‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

Hanya butuh lima belas menit hingga mereka tiba di jalur pejalan kaki pinggiran laut di atas daratan reklamasi dekat dengan apartemen milik Alice. Sing-Sing memejamkan mata dan membenamkan wajahnya di bahu Alice. Rupanya karena cahaya matahari pagi yang cukup menyilaukan.

Alice segera menepikan langkah, untuk membantu Sing-Sing mengenakan topi.

Begitu terpasang dan tak lagi silau baginya, Sing-Sing langsung berlari mendekati pinggiran pagar pembatas. “Sing, hati-hati!” Padahal baru satu detik Alice lengah melepaskan anak itu untuk sekadar memakai kacamata hitam. 

Secara refleks—Alice segera beranjak dari posisi jongkok untuk segera mengejar Sing-Sing. Membuat kacamata hitam yang belum dipakai sampai terlempar dari tangannya.

Alice segera bernafas lega setelah berhasil meraih bahu Sing-Sing dan menahan gadis kecil itu agar tidak menyentuh atau mencoba memanjat pagar pembatas karena ingin sekali melihat laut dari dekat.

“Sing-Sing mau main air laut, mau…” Anak itu merengek tangan kanannya mencengkram kuat besi pagar pembatas.

Alice merendahkan tubuhnya, berjongkok tepat disamping Sing-Sing. “Tidak bisa Sing, ini bukan pantai. Kita tidak bisa mendekat kesana, memang ini laut namun ini pelabuhan, tuh lihat banyak kapal yang mengangkut barang.” Alice menunjuk ke sisi kanan dimana ada barisan dari kapal kargo sedang terparkir untuk bongkar muat kontainer.

“Ka… Ka—pal!” ujar Sing-Sing dengan riang dan menatap riang ke arah kapal itu. “Sing, mau lihat lebih dekat!”

“Dek—” Seorang wanita paruh baya menghampiri dan menyentuh bahu Alice. “Kacamatamu…”

Rupanya wanita itu memungut kacamata hitam milik Alice. “Ah, iya… Terima kasih, tante…” Alice menerima kembali kacamata Tom Ford-nya.

“Makasih, Nek!” Sing-Sing ikut menyahut kepada wanita itu.

“Aduh, aduh pintar, Mamanya juga cantik nih,” puji wanita itu.

Pujian itu membuat Alice tersipu malu hingga kembali mengucap terima kasih. Wanita itu kembali melanjutkan langkah bersama teman-teman ‘seumurannya’—sedang berolahraga kecil dengan berjalan kaki.

Tidak seperti para “Mama” lain yang mendorong stroller buah hati mereka, Sing-Sing terlihat begitu aktif ketika melangkah. Sesekali berlari dan berjoget-joget walau tanpa musik. 

Alice mengikuti si kecil dengan tangan terlipat di depan dada sambil sesekali memperingatkan Sing-Sing agar berhati-hati.

Sing-Sing mungkin jarang menikmati dunia luar karena kesibukan Jimmy di dapur. Ah mungkin harus sering membawa anak ini keluar main? Hitung-hitung merangsang motoriknya juga.

Baru terpikirkan soal perkembangan motorik, Sing-Sing segera menunjukkan suatu hal yang membuat Alice gelisah. 

Sing-Sing meminta bantuan dari tangan Alice saat ingin menaiki tiga anak tangga untuk meluncur di perosotan. 

Sing-Sing juga kesulitan saat merubah posisinya menjadi duduk sebelum akhirnya meluncur turun. 

Motoriknya? Atau?

Alice segera tenggelam mencari info perkembangan anak melalui ponselnya selagi Sing-Sing bermain di playground publik. 

“Motorik kasar meliputi : Memanjat tanpa bantuan, kaki bergantian, Melompat ke depan, Berlari dengan percaya diri.”

Kalau lari sudah ditunjukan tadi… Tetapi ini… Naik tangga dengan kaki bergantian?

“Bibi! Sing mau naik lagi!” Sing-Sing kembali memanggil Alice. Saat itu juga fokus Alice berubah, memperhatikan langkah Sing-Sing yang penuh ragu setiap anak tangga dan hanya menggunakan kaki kanannya saja saat memanjat tangga. 

Loh?

Sambil tertawa—Sing-Sing meluncur turun. “Seru! Aku mau lagi!”

Namun, Alice langsung berjongkok dan menahan Sing-Sing. 

“Sing, coba lompat, Bibi mau lihat.”

Langkah Sing-Sing terhenti, tubuhnya sedikit merendah, seperti berancang-ancang untuk melompat. “Huph!” Namun lompatannya begitu pendek mungkin hanya sekitar 6 cm dari tanah. 

Loh?

“Hebat!” Tangan Alice bertepuk—tetap memberikan pujian penuh senyuman kepada Sing-Sing.

“Lompat ke depan, sayang, coba, bisa?” pinta Alice.

Huph!”

Namun, gerakan itu tidak menyerupai lompatan sama sekali. Hanya melangkah dengan dada yang membusung naik. 

Loh? Ini sih bukan melompat maju.

Alice kembali mengangkat ponselnya dan dahinya langsung mengerut khawatir. Sebab semakin ia mencari tahu, semakin yakin kalau perkembangan motorik kasar Sing-Sing agak kurang berkembang.

 Astaga, Jimmy tahu tidak ya? Haruskah aku membawa anak ini ke klinik perkembangan anak?

Kekhawatiran Alice semakin tervalidasi ketika ia terus memperhatikan gerak-gerik Sing-Sing yang kurang gesit ketika bermain.

“Bun… Anaknya umur berapa?” Seorang wanita muda menghampiri Alice—ibu dari balita laki-laki yang sedang bermain bersama Sing-Sing.

“Tiga, Bun…” Alice menaikan kacamata hitamnya ke atas dahi dan tersenyum ke arah wanita yang terlihat seumuran dengannya.

“Wah, sama dong, anak saya juga tiga tahun… Anak kamu hebat ya, sudah bisa mengobrol sepanjang itu…” Wanita itu membuka perbincangan yang melebar hingga Alice mengakui kalau Sing-Sing itu bukan anaknya, tetapi keponakannya.

Meskipun seumuran namun perkembangan keduanya tampak berbeda, Sing-Sing mengalami kesulitan di motorik kasar sementara anak dari wanita itu masih belum lancar berbicara dan tidak begitu tertarik pada buku bergambar. 

Namun, gerakan anak laki-laki itu cukup gesit dan lincah. Berbeda dengan Sing-Sing yang terkesan kurang lincah cenderung santai.

“Karena anak cowok kali, ya? Lebih aktif daripada anak perempuan?” tanya wanita itu dan Alice hanya bisa menjawabnya dengan senyuman dan anggukan.

Apa karena… Sing-Sing tumbuh di restoran? Jadi jarang bergerak? Dia banyak berinteraksi dengan verbal kepada Jimmy yang sibuk dan para pekerja di resto saja? Sehingga perkembangan kognitif dan verbalnya pesat namun motorik kasarnya kurang karena area bermainnya sempit? Cuma di ruang belakang restoran?

Astaga. Jim, rencanaku… 

Rencana kita untuk memotong waktu kerjamu di pagi hari harus segera terlaksana. 

Kamu harus membawa anak ini jalan-jalan keluar untuk melihat dunia, berkeringat terkena siraman matahari pagi dan menstimulasi motorik kasarnya!

“Mama aus!”

Playdate itu berakhir ketika matahari siang bertambah terik dan anak laki-laki itu berteriak kepada ibunya kalau sudah mulai kehausan.

Wanita itu bersama anak laki-lakinya segera berpamitan. Hingga menyisakan Alice dan Sing-Sing saja. 

“Sing, sini sayang… Minum dulu.” Alice mengeluarkan botol minum Sing-Sing dari tas ungu kecil yang berisikan segala keperluan Sing-Sing.

Sing-Sing menurut, menghampiri Alice dan segera memegang botol air minum nya sendiri. Pipinya sedikit memerah dan keringat telah bercucuran pada dahinya. 

“Sudah, ya, sayang? Sudah panas.” Alice berjongkok untuk menyeka dahi Sing-Sing dengan dua lembar tisu. 

“Ga mau, Sing masih mau main.”

“Sudah mulai panas, loh, Sing. Nanti, kulit kamu sakit. Katanya Sing-Sing mau ke mall? Mau naik lift, jadi tidak?” rayu Alice.

Rayuan itu—berhasil.

Panas terik dan hawa panas segera berganti begitu mereka tiba di dalam mall. Perlahan gambaran soal Sing-Sing adalah balita gifted di dalam benak Alice sedikit memudar. 

Terbukti lagi lewat ke khawatirannya tadi. Kini, Sing-Sing takut untuk naik eskalator. Benar-benar menolak tangga berjalan itu—melempar tantrum hingga minta digendong oleh Alice. 

Ketika tangan mereka tak bertautan, Sing-Sing berjalan dengan ritme langkah yang terasa lambat.

Sepanjang makan siang mereka, otak dan tubuh Alice melakukan banyak multitasking.

Jiwanya terus mengkhawatirkan perkembangan putri kecil ini. Sedangkan raganya sedang menyuapi Sing-Sing dengan mata yang sesekali terfokus untuk membaca banyak artikel tentang tumbuh kembang anak.

Alice menelan ludah ketika semua rantai sebab-akibat telah terbingkai sempurna di dalam benaknya. Ada kesalahan pada pola asuh Sing-Sing yang hidup di lingkungan yang sibuk.

Jimmy—Orang tua tunggal yang peduli gizi anak namun menggunakan buku dan gawai sebagai pengasuh gratis disaat sibuk—mengasah kemampuan kognitif dan verbal Sing-Sing.

Maka, Sing-Sing mampu memahami banyak hal melalui apa yang dilihat dan diucapkan oleh orang lain. Namun, kurangnya ruang gerak untuk eksplorasi membuat perkembangan motorik Sing-Sing menjadi kurang berkembang.

Terlebih dari itu, Alice tidak bisa mengambil tindakan apapun. Mungkin mereka bertiga sudah cukup dekat tetapi Alice tidak bisa merubah pola keseharian mereka. 

Alice bukan ibunya Sing-Sing.

Namun, masih ada satu hal yang bisa diusahakan oleh Alice.

“Sing, nanti sore… Berenang, yuk?”

“Bewrenang? Mau!”

Rencana awal Alice adalah memanjakan Sing-Sing sampai sore di apartemennya dengan membacakan banyak buku dan bermain pretend play dengannya. 

Kini Alice merubah sedikit rencana itu, menjadi sebuah kegiatan fisik begitu tersadar kalau yang dibutuhkan olehnya saat ini adalah stimulus motorik.

‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅ 

“Waaa…” Mata kecil itu berbinar, sembari memegangi topi anyamannya. Sing-Sing tampak terpukau dengan kemewahan apartemen Alice. Ini jelas berlawanan dengan kehidupan sederhananya di apartemen tong lau atau restoran—tempat biasa Sing-Sing menghabiskan kesehariannya.

Tak ada bising kendaraan, suara riuh manusia beradu dengan kehebohan di dapur. Disini senyap, nyaman, dingin dan pemandangan langsung menghadap pelabuhan serta laut.

Sing-Sing melangkah mendekati jendela, tangan kecilnya menyentuh kaca. Mulutnya terbuka semu, “Wah… tinggi… wah laut.” Menyadari betapa tinggi dirinya berada saat ini.

“Sayang, sini… Cuci tangan dulu, lalu ganti baju… Kita bobo siang habis ini?” Alice melangkah keluar dari dalam kamar, segera berjongkok dan memeluk Sing-Sing dari belakang.

“Bibi, Sing-Sing mau disini aja…”

“Disini? Boleh… Kan, memang Sing-Sing sama Bibi sampai malam. Sore ini, habis kamu tidur siang kita berenang, ‘kan?

“Nggak, Sing-Sing maunya disini aja sama Bibi, ga sama papa…”

“Eh—” Alice memundurkan tubuhnya, perlahan tangan kirinya mengusap lembut dahi Sing-Sing. “Ga, boleh ngomong gitu, Sayang… nanti Papa sedih, loh.”

“Rumah Bibi enak, dingin, tinggi ada laut… Sing-Sing suka disini. Sing-Sing mau disini aja…” Alis milik Sing-Sing beradu dalam kerutan. Wajahnya merajuk sambil melirik tajam ke arah Alice—wajah mengancam.

Tidak, sama sekali tidak ada rasa takut pada Alice. Ia malah menahan tawa sampai dadanya bergetar. “Iya, boleh… Nanti setiap akhir pekan Sing-Sing boleh main kesini, ke rumah Bibi, ya, Sayang…”

Lagi-lagi, Alice mengucap sebuah janji kecil. Janji yang sama sekali tidak memberatkan hatinya—malah bagus kalau Sing-Sing bisa di culik setiap mingguaku mendapatkan teman di akhir pekan!

Setelah cuci tangan dan ganti baju, keduanya merebahkan diri di ranjang dalam kamar Alice yang sejuk dan dingin. Beberapa mainan mulai tersebar di atas ranjang.

“Ini ceritanya Papa Jimmy! Cessh! Cesssh!” Sing-Sing berpura-pura menjadi ayahnya. Tangan kecilnya memegang wok dan sutil plastik, bergaya layaknya Jimmy yang sedang memasak—bahkan menirukan bagaimana bunyi wok panas yang tersiram air, Cessh!

Alice meraih ponsel, masuk ke aplikasi kamera. 

“Sing, sekali lagi, Bibi rekam buat Papa, nih…”

Sekali lagi, Sing-Sing mengulang adegan itu. Membuat Alice tersenyum lebar sambil tetap merekam. Begitu selesai, Alice segera merebahkan seluruh tubuhnya ke permukaan kasur dengan ponsel terangkat ia mengirim video itu kepada Jimmy.

Setelah terkirim, Alice meletakkan ponsel lalu menghela napas panjang sambil menatap ke langit-langit kamar. Bukan genit ‘kan ya? ‘Kan, cuma laporan doang ke Jimmy.

Sementara Sing-Sing masih sibuk dengan dunia masaknya.

Hufh, baru pernah… Akhir pekan bangun pagi dan langsung beraktifitas—siangnya jadi mengantuk, ya!

“Sing-Sing jadi Papa, terus ini Sing-Sing…” Sing-Sing berceloteh ia menarik boneka beruang dan meletakkannya di dekat wok mainannya. “Ah Sing! Papa bilang apa! Jangan dekat-dekat kompwor!”

Hm hm hmmm hahaha” Pada akhirnya, tawa Alice pecah mendengarkan Sing-Sing yang menjadi Jimmy dan marah-marah. Tangan kanan Alice terangkat dan langsung mencubit pipi kenyal Sing-Sing. “Duh! Gemesh!”

Sing-Sing kemudian menatap ke arah Alice, “Mmh… Kata Papa… Mama pergi lamaaa, sekarang mmhh… Sekarang, Bibi sering ketemu Sing-Sing… Kalau begitu… Apa Bibi Alice Mamanya Sing-Sing?”

Alice mematung, keduanya bertatapan. Sing-Sing dengan mata dan senyuman berbinar. Sementara Alice diam seperti bongkahan es yang dingin.

.

.

.

!

Tiba-tiba saja pikiranku menjadi hampa. 

Kosong sekosong-kosongnya. 

Pe… Perasaan apa ini? Ini rasanya seperti… Orang yang sedang kamu sukai menyatakan cinta kepadamu! 

Ya, seperti itu! Seperti ada kupu-kupu di dalam perutku!

“Ehehe… Mama… Alice?” Sing-Sing memiringkan kepala dan tersenyum lebar.

Bukan hanya kelopak mata Alice yang bergetar hebat, bibirnya juga.

“S… Sing, b… bilang apa? Ma… Mama?” ucapannya tergagap namun ditutup dengan senyuman yang makin melebar.

Sing-Sing mengangguk, “Emh! Papa Jimmy… Mama Alice!”

Alice menyesap bibir bawahnya namun setiap sudut bibirnya masih tertarik merekahkan senyuman.

A… Aku… Jadi… Mamanya Sing-Sing?

ˎˊ˗⋆。°✩📄 

AAAAA… Ciyeee Alice! 

Senang jadi Mamanya Sing-Sing atau…?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *