‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Ada panggilan masuk di tengah-tengah waktu makan malamnya. Berasal dari Jimmy namun Alice sama sekali tak mengacuhkannya. Hanya melihat sekilas lalu segera membalik posisi ponsel menjadi tengkurap di atas meja makan.
Mencoba tak peduli, dirinya kembali berbincang dengan rekan kerjanya di tengah-tengah menikmati makan malamnya.
Alice baru melakukan panggilan kembali kepada Jimmy ketika dirinya sudah berada di dalam kamar hotel. Untuk menepati janji, berbincang kepada Sing-Sing melalui panggilan video.
Sepanjang panggilan video itu, Alice hanya bercakap dengan Sing-Sing. Padahal sang ayah juga berada disitu, memegangi ponsel untuk anaknya. Namun, Alice sama sekali tidak melibatkan Jimmy.
“Bye-Bye sayang, langsung bobo, ya. Sikat gigi dulu, jangan bandel!” Alice akan segera mengakhiri panggilan itu, melebarkan senyuman yang langsung disambut anggukan kepada Sing-Sing.
“Dadah… Mami cepet pulang, cepet main sama Sing-Sing lagi, ya…”
“Iya, sayang…” Alice melebarkan senyum.
Dengan gerakan cepat, Alice segera menyentuh tombol untuk menutup panggilan—tidak memberikan jeda kepada Jimmy untuk sekadar bertegur sapa dengannya.
Alice menarik napas dalam-dalam menyakinkan dirinya sendiri kalau tindakannya itu sudah benar, kembali menetapkan batasan yang jelas antara dirinya, Sing-Sing dan juga Jimmy.
Butuh beberapa saat Alice diam termenung. Sampai akhirnya ia meraih sesuatu dari dalam tas Tory Burch hitam miliknya—sebuah kotak beludru biru .
Di dalamnya ada sebuah cincin—emas putih dengan rangkaian berlian kecil disusun rapat dan berderet pada sekeliling perhiasan itu.
Dengan perlahan, Alice menyematkan pada jari manis tangan kanannya. Alice sempat tersenyum setelah cincin itu terpasang sempurna di jarinya. Ia segera beranjak keluar dari dalam kamar dengan membawa dompet dan ponselnya.
Bukan cincin pasangan atau pernikahan. Hanya sebuah kamuflase agar dirinya tidak diganggu saat berada di Bar.
Selalu ampuh setiap kali ada pria yang datang dan mendekat—hanya perlu lemparkan kata “Maaf” sambil memperlihatkan jari manisnya.
Sebuah sandiwara kecil—kalau dia adalah seorang wanita bahagia yang telah berumah tangga.
Alice menghabiskan sisa malam di Shanghai seorang diri, sembari menyesap wine meringankan demi kepalanya. Menjadi ajang untuk menutup segala pikiran mengenai romansa dengan Jimmy akibat tersugesti oleh ucapan Maggie soal asinkronisasi perasaan dan mereka adalah satu paket utuh—tidak mungkin Alice hanya mencintai Sing-Sing saja.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅

2 IFC Tower, Crestview & Associate Office. Hong Kong.
Alice masih berkutat hingga larut malam di balik meja kantornya. Masih ada beberapa map kulit dan tumpukan kertas di atas meja. Padahal ia baru saja tiba dari Shanghai di hari yang sama.
“Lis!” Pintu ruangan kantor Alice didorong, suara Karen menguasai seisi ruangan.
“Gila ya kamu? Nggak capek tuh badan?” Karen melangkah masuk.
“Capek lah,” jawab Alice tanpa sedikitpun melirik ke arah Karen yang sudah tiba di hadapannya.
“Lah, cape kok malah masih kerja? Nggak kangen—” ucapan Karen menggantung. Alice sedikit memutar bola matanya, menatap ke arah Karen—wanita dengan blouse merah telah duduk di hadapannya. “Sama anak?” Karen terkekeh—menggoda Alice.
“Kangen lah, ini makanya aku kerjain kerjaan besok, biar bisa santai, WFH.”
“Halah, WFH apa WFR? Work From Restaurant?”.
“Pssh…” Alice hanya menggeleng dan menghela napas cepat.
“Ga balik, Ren? Nggak kangen sama… anak?” Alice mengembalikan pertanyaan yang sama kepada Karen.
Karen bersandar lebih dalam pada kursi. “Ya, me time dikit lah sebelum dengar rengekan dan tangisan si kecil. Bagaimanapun juga sesekali butuh sendirian, biarin deh si Paksu bonding, hmph… dikira gampang apa ngurusin anak.” (Pak Suami)
Kemudian ada keheningan di antara mereka karena Alice masih sibuk dengan pekerjaannya.
“Eh Lis, Lis… Aku kepo deh…”
“Soal?”
“Sing-Sing dan kamu.”
Gerakan tangan Alice terhenti. Lehernya terpaksa berputar—menatap ke arah Karen. “Maksudnya?”
“Sekarang, ‘kan… Kamu udah kayak ibu sambungnya, memberikan cinta dan juga materi secara cuma-cuma ya, tanpa ikatan yang jelas, ya… Apa—”
“Nggak, Ren, Ga mungkin aku—”
“Heh! Dengerin dulu, ah! Maksudnya apa nanti kamu berniat mengadopsi dia, secara sah?”
Setelah potong-memotong ucapan itu, Alice menggelengkan kepala dan kembali menunduk memperhatikan dokumen di hadapannya.
“Ngaco. Mana bisa, dia masih punya ayah. Mana bisa mengadopsinya begitu saja.”
“Nah, itu tuh… Kalau kamu semakin lengket sama dia dan benar-benar ingin menjadikan dia jadi anak kamu seutuhnya, ya… Berarti kamu harus menikahi ayahnya, dong?”
Saat itu juga, Alice menghentikan kegiatannya. Pulpen Montblanc dihantam ke atas dokumen. “Ren—” Alice menggigit bibir bawahnya dan perlahan rahangnya terlihat mengeras. Sepertinya Karen telah memantik amarah Alice.
“Sudah aku bilang, tidak. Itu tidak mungkin!”
“Eh, jangan marah dong, Lis. Cuma what if saja.” Karen ketakutan melihat wajah Alice yang begitu garang.
“Lagian ya, Ren. Tahu sendiri kan seberapa drastisnya kami berbeda? Aku budak korporat, dia juru masak. Aku di Central dia di Sham Shui Po. Jurang kita sudah terlihat, ‘kan? Masih belum terlihat? Dia ditinggal istrinya dan—” Terlihat jelas pergerakan naik turun pada leher Alice—menelan ludah.
“Kamu tahu sendiri aku baru putus lagi dengan Hyunwoo dan telah melewati sebuah perceraian. Sekarang coba ya, kamu pikir, apa aku bisa? Bisa mencintai lagi seorang pria dengan mudah dan tulus?”
“Well, mana kutahu, cuma kamu yang bisa menjawabnya sendiri?” jawab Karen sambil mengangkat bahunya. “Itu hati kamu.”
“Tidak, Ren. Tidak, aku tidak sanggup.” Kepala Alice menggeleng perlahan. “Sangat besar kemungkinan kalau aku akan melukai dia setelah rentetan dalam hidupku itu, aku akan banyak menuntut dari pria yang tidak berdaya seperti Jimmy. Salah-salah, aku malah akan kehilangan keduanya, Ren!” Jelas emosi Alice memuncak karena keingintahuan Karen.
Karen hanya bisa melarikan pandangannya dari Alice yang benar-benar terlihat ‘galak’ ketika diungkit soal perasaannya.
Namun, wanita itu segera menutupi mulut—menyamarkan tawa karena menyadari kalimat terakhir Alice yang terdengar ambigu.
‘Kehilangan keduanya.’
ˎˊ˗⋆。°✩📄
Anggaplah hari itu menjadi hari libur tidak resminya. Alice hanya perlu menghadiri rapat secara daring dengan Crestview & Associates New York nanti malam.
Dia tidak memilih untuk bangun siang dan berleha-leha. Tetap bangun pagi dan produktif—lari pagi.
Sudah dua putaran mengelilingi sekitar promenade apartemennya. Matahari pagi mulai bersinar lebih terang dan hawa hangat menyelimuti kota Hong Kong.
Alice menurunkan kecepatan larinya, mengatur napas yang terengah sambil memegang ponsel. Sesekali mengganti lagu di headset dan juga untuk melihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
Jimmy Sing-Sing
| Minta difotoin terus kasihin ke Mami, katanya.
| (Foto Sing-Sing sedang naik ayunan)
08.03
Kemarin Alice sama sekali tidak membalas satupun laporan dari Jimmy. Bahkan absen melakukan video call dengan Sing-Sing karena kesibukannya hingga larut.
Alice
Aduh Sing, hati-hati. |
08.05
Cuma dua kilo, bisa pulang naik taksi. Oke kesana saja, sekalian sidak pagi. Kita lihat uang modal itu, serta tiga hari—anda sudah melakukan perubahan apa saja? Jimmy.
Alice kembali mempercepat langkahnya untuk berkunjung ke lingkungan ‘tetangga’, Sham Shui Po.
Kalau naik kendaraan, biasanya cuma butuh sepuluh menit, ekstra sepuluh menit lainnya hanya untuk mencari parkir.
Kalau berjalan kaki, bisa menghabiskan sekitar dua puluh lima menit. Karena harus menyeberang jalan beberapa kali, disertai langkah yang terus melambat ketika berada di trotoar jalan.
Uh?
Mata Alice berkedip heran karena menghadapi pemandangan yang tidak biasa di Sing-Sing Eating House. Biasanya pengunjung restoran variatif, di dominasi dengan middle age yang mencari comfort food. Sekarang, berbeda. Pengunjungnya di dominasi oleh kaum yang lebih tua lagi.
Alice melangkah masuk, sorot matanya menyapu ke setiap meja yang ada. Mencoba mengamati perubahan kecil yang ada. Terlihat banyak piring keramik berukuran kecil dengan roti panggang sebagai sajiannya.
Ada juga cangkir keramik, berisikan teh atau kopi panas. Aroma gurih kaldu tetap ada namun sedikit tersamar karena terdominasi oleh aroma lain. Aroma gosong sedap dari roti dan butter.
Tak ada Jimmy di dapur, hanya ada Ah Kit. Ada suara gesekan seperti sutil pada wajan namun lebih ringan dan berulang cepat.
Ah Kit mulai memasak?
Sementara itu yang bertugas mengantar, menerima pesanan adalah Ah Ling.
“Ah… Pagi, Bu…” sapa Ah Ling sambil membawa nampan. Tanpa setelan mahalnya, butuh beberapa detik bagi Ah Ling untuk mengenali sosok Alice yang memakai topi, running jacket serta celana ketat elastis di pagi itu.
“Sst… Kit.” Alice tidak menerobos masuk seperti biasanya. Ia berdiri di dekat meja serving.
Ah Kit menoleh—sama. Ia juga membutuhkan beberapa detik untuk mengenali sosok wanita sporty itu.
“Eh, Je! Kukira siapa, duduk-duduk, Je…“
“Kamu… masak sekarang, Kit?”
“Iya, Je, cuma menu pagi nih… Eh, kamu belum coba menu pagi, ya?”
“Hnghh—” jawab Alice yang telah melepaskan topi dan menggigit capingnya, kedua tangannya sibuk untuk mengikat rambut.
“Udah mulai jualan menu pagi nih? Ada apa aja?”
“Ini, Bu, silakan.” Ah Ling memberikan lembaran menu. Kertas putih yang telah dilaminating dengan huruf berwarna merah.
Hanya ada 3 Set menu—bundling. Yang pertama manis: Toast, Telur dan minuman. Yang kedua: Mie Wonton dan minuman. Yang ketiga: sup makaroni dan minuman.
Tentu saja Alice langsung menunjuk Set yang pertama, menu baru yang sesuai dengan nuansa pagi dan ‘kopitiam’ banget menurutnya.
“Sing-Sing? Belum pulang?” tanya Alice begitu selesai memesan.
“Belum, Je, lagi jalan pagi sama Jimmy-gor… Senang banget tuh dia, punya rutinitas baru sama Papanya,” jawab Ah Kit sambil sedikit tersenyum.
Ada senyum merekah di bibir Alice saat mendengarkan hal itu. Rencana kecilnya berjalan baik dan mulus. Membatasi jam kerja Jimmy agar bisa mengajak anaknya berkegiatan di luar sebagai bentuk stimulasi motorik Sing-Sing yang kurang berkembang!
Alice selalu menjadi penghuni tetap meja ketujuh. Kali ini dipenuhi oleh daun bawang, talenan kayu dan pisau. Sepertinya itu tugas Ah Ling yang belum selesai.
Tak peduli, Alice tetap duduk disana—menghadap ke arah pintu keluar untuk mengamati seluruh pengunjung yang ada.
Begitu pesanan Alice tiba, Ah Ling langsung berusaha merapikan meja. Tetapi Alice tidak ambil pusing, malah menyuruh Ah Ling untuk menuntaskan tugasnya dengan tetap duduk di hadapannya, sementara Alice segera menikmati sarapan paginya.
Roti tebal itu sudah dipotong menjadi beberapa bagian, hanya tinggal memakai garpu kecil saja, Alice langsung menyuap dan menikmatinya.
“Uhgh?” saat lidah Alice merasakan isian selai ia merasakan sesuatu yang tidak lazim. Creamy, gurih dan manis. Serta ada jejak aroma daun pandan! Biasanya di Hong Kong menu roti sarapan pagi akan berisi selai kacang. Ini berbeda! ini selai sarikaya! Biasanya Alice menemukan rasa seperti ini kalau dia sedang menikmati sarapan di kopitiam Singapura atau Malaysia.
Alice langsung menoleh ke arah kanan dimana Ah Kit sedang berdiri di balik cash drawer.
“K… Kenapa, Je? Ada yang kurang?”
“Kok—” Alice menelan terlebih dahulu suapannya. “Gak pakai selai kacang?”
“Oh, Jimmy-gor yang tentuin kemarin itu. Katanya bosan, ga menarik kalau cuma kacang. Katanya sih dia pakai resep dari Asia Tenggara, Sarikaya? Dia yang buat sendiri.”
Sshh. Pria satu itu. Benar-benar tahu harus menjual apa. Alih-alih menu lokal yang lazim, ia membuat sesuatu yang berbeda dan menjadikannya sebuah Unique Selling Position! Handmade, enak pula!
Siapa sangka otak penuh perhitungan Alice harus hidup di hari liburnya. Ia dengan cepat menduga kalau pelanggan yang ramai di pagi ini karena tertarik dengan menu roti panggang ini.
“Kalau Ini? Nai Cha resepna siapa? Jimmy juga?” tanya Alice. Beberapa waktu yang lalu Alice sempat menikmati teh susu dingin dan memuji rasanya. (Bab 25)
Namun, pujian itu belum sempat tersampaikan kepada Jimmy. Pagi ini ia kembali memesan minuman yang sama hanya saja tanpa es.
“Oh, itu sih kreasi saya, kenapa Je? Kurang enak?”
Sudah dua kali Ah Kit bertanya “Ada yang kurang?” seakan takut kepada lidah Alice yang suka mengkritik makanan dan minuman. “Ga ada Kit, malah ini enak… Seimbang, tehnya wangi, teksturnya kental manisnya ga berlebihan.”
“Oh, syukur deh, Je. Soalnya Jimmy-gor bilang kalau menu paginya ga disukain sama kamu dia mau segera menggantinya.”
As—ta—ga. Pria itu… Sudah kubilang tidak perlu menunggu pendapatku. Tetapi dia malah memerintahkan anak buahnya agar waspada dengan reaksiku. (Bab 26)
Namun… Ya, surprise me-nya berhasil sih, Jim.
“Pakai daun teh mahal, ya? Wanginya tehnya masih ada walau sudah dicampur susu…” gumam Alice.
“Nggak kok, Je. Pakai daun teh yang gampang dicari di pasar, cuma teknik seduhnya saja yang diperhatikan.”
“Di—ajarin Jimmy?”
“Nggak, Je. Belajar sendiri sejak restoran ini berdiri dan aku membantu Jimmy-gor disini.“
Oh Tuhan. Jimmy. Kamu tidak sadar?
Karyawan sekaligus saudara jauh yang kamu pekerjakan disini itu memiliki potensi dan loyalitas yang luar biasa.
Lantas kamu masih menyimpan ketakutan akan dikhianati olehnya?
Alice menghela napas sambil tetap mengunyah makanannya.
Haruskah aku menata ulang krisis mu itu? Semua bahan dan potensi sudah berkumpul disini hanya saja kamu terhalang oleh trauma mu sehingga tempat ini tidak bisa bersinar dan meledak!
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Baru kemarin malam denial di depan Karen,
pagi ini mulai peduli lagi sama Jimmy!
Lis, kamu itu… maunya apa sih?
