‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Queen Elizabeth Hospital Hong Kong.
Dua hari yang lalu, Alice bermalam di hotel mewah Fullerton Singapura. Namun, kemarin malam kondisinya menjadi drop. Membuatnya harus bermalam di rumah sakit.
Karena putus asa, sampai mengucap hal konyol di hadapan dokter.
“Dok, tolong sembuhkan saya, saya harus sehat besok, Beri saya obat paling keras. Suntik vitamin, Infus atau apa pun. Saya harus sehat kurang dari dua puluh empat jam. Berapapun biayanya… Akan saya bayar.”
“Hahaha… Kamu ngomong kayak gitu di depan dokter, Lis?”
Tawa Maggie dan Karen pecah saat mendengarkan kejadian di hari kemarin itu. Dua rekan kerjanya sengaja datang untuk menjenguk Alice siang itu—di tengah-tengah jam istirahat kantor.
“Ya, mau gimana lagi, Bun. Panik,” jawab Alice sambil meruncingkan bibirnya.
Ruang VIP, tidak ada pasien lain selain dirinya di kamar yang lega itu. Namun, kehadiran dua rekan kerja Alice menjadi hiburan tersendiri. Melepas rasa suntuk dalam kesendirian yang sudah terjadi sedari pagi—hanya ditemani televisi dan ponsel.
“Soal taipan Leung bagaimana? Seharusnya minggu ini sudah ada keputusan dari atas atau pusat kan?” Tumbang bukan berarti pikirannya kosong. Alice segera mengulik masalah kantor yang menggantung di benaknya. (Bab 6-7)
“Yaelah, Bun. Lagi tepar masih aja mikirin kerjaan, sudah ga usah khawatir.” jawab Maggie sambil mencubit ujung maskernya agar bisa memasukan sepotong kue ke dalam mulutnya.
“Ya… Agar kemarin ke Macau tidak sia-sia.” Alice menghela napas di dalam maskernya. Ada getaran kecil terasa di sekitar pinggangnya, ponselnya bergetar karena berada pada mode silent.
Jimmy Sing-Sing
| Ruangan kamu dimana?
Dahi Alice langsung sedikit mengerut, dia memang sudah memberitahu Jimmy kemarin malam kalau dirinya harus dirawat inap agar proses recovery-nya maksimal.
Dia bertanya soal ruangan? Dia kesini? Ga, mungkin dia meninggalkan restoran. Oh, mungkin saja menyuruh Ah Kit mengantarkan sesuatu? Rumah Sakit ini tidak jauh-jauh amat sih dari Sham Shui Po.
Alice kemudian membalas pesan Jimmy dengan raut wajah yang agak serius.
“Heh, muka serius gitu, jangan bilang ngebales kerjaan lagi? Istirahat Lis!” sahut Maggie sambil menyilangkan kakinya.
“Namchin-nya kali, Meg.” goda Karen sambil menyenggol lengan Maggie.
Karena tahu kalau Alice adalah orang Korea, dua wanita itu sering menggoda Alice dengan bahasa Korea umum yang mereka dapatkan dari K-Drama.
“Ssshh, Ck… Yah! Namchin? Nae chingu-ya, Chingu!”
Cara respon Alice dengan mendesis, mendecak, seruan dan menegaskan soal cuma teman membuat Maggie dan Karen tertawa geli. “Gila, Lis… Kayak nonton DraKor rasanya! Hahaha.”
Mungkin saja Alice sengaja menggunakan bahasa ibu nya agar menjadi hiburan untuk Maggie dan Karen.
Sepuluh menit kemudian, ada yang mengetuk pintu kamar. Sontak membuat Maggie dan Karen langsung membetulkan posisi duduk mereka yang sudah santai melorot di sofa.
Mungkin saja kunjungan dokter atau suster. Jika tenaga kesehatan mungkin mereka akan langsung masuk setelah satu ketukan karena mereka harus berpindah ke pasien berikutnya, sosok di balik pintu kembali mengetuk, seolah menantikan persetujuan dari Alice.
“Y… Ya? Silakan…”
“Permisi…”
Ummh? Kok kayak kenal suara pria ini? Alice mengenal suara itu. Namun, untuk memastikannya sosok itu masih terhalang oleh tembok.
“Lis?”
Mata Alice membelalak sebab sosok yang masuk ke dalam kamarnya adalah Jimmy.
Padahal Alice pikir yang akan datang mungkin kiriman makanan darinya saja atau Ah Kit yang disuruh olehnya. Menyadari ada dua wanita lain di ruangan Jimmy langsung menganggukan kepala kepada mereka. Pertemuan canggung yang membuat Jimmy menjadi kikuk—segera mengangkat kantong kertas yang berada di tangan kirinya. “Lis, ini ya, ada makanan buat kamu.”
Dua pasang mata milik Karen dan Maggie langsung mengarah ke arah Alice, seolah meminta jawaban siapa sosok pria berkemeja linen putih bercelana celana jeans biru muda ini? Pria yang tampak “biasa” saja bukan dari kalangan elit seperti mereka.
Alice sempat terdiam karena masih terkejut akan kehadiran sang koki yang seharusnya berada di balik wajan restoran Sing-Sing Eating House kini malah muncul di kamar rawat inap nya.
“J… Jim?” Alice berusaha bangkit dari rebahan, suaranya pun terdengar agak bindeng.
“K… Kok bisa kesini siang-siang? Kamu ninggalin resto?”
Alice tahu pria itu tersenyum kepadanya walau hanya lewat garis matanya saja—mulutnya terhalang oleh masker putih. “Kamis, Lis… kan, libur.”
Oh iya, gara-gara terkapar jadi lupa hari dan tanggal.
“Lis, nugu seyo?” kecil seperti berbisik namun Alice dapat mendengar jelas suara Karen.
“Ah, ini Jimmy… Chef yang aku ceritain, yang buka rumah makan di SSP itu…”
“Oh, ya?”
Tidak ada uluran tangan atau menyebutkan nama, Jimmy memilih untuk sedikit membungkuk di hadapan mereka sebagai tanda perkenalan.
Seketika Maggie dan Karen ikut membalas bungkukan badan. “Masih muda, aku kira udah engkong-engkong.” bisik Karena kepada Maggie, alhasil Maggie menyenggol lengan Karen.
“Masakan… Anda enak, loh, Alice suka pesan buat makan siang kita…” Maggie segera memuji Jimmy guna menetralisir suasana karena bisikan polos Karen tadi seperti langsung mengejek pada pertemuan pertama mereka ini.
“Ah, iya, iya… terima kasih…”
Sorot mata Jimmy kemudian mengarah ke arah Alice, untuk satu detik ia tampak memindai kondisi Alice yang berwajah pucat dengan mata yang terlihat agak sayu. “Lis, maaf mengganggu, aku pamit, ya?”
“Eh, Jim—”
“Eh-eh jangan, dong, jangan! Kita aja yang pulang…”
Suara Alice bertabrakan dengan Maggie yang langsung berdiri dari kursi sofa. “Lah, Je?” Karen keheranan.
“Lah, lah! Balik kantor, Ren! Udah jam berapa ini?” Maggie kesal karena Karen masih tetap duduk di sofa, tidak paham kode darinya. ‘Kita yang angkat kaki bodoh! Gantian.’
Dalam sekejap dua wanita yang terlihat sangat rapi dengan blouse dan celana bahan itu langsung berpamitan dan pergi meninggalkan Alice serta Jimmy. “Bye, Lis… See you at office, cepat sehat ya, Bun!”
Jimmy menggaruk ujung alisnya.
“Yah… Jadi aku yang mengusir mereka?”
“Tak apa Jim, mereka juga kayaknya udah dua jam disini… Mangkir dari kantor dengan alasan jenguk… Lama-lama malah jadi ngegosipin orang—” Napas Alice terhela pelan. “Sendirian Jim? Sing-Sing mana?”
“Ada, di bawah sama Ah Kit, kenapa? Mau suruh mereka kesini saja?”
“M… Mau… Aku kangen dia, Jim. Eh-eh! Nggak deh jangan! Bisa-bisa aku menulari dia.” Untuk satu detik Alice tersetir dengan perasaan rindunya namun logikanya segera merevisi keinginannya.
Jimmy tersenyum tipis, ia melihat ada nampan berisikan ‘Makanan Rumah Sakit’ yang dibalut dengan plastik pelindung tipis. “Lis, kamu belum makan?”
“Yaelah, Jim, sudah tau aku lemas dikasihnya makanan yang sama pucat kayak aku, Ya… mana selera lah… Eh, kamu bawa apa Jim? Kalau bawa masakan yang kamu buat, aku makan itu saja…”
Jimmy tertawa saat Alice melabeli catering rumah sakit itu sebagai makanan berwarna pucat. Memang sih tidak menggugah selera, namun kadar gizinya sudah pasti terkontrol.
Jimmy mengeluarkan tumbler stainless kecil serta mangkuk thinwall dari dalam kantong yang ia bawa. Menuangkan isinya ke dalam mangkuk lalu mengambil peralatan makan dari nampan catering itu.
“Jim, sampaikan maaf ke Sing-Sing ya, aku mengingkari janji hari ini.”
Jimmy tak menjawab Alice, ia sedang menarik meja portable ke hadapan Alice dan menghidangkan sup yang masih hangat ke hadapannya. Alice segera menegakan sandaran kasur dengan menekan tombol remot yang berada disampingnya.
“Minta maaflah ke tubuhmu sendiri, selama beberapa saat ini kamu selalu memaksa untuk datang setiap malam ke kedai, pulang larut, telat makan, bangun pagi lalu berangkat kerja lagi. Siklus hidup seperti itu… tidak sehat, Lis.”
Kepala Alice tertunduk menatap ke arah sup yang dibuat oleh Jimmy. Kuahnya terlihat kental karena penampakan serabut telur dan kolagen yang menghiasi dominasi kembang tahu.
Alice melepaskan masker. Segera meraih sendok, mencelupkannya ke kuah dan membuat gerakan memutar, beberapa komposisi lainnya mulai terlihat. Ada bola daging kecil menyerupai bakso berwarna putih, daun bawang dan jamur hioko.
“Tapi aku berolahraga kok, setiap pagi sebelum ngantor.” Alice mencoba membela diri.
“Olahraga tapi istirahatnya tidak cukup, ya percuma. Bukan menambah imun, malah semakin lelah yang ada.” Jimmy kembali ke hadapan Alice membawakan sepiring nasi yang berasal dari nampan makanan rumah sakit.
“Jadi kamu… Mulai membatasi pertemuanku dengan Sing-Sing, Jim?” Alice mengangkat kepalanya, menatap ke arah Jimmy yang kini berdiri di hadapannya.
Jimmy sempat terdiam—membuka tutup botol dari air minum kemasan yang berada di atas lemari di samping Alice.
“Secara tidak langsung, iya.”
“Kok, begitu?”
Perlahan Jimmy meletakan botol air mineral dengan tutup yang sudah dilonggarkan itu di dekat mangkuk sup buatannya. “Lis, tidak perlu setiap hari memaksa untuk terus hadir di hadapannya. Kamu lapar, cepat makan. Kamu lelah cepat pulang, istirahat. Sing-Sing tidak akan lupa dengan dirimu begitu saja. Di dalam benaknya, kamu sudah hadir sebagai Bibi Alice bukan orang asing lagi.”
Tatapan Alice perlahan runtuh diikuti bahu yang agak merosot. Perlahan Alice mulai mengangkat sedikit sup dan menyuapnya. Satu hal yang ia rindukan selama beberapa hari ini, masakan hangat yang selalu klik di lidahnya tanpa menimbulkan komentar negatif, masakan yang dibuat oleh Jimmy.
Kaldu gurih kaya kolagen itu terasa agak asin, mungkin karena indera pengecapan Alice yang menjadi sensitif karena sakit. Bola dagingnya hancur begitu tertekan oleh gigi, seperti campuran daging ayam dan udang. Kembang tahu yang lembut dan mudah dicerna. Ada jejak aroma jahe tertinggal di rongga mulut ketika suapan pertama berhasil ditelan olehnya.
Untuk beberapa saat mereka sunyi. Jimmy memperhatikan setiap gerakan dari Alice yang sedang menikmati makanan.
Emosi Alice bercampur aduk. Satu sisi ia sedih karena larangan halus Jimmy agar dia memperhatikan sendiri kondisi tubuhnya. Membayangkan mungkin menahan rindu untuk tidak bertemu dengan Sing-Sing akan terasa berat.
Sisi lainnya ia senang karena dapat menyantap kembali hidangan yang pas saat kondisinya turun seperti ini. Alhasil, air mata alice pun tumpah namun tetap lahap menghabiskan hidangan dihadapannya.
“Huh, nasinya lembek, Jim.”
Komentar nasi yang lembek sesaat setelah air matanya tumpah itu terasa timpang, sehingga membuat Jimmy tersenyum di balik masker yang dikenakannya.
“Kalau aku harus peduli dengan diriku sendiri, bagaimana dengan dirimu? Setiap hari kamu kerja dari subuh sudah bersiap-siap, memforsir tubuhmu hingga malam hari? Pernah jatuh sakit?” tanya Alice.
“Tentu saja pernah, aku ini bukan robot,” jawab Jimmy.
“Lalu restoran bagimana? Lalu siapa yang menjaga Sing-Sing?”
“Tutup, dua atau tiga hari. Kadang Ah Kit, kadang Yoyo yang membantu menjaga Sing-Sing.”
“Tu… Tutup?”
Restoran itu adalah mata pencahariannya. Jika tutup selama dua atau tiga hari berarti pendapatannya nol? Cash flow jadi terganggu? Bahan mentah segar jadi layu atau basi? Bukan nol, malah jadi minus? Belum lagi gaji karyawan? Uang sewa gedung? Alice tertegun memikirkan berbagai hal itu, isi kepalanya seolah tidak mau beristirahat.
“K… Kacau dong?” sambung Alice.
“Ya, kecil lah dampaknya. Mungkin nanti harus cari cara lain agar tetap berjalan kalau kondisi sedang drop.”
“Jim, kalau begitu kamu harus mulai mempertimbangkan—”
“Ssst! Udah, Lis. Jangan pikirkan dulu soal restoran. Pikirkan kondisi kamu dulu, lalu pekerjaan yang kamu tinggalkan, baru pusingkan restoran.” Jimmy menghentikan perputaran logika Alice yang seolah sudah siap meluncur dengan berbagai macam strategi pengembangan.
Ya, aku harus cepat kembali prima dan membantu merancang ulang kondisi Jimmy agar Sing-Sing tetap bahagia mendapatkan waktu berharga dengan ayahnya.
Setelah Alice menghabiskan makanannya, Jimmy segera pamit. Sebab Sing-Sing dan Ah Kit menunggu di bawah, mereka hendak pergi jalan-jalan ke pusat perbelanjaan.
“Boleh pulang kapan, Lis?”
“Nanti sore, mungkin. Sebab kondisiku sudah jauh membaik.”
“Nanti… Ada yang menemani?”
Jimmy tahu kalau Alice mungkin selama ini hidup seorang diri di Hong Kong karena ia adalah seorang ekspatriat dari Korea. “Ada, supir kantorku mungkin.”
Jimmy menghela napas. “Jam berapa? Biar… Aku saja yang temani.”
Alice langsung melirik ke arah Jimmy. “Tak usah Jim, tak usah repot-repot. Nanti Sing-Sing bagaimana coba?”
“Umh, ada Ah Kit, ada saudara lain juga yang tinggal beberapa blok tidak jauh dari rumah, aku bisa titipkan dia sebentar.”
Alice menggelengkan kepalanya. “Tidak jangan, merepotkan.”
“Balas budi, Lis. Atas apa yang sudah kamu lakukan selama beberapa saat ini kepadaku—” Jimmy mencoba melabuhkan tatapannya ke arah Alice yang sedang diam tertegun ke arahnya. “Dan juga Sing-Sing.”
Alice menyerah, mendebatnya akan terasa percuma. Sebab pria itu cukup keras dengan prinsipnya.
‧₊˚ ⋅ 🥢🍜‧₊˚ ⋅
Setelah Denial Queen terbitlah Denial King? Ampun deh.
