‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅

BRRRTT!!!

Saat pintu cokelat terbuka, Alice dapat mendengar suara Jimmy.

“Kenapa?”

Namun, tidak hanya suara Jimmy saja. Alice dapat mendengar dengan jelas ada suara tangisan anak kecil dari dalam sana. 

Astaga, itu… Suara Sing-Sing?

“Tamu kamu tiba, nih.” Ah Kit memundurkan langkahnya dan tubuhnya menyamping. Seolah memberikan jalan agar Alice bisa langsung menemui Jimmy.

“Hmm… Hai?” Sapa Alice perlahan sambil melanjutkan langkah. Sementara Ah Kit menjauhi mereka—turun ke bawah.

“Oleh-oleh… U… Untuk Sing-Sing…” suara Alice bergetar saat memberikan kantong plastik transparan itu ke hadapan Jimmy. Mata Alice tidak berani menatap langsung ke wajah Jimmy. 

Perpaduan yang kacau balau antara senang karena ia bisa bertatap muka dengan Jimmy—segan karena ia memasuki ranah privasi Jimmy dan terakhir karena perutnya yang lapar—melewati makan malam hanya untuk menepati janjinya kepada Sing-Sing.

Jimmy seakan memindai terlebih dahulu sosok Alice yang berada di hadapannya. “Anda dari Macau?” Jimmy memperhatikan nama toko yang tercetak jelas pada kemasan karton dari oleh-oleh yang dibawa oleh Alice. ‘Lord Stow’s Bakery.’

“Y… Ya, maaf jadi mengganggu anda sampai kesini.”

Alice menelan ludahnya—mencoba memberanikan diri untuk melihat ke arah Jimmy yang masih memakai kaos putih tipis serta celana cargo panjang, setelan saat ia bekerja di dapur restoran. 

Jimmy menghela napas perlahan. “Kalau tidak keberatan, silahkan masuk dan temui dia… Dia pasti senang, kalau kamu yang memberikannya secara langsung.” Jimmy memutar tubuhnya, mengizinkan Alice masuk. Namun dari ucapannya seolah ada keraguan, apa mau wanita ‘mahal’ seperti Alice masuk ke rumahnya yang seadanya ini?

Saat itu sorot mata Alice langsung melihat ke dalam rumah dimana sosok Sing-Sing tengah berada di posisi tengkurap di atas playmat, suara isak tangisnya sedikit teredam. Berbagai mainan telah berserakan di sekelilingnya. 

“P… Permisi…”

Tanpa ragu, Alice langsung melangkah masuk. “Sing… Lihat siapa yang datang.” suara Jimmy tidak membuat anak itu segera mengangkat kepalanya. Sing-Sing masih meringkuk di atas playmat.

“Sing-Sing Sayang… Bibi datang nih.” sapa Alice setelah berhasil melepaskan sepatunya. 

“Bhibhi Alice?” kepala Sing-Sing terangkat dan langsung menoleh ke arah dimana Alice berada.

“Lihat Bibi bawa apa nih?” Alice mencoba merayu Sing-Sing dengan mengeluarkan kotak egg tart itu. Alice juga segera menekuk lutut—duduk bersimpuh di dekat Sing-Sing.

Perlahan wajah basah Sing-Sing menerbitkan senyuman sampai gigi kecilnya terlihat jelas. “Bibi!” pekik Sing-Sing yang langsung mendekati Alice. “Bibi kemana? tadi kemana?”

“Maaf telat ya, Sing… ‘Kan, Bibi dari… kantor.” Tangan kanan Alice mengusap perlahan kepala Sing-Sing. “Kok nangis, Sing?”

“Kesel, Bibi ga dateng tadi. Sekarang Sing udah ga kesel. Bibi udah dateng!”

Alice melebarkan senyuman. Hampir membuat kecewa seorang balita karena mengingkari janji yang dibuatnya kemarin.

“Bibi bawa apa?”

Alice membuka kotak oleh-olehnya, memperlihatkan egg tart yang ia bawa dari Macau. “Kue!” ujar Alice dengan riang.

“Ah, kue! Sing-Sing mau!” jari telunjuk tangan kanan Sing-Sing langsung menunjuk ke kotak kue itu. Seketika Alice menoleh ke arah Jimmy yang sedang berdiri di depan kitchen set sembari memperhatikan mereka. 

“Boleh aku kasih?” Alice meminta izin Jimmy.

Jimmy menghela napas dan tersenyum simpul. 

“Boleh, tapi habis ini ia harus sikat gigi, lagi…”

“Tuh Sing, boleh kata Papa, tapi harus sikat gigi lagi habis ini,” ujar Alice. Sing-Sing mengangguk cepat. Perhatian anak itu sudah tersita sepenuhnya kepada makanan manis itu. 

Perlahan kotak kue itu didekatkan kepada Sing-Sing dan tangan kecil itu meraih kue itu dengan perlahan. Matanya menyapu memutari kue berwarna kuning licin mengkilap dengan warna cokelat tua—custard gosong menjadi karamel itu.

Sing-Sing menggigitnya sebagian kecil—ada remahan pastry yang terlepas namun tidak menyentuh lantai karena telapak tangan Alice dengan sigap mewadahinya.

“Enak!” Wajah kecil itu menampilkan tawa. Senyuman penuh ketulusan karena rasa manis yang baru saja tiba di dalam mulutnya.

Alice menyesap bibir dan tersenyum lebar. Seketika rasa lelah karena perjalanan dari Macau menuju Hong Kong pun sirna. Terbayar penuh dengan wajah ceria dari anak itu.

“Pakai piring, Sing…” Jimmy berjongkok dan menghampiri Sing-Sing sambil mendekatkan piring kecil ke bawah dagu Sing-Sing. Saat itu tangan Alice langsung mengundurkan diri. Ada remahan kue dan telapaknya mungkin kotor karena tadi harus memegang hand railing saat naik tangga.

Alice bangkit berdiri, menuju kitchen sink di depan pintu. Memutar keran dan membilas tangannya. 

“Sabun cuci tangan yang botol putih.” Alice tidak dapat merasakan gerakan Jimmy yang begitu cepat, tahu-tahu pria itu sudah berada di belakangnya dan menunjukkan botol putih dengan tulisan ‘hand soap’.

“Habis ini saya pulang… Maaf telah mengganggu waktu kalian,” ujar Alice saat buih sabun tengah memenuhi telapak tangannya.

“Kamu hampir di cap sebagai penjahat olehnya, Nona,” sahut Jimmy.

“Eh? Penjahat?” Alice melirik ke arah Jimmy yang berada disampingnya, berdiri menghadap ke arah Sing-Sing.

“Dia… Ingat janji itu, menunggumu dari sore lalu menangis kencang saat toko tutup tadi…”

Alice menelan ludahnya. Jika malam ini kita tidak bertemu, Sing-Sing akan mulai memupuk kekecewaan kepadaku. 

Dalam diam Alice menutup keran air ketika tangannya sudah terasa bersih. “Maaf, aku tak menduga kalau bisa berdampak hingga seperti ini.”

“Bibi, bibi… Malam ini nginap ya?” tanya Sing-Sing dengan mulut yang tengah berlumuran custard.

“Sing… Jangan begitu,” sahut Jimmy menjawab pertanyaan polos Sing-Sing.

Alice segera membalik badannya dan kembali merendahkan tubuh untuk duduk di lantai tepat di samping Sing-Sing. “Bibi tidak bisa menginap, Sing. Besok pagi Bibi harus pergi kerja lagi soalnya.”

“Yah…” Ada rasa kecewa namun tidak membuat Sing-Sing sampai merajuk seperti hari kemarin. Alice kemudian menoleh ke arah Jimmy. “Mmh… Kalau kamu mau mandi… Aku bisa menemaninya sebentar, itupun kalau boleh?”

Wajah Jimmy tetap terlukis penuh was-was. Alice menduga kalau ucapannya mungkin sudah keterlaluan. Dia sudah menembus privasi Jimmy dan sekarang seperti ingin memisahkan Jimmy dari anaknya.

Sadar diri! Kamu itu orang luar! Kalian itu baru berkenalan dengan benar saja kemarin! Wajar kalau dia curiga! Kalau kamu mau menculik Sing-Sing! Di dalam hati, Alice tengah merutuki dirinya sendiri.

“Sing, mau main dulu sama Bibi Alice?” tanya Jimmy sembari mengangkat sedikit bagian leher pada kaosnya—seolah sedang mencium aroma tubuhnya yang jelas timpang dengan wangi lembut dari parfum vanilla Alice.

“Ya!”

“Tapi… Begitu Papa selesai mandi, udahan ya mainnya Sing, kamu harus tidur…”

“Ya! Papa mandi sana!” Alice menahan tawa, menutupi mulut karena mendengar Sing-Sing yang mengusir Jimmy untuk pergi mandi.

Jimmy melangkah bergerak dari satu titik ke titik lainnya di dalam rumah, pergerakannya terlihat  jelas oleh Alice karena ruang yang begitu sempit dari apartemen sederhana ini. 

“Nona, jika ingin minum.” Jimmy meletakan sebuah gelas di meja makan, di dekat situ ada dispenser air. Alice mengangguk kecil dan melirik ke arah Jimmy yang saat ini masuk ke dalam kamar mandi.

Ada bunyi desis halus saat Alice menarik napas lewat mulutnya. Seperti menahan rasa sakit di daerah ulu hatinya. 

Ah Sial, laper banget.

“Bibi kenapa? Bibi sakit?” Sing-Sing rupanya menangkap suara ringisan itu. Alice hanya tersenyum untuk menanggapinya, tidak mampu untuk berucap bohong di depan wajah polos itu.

Sing-Sing meletakan kue yang belum habis ke dalam kotak, dirinya merangkak menuju sebuah lemari plastik besar berada di pojok ruangan, tepat di samping televisi. Mengambil sebuah tas kecil di dalam sana dengan logo ‘+’ palang merah. 

“Bibi sakit? Sini aku cuss-cuss”. Sing-Sing membuka tas itu dan mengeluarkan mainan plastik berbentuk suntikan. 

Alice tertawa geli ketika lengan kirinya sedang di suntik oleh Sing-Sing.  Duh benar saja kata Maggie dan Karen. Anak umur segini suka sekali pretend play. Alice melihat ada mainan berbentuk stetoskop yang keluar dari dalam tas kecil itu. 

“Coba Sing-Sing periksa, Bibi sakit apa…” Alice segera menegakkan tubuhnya dan Sing-Sing segera mengalungkan stetoskop mainan itu.

“Sakit perutnya ini—” ujung bulat stetoskop itu berada di atas perut Alice. “Belum makan ini” sambungnya.

“Hahaha…” Tawa Alice pun pecah begitu sang dokter kecil berhasil mendiagnosis sakitnya.

“Kok tahu sih, Sing?”

“Papa suka bilang gitu, Sing-Sing cuma sakit perut karena belum makan, gitu.” Sing-Sing kemudian kembali meraih kue nya yang belum habis. Diasongkan kue itu ke hadapan Alice—kue yang telah habis separuh disertai jejak gigitan gigi kecil disana. 

“Ayo makan Bibi, biar sembuh.”

Alih-alih menolak dan mengambil yang baru, tanpa ragu Alice menerima kue itu dan segera memakannya di hadapan Sing-Sing. Tak ada rasa jijik atau memang Alice sudah terlampau kelaparan sehingga kue bekas gigitan Sing-Sing pun tetap disantap olehnya. 

“Enak Sing…” Tangan kanan Alice meraih kue yang baru dari dalam kotak, ia berikan kue itu kepada Sing-Sing. “Sing, mau lagi?”

“Engga, udah.” Sing-Sing kemudian sibuk dengan mainannya, melanjutkan peran dirinya sebagai seorang dokter.

Ya, lumayan lah setengah egg tart mampu mendorong asam lambung yang sedang naik ini. Namun, harus segera mencari makanan nih nanti.

Gelak tawa terus hadir diantara mereka, bagaimana Sing-Sing menjawab berbeda-beda sesaat setelah memeriksa tubuh Alice. 

“Bibi sakit apa lagi, nih?” tanya Alice.

“Ini kepala, pusing.”

“Ini kaki, luka, jatuh.”

“Terus mata! Jangan dikucek melulu.”

Dia begitu menggemaskan! Tidak lebih tepatnya pintar! Mungkin dia selalu bermain dengan orang dewasa? Dan… Setiap jawaban dari orang dewasa itu terekam di ingatannya. Sehingga saat mengulang permainan ini dan perannya di balik, ia mampu menjawabnya!

Sekitar sepuluh menit kemudian, Jimmy keluar dari dalam kamar mandi. Masih mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk. Sing-Sing langsung berdiri dan menghampiri Jimmy. 

“Papa! Katanya Bibi Alice sakit kepala, pusing, lapar belum makan!”

Mata Alice membelalak panik—sebab setengah dari ucapan Sing-Sing benar adanya. Eehhh! Kenapa jadi begitu ceritanya deh? 

“Hmm?” Jimmy membungkuk demi mendengarkan Sing-Sing. “Bibi Alice pusing, lapar katanya belum makan tadi… Jadi—” Sing-Sing menarik napas cepat. “Jadi makan kue sama aku, sembuh deh!” Sing-Sing mengulangi dan melengkapi perkataannya.

Astaga. Kok, jadi malu gini? 

Alice mengatupkan bibir dan memejamkan matanya selama satu detik. Merasakan aliran darah mengalir cepat ke wajah dan membuat pipinya menjadi terasa sedikit hangat penuh rasa malu.

“Kamu belum makan malam, Nona?”

Jika menghadapi orang dewasa seorang mungkin Alice akan berbohong demi gengsi. Namun, ia sudah memilih untuk jujur ke hadapan Sing-Sing. 

“Cuma pura-pura saja tadi,” Alice tetap memilih untuk mempertahankan gengsinya. Kabur! Kabur! Malu!

Alice bangkit dari posisi duduk. “Sing, Bibi pulang ya… Sing-Sing juga tidur ya, Sudah malam loh ini, sayang…”

“Kok, pulang? Ja—ngan!” Sing-Sing lagi-lagi menahan Alice.

Harapan Alice adalah Jimmy merespon dengan menahan Sing-Sing dan membiarkan dirinya pergi. “Mau saya buatkan sesuatu? Untuk kamu bawa pulang ke rumah?”

“Tidak, Jim, tidak usah repot-repot.”

“Bibi, Ayo main bentar lagi!” Sing-Sing mendekati Alice dengan kepala mendongak ke arahnya.

Alice pun segera terperangkap dengan jebakan ayah dan anak itu.

Tanpa ada pertanyaan lainnya, Jimmy mengeluarkan sesuatu dari dalam freezer kulkasnya. Menyiapkan panci dan memanaskan bongkahan es berwarna agak kecokelatan.

Kemudian ada sedikit pergerakan memotong sesuatu—sayur berwarna hijau tua. Begitu selesai terpotong, sayuran itu dimasukan ke dalam panci yang sudah mulai panas.

Dalam beberapa menit, wangi harum kaldu yang lolos dari sedotan exhaust fan dapat sedikit tercium oleh Alice.

Sepuluh menit Alice habiskan untuk bermain dengan Sing-Sing dari masih bersemangat hingga Sing-Sing mulai melabuhkan kepalanya di pangkuan Alice. “Dokternya bobo dulu sebentar, ya.” suara Sing-Sing melemah dan dalam hitungan menit sudah tidak ada lagi pergerakan darinya. 

Hmm… Sudah mengantuk berat rupanya.

“Astaga—” Jimmy bergumam saat ia melirik ke arah Alice dan Sing-Sing. “Tidur?” tanya Alice dengan suara berbisik saat Jimmy memperhatikan mereka. Jimmy mengecilkan api kompor—segera menghampiri keduanya. 

Perlahan, Jimmy mengangkat Sing-Sing yang sudah tidak berdaya dari pangkuan Alice. “Duh, tidak gosok gigi lagi dong kamu. Sebentar ya, Nona.” Jimmy beranjak menuju ke kamar tidur.

Saat itu Alice segera berdiri sambil merapatkan kembali kemasan egg tart, meletakkannya di meja makan sempit hanya untuk dua orang dewasa saja. 

Alice meraih ponselnya, mengirimkan sebuah pesan kepada supir nya, Paman Lam. “Maaf Paman, mohon tunggu setengah jam lagi.”

Selesai dengan ponselnya, mata Alice tertuju ke arah panci dengan uap panas yang mulai terlihat.

Dia… Lagi membuat apa, ya? Jadi penasaran, wanginya sih sedap, ya. Duh, godaan.

Tepat saat panci itu mengeluarkan desis bunyi mendidih, sosok Jimmy muncul dari balik pintu kamar yang sudah gelap. Langsung menuju kompor, memutar centong membuat aroma sedap semakin menguasai ruangan dan penciuman Alice. 

Jimmy memindahkan perlahan-lahan isi panci ke dalam mangkuk keramik putih.

“Jim, kamu sengaja memasak untukku?” tanya Alice dengan perlahan.

“Ya, sebagai balasan karena sudah bela-belain membawa oleh-oleh untuk Sing-Sing.” Jimmy mengangkat mangkuk itu dan segera menyajikannya ke hadapan Alice.

Ini… Miyeok-guk? (Sup rumput laut korea)

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *