‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
“Alice? Bukan Alisu?” sambung Jimmy yang menyadari kalau informasi dari Sing-Sing ternyata salah.
Senyuman asimetris terbit di bibir Alice. “Oh, hanya untuk memudahkan Sing-Sing saja…”
“O… oh.” Jimmy berusaha untuk tersenyum. “Bilang saja, kalau nama anda Alice jangan gunakan Alisu, biarkan dia belajar menyebut nama anda dengan baik dan benar.”
Dia cukup tegas dalam mendidik anaknya. Jadi… Terasa wajar di umur tiga tahun ini banyak kosakata yang telah terserap dan pelafalannya pun sudah cukup jelas.
“Bibi Alisu, besok ikut lihat snupi, ya?” Alice tersenyum lebar mendengarkan Sing-Sing yang memecah kesunyian di antara mereka. “Coba sebut dulu nama Bibi dengan benar… Alice!”
“A… Arisu!”
“Alice, Sing… Alice!” ujar Jimmy.
“Alice!” akhirnya Sing-Sing berhasil melafalkan nama Alice dengan tepat.
Alice kembali tersenyum karena Sing-Sing akhirnya bisa memanggil namanya dengan benar. “Maaf ya, Sing, besok tidak bisa ikut, Bibi ada keperluan kantor.”
“Kantor? Bibi Alice kantornya di dapur mana? Kantor papa di dapur sana tuh, tuh.” Jari telunjuk kecil itu menunjuk ke arah belakang.
Alice tak kuasa ntuk menahan tawa. “Haha duh, Sing… Bibi tidak kerja di dapur… Bibi kerja di umm, Gedung yang tinggi.” Alice mengusap lembut rambut milik Sing-Sing yang masih duduk nyaman di pangkuannya.
“Oh beda ya? Beda,” gumam Sing-Sing sambil mendongakkan kepalanya, melihat ke arah Alice.
“Beda dong, sayang…”
“Nona Moon—”
“Just Alice, please. Jangan sungkan.”
“Nona Alice… Maaf, anda… Bukan berasal dari Hong Kong, ya?”
Alice mengatupkan bibir dan tertawa sunyi, bahunya sempat bergerak naik-turun dan menggeleng kecil. “Bukan, aku dari Korea.”
“K.. Korea?”
“Kenapa? Bahasa ku… Aneh ya?” Alice meraih gelas dan menyeruput sedikit teh dingin.
“Ah, bukan-bukan justru bahasa anda bagus… Awalnya saya kira dari Jepang, saya kira karena Sing-Sing sedikit cadel saat mengucapkan Arisu jadi Alisu.” Wajah Jimmy sempat terperangah untuk sepersekian detik.
Menyadari kalau jarak mereka bukan hanya sekadar Central dan Sham Shui Po. Alice, seorang ekspatriat dari negara lain yang telah beradaptasi sempurna di Hong Kong.
“Non- eh bukan, bukan. Maksud saya, saya bukan dari Jepang,” ucapan Alice terdengar berantakan.
Jimmy mengangguk perlahan.
“Eh, Jim… Sing-Sing kenapa tidak dimasukan ke sekolah? Sayang loh, dia ini pintar—berpotensi besar…” Alice kembali mempertanyakan hal itu.
“Waktu… Waktunya belum pas, saya masih sibuk setiap hari disini. Pagi toko harus buka—siang, toko ramai.”
Alice menelan ludahnya. Ini sebuah kesempatan untuk mempertanyakan hal itu, dimana ibu dari anak ini?
“Mamanya? Sing-Sing? Bukankah bisa mengantarkan dia kalau sekolah?” Nada bicara Alice terdengar begitu berhati-hati.
Senyuman tipis muncul dari bibir Jimmy. “Pergi, meninggalkan kami.” suara Jimmy menciut di ujung kalimat.
Benar-benar sudah tidak ada ya.
Alice berhenti disitu. Demi kenyamanan Jimmy yang mungkin sengaja menutupi alasan pasti kepergian istrinya dari hadapan mereka.
“Maaf kalau saya terlalu banyak bertanya,” ujar Alice mencoba kembali menstabilkan suasana.
“Tak apa… Sudah biasa, setiap orang yang menjumpai Sing-Sing pasti mempertanyakan—” tatapan Jimmy sedikit turun, memperhatikan Sing-Sing yang berada di pangkuan Alice.”Ibunya.”
Astaga dia duda dan aku janda. Aku bulan (Moon) dan anak ini bintang (Sing). Lucu, takdir macam apa ini?
“Jim, aku sempat lihat artikel tentang dirimu di kasir… Umm, kamu sempat bekerja di Golden Wok?”
Jimmy tersipu malu. “Ah itu… Hanya masa lalu, saja.”
“Tempat itu… Tempat dengan bintang Michelin, ‘kan? Kenapa sekarang malah memasak disini? Apa ini usaha keluarga?”
Jimmy tersenyum lebar matanya kini menatap ke arah langit-langit. “Ya… Sudah lelah… Dengan politik di dapur. Jadi coba-coba buka usaha disini.”
Politik dapur? Hmm… Dia sudah merasakan manis-asin dunia kuliner?
“Coba-coba? Hmph” Alice menahan tawa. “Aku rasa bukan sekadar coba-coba deh… Dari nama tempat ini dan umur Sing-Sing kurasa sudah lebih dari tiga tahun?”
“Hahaha” Jimmy tertawa dan tubuhnya bersandar ke kursi. “Nona Alice… Pertanyaanmu itu…” Jimmy menggelengkan kepalanya. “Apa anda berasal dari kantor pajak?” Alis kanan Jimmy terangkat. “Kementerian kesehatan? atau anda surveyor Michelin Star yang mau memberikan bintang ke restoran kecil ini?”
“Bintang! Sing-Sing!” tiba-tiba Sing-Sing berceloteh.
Anak ini benar-benar mendengarkan percakapan kami.
Alice tersenyum asimetris. “Aduh… Kamu salah semua, Jim. Sama sekali aku tidak ada urusan sama semua itu… Eh, kalau soal pajak ada urusannya sih, sedikit… ” Alice mengusap puncak kepala Sing-Sing. “Aku bekerja di perbankan. Mengurus investasi dan keuangan klien.”
“Ah…” mulut Jimmy sedikit terbuka. “Begitu… Maaf Nona…”
“Bibi Alice ini kereta apa?” Sing-Sing menunjuk ke gambar kereta yang berada di bukunya. “Oh, kereta ini disebut lokomotif, saat berjalan… Kereta ini mengeluarkan asap yang banyak… sekali.”
“Oh asap? Seperti masakan Papa ya?” Sing-Sing menatap ke arah Jimmy yang berada di hadapannya. “Bukan Sing, beda… Asap kereta itu seperti asap yang dihasilkan oleh truk,” jawab Jimmy.
Rasa canggung itu tetap masih ada di antara mereka walaupun mereka sudah sempat saling melempar tawa karena kepolosan sang balita.
“Ah, iya… Masih bisa pesan untuk bungkus?” tanya Alice.
“Oh, ya tentu—” Jimmy melirik ke arah Alice. “Untuk orang rumah?”
Alice menggeleng, “Buat saya.”
“Ah… Porsi nasi yang tadi kurang banyak ya? Mau bungkus apa?” Sambil menghela napas cepat, Jimmy bangkit dari kursi.
“Hmm bukan itu, untuk sarapan besok pagi… Umm, apa ya? Ada rekomendasi?”
“Kalau dibuat untuk besok… Mi atau Kwetiau akan melebar dan lengket… Bagaimana… Kalau nasi? Tapi bukan nasi goreng, ini nasi daging sapi—Ngau Lam Fan.”
“Mmh…” Alice berpikir sejenak.
“Tak perlu khawatir, nasi dan lauknya bisa dipisah… Tinggal dipanaskan di microwave dengan kekuatan sedang selama tiga menit.” Jimmy kembali menyakinkan Alice.
Alhasil, Alice menganggukan kepalanya. “Boleh deh kalau begitu…”
Jimmy segera melangkah kembali ke area kekuasaannya. Mata Alice tidak bisa mengikuti Jimmy karena dirinya sedang duduk menghadap depan sambil memeluk si kecil Sing-Sing.
Tak ada riuh dari kompor yang kembali menyala atau bunyi wok serta sutil yang beradu. Hanya ada suara Jimmy yang menyuruh Ah Kit. “Satu Ngau Lam pisahin lauknya.”
“Tuwrun…” Sing-Sing bergerak, tubuh kecil itu melorot dari pangkuan Alice, berdiri dan berlari ke arah belakang dimana Jimmy dan lainnya berada.
Tatapan Alice tetap mengikuti Sing-Sing hingga dirinya kini bisa melihat Jimmy yang saat ini sedang membungkuk dan mempersiapkan kotak plastik thinwall.
“Aus! Aus! Sing-Sing Aus! Minum!” teriakan Sing-Sing kepada wanita bernama Yoyo membuat Alice sedikit membelalak.
“Sing! Papa bilang jangan teriak-teriak… Kalau minta minum yang baik! Yang sopan!” sahut Jimmy—menegur anaknya.
Alice tersenyum simpul saat menyaksikan Sing-Sing yang bersikap agak kurang baik itu. Saat dirinya melirik ke arah jam dinding, setengah sembilan malam. Berarti sebentar lagi restoran akan segera tutup—jam tidurnya Sing-Sing.
Bayar, lalu pamit? Sebab besok masih harus bangun subuh dan pergi.
“Bibi mau kemana?” tanya Sing-Sing saat melihat Alice berdiri di hadapannya tepat di depan meja kasir.
“Pulang, Sing… Kan sudah malam—Sing-Sing juga harus bobo, ‘kan?” Alice membungkuk dan mengelus perlahan kepala Sing-Sing.
“Jangan pulang, di sini aja—di sini.” Tangan kecil itu menarik celana Alice. “Tidak bisa begitu, Sing—”
“Jadi $54.” Alice segera memberikan kartu pembayarannya.
Saat itu Jimmy menghampiri mereka, sambil memberikan kantong plastik berwarna merah, berisikan makanan. “Sing, jangan begitu… Bibi Alice sibuk,” ujar Jimmy sambil memegang pundak Sing-Sing agar melepaskan Alice.
“Besok-besok, sini lagi ya.” Sing-Sing menagih sebuah janji baru kepada Alice. Jimmy mengulurkan tangannya untuk menggendong Sing-Sing hingga akhirnya Alice tidak perlu membungkuk di hadapan Sing-Sing—untuk mengucapkan salam perpisahannya.
“Jangan begitu Sing, Bibi Alice tidak bisa setiap hari menemui kamu.” Jimmy mencium pipi Sing-Sing saat mengakhiri kalimatnya.
Wajah Sing-Sing segera merajuk, sudut bibirnya turun. “Ga mau mau ketewmu mau…”
Kepala Sing-Sing kemudian terbenam di bahu Jimmy. “Eh, jangan menangis dong, itu Bibi Alice mau pulang loh.”
Tangan kanan Alice meraih tangan kiri Sing-Sing “Sing-Sing—” Alice mencoba tersenyum simpul. “Besok malam Bibi kesini lagi deh… Kita ketemu lagi, oke?”
Ucapan dari Alice malah menghadirkan ekspresi ragu pada wajah Jimmy. “Nona… Kalau anda sibuk sebaiknya jangan paksakan.” Jimmy mengecilkan suaranya.
Alice menggelengkan kepala. “Besok pulang hari kok, mungkin malamnya aku bisa kesini.”
Alice tidak mengatakan kemana tujuannya namun mendengar hal itu cukup membuat Jimmy semakin merasa tidak enak. “Dia akan ingat dan mungkin akan mengharapkan kehadiranmu, Nona… Jika dirasa tidak sanggup sebaiknya jangan berjanji kepadanya.”
Detik itu juga ego Alice seperti tersentil. Di telinga Alice, ucapan Jimmy terasa seperti meremehkan dirinya. Ada napas cepat terlepas diiringi dengan salah satu sudut bibir terangkat—senyuman asimetris.
Sesungguhnya ada kata-kata yang ingin Alice kemukakan kepada Jimmy namun ia menahan dan menelan kembali keinginannya.
“Sing… Bibi pulang, ya?”
Sing-Sing segera mengangkat kepalanya, benar saja matanya sudah basah, menangis sunyi.
“Pai-pai Bibi Alice!” (bye-bye)
Alice menganggukan kepalanya kepada Jimmy dan mulai melangkah pergi meninggalkan mereka. Dirinya masih harus kembali berjalan kaki di tengah wilayah Sham Shui Po karena mobilnya terparkir cukup jauh dari Sing-Sing Eating House.
Alice menyempatkan diri untuk membeli sesuatu di toko roti yang masih buka, hingga membuat dirinya menenteng satu kantong plastik lain sebelum akhirnya pulang ke apartemen mewahnya yang ‘bertetanggaan’ sekitar tiga kilometer dari sini.
ˎˊ˗⋆。°✩📄
Pukul lima kurang lima belas, tirai kamar Alice bergeser secara otomatis. Bunyi dengung tipis dari mesin otomatis itu segera membangunkan Alice dari tidurnya.
Untuk beberapa detik ia melakukan peregangan. “Uaghh!” Ada jeritan terlepas diiringi dengan mulut yang menguap. Kemudian ia duduk dan menatap kosong ke arah jendela. Di hadapannya ada bintik-bintik lampu kecil bergerak, cahaya dari perahu yang beroperasi di sekitar pelabuhan.
Begitu ‘nyawa’ nye terkumpul Alice langsung bangkit berdiri. Saat keluar dari dalam kamar, lampu ruangan apartemennya menyala otomatis, pencahayaan yang agak redup kekuningan menghangatkan suasana di subuh hari itu.
Ia meraih gelas dan menuangkan air untuk menyegarkan tenggorokannya terlebih dahulu.
Setelah itu perhatiannya tersita ke sarapan paginya yang masih berada di dalam kantong plastik merah—di meja makan.
Ada banyak bintik air dari dalam Thinwall berisikan nasi. Lauk daging berwarna cokelat gelap nya berada di plastik bening yang terpisah.
Alice sempat mencium aroma dari daging sandung lamur itu yang tengah ia buka kemasannya—aroma bawang, bunga lawang. Ia tuangkan lauk itu ke atas nasi. Saat menuang, ada saus yang tumpah ke jemarinya. Tanpa ragu, ia menjilat sisa saus di jarinya untuk merasakan sebuah ‘cuplikan rasa’ yang membuatnya merekahkan senyuman tipis di pagi itu. Enak.
Alice segera menghangatkannya ke dalam microwave dan segera bersiap-siap untuk perjalanan darat menuju Macau.
ˎˊ˗⋆。°✩📄
Rona langit yang gelap sudah mulai memudar—mulai tergantikan menjadi biru keunguan. Matahari sudah mulai menyapa dari sisi timur. Pukul lima lewat lima puluh. Lobi apartemen masih tergolong sepi dari aktivitas.
Alice muncul dari balik pintu lift, penampilannya sudah sangat rapi. Burgundy Cape Silk Mini Dress dari Alexander McQueen menjadi baju zirahnya di hari itu. Rambut panjangnya diikat ke belakang. Ketukan dari heels di atas lantai marmer putih bercorak menghantui seisi lobi.
Kedua tangannya seakan sedang membawa dua belah wajah Hong Kong yang berbeda. Di tangan kanan, ia membawa Central—briefcase kulit cokelat tua. Di tangan kirinya ada Sham Shui Po—dua buah kantong plastik merah yang berisikan makanan dan roti yang dibeli kemarin malam.
Begitu tiba di luar lobi, Alice melirik ke kiri dan kanan, mencari keberadaan kendaraan yang akan menjemput dan membawanya ke Macau lewat perjalanan darat.
Sebuah Lexus LM 350 hitam mengkilap berhenti tepat di hadapan Alice. Pada bumper depannya, terpasang bukan hanya satu, tapi tiga plat nomor yang tersusun vertikal—Putih untuk Hong Kong, Hitam ‘ZM’ untuk Makau, dan Hitam ‘Yue Z’ untuk China Daratan.
Pintu sisi penumpang bergeser secara otomatis, pengemudinya seorang pria paruh baya yang masih gesit—segera turun dan menghampiri Alice. “Ada lagi, Non?”
“Oh, nggak ada—” Alice memberikan kantong berisikan roti kepada pria itu. “Ah, ini ada roti buat Paman Lam.”
Sesungguhnya Alice bisa saja memilih untuk ikut naik helikopter bersama rekan kerja lainnya namun mereka berangkat lebih siang.
Alice lebih memilih berangkat di pagi hari, menggunakan fasilitas mobil kantor dan menggunakan waktu serta kabin mewah dari mobil itu sebagai ruang kerja berjalannya. Ia langsung berkutat dengan laptop begitu mobil itu mulai masuk ke jalan bebas hambatan.
Dibalik alasan itu, Alice memiliki satu tujuan lain. Agar dirinya bisa pulang lebih cepat dari pertemuan meeting jutaan dollar—menghindari entertain yang tidak perlu. Hanya sekadar untuk menepati janjinya, menemui seorang balita bernama Sing-Sing malam ini juga.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
