‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

“Sing-Sing mau ikut Mami!”

Kunjungan singkat untuk sekadar makan siang itu bukan sebuah ajang untuk melepas rasa kangen di tengah jam kantor. Selorohan Maggie soal ‘si kecil pasti mau ngikut deh’ menjadi sebuah petaka nyata.

“Nanti mami kesini lagi kok sayang—”

“Ikut, maunya ikut!”

Walau sulit namun pada akhirnya Alice berhasil menolak rengekan Sing-Sing walau harus lewat iming-iming, “Nanti malam, mau Mami bacain buku nggak? Kalau mau, Mami sekarang harus kerja dulu dan Sing-Sing harus menunggu, oke?”

Begitu berhasil lepas dari jeratan Sing-Sing, Alice dan Maggie segera beranjak menuju Kwai Chung—daerah pelabuhan. Untuk menghampiri salah satu klien C&A yang berada dibawah pengawasan Maggie, bidang kargo dan logistik.

Kawasan yang merupakan wilayah New Territories, Hong Kong itu sangat ikonik dengan kontainer berwarna-warni yang saling bertumpuk dan berbaris. Crane-crane besar juga ikut meramaikan suasana di zona industri itu. 

Pertemuan itu tidak terbilang singkat karena Maggie membahas pembaruan kontrak dengan sang CFO perusahaan. Awalnya Alice hanya menjadi peserta pasif—menjadi pendengar saja sampai akhirnya ikut bersuara.

Campur tangan Alice membuat Maggie tersenyum simpul. Sang ‘Hiu Korporat’ tak lagi pasif, mulai menunjukan ketajaman taringnya. Alice segera mengarahkan diskusi itu hingga mengakhiri pertemuan menjadi tanpa negosiasi yang berputar-putar.

“Sorry, jadi ikut-ikutan,” ujar Alice sembari melangkah di lorong sesaat setelah keluar dari ruang rapat.

“Makanya aku ajak kamu—” Mata Maggie melirik ke arah Alice. “Si ratu langit yang bisa menggigit dimanapun.”

Alice mendesis kesal sembari tersenyum. “Ssshh, harus aku charge biaya jasa profesional ga sih, nih?” gumamnya.

“Ckck, dih… Perhitungan… Oke, boleh silahkan… Kirim saja invoice-mu nanti aku kirimkan juga invoice jasa suamiku buat mengincar properti yang kamu inginkan itu, hehe…”

“Eh, Sialan, kok jadi aku yang diancam gini sih, Meg?”

Pekerjaan di hari itu telah selesai. Seharusnya Alice kembali bersama Maggie ke kantor. Namun, Alice merasa malas untuk kembali ke kantor, mengambil mobil dan mengemudi kembali ke Sham Shui Po dengan kondisi macet. Maka dari itu Alice meminta untuk diturunkan di restoran milik Jimmy.

“Pokoknya nanti malam aku bilang ke suamiku dan kalau dia bisa bantu, dia yang akan langsung menghubungimu, Lis,” ujar Maggie sesaat sebelum Alice turun dari kendaraan.

“Thanks, ya, Bun. Walau—” Alice melirik tajam sambil tersenyum ke arah Maggie. “Kayaknya malah aku yang banyak dimanfaatkan hari ini.”

Alice menarik tuas pembuka pintu. “Bye, Meg, See you tomorrow!”

“Dasar bucin!” ujar Maggie sambil melambaikan tangan dan melebarkan senyuman.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Kehadiran Alice hari ini di restoran Jimmy seperti sebuah sidak. Tiba-tiba saja datang di siang hari, bersambung lagi di sore hari pada jam yang tidak seperti biasanya. 

Restoran sedang tidak begitu ramai, hanya Ah Kit yang sedang memasak di dapur. “Si Boss lagi ke atas sebentar Je,” terang Yoyo yang sedang merapikan uang di cash drawer. Alice menempati meja ketujuh—di dekat kasir. “Iya, eh Yo, mau Es Nai Cha yang dicampur kopi itu dong…”

“Oh, oke je, Yuenyeung, ya.”

Cuaca yang panas, zona industri membuat Alice sedikit kelelahan hingga lidahnya mendambakan sesuatu yang dingin dan juga manis untuk menyegarkan dirinya.

“Mamiii!” Suara itu melengking menghiasi seisi restoran. Si kecil Sing-Sing berlari dari depan sambil memeluk sebuah buku tebal.

Seketika bibir Alice terlepas dari sedotan, padahal baru saja dia menikmati sedikit minumannya. Sing-Sing meletakkan bukunya di atas meja, memanjat ke pangkuan Alice demi sebuah pelukan manja dan menyandarkan kepalanya di dada Alice.

“Mami, tadi Sing-Sing habis pup diatas!” teriak Sing-Sing sambil menepuk-nepuk perutnya.

“Hush! Jangan ngomong kenceng-kenceng dong, sayang…” Alice mengacungkan telunjuk tangan kanan ke depan hidungnya.

“Tumben, jam segini sudah disini?” tanya Jimmy sambil mendekat ke arah Alice.

“Langsung dari Kwai Chung, Jim. Malas kalau harus balik ke kantor terus berkendara lagi kesini.”

“Ooh begitu.” Jimmy menarik kursi di hadapan Alice.

Alice sibuk meladeni Sing-Sing yang tengah berceloteh.

“Lis—” Jimmy meminta perhatian Alice.

“Ya? Say— eh, Jim?”

Pret! ASTAGA! Hampir saja menyebut ‘Sayang’ kepadanya! Gara-gara sambil meladeni Sing-Sing!

Jimmy kemudian memberikan laporan rutin soal keuangan restoran kepada Alice. Angka-angka yang diberikan oleh Jimmy, membuat Alice tersenyum sebab Alice tahu kalau dengan kondisi modal yang ia berikan itu sudah bisa kembali kepadanya. Mungkin Jimmy sedikit membutuhkan waktu lagi untuk memupuk cadangan uang untuk operasional sebelum mengembalikan utuh uang pinjaman dari Alice.

“Sama ini, Lis. Aku mau mendiskusikan sesuatu denganmu—”

Hm? Diskusi? Soal? Sing-Sing, kah? 

“Soal?”

“Ekspansi yang kamu bilang,” ucap Jimmy dengan perlahan.

“Mami, bacain ini… Sing-Sing mau…” Si kecil seolah tidak mau kalah, ia bersuara tepat setelah Jimmy selesai berucap.

Alice terkekeh mendengarkan ucapan Jimmy. Sementara, tangan kanannya terangkat untuk mengusap kepala Sing-Sing.

Fokus Alice kini langsung terkunci kepada Jimmy. Menyadari kalau pria itu sudah mulai mengambil inisiatif sendiri untuk kemajuan bisnisnya—tak perlu lagi didorong paksa oleh Alice.

“Apa Jim?” Mata Alice sempat terpejam dan senyumannya semakin melebar. “Apa yang kamu sedang pikirkan atau rencanakan? Coba ceritakan,” ucap Alice dengan lembut.

Jimmy mendengkus kemudian matanya menatap ke arah Alice dengan mantap. “Bangunan sebelah, Lis. Apa sebaiknya kusewa, ya? Sebagai ekspansi tempat ini? Bagaimana menurutmu?”

Huh—” Alice langsung menyesap bibir—menahan tawa. “Huhahaha” hanya satu detik tawanya pun segera pecah. Membuat alis Jimmy segera bertaut heran.

“Mami, ketawa kenapa?” sekali lagi Sing-Sing ingin ikut terlibat pada percakapan orangtuanya.

“Kenapa, Lis? Aneh, ya? Belum siap dan pantas, kah?”

Non, non! Bu-Bu—” Alice menarik napas dalam-dalam agar tawanya terhenti. “Bukan itu—karena rencanaku itu nyatanya selaras, Jim.”

“Selaras, gimana? Oh, oh… Kamu memang mau menyuruhku untuk menyewa bangunan sebelah?” Jimmy mulai menelaah maksud Alice.

“Iya, benar itu satu…”

“S… Satu? Memangnya ada apalagi?”

Tawa Alice memudar, tersisa senyuman dengan tatapan yang masih tetap lekat kepada Jimmy. “Tadinya tuh… Aku mau beli diam-diam, begitu kumiliki, baru akan aku sewakan kepadamu dengan sistem bagi hasil saja, agar tidak mencekikmu.”

Mata Jimmy terpejam, bibirnya merapat dan napasnya terhela panjang. Menyadari kalau wanita yang berada di hadapannya itu memang sudah ‘menang langkah’.

Saat membuka kembali mulutnya, Jimmy sedikit mendecak. 

Ck. Kalau begitu, lebih baik tidak usah ekspansi deh, Lis.”

“Loh?” salah satu alis milik Alice terangkat naik. “Kenapa?”

Ada pergerakan jakun yang naik turun—Jimmy menelan ludahnya. “Kalau sampai membeli bangunan… Hanya untuk kamu sewakan kepadaku, kamu itu sudah sangat berlebihan, Lis. Kepada kami.”

Alice tahu pertempuran ego ini akan berlangsung lama dan bertensi tinggi. Mau tidak mau ia harus menyingkirkan Sing-Sing terlebih dahulu agar adu kepala antara dirinya Jimmy tidak diganggu dengan celotehan dari Sing-Sing lagi. “Sing, habis ini Mami janji akan bacain bukunya, Mami mau ngobrol dulu sama Papa, oke?” Alice segera melirik ke belakang—Yoyo, “Yo?”

“Sing-Sing ah… Sini-sini sama Yoyo dulu sini.” Yoyo langsung paham dengan kode lirikan mata dari Alice.

Akhirnya Sing-Sing tersingkirkan dari arena debat. Sikut Alice bertumpu di meja—langsung menopang dagu dengan tangan kirinya.

“Tidak berlebihan, Jim. Dan… Maaf nih ya, bukanya aku mau sombong, tetapi aku ada dananya untuk berinvestasi ke properti, bukan berarti aku mati-matian mempertaruhkan segala uang yang kumiliki untuk membeli bangunan sebelah…” Alice mulai melontarkan hal-hal yang berada disisinya.

“Ya, buat apa, Lis? Sebaiknya kamu beli tanah atau apartemen lainnya yang lebih berprospek? Jangan karena kamu memikirkan dan merencanakan ekspansi resto ini—kamu jadi memprioritaskan uangmu untuk membeli bangunan tua disini.”

Alice menarik napas cepat. “Gini ya Jimmy, seharusnya aku tidak perlu menjelaskan ini, pasti kamu sudah tahu sendiri. Properti itu, bukan investasi bodong, nilainya tidak akan turun drastis seperti permainan di pasar saham—menurutku,meskipun bangunan disini tua, masih tetap aman. Lalu—” Perlahan sorot mata Alice berubah menjadi sedikit tajam.

“Aku akan menyewakannya kepadamu, dengan artian properti itu tetap asetku, milikku. Tidak aku berikan cuma-cuma kepadamu, hanya fisiknya saja yang dikelola olehmu—”

Sepintas Alice teringat ucapan Maggie di siang hari tadi soal “membeli” mereka dengan mengikatnya pada hutang.

“Bukan berarti juga aku akan mengikatmu—kalian. Kalaupun… In the future, kalau memang terjadi sesuatu yang tidak mengenakan di antara kita… Aku berharap kita bisa selesaikan baik-baik, agar restoran dengan ‘dua pintu’ itu nantinya tetap bisa berjalan.” Di akhir ucapannya, Alice menyeruput kembali minuman dingin miliknya.

Jimmy menggeleng. “Youngie… Kamu sudah terlalu banyak menyuapiku… Ini—” Mata Jimmy sempat terpejam dan napasnya terhela perlahan. “Membuat hutangku kepadamu semakin banyak dan bertumpuk.”

 Alice menarik sudut bibir kanannya perlahan—senyum tak seimbang. “Jangan Jim, jangan pikirkan itu sebagai hutang… Ini adalah bentuk kasih sayangku… Melindungi kalian, agar ekspansi itu tidak membebani dengan… Memikirkan bagaimana caranya memutar uang agar bisa menutupi biaya sewa yang mungkin saja setiap tahunnya akan terus naik.”

Alice menarik napas lembut—petuahnya belum berakhir. “Jadi… Cukup rawat bangunan itu nantinya melalui bagi hasil… dan ya—” Kini kedua sudut bibir Alice terangkat naik. “Siapa tahu, nanti setelah sepuluh tahun… Hasil dari bagi hasil itu akan setara dengan harga properti, maka bangunan itu… Akan kuberikan kepadamu, ah, kepada kalian.”

Jimmy pun terdiam, hanya bisa menghela napas perlahan—menyadari kalau ide mereka beririsan namun eksekusi yang hendak dilakukan oleh Alice begitu masif.

“Lis?” Kini, giliran tangan kiri Jimmy bertumpu di atas meja untuk segera menopang dagu.

“Hm?” Bola mata Alice kembali berputar—menatap Jimmy. Tangan kanan Alice tengah menyentuh sedotan pada gelas es kopi teh miliknya—diputar perlahan-lahan.

“Masih dengan alasan… Semua ini kamu lakukan demi Sing-Sing?”

Pfft. Ya, iyalah… Memangnya kamu ga mau melihat Sing-Sing bisa sekolah di tempat yang bagus hingga berkuliah nantinya?”

Jimmy menahan tawa, membuatnya kini menjadi tersenyum lebar dengan mata yang terpejam.

“Lis… Saudara yang sedarah saja belum tentu mau berbuat sampai sejauh ini… Bahkan ibunya Sing-Sing saja sampai pergi meninggalkan kami.” Jimmy kembali membuka matanya. “Segitu cintanya kamu sama Sing-Sing?”

Kepala Alice mengangguk dan alis kirinya terangkat naik. “Ya, aku memang mencintai dia… Tapi tidak denganmu, ya.

Napas Jimmy terhela cepat, kembali merekahkan senyuman lebar diikuti kepala yang menggeleng. Gelagat itu tentu saja segera menerbitkan rasa kesal di dalam diri Alice.

“Heh! Ga usah ketawa-ketawa kayak gitu, deh, bikin aku kesal. Nih ya, Jim… Bagiku, kamu tuh cuma birokrasinya Sing-Sing saja. Aku ingin anak itu bahagia dan sejahtera maka aku harus mendongkrak kamu dulu. Kamu aman, kamu berkecukupan, anak itu bahagia. Simple, paham?”

“Paham, Lis. Paham… Kalau… Ekspansinya kurang memuaskan? atau gagal total? Apa… Aku harus tetap memberikan Sing-Sing kepadamu?”

Kalimat candaan itu membuat Alice kembali tersenyum setelah sempat tersulut emosinya. “Oh… iya, dong. Harus!”

Di akhir ucapan Alice, keduanya menertawai candaan ‘menyeramkan’ itu.

“Jangan ya, Jim,” ucap Alice begitu tawa mereka terhenti. “Jangan sampai kamu gagal. Sebab aku ingin melihat Sing-Sing dan—” Netra Alice mulai terpaku hangat kepada Jimmy. “Papa juga bahagia.”

Jimmy sempat kembali terdiam dengan kepala sedikit tertunduk. Namun, perlahan kembali tersenyum tipis sambil menyesap bibirnya.

“Jadi—” Jimmy kembali mengangkat kepalanya setelah sempat sedikit tertunduk. “Kapan kamu akan melakukan rencanamu itu? Besok?” Jimmy tahu betul kalau Alice itu benci mengulur-ngulur waktu, begitu ada kesempatan… Gas!

Dengan punggung tangan kiri yang masih menopang dagu—Alice terkekeh. “Duh, aduh, semangat banget… Papa… Non, untuk kali ini aku tidak akan secepat itu, Jim. Aku masih harus menunggu penilaian pihak realtor—cari pemilik gedung, bernego—mau dijual berapa, gitu.”

“Oh, kalau itu sih… Aku tahu, pemiliknya… Mau aku bantu hubungi?”

“Kamu—” Mata Alice sedikit terbuka lebih lebar. “Tahu? Bagus. Berikan kontaknya padaku. Tapi—” Alice menjeda ucapannya. “Jangan, jangan sambungkan lewat kamu, biar seolah-olah aku adalah pihak luar yang tidak ada sangkut pautnya denganmu, biar tidak ada permainan harga.”

Jimmy langsung meraih ponsel yang berada di dalam saku celananya. “Nanti saja, Pah.” Bibir Alice meruncing dan telunjuk kirinya menunjuk ke belakang. “Tuh, Ada… Pelanggan.”

Alice menikmati keramaian itu. Duduk tenang di meja ketujuh sambil memperhatikan setiap pengunjung yang datang silih berganti. Ada yang pesan bawa pulang ada juga yang hendak makan di tempat.

Pada akhirnya Alice terusir secara halus begitu keenam meja terisi. 

Dua pelanggan yang baru datang tampak segan ketika hendak sekadar bertanya; apakah Alice mau berbagi meja dengan mereka. Sebab Alice memancarkan aura yang begitu mahal dan tak tersentuh. 

“Ah, silahkan duduk—saya sudah selesai.” Alice segera meneguk habis minumannya dan beranjak memberikan tempat itu.

“Lis, keatas saja!” pekik Jimmy yang sempat melihat Alice kini tengah berdiri agak berdesakan di belakang Yoyo. Alice menjawabnya lewat tangan yang terangkat.

Dua jam terasa begitu singkat bagi Alice yang segera ikut menenggelamkan dirinya menjadi tenaga bantuan yang sesungguhnya tidak begitu dibutuhkan. 

Sang ‘istri boss’ yang memperlihatkan kepiawaiannya dalam menghitung, memberikan uang kembalian di kasir sambi menyuapi kudapan sorenya Sing-Sing.

Mendekati pukul enam petang, tatapan Alice sempat bertemu dengan Jimmy yang sedang mengatur napas setelah terjadi rentetan pesanan tanpa henti.

“La—par,” bisik Alice, nyaris tanpa suara sambil mengusap perutnya. Berharap Jimmy bisa memahami isyarat itu.

Jimmy mengangguk. Kemudian, telunjuk tangan kanannya teracung ke atas.

“Mandi?” sekali lagi Alice berbisik—bukan dia yang disuruh mandi tetapi ia paham kalau Sing-Sing lah yang harus segera mandi sore.

Kedua alis Jimmy bergerak naik turun mengiyakan pertanyaan dari bibir Alice. Sebuah komunikasi tanpa harus memanggil atau berteriak. Hanya membaca gerakan bibir dan gestur, keduanya sudah langsung paham apa yang harus mereka lakukan.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Di luar sana rona langit memang sudah mulai berganti. Seperti sebuah isyarat kalau Alice juga akan segera berganti wujud menjadi seorang ibu dengan segera ia menuntun si kecil Sing-Sing, melewati anak tangga usang dengan bau aroma dupa yang tajam—masuk ke dalam apartemen Jimmy.

Ah… Sudah hampir setiap hari kesini dan selalu lupa untuk sekalian menitipkan baju ganti disini.

Sebab memandikan Sing-Sing masih tetap menjadi musibah yang acak—terkadang menurut, terkadang berulah. Alice pun terpaksa menanggalkan blouse-nya agar tidak basah terkena cipratan air. 

“Ehehe, Mami ga pake baju!” Sing-Sing menertawai Alice yang kini hanya memakai pakaian bra saja.

“Ssst… Biar ga basah, sayang…”

Strategi Alice adalah mengalihkan Sing-Sing dengan mainan—membiarkan anak itu membawa serta mainannya di kamar mandi. Alhasil, tidak ada tantrum—tidak ada monster kecil yang mengamuk saat kepalanya terguyur air dan shampoo.

BRRTTT! 

Saat sedang memakaikan Sing-Sing baju, bel tua apartemen itupun berbunyi. “Lis?” suara Jimmy terdengar—berada di balik sana.

“Sebentar…”

Sebab pintu rumah terkunci dan kuncinya tergantung di sana sehingga Jimmy tidak bisa masuk ke dalam rumah dengan kunci lainnya. 

Karena itu adalah suara Jimmy, Alice segera berdiri dan melangkah untuk membuka pintu rumah, tanpa mengenakan kembali blouse-nya.

Pintu terbuka—keadaan canggung langsung tak terelakan untuk Jimmy. Sebab yang dilihat olehnya adalah Alice dalam keadaan hanya memakai pakaian dalam saja—bra berwarna putih dengan motif renda. 

Jimmy yang langsung mengalihkan pandangannya. Namun, Alice bersikap biasa saja—santai.

“P-Panas bukan, Lis? Kenapa tidak—”

“Mandiin Sing, Jim, daripada bajuku basah,” jawab Alice sambil melangkah kembali ke dalam kamar untuk segera memakai kembali blouse-nya.

Kepala Jimmy menunduk kaku, matanya terfokus habis kepada nampan yang dibawanya dari restoran—berisikan dua macam masakan serta dua porsi nasi putih.

“Mmmhh makan malamnya apa nih?” Alice melangkah keluar dari dalam kamar sambil memasang kancing blouse-nya.

“Ah, ini Lis. Gu Lou Yuk.”

Aroma lezat dari daging bertepung, saus kental oranye kemerahan bercampur dengan potongan nanas, paprika dan bawang bombay itu seolah mampu segera menerbitkan air liur.

“Oh, Tangsuyuk,

Tatapan Jimmy langsung mengarah kepada Alice. 

Gu Lou Yuk, Lis.” sekali lagi jimmy menjelaskan mungkin Alice salah mendengar.

“Iya, kalau di Korea ini namanya Tangsuyuk!”

Yak. Memang kedua hidangan itu mirip, karena memiliki akar sejarah yang sama dari Tiongkok—Gao Bao Rou.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Author Notes: Gu Louk Yuk (Kanton), Tangsuyuk (Korea), Gao Bao Ru (China) adalah jenis hidangan daging goreng tepung yang disiram saus asam manis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *