‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Satu bulan kemudian.
Di akhir pekan, si kecil Sing-Sing masih tetap rutin untuk les renang ditemani oleh Alice. Kali ini, Mami Alice tidak seorang diri ketika menemani Sing-Sing. Ada auntie Karen yang ikut menemani anaknya les renang bersama Sing-Sing.
Waktu luang dan menunggu, sebuah momen yang tepat bagi Alice dan Karen untuk bertukar gosip di balik meja kantor. Namun, kali ini cuap-cuap tanpa filter mereka harus sedikit tertahan. Sebab ada sedikit gangguan. Karen didampingi James—suaminya.
“Mami, Mamih… Sing mau main sama Aiden goh-goh dulu ya, Mami.” Dengan tubuh dan rambut yang basah, Sing-Sing menunjuk ke anak laki-laki yang berumur lima tahunan—anaknya Karen.
“Iya sayang, boleh. Tapi… Kalau badan kamu sudah terasa dingin nanti kita pulang, ya!”
Izin syarat didapat, Sing-Sing mengangguk kemudian ia kembali ke pinggiran kolam renang.
“Lis, beneran deh, Sing-Sing itu bukan anak kandungmu?” tanya James ketika Alice kembali ke tempat duduk mereka. “Mirip banget wajahnya… sama kamu.”
Karen langsung menyenggol bahu suaminya—sepertinya sudah ada briefing khusus dari Karen agar sang suami tidak menyinggung ke arah status Sing-Sing dan Alice—takut berbuah panjang membahas ke hal yang tidak Alice sukai, romansa dengan sang ayah—Jimmy.
“Hm Hmm—” Alice menahan tawa. “Memang… Segitu miripnya aku sama Sing-Sing?”
“Beda, lah! Lupa? Alice itu orang Korea!” bisik Karen kepada James—suaminya.
“Mirip ah…”
“Beda!”
“Mirip… Cintaku.” James menarik pinggang Karen hingga tubuh sang istri bersandar padanya.
“Beda ya beda! Sayangku,” sergah Karen sambil melabuhkan tatapan serta senyuman tipis kepada James.
Alice hanya tersenyum dan menggeleng. Memang sudah beberapa kali Alice mendapati kata-kata seperti itu—soal kemiripan wajah mereka. Ditambah lagi Alice yang benar-benar fasih berbahasa Kanton seolah orang-orang jadi lupa kalau dia adalah seorang ekspatriat berdarah Korea murni.
Di mata Alice, sosok suami Karen itu begitu clingy. Tak pernah ragu pamer keintiman—berpelukan bahkan berdebat hal-hal remeh dengan Karen.
Belum lagi Karen juga samanya—sifat ke kekanak-kanakannya semakin menonjol ketika bersama James. Menggunakan suara mendayu atau bertingkah layaknya anak kecil.
Keduanya menjadi hiburan buat Alice sampai terkadang ia berpikir: ‘Ini benar nih orangtuanya Aiden?’.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Pukul enam sore, mobil Alice terparkir di pinggiran jalan wilayah Sham Shui Po. Seperti biasa, tidak ada keajaiban di sana—bisa dapat parkir di depan Sing-Sing Eating House.
“Sing, ayo kita—” ucapan Alice terhenti begitu menoleh ke belakang. Pantas saja anak itu sunyi, Sing-Sing tengah tertidur di carseat. Kelelahan setelah les berenang dan main bersama Aiden sepertinya.
Setengah jam kali ya?
Alice kemudian sibuk dengan ponselnya—mengisi waktu luang saat membiarkan Sing-Sing beristirahat. Bukan untuk bermain game tetapi memantau penjualan restoran Jimmy.
Keviralan restoran Jimmy waktu itu nyatanya memberikan efek domino lain, beberapa kali ada content creator lain datang menghampiri untuk membuat konten serupa namun di berbagai platform media sosial yang berbeda.
Satu bulan ini penjualan menjadi sangat meningkat dengan staf dan stok bahan mentah yang tetap sama. Terkadang jam tujuh malam saja, sudah sold out.
Dengan peningkatan seperti itu, maka Jimmy akan melakukan pemaksimalan terakhir pada kedainya. Rencananya akan menambah stok bahan baku diiringi dengan menambah satu kru lagi di bagian dapur.
Dengan begitu, Alice pun sudah mulai menerka kalau dalam dua atau tiga bulan ke depan dengan penjualan resto yang tetap stabil seperti ini—mungkin Jimmy sudah bisa mengembalikan pinjaman modal itu.
Alice menghela napas—tersenyum simpul.
Lihat Jim? Bagaimana ketika kamu berhasil mendorong sedikit trauma mu itu? Potensi restoran akhirnya dapat berkembang pesat.
“Mami… Sing, hawus.” Baru lima belas menit, Sing-Sing sudah terbangun dari tidur singkatnya.
Alice langsung meladeni sang ‘nyonya’ Sing-Sing—memberikannya air minum. Kemudian turun dari dalam mobil untuk segera ke restoran.
Keadaan restoran di petang itu sebenarnya tidak terlalu ramai. Tak ada antrian yang mengular sampai keluar resto. Akan tetapi, tetap full house—tidak ada meja kosong tersisa.
‘Istri’ Pak Boss dan anaknya lagi-lagi tidak mendapatkan tempat duduk di kedainya sendiri. Alhasil, Alice dan Sing-Sing memilih untuk menunggu makan malam mereka di dalam apartemen.
Tidak sampai lima belas menit, makan malam mereka tiba—diantar ke atas oleh pegawai kedai. Seperti biasa, Alice langsung duduk di lantai sambil menyuapi Sing-Sing sambil tetap menemaninya bermain.
Hingga akhirnya Jimmy kembali ke atas begitu restoran sudah kehabisan bahan baku—mandi lalu makan malam ditemani dengan anak dan ‘istrinya’.
Perbincangan yang terjadi diantara mereka sepanjang makan malam selalu berbeda-beda. Terkadang membahas restoran atau membahas perkembangan Sing-Sing.
Sesekali salah satu dari mereka menjadi pendengar ketika ada kendala di dunia pekerjaan mereka.
Seperti Jimmy yang pernah mengeluh soal turis dari mainland yang suka mencuri peralatan makan atau curhatan Alice soal betapa sulitnya mengelola perusahaan yang hampir pailit untuk ‘disehatkan’ kembali oleh C&A kemudian dijual kembali nantinya.
“Papa… Mami…”
Keasyikan perbincangan dua orang dewasa pun harus buyar karena si bintang kecil Sing-Sing memanggil keduanya, sesaat setelah Jimmy selesai mencuci piring dan hendak kembali duduk di hadapan Alice.
“Ya, sayang?” Alice merespon terlebih dahulu.
“Tadi… Tadi, Sing-Sing lihat Papanya goh Aiden—”
“Iya, siapa tadi namanya Sing? Paman siapa?” Alice malah bertanya sebelum Sing-Sing merampungkan kalimatnya.
“Paman Jems!”
“Ja—mes… ayo yang benar ikutin, Mami…”
“Paman James! Sama… Sama Bibi Karen, ‘kan suka peluk-pelukan. Sing ‘kan… ‘kan… Suka peluk Papa dan Mami. Tapi… Tapi… Papa Jimmy dan Mami Alice kok ga pelukan?”
—HAH!?
Jangan lupa kalau tingkat perkembangan kognitif Sing-Sing itu cukup tinggi di antara anak-anak seumurannya. Tadi siang ia melihat Karen dan James, orangtua dari Aiden kerap berpelukan mesra.
Namun, tidak disangka pemahaman konsep dua orangtua yang intim itu, dituangkan oleh Sing-Sing kehadapan Jimmy dan Alice yang merupakan sosok ayah dan ibunya.
Alice sempat menyesap bibir bawah sambil memejamkan mata—menyadari kalau ini pengaruh kemesraan pasangan James-Karen.
“H… Hui-Sing… Ngomong apa sih kamu?” Suara Jimmy sempat bergetar—pria itu langsung berjongkok untuk mengusap lembut kepala Sing-Sing.
“Iya, Papa sama Mami kapan pelukan? Sing mau lihat.“
Ucapan Jimmy tidak segera menetralkan anak itu, malah membuatnya semakin menuangkan kepolosan hingga ke taraf panik bagi Jimmy dan juga Alice.
“Sing, nggak gitu, keadaan Mami dan Papa itu—”
“Jim,” Alice bangkit—melangkah mendekati Jimmy dan juga Sing-Sing.
Jimmy memutar kepala, sedikit mendongak karena Alice kini telah berdiri tepat di belakangnya.
“Kita—” Alice menarik napas perlahan. “Lakukan.”
Kepanikan karena kepolosan Sing-Sing belum usai—sekarang malah ditambah dengan ajakan tak terduga untuk segera melakukan pelukan itu dari Alice.
Mata Jimmy segera membelalak heran. “Hah?” diikuti napas yang terhela cepat dan terhenti—tanpa menariknya lagi. “Gimana?”
“Berdiri lah dan peluk aku.”
Alice, tidak berada di bawah pengaruh alkohol saat memberikan perintah itu. Ia mengucapkan hal itu dalam kesadaran penuh. Sudut bibirnya tersungging semu—senyuman yang amat tipis segera terukir disana.
Saat ini dengan tangan yang terlipat di depan dada, tatapan Alice terkunci erat saat Jimmy mencoba bangkit berdiri. Air muka Alice pun terlihat begitu tenang, seolah sebuah pelukan bukanlah sebuah beban untuk sang Mami.
Berbeda disisi Jimmy. Ekspresi dari sang Papa memancarkan kepanikan penuh—kelopak matanya terus terangkat ragu. Terpaku—masih tidak percaya dengan titah yang diberikan oleh Alice.
Alice menunjuk dengan dagu ke arah si kecil. Satu embusan napas lembut, lipatan tangannya pun bubar. Dirinya telah bersiap untuk menerima pelukan yang diminta oleh Sing-Sing.
Putri kecil itu mulai melebarkan sebuah senyuman dengan mata yang terlihat begitu berbinar saat memperhatikan ‘kedua’ orangtuanya telah berdiri berhadapan.
“Lis, ga usah dengerin d—”
“Jangan, Jim. Jangan hancurkan khayalan dan keinginan dia,” bisik Alice. Kedua telapak tangannya perlahan terbuka dan terangkat, siap untuk memberikan sebuah pelukan.
Namun, pria itu tetap diam dengan tatapan yang masih terkunci ke arah Alice. Jimmy tidak memandang kalau ini adalah sebuah kesempatan untuk menyentuh tubuh dari wanita yang selama beberapa saat ini terus hadir dan merombak hidupnya.
“Ayolah, demi Sing-Sing, Jim.” Sialnya Alice mengeluarkan kata-kata itu—senjata andalannya untuk meruntuhkan Jimmy Lau.
Pergulatan tampak terus terjadi di dalam benak Jimmy: Lakukan saja atau jangan—itu tidak pantas.
Alice menghela napas cepat. “Ck, Lama ah,” bisiknya.
Kaki kanan Alice melangkah—mendekat—mengikis jarak. Dengan segera memutus semua pergulatan yang berada di dalam benak Jimmy.
Kedua tangan Alice menyelinap di antara tangan Jimmy hingga akhirnya mengalung sempurna di pinggang pria itu. Satu langkah lainnya, jarak di antara mereka pun sirna.
Tubuh mereka kini telah bersentuhan.
Lewat sebuah pelukan yang…
Kaku
—Terjadi.
Jimmy tidak berkutik, sementara Alice tidak melabuhkan kepalanya kemanapun—hanya ujung hidungnya saja yang menyentuh bahu Jimmy.
Walau amat tipis namun aroma sedap wokhei yang menjadi ciri khas Jimmy masih dapat terendus semu oleh penciuman Alice di tengah-tengah dominasi wangi manis dari parfum santal wood. Perpaduan yang membuat Alice tersenyum tipis—tersembunyi dari penglihatan Jimmy.
“L… Lis, i… ini berlebihan—”
“Tak apa-apa, Jim… Kamu boleh sentuh aku,” Alice berbisik manis.
Tiga detik, tanpa pergerakan apapun dari Jimmy. Bahkan sepertinya pria itu sedang menolak untuk bernapas.
“Peluk.” Sekali lagi Alice berbisik dengan nada memerintah.
Jimmy terkesiap—mulai kembali bernapas. Sambil menelan ludah perlahan kedua tangan Jimmy mulai terangkat penuh ragu untuk segera melingkari tubuh Alice.
Senyuman tersembunyi itu semakin melebar saat tangan Jimmy akhirnya berlabuh di sekitaran pinggang belakang tubuh Alice.
—dengan begitu,
Akhirnya, Impian sang bintang kecil terkabulkan—melihat sendiri bagaimana sang ayah, si matahari di dalam hidupnya tengah memeluk sang ibu, si rembulan malam.
“Ehehe… Papa Mami… Pelukan!” pekik Sing-Sing.
Sang inisiator pelukan Papa Jimmy dan Mami Alice kini tertawa lepas.
Tubuh yang saling bersentuhan, membuat Alice dapat merasakan kalau di dalam dada Jimmy ada debar jantung yang begitu kuat di dalam sana.
Setiap detik dari pelukan kaku disertai detak jantung yang semakin tidak karuan—perlahan posisi tangan Jimmy semakin melorot ke bawah sana.
Tentu saja itu…
“Jim… Tanganmu, naikkan tanganmu,” bisik Alice.
“H… Hah?” Jimmy terkesiap.
“Tanganmu… di pantatku.”
“HAH?” Tangan Jimmy langsung terlepas dari tubuh Alice.
—@^&!?
Namun, Alice Moon tidak segera melepaskan pelukan itu.
“L… Lis? Udah, Lis? Sing-Sing nya juga udah nggak ngeliatin kita,” ujar Jimmy.
Oh? Alice melepaskan tangannya—mundur satu langkah—kepalanya pun segera tertunduk.
—Maaf!
Kata itu terucap bersamaan dari mulut keduanya. Tak ada tatapan yang saling melekat—malah saling menghindar.
Sementara itu sang ‘Mak Comblang’ yang sudah berhasil merapatkan kedua orangtuanya kini telah membelakangi mereka—asyik sendiri bermain dengan bonekanya.
—Canggung.
Itulah yang kini keduanya rasakan ketika kembali duduk berhadapan di kursi meja makan dengan tatapan yang berusaha menghindar—sama-sama menatap ke arah Sing-Sing.
Alice mencoba melirik ke arah Jimmy. Namun,liriknya hanya bisa bertahan satu detik hingga akhirnya kelopak matanya segera berkedip cepat dan kembali menatap ke arah Sing-Sing.
“Jangan… dipikirin, Jim. Jangan jadi canggung juga. Jangan menganulir dia juga, nanti yang ada malah merusak yang sudah mulai terbangun di dalam pemikirannya, soal keluarga,” ucap Alice.
“Ah—” Jimmy menghela napas lembut, “Bukan begitu, Lis.”
Alice mencoba melirik kembali ke arah Jimmy. “Lalu?”
“Takutnya, kalau keterusan, kalau permintaan dia semakin aneh bagaimana?”
Alice memejamkan matanya. “Tidak akan deh, ini gara-gara Sing-Sing tadi melihat temanku dan suaminya, jadi kebawa… Ya, pokoknya begitu, deh.”
Jimmy menarik napas perlahan dan menegakkan tubuhnya. “Ya… Mungkin nanti bisa kita tolak. Berdalih saja: ‘Kan, sudah pernah kemarin itu.”
Ada napas terhela cepat diiringi bibir yang tersungging tak seimbang di wajah Alice. “Iya.”
Bagi mereka, pelukan nan kaku dan berlangsung sangat cepat itu hanyalah sebuah pelukan persahabatan, murni demi menjaga ilusi kalau mereka adalah sebuah keluarga yang utuh.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
