‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

2 IFC Tower, Central Hong Kong.
Crestview & Associates Head Office.

“Hah!? Gimana? Ulangi Meg? Si Alice—”

“Hergh—” Bola mata Maggie berputar ke atas. “Iya, ngemodalin si Jimmy, terus sekarang dia mau mengakuisisi bangunan di sebelahnya buat ekspansi restonya Jimmy.”

Mata Karen terbuka lebar-lebar. Mungkin satu kali tepukan di pundak, bisa lepas itu bola matanya.

“Kok? Alice ga pernah cerita hal-hal itu, ya? Padahal anak kita tiap minggu les renang bareng loh? Malah kadang hangout sampai malem loh sama dia!” sahut Karen.

Maggie menghela napas cepat, bola matanya berputar kesal ke arah atas. “Ya, gimana dia mau cerita ke situ Ren… Baru Alice buka mulut kamunya heboh, jadi… Malas lah dia ke kamu.” 

Seperti biasa, menjelang istirahat siang di kantor C&A pasti akan diwarnai oleh pertukaran cerita dan juga gosip hangat. 

Karena kali ini Alice absen, maka Maggie dan Karen secara bebas ‘ngomongin’ Alice. Kali ini giliran Maggie yang memberikan info soal kondisi Alice dan Jimmy.

“Eh, Eh… Meg… Aku mau pinjamin uang buat sepupuku yang usahanya sudah berjalan aja… Disuruh pikir dua kali dulu sama James! Ini lagi si Alice… Encer bener! Jimmy, ‘kan? Pacar bukan, suaminya juga bukan? Kok, berani amat tuh anak? Mentang-mentang single, apa gimana sih dia?” Karen kembali heboh.

“Hmm, ya… Barangkali… Sudah kepalang cinta dia, kayaknya, Ren, makanya di gas aja terus!”

Karen mendecih. “Halah, cinta apaan? Setiap kali kita tekan soal perasaan dia ke Jimmy, jadi kita yang diomelin dia… Mengelak terus itu ‘kan dia?”

Maggie menggelengkan kepalanya. “Aku bilang tadi apa? Kepalang cinta… bukan ja—tuh cin—ta.” Jelas Maggie dengan menekankan kata jatuh cinta.

“Hah? Apa bedanya?” Dahi serta hidung Karen mengerut—penuh rasa heran. Merasa bingung dengan ucapan Maggie.

“Kita yang salah, Ren. Kita berharap pola jatuh cinta terjadi lagi pada Alice—” Maggie bersandar penuh di kursi kerjanya. “Kita menyaksikan Alice dulu menikahi Raymond lalu cerai. Kemudian ia jatuh cinta lagi ke mantannya—Hyunwoo yang pakai acara ditembak saat mereka dinner setelah AirLease Global bekerja sama dengan C&A.”

“Terus? Putus lagi, ‘kan dia sama si Hyunwoo itu? Eh, gagal tunangan lebih tepatnya, ‘kan? Soalnya pria itu lebih milih mantannya sebelum Alice,- ah, gimana sih urutannya? Ya, pokoknya Bapak Kwon Hyunwoo itu milih mantannya yang pramugari itu, ‘kan?” sambung Karen melanjutkan cerita cintanya Alice yang tergolong ekstrim itu.

Maggie mengangguk—mengiyakan. “Ingat Ren, pengalaman kayak gitu… Cuma Alice yang punya… dan seumuran kita-kita gini, Alice itu sesungguhnya sudah lelah kalau harus melewati percintaan ala anak muda dan meledak-ledak…”

Mulut Karen terkatup rapat diiringi kepala yang mengangguk paham.

“Dia dan Jimmy… Sepertinya sudah berada di titik sangat nyaman, bahkan keduanya sudah mulai mempraktekan kehidupan dalam pernikahan…”

“Hah? Jadi maksud kamu? si Alice benar-benar sudah merasa dirinya itu jadi seorang istri buat Jimmy, gitu?”

“Dan ibu, Ren… Ingat satu paket—Jimmy sudah ada buntutnya. Cuma… ya, itu—” Maggie menggantungkan ucapannya. “Masih ada gengsinya aja tuh si Alice-nim itu”

Karen tertawa mendengarkan seluruh ucapan Maggie. “Jadi… yang kamu prediksi benar semua dong, Meg?”

Maggie meruncingkan bibir bawahnya dan mengangkat bahunya cepat, ‘kubilang juga apa.’

Karen kemudian tersenyum lebar sambil memutar badannya menghadap Maggie. “Meg, kalo aku pelan-pelan tekan tanya—” Karen sempat menyapu bibir dengan lidahnya. “Dia udah ngapain aja sama Jimmy dijawab nggak ya sama dia?”

“Nei Chi Sin! Mana akan dijawab sama si Alice lah, privasi! Yang ada paling dijawab: Oh, aku sih sudah sempat kasih pinjam modal!” Maggie menggelengkan kepalanya. [Kanton: Dasar ngaco!]

“Bener juga, manusia kayak dia pasti menjawab pakai hal-hal logis!” Karen melipat tangan di depan dada. “Eh… Kalau udah senyaman itu sama si Jimmy… Apa mereka sudah ciuman, ya? Atau—”

“Aiyah, masih aja…” Maggie mulai frustasi dengan Karen yang otak jahilnya belum mau berhenti berputar.

“Atau mereka sudah gitu-gituan? Siap nih… ngasih Sing-Sing adik baru gitu? Haha…” Karen kembali tertawa setelah mengucapkan hal itu.

“Tau ah, ngaco beneran kamu! Nih, ya, yang aku lagi pikirin malah lebih jauh lagi—”

Karen kembali memutar kepalanya ke arah Maggie. “Apa Meg? Apa? Ramalan lagi nih? Mantep, bisa tepat lagi nih kayaknya.”

“Si Alice dan Jimmy diam-diam sudah resmi menikah sudah diakui secara sah sama negara… Biar Alice benar-benar dapat status penuh dan sah sebagai Ibunya Sing-Sing!” ujar Maggie sedikit bersemangat di akhir kalimatnya.

“Haaah?” salah satu sudut bibir Karen terangkat naik—senyum tak seimbang—mengejek ucapan Maggie.

“Wah, kalau ramalan yang ini sih… Ga, bisa aku terima. Ini baru ngaco!”

“Yee! Eh, Jangan lupa—” Maggie mengacungkan telunjuk tangan kirinya ke atas. “Dia Alice Moon—Vice President termuda di jajaran C&A Hong Kong! Orang lain mikirin satu-dua langkah ke depan, dia sudah memetakan sepuluh langkah di depan. Kalau itu semua ia terapkan ke dunia percintaannya… Saat ini, Alice… Pasti sudah mulai ada pikiran ke arah sana deh!”

Karen mendesis lembut. “Sshh… Iya, juga… ya.”

Untuk beberapa saat keduanya terdiam namun senyuman tipis di hadir di wajah mereka.

“Eh, ngomong-ngomong si Alice kemana, deh?” Karen memutar pergelangan tangan kirinya melihat jam tangan Longines miliknya—jam 12.15. “Sudah jam segini? Tumben ga nongol? Padahal sudah lama nih kita bertiga ga makan bareng sambil bergosip…”

“Doi… Lagi ke Sham Shui Po, sama perusahaan suamiku—” Maggie beranjak dari kursi kerjanya. “Cari makan di bawah saja yuk?”

“Hah? ke SSP? Sama suami kamu? Gimana-gimana?” Alis Karen bertaut heran.

“Lagi lihat dan nego gedung di sebelah resto Jimmy itu, loh…”

“HAH? Secepat itu?”

Maggie menoleh ke arah Karen. “Apaan yang cepat? Sudah dua minggu ini, Ren! Semenjak Alice berencana mau beli bangunan sebelahnya itu lewat perusahaan broker properti suamiku.” (Bab 37)

“LOH? Kok? Aku ketinggalan berita gini sih?” Karen memekik kesal.

“Lah situ, sibuk. Pakai cuti liburan sama dinas keluar terus… Ya, ketinggalan berita, lah.” Maggie menggeleng dan mulai melangkah ke arah pintu ruangan.

“Yeee, ‘kan bisa nelpon aku, Bun. Lagian aku kerja, bukan wanita karir tempelan kayak di cerita-cerita Drakor atau Dracin!” Karen segera beranjak dari kursi—mengejar Maggie.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Alice
Nanti siang aku mau melihat bangunan sebelah. |
Kalau aku lewat, pura-pura ga kenal, ya. |

Jimmy Sing-Sing
| Kok, gitu?

Alice
Biar anonim aja. Biar ga dimainin harganya. |
Takutnya, yang punya jadi curiga |
kalau ini buat ekspansi resto! |

Jimmy Sing-Sing
| Oh, gitu.

Alice
Eh, kamu gada ngomong |
macam-macam ke yang punya, ‘kan? |

Jimmy Sing-Sing
| Nggak lah, ngapain.
| Jadi rame yang ada nanti.
| Digosipin yang enggak-enggak.


Alice
Bagus. Pokoknya pura-pura ga kenal aja |
dan umpetin Sing-Sing! |
Jangan sampai dia ngeliat aku, |
terus teriak Mami! Runyam! |

Jimmy Sing-Sing
| Iya, Mami. Iya.
| Oh, satu hal, si pemilik gedung agak bawel.
| Siap-siap saja ya, kupingmu bisa panas!

Walau hanya melalui pesan Chat, sang ‘Ratu Langit’—Alice sudah memperhitungkan segalanya—termasuk merencanakan kebohongan putih itu.

Hari ini, Alice datang ke Sham Shui Po dengan pesona wanita Central [SCBD] seutuhnya. Turun dari sedan abu-abu tua Lexus-nya dengan sopir—agar tidak membuang waktu untuk mencari parkir di SSP. 

Alice memakai kacamata hitam Tom Ford, setelan blazer hijau pastel yang memeluk sempurna tubuhnya. Ada sedikit perhiasan menghiasi telinga serta pergelangan tangannya, heels hitam dengan alas merah khas Louboutin serta tidak lupa handbag Coach berada di tangan kirinya.

Matanya sama sekali tidak memperdulikan Sing-Sing Eating House yang berada di samping kirinya. Langsung menuju ke bangunan sebelah yang kini folding gate-nya tengah terbuka lebar.

“Permisi,” sapa Alice sambil melepaskan kacamata hitamnya.

Suami Maggie—Erick langsung menyambut Alice. Pria itu ikut turun tangan di hari ini untuk mempertemukan Alice dengan sang pemilik bangunan.

Memang, sudah sempat ada kesepakatan harga—sehingga hari ini Alice memutuskan untuk melihat kondisi fisik bangunan secara langsung dan berharap bisa ‘menggoyang’ harga sedikit lagi secara langsung dihadapan sang pemilik.

Sedikit lembab dan berbau apek—wajar sih untuk bangunan yang sudah beberapa saat tak dihuni. 

Tata letaknya nyaris serupa dengan restoran milik Jimmy, hanya saja ini terbalik. Toilet di restoran Jimmy berada di sisi kiri, ini di kanan. Yang paling penting tidak ada kerusakan struktural. Hanya cat tembok terkelupas di beberapa titik saja.

Pikiran Alice langsung menggambarkan pembagian ruangan. Secara garis besar ia ingin membagi semuanya menjadi tiga bagian. Lalu, beberapa bagian tembok akan dijebol sebagai akses ke sebelah—restoran Jimmy. Area transisi itu akan non AC—untuk pengunjung yang ingin merokok. 

Kemudian diberi sekat untuk ruangan AC dan sekat terakhir adalah arena belakang setelah toilet, Alice ingin ruangan terpisah itu juga ber-ac disulap sebagai tempat untuk Sing-Sing beristirahat dan bermain. 

Bagunan lama Jimmy juga harus di rombak, menjadi dua bagian—sisi kiri dan kanan. Kiri untuk perluasan dapur masak—memanjang dari depan hingga belakang. 

Sementara sisi kanan dengan tembok yang dijebol, akan ada beberapa meja-meja kecil saja untuk dua orang atau mungkin sebuah meja panjang komunal menghadap dinding untuk mengakomodir pengunjung yang datang sendirian.

Sempurna! Tinggal mengunci harga!

“Gimana, Lis?” bisik Erick—pria berkacamata dan bertubuh agak berisi itu kepada Alice. “Oke, sih Pak… umh… Tinggal…” Alice menggantungkan ucapannya. Erick juga langsung paham ucapan Alice, ‘minta turun harga’ sedikit lagi.

Tidak sampai satu jam Alice berada disitu, harga kesepakatan kini sudah ketemu. Secara simbolis—melalui jabatan tangan dengan sang pemilik, rencana Alice akan segera direalisasikan dalam waktu dekat. Tinggal menunggu Erick sebagai broker untuk melakukan final check dokumen kepemilikan bangunan dari sang pemilik—transfer—maka bangunan itu akan segera berpindah tangan kepada Alice.

Erick bersama tim nya segera berpamitan. Begitu juga dengan Alice yang langsung memanggil sopir untuk segera menjemputnya.

Di tengah-tengah menunggu sang sopir tiba, Alice benar-benar harus menghadapi ‘kebawelan’ wanita tua pemilik gedung. 

“Iya tuh, si Chi Yeung [Jimmy] buka masakan, toko kain akhirnya menyerah karena kainnya suka jadi bau masakan, tapi memang sudah lesu juga sih jualan kainnya. Eh, Dek, boleh tuh cobain masakannya disitu, enak-enak loh itu.” wanita itu menunjuk ke restoran milik Jimmy.

“I… Iya tante. Nanti aku coba, deh.” Kepala Alice mengangguk pelan sambil menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.

Ga tau aja… Tiap malam aku kesitu, tante.

“Kalau nanti usaha kamu keganggu sama Chi Yeung, bilang ke tante aja, nanti tante yang omelin!”

“Iya, tante…”

Ga perlu diomelin sama tante, sama aku aja Jimmy sudah nurut, kok.

“Mana punya anak kecil lagi dia, kasihan deh harus ngikutin Bapaknya dagang…”

Makanya saya beli bangunan tante! Biar Sing-Sing nanti punya kamar khusus bermain buat dia!

Alice merapatkan mulut, menahan tawa sekuat tenaga karena ia sedang berakting—tidak kenal dengan Jimmy dan Sing-Sing.

“Ga tau tuh kemana bininya. Kabur katanya, sih. Makin kasihan aja tante sama anaknya itu.”

Eh, eh… Ada aku loh Tante, ada aku! Maminya Sing-Sing!

By the way, ini sopir kemana lagi? Lama benar! Semenit lagi ga muncul aku bisa tertawa lepas ini.

Pom-Pom… Akhirnya mobil milik Alice menampakan wujudnya, berjalan perlahan karena lalu lintas agak ramai di siang itu.

“Tante, mobilku sudah datang… Aku, mohon pamit, ya?”

“Oh, iya, iya Dek… Hati-hati, ya!”

“Mari Tante…” Alice sedikit membungkuk memberikan hormat dan segera melangkah cepat masuk ke dalam mobilnya.

Pada akhirnya Alice bisa tersenyum hingga tertawa kecil saat berada di dalam mobil setelah mendengarkan kebawelan wanita itu.

Alice meraih ponselnya dan mengirim sebuah pesan kepada Jimmy.

Alice
Lancar, Pa… |
Sing-Sing Eating House 2.0… |
Siap kita jalankan! |

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

… 

Beneran jadi beli dong.
Beneran cuma ‘Demi Sing-Sing’ ?
Auk ah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *