah Sham Shui Po dengan menggunakan taksi.
Sing-Sing seolah sudah hafal dengan jam kunjungan Alice. Saat ini s kecil sudah duduk menunggu di kursi kosong di meja paling depan.
Begitu sosok Alice turun dari dalam taksi berwarna merah beratap putih, Sing-Sing segera bangkit dan berdiri di bibir pintu restoran—menyambut Alice. “Bibi!”
Wajah dingin penuh lelah Alice seketika berganti menjadi senyuman lebar. Alice segera berjongkok—menjulurkan kedua tangannya untuk memeluk dan menggendong Sing-Sing.
“Aigoo… Sing-Sing kayaknya tambah berat ya? Banyak makan ya? Pintar ya kamu hari ini?” bisik Alice di telinga Sing-Sing.
“Ehehe iya, Sing-Sing tadi udah makan…” Sing-Sing kemudian langsung berceloteh ini dan itu soal apa yang dilakukannya hari ini.
“Anak pintar… Nih, karena kamu pintar… lihat… Bibi bawa apa?” Alice meraih sesuatu dari dalam tas. Sebuah mainan berbentuk binatang kelinci, kucing dan tikus namun figur badannya seperti manusia dan memakai berbagai model baju.
Restoran agak ramai dengan pengunjung yang makan di tempat. Alice seolah membawa misi lain disamping ingin mengasuh Sing-Sing.
Saat mengantri untuk memesan di kasir, ia sempat memperhatikan sosok Jimmy yang sedang sibuk di belakang wajan.
“Mau apa nih, Bu buat makan malamnya?” sapa Yoyo dari balik meja kasir—tangan wanita itu sibuk merapikan lembar demi lembar uang kertas.
Seketika, pikiran siang tadi yang belum tuntas—mengenai layanan online, kini langsung dihadapi dengan persoalan sebelumnya. Mesin kasir kuno! Serta absennya alat EDC modern untuk kartu kredit.
“Yuk Beng dan nasi ya,” jawab Alice. Ia memesan menu yang belum pernah ia coba.
“Tumben? Biasanya mi atau nasi goreng?” ujar Jimmy yang rupanya mendengar Alice. “Ingin coba yang lain dong, pelan-pelan aku akan cobain semua masakan kamu!” sudut bibir Alice terangkat sedikit sambil menyelesaikan pembayaran.
Ada beberapa antrian masakan, harus menunggu sekitar dua belas menit hingga hidangan itu tiba di hadapan Alice.
Yuk Beng adalah daging patty yang dimasak dengan cara dikukus. Jika memasak dari nol mungkin akan menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit. Mungkin saja Jimmy telah menyiapkan daging cincangnya sehingga tinggal proses mencampur bahan dan mengukus saja.
“Sayang, Bibi makan dulu, ya?”
Sing-Sing mengangguk seolah dia sudah memahami hal itu. Ia fokus kepada figur mainan kecil, Sing-Sing tetap berceloteh seperti sedang membuat sebuah cerita dari mainan yang dipegangnya.

Alice mengangkat sendok, mencoba menekan daging patty yang terjadi pada piring stainless berbentuk cekung itu. Ada sesuatu yang tersembur begitu sendok mulai memotong daging. Air? Kaldu?
Bukan, itu semburan lemak daging yang segera bercampur dengan soy sauce yang berada di permukaan daging.
Ah, ini juicy dan kenyal. Sendok itu memotong daging dengan ukuran kecil. Lalu Alice menambahkan sedikit nasi dan kembali mencelupkan sendok itu ke permukaan patty—membasahi nasi dengan kuah—lemak dan soy sauce.
Visual dari sendoknya saat ini benar-benar menerbitkan air liur. Sekilas netranya memperhatikan nasi yang berubah menjadi sedikit kecokelatan. Daging berwarna agak keabuan-abuan itu mengkilap karena minyak dari lemaknya.
Hingga akhirnya Alice menyuap makanan itu. Mulutnya penuh namun masih tetap bisa mengunyah dengan perlahan. Aroma yang muncul ketika pertama kali sajian itu masuk ke dalam mulutnya adalah aroma ikan asin yang tajam bersama dengan minyak wijen.
Daging cincang itu tidak keras dan kaku, lumer dalam dua kali kunyah. Begitu tersebar di lidah, tekstur daging itu tidak halus merata, sesekali masih terasa kasar.
Bukan chopper, ini cincang manual dengan pisau dan tangan? Rasa asin hadir dari soy sauce. Semakin daging itu hancur, Alice dapat menemukan aroma susulan, jahe. Tidak ada bau prengus daging!
Satu suapan berhasil ditelan, wajah Alice merekahkan senyuman.
Tidak ada komplain. Bahkan langsung meraih pelengkap kegemarannya, Chilli Oil yang kemudian disisipkan pada suapan keduanya. Ah, Sempurna!
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Alice untuk segera menghabiskan hidangan makan malamnya. Begitu perutnya terasa penuh, dirinya kembali bermain dengan Sing-Sing.
Ketika mereka sedang bermain, Alice segera merasakan betapa bengkoknya realita dari mulut Sing-Sing.
“Loh? Sing, kalau ini Papanya dan ini anaknya… Lalu ini siapa?” Alice mengangkat satu figur kelinci kecil berwarna putih yang memakai baju berwarna merah bermotif kotak-kotak. Alice mengira ia akan mendapatkan jawaban ‘Ini mamanya’.
“Ini Bibi Alice…” ujar Sing-Sing sambil meraih figur mainan itu dari tangan kanan Alice.
A… Aku?
“Loh Sing, kemana Mamanya?”
“Pewgi, ga pulang-pulang…” (pergi, tidak pulang-pulang)
A… Ah tidak.
Walau hanya lewat mainan, Alice merasa senang karena kehadiran mulai terhitung dan masuk ke dalam benak Sing-Sing. Tidak sia-sia selama dua minggu Alice selalu menghabiskan waktu makan malamnya disini.
Namun, sosok ibunya…
Perlahan Alice merapat.
Entah sudah berapa lama Jimmy menceritakan hal itu. Memberikan konteks: kalau ibunya sudah pergi lama dan belum kembali lagi untuk menemuinya.
Hingga akhirnya, Sing-Sing sudah tersugesti akan konteks itu.
Alice hanya bisa pasrah dalam diam. Matanya terus memandangi dengan iba ke arah Sing-Sing yang masih tetap aktif bermain.
Tidak ada gelombang tamu lagi. Saat Alice melirik ke pergelangan tangan kirinya—jam tangan, sudah setengah sembilan lewat. Alice memutar lehernya, melirik ke arah dapur dimana Jimmy sedang berbincang dengan Ah Kit.
Belum waktunya aku memusingkan peran ibu yang kosong itu. Hari ini aku datang untuk memperbaiki,
DIA!
“Sing, panggil Papa kesini dong, bilangin… Bibi Alice mau ngobrol,” Alice berbisik kepada Sing-Sin.
Sing-Sing langsung menurut, segera turun dari kursi dan melangkah ke belakang menuju Jimmy. “Pawpa… katanya-katanya… Bibi Alice mau ngobrol sama Papa!”
Pesan tersampaikan, Alice segera membetulkan posisi duduk. Tubuhnya bersandar, kakinya menyilang dan tangannya terlipat di depan dada.
Sudah tidak ada lagi Bibi Alice yang gemar bermain dengan Sing-Sing. Kini ia elah menjadi Alice Moon di siang hari—salah satu VP di Crestview & Associates.
“Kenapa, Nona?” Jimmy menghampiri Alice seorang diri. Sing-Sing tak lagi menghampiri mereka, sepertinya sedang sibuk dengan Yoyo dan Ah Kit dibelakang sana.
Sesaat sebelum menarik kursi di hadapan Alice, Jimmy melepaskan apron miliknya.
“Ada yang kurang pas dengan makanan kamu?” tanya Jimmy, tatapan matanya terkunci ke piring dan mangkuk kosong yang belum disingkirkan oleh Ah Kit. Jimmy langsung memberikan gerakan tangan di udara—meminta Ah Kit untuk merapikan meja.
“Tidak, Jim. rasanya, sempurna.”
“Lalu? Kenapa?” sambung Jimmy begitu meja mereka telah selesai dibersihkan oleh Ah Kit.
“Soal, tadi siang—”
“Siang? Oh… Yang kamu pesan untuk makan di kantor? Kenapa? Kwetiaunya jadi terlalu lembek dan menempel ya? Karena lama diantarnya?”
“Non, Jim—” kata ‘Tidak’ dalam bahasa Prancis itu terlepas dari mulut Alice karena Jimmy yang kerap mempertanyakan kualitas masakannya. “Bukan itu, setiap masakan yang kamu masak itu sempurna di lidahku. Yang mau aku bicarakan itu soal… Betapa tuanya kedai ini.”
“Eh? T…Tua?” Jimmy menoleh ke depan dan belakang. “Oh, karena dekorasinya? Pajangan poster film-film Hong Kong jadul ini?”
“Astaga—” Alice menghela napas panjang mencerminkan frustasinya. Padahal ia sedang mencoba dengan bridging perbincangan yang halus. “Bukan Jim, maksud aku… Kenapa restoran tidak ada di aplikasi online?”
“Oh… itu… Ya… ermh—” badan Jimmy tak lagi tegak, mulai bersandar.
“Sudah mendaftar tetapi, belum di approve? Atau bagaimana sih?” dahi Alice mengerut diikuti dengan alis yang bertaut.
“Belum daftar, lebih tepatnya,” jawab Jimmy dengan santai.
“Kenapa?”
Perlahan sudut bibir Jimmy terangkat untuk tersenyum tipis. Seolah ia mencoba untuk tetap bersabar. “Jam-jam tertentu, kita kewalahan, jika ditambah order online… Malah akan membuat kekacauan yang lebih parah, kualitas makanan jadi tidak terkontrol karena harus mengejar preparing time.“
Mulut Alice sedikit terbuka—menarik napas dengan perlahan melalui mulutnya hingga terdengar desis tipis. “Ssshh. Oke… Apa kamu mau mendengarkan saran dariku? Saran kecil untuk saat ini saja.”
Perlahan mata Jimmy menyorot ke arah Alice. Wajah Alice tampak begitu berbeda—terasa dingin tak sehangat biasanya ketika sedang menikmati makanan atau bermain dengan Sing-Sing. “Mmh… Apa?”
“Ganti mesin kasir, dulu. Itu dulu saja. Sebab itu hambatan pertama yang membuatmu marah-marah karena salah membuat pesanan, salah meja, salah urutan memasak, laporan yang tidak komplit. Itu cash register tradisional, kamu sendiri kerepotan waktu itu kan? Saat input kode makanan?” Alice mengucapkan semua itu dengan begitu cepat tanpa jeda, seolah menumpahkan seluruh pemikirannya.
Jimmy pun terdiam.
“Kenapa masih mempertahankan mesin itu? Apa ada kenangannya? Apa karena mempertahankan vibes nuansa rumah makan ‘jadul’? Atau—” Alice mencoba menarik hal lainnya. “Kamu tidak percaya kalau Yoyo bisa menggunakan mesin yang modern?” Alice mempertanyakan krisis kepercayaan yang pernah diungkapkan oleh Jimmy saat membicarakan Ah Kit tempo hari. (Bab 8)
“Ya, itu… Aku mempertimbangkan itu… Mereka harus belajar lagi dan membiasakan dengan hal baru. Itu… Malah akan menghambat operasional.” Akhirnya Jimmy mengungkapkan alasan itu.
Jawaban dari Jimmy sontak membuat Alice menahan tawa.
“Kenapa? Bukankah benar begitu adanya?” ungkap Jimmy.
“Pfft… Ternyata yang berjiwa tua itu kamu. Ternyata hambatannya itu dari kamu hm hmm…” Pundak Alice bergerak naik turun mati-matian menahan tawa agar tidak pecah di hadapan Jimmy.
Alice menarik satu napas panjang. “Jim, dengar ya… Mereka lebih muda dari kamu, bahkan mungkin lebih muda dariku. Mereka sudah sadar dan terpapar teknologi, mereka siap. Dari mana aku tahu? Kamu sendiri yang bilang, Ah Kit sering main ponsel saat jam kerja. Lalu Yoyo yang kamu bekali ponsel dengan nomor untuk toko—tadi siang dia bisa menerima pesanan ku lewat chat.”
Jimmy masih memasang senyuman namun kali ini kepalanya agak tertunduk sedikit, “Lalu? Masalah adaptasi mereka?”
“Mudah. Sangat mudah, sebab kita bukan membicarakan mengganti jobdesk Yoyo, kita akan mempermudah mereka… Tinggal panggil jasa penyedia mesin sekaligus aplikasi POS—mereka akan menyediakan mesin kasir dan juga training untuk user. Bahkan yang aku tahu mesin itu bisa langsung terintegrasi dengan berbagai pembayaran modern dan digital, termasuk kartu kredit dan juga QR.” Alice seperti sedang berbincang kepada kaum generasi yang lebih tua saja—generasi X yang awam teknologi.
“Bukankah biayanya akan lumayan? Dulu sempat ada yang datang kesini menawarkan hal seperti itu namun charge yang mereka berikan… Ya, cukup besar.” Jimmy kembali mengungkapkan ke khawatirannya.
Mata Alice sempat terpejam, sudut bibirnya terangkat naik.
“Oke, kalau biaya itu menjadi salah satu prioritasmu. Kita lebih sederhanakan lagi. Pakai aplikasi gratisan dan cuma modal beli mesin POS yang auto-cutter sehingga—dalam satu transaksi bisa cetak tiga hal. Dua struk untuk pembeli dan toko satu lagi untuk kitchen order. Kamu bisa melihat urutan prioritas berdasarkan nomor order, waktu pemesanan dan jumlahnya dengan baik dan terstruktur? Aku rasa seporsi nasi gorengmu tidak akan memakan waktu hingga sembilan menit lagi walaupun mengantri?” (Bab 3 – Adegan Stopwatch)
Jimmy terdiam, sempat mendecak namun bukan karena tidak setuju, tetapi bingung harus memulai darimana.
“Jim, aku akan membantumu. Agar efisiensi waktu itu bisa kamu pakai untuk kebersamaanmu dengan Sing-Sing.”
Saat itu sorot mata Jimmy mengarah ke arah dapur memperhatikan Sing-Sing dari kejauhan. Seolah Alice telah berhasil menekan tombol kerentanan dari Jimmy, Sing-Sing.
“Baiklah, Lis. Akan aku coba.” Jimmy melunak. Hal itu membuat Alice merekahkan senyuman.
Setidaknya jiwa tua nan keras disertai krisis kepercayaan itu masih mau melunak ketika menyangkut Sing-Sing.
Selama beberapa saat mereka sempat terdiam namun Alice segera melepaskan tensi dengan memuji soal Yuk Beng yang terasa begitu nikmati di lidahnya.
“Lis, sekarang apa aku boleh berkomentar satu hal kepadamu?”
“Komentar? Soal?”
Wajah Jimmy tampak meragu, “Bisa berhenti membawakan Sing-Sing buku atau mainan setiap kali kamu datang?”
Mata Alice sempat berkedip cepat saat mendengarkan ucapan itu. “Ke… Kenapa memangnya? Dia suka buku kan? Dia menghafalnya dengan baik—”
“Sebab dia mulai paham kalau setiap kedatanganmu, kamu akan selalu datang dengan membawa hadiah. Aku takut jika suatu hari nanti… Dia yang sudah terbiasa dengan hadiah darimu dan kamu datang dengan tangan kosong—ia akan menuntut itu dirimu. Aku tidak ingin membiasakan dia menjadi seperti itu.”
Ah, benar lagi. Selama ini, buku, mainan dan makanan yang aku bawa itu selalu menjadi sarana dan juga alat agar Sing-Sing mau langsung melekat dengan diriku.
“B… Baiklah, Jim. Aku akan menguranginya.” kepala Alice mengangguk menerima kritikan Jimmy.
“Maaf, Lis, aku ingin Sing-Sing terbiasa dengan kehadiranmu, bukan materimu.”
Pukulan itu terasa telak. Aku hanya bisa diam dan menyesap semua kata-kata Jimmy.
ˎˊ˗⋆。°✩📄

Resep Yuk Beng 肉餅 – Daging Patty Kukus.
- 340 gram daging ayam cincang Sangat disarankan menggunakan kombinasi 80% paha ayam fillet dan 20% dada ayam atau kulit ayam. Paha ayam mengandung lebih banyak lemak alami yang menjaga patty tetap lembut setelah dikukus.
- 1 sdm udang kering (ebi) Rendam dalam air hangat selama 10 menit hingga empuk, tiriskan, lalu cincang kasar.
- 45 gram jamur kuping (opsional): Tetap bisa dimasukkan bersama udang kering untuk menambah tekstur garing (crunchy).
- 1 sdt jahe segar Kupas bersih, lalu cincang sangat halus atau parut. Jangan terlalu banyak agar rasanya tidak mendominasi dan pahit.
- 1 sdm saus tiram
- 1 sdt gula pasir
- 2 sdm tepung maizena (penjaga kelembapan daging)
- 1 sdt minyak wijen
- 1 sdt kaldu ayam bubuk
- ¼ sdt lada putih bubuk
- 2 sdm air dingin (opsional, agar daging menyerap air dan lebih lembut)
- ½ sdt minyak goreng (untuk melumuri piring kukus)
- Garnish
- 1 batang daun bawang, iris tipis
Langkah Memasak
- Cincang Daging (Teknik Manual): Iris daging menjadi lembaran tipis, potong memanjang, lalu cincang kasar menggunakan pisau besar. Hindari blender agar tekstur dagingnya tetap terasa khas rumahan Hong Kong.
- Keluarkan Air Daging: Peras sedikit sisa air berlebih dari daging cincang sebelum dibumbui agar bumbu meresap sempurna.
- Aduk Satu Arah (Trik Krusial): Masukkan daging ke dalam wadah besar. Tambahkan seluruh bumbu (jahe, saus tiram, gula, maizena, minyak wijen, kaldu bubuk, lada, dan air). Gunakan sumpit atau tangan, aduk kuat-kuat ke satu arah saja selama 1 menit hingga daging terlihat berserat, lengket, dan menyatu seperti pasta.
- Ratakan di Piring: Olesi piring tahan panas dengan ½ sdt minyak goreng. Taruh adonan daging di atasnya, lalu ratakan dengan punggung sendok membentuk patty melingkar dengan ketebalan sekitar 1–1.5 cm. Jangan ditekan terlalu padat agar sarinya bisa keluar.
- Kukus Api Besar: Panaskan kukusan hingga air benar-benar mendidih bergolak. Masukkan piring daging, tutup rapat, dan kukus dengan api besar selama 15 menit.
Sajikan: Angkat piring dengan hati-hati. Taburi irisan daun bawang di atas kuah kaldu jernih yang keluar dari daging. Nikmati selagi panas bersama nasi putih hangat.